Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 07 — Kebahagiaan Sederhana
Chad menoleh ke kanan dan kiri di lorong gelap yang sepi dan menyeramkan itu sambil menunggu kedatangan Elizabeth yang katanya akan menemuinya di sana.
“Di mana dia? Mengapa lama sekali?” gumamnya dengan bahu yang bergetar. Ia menatap tangannya yang terpasang perban, semakin merasa ngeri saat mengingat sosok perempuan itu.
Tak lama, suara langkah terdengar. Chad menahan napas sambil mengira siapa yang datang. Lalu, sosoknya muncul dari kegelapan, seperti iblis yang datang menemuinya untuk membuat janji.
“Kau membawanya?” tanya Elizabeth langsung.
Chad mengangguk dan langsung menyodorkan goodie bag berisi ponsel dan uang yang dibawanya. “Aku bahkan sudah—”
“Bagus,” kata Elizabeth cepat seraya menerima goodie bag itu dan memeriksa isinya. Ia tersenyum puas setelah mendapatkan keinginannya.
“Bagus, kau boleh pergi,” katanya langsung berniat pergi meninggalkan Chad yang terdiam di sana.
“Tu-tunggu, Elijah!” panggilnya.
Elizabeth menoleh dengan mengernyit. “Aku tidak akan membunuhmu, selama kau menuruti perintahku,” katanya seolah tahu apa yang hendak Chad bicarakan.
Chad mengangguk paham, menatap kepergian Elijah dengan perasaan lega sekaligus tak percaya. Ia mengusap wajahnya kasar. “Situasi macam apa ini?”
•••
Di rumahnya, Elizabeth langsung membawa masuk goodie bag itu ke dalam kamarnya yang lusuh dan meletakkannya di meja. Tangannya tergerak mengeluarkan ponsel mahal itu dari dalamnya dan berniat menggunakannya saat tiba-tiba, adiknya masuk ke dalam dan terkejut.
“Kakak … dari mana kau mendapatkan itu?” tanyanya pelan, suaranya berbisik-bisik seolah takut akan ada yang mendengarnya.
“Dari seseorang,” jawabnya ketus. Tetapi kemudian ia menoleh dan menatap tubuh adiknya yang kurus. “Apa kau sudah makan?”
Anak laki-laki itu menggeleng pelan seraya memegangi perutnya yang berbunyi. “Bibi menghukumku dan tidak memberiku makan,” katanya pelan dengan kepala tertunduk.
Elizabeth mendesah berat, lalu mendekati anak laki-laki itu dan menyejajarkan tatapannya. “Siapa namamu kemarin? Bael? Eel? Rachel?” tanyanya mencoba mengingat nama adiknya sendiri.
Anak laki-laki itu menatapnya heran. “Kael, Kak. Kau lupa dengan nama adikmu sendiri?”
Elizabeth mengangguk. “Terlalu banyak hal yang kupikirkan, Kael. Ah, sudahlah. Ayo kita pergi makan yang enak,” katanya sambil berdiri. Ia lalu memasukkan semua uangnya ke dalam tas milik Elijah yang sudah lusuh.
Tanpa banyak bertanya, Kael mengangguk senang dan mengikuti langkah sang kakak.
Mereka menyusuri jalan tanpa banyak bicara, sesekali Elizabeth melihat anak laki-laki itu yang selalu jalan dengan kepala tertunduk.
“Kael,” panggilnya pelan.
Kael menoleh, matanya yang kecil langsung menatap Elizabeth. “Iya, Kak?”
“Angkat kepalamu saat berjalan, dengan begitu orang-orang akan lebih menghargaimu,” ucap Elizabeth tegas. Ia tidak suka menundukkan kepala saat berjalan ataupun di depan orang lain. Elizabeth selalu mengangkat kepalanya tinggi.
Kael tak sepenuhnya paham, tetapi ia mengikuti ucapan Elizabeth dengan mengangkat kepalanya tinggi. Kepalanya selalu tertunduk karena takut. Bibi dan para tetangganya selalu melemparkan cibiran padanya yang membuatnya malu untuk mengangkat kepala.
Diam-diam Elizabeth tersenyum tipis, merasa senang karena ada satu orang lagi yang mematuhi ucapannya tanpa banyak bertanya.
Mereka akhirnya tiba di sebuah kedai makan yang cukup ramai dan mahal. Kael menatapnya selama beberapa saat, tatapannya itu seolah enggan masuk.
“Kenapa? Masuk saja, aku mampu membayarnya,” kata Elizabeth seolah bisa membaca pikiran Kael.
Salah seorang pelayan kedai itu tiba-tiba keluar dan melihat mereka berdua. “Mau apa kalian ke sini? Pergi sana! Kami tidak punya makanan sisa untuk diberikan kepada kalian,” katanya ketus.
Namun, Elizabeth tidak memedulikan ocehannya dan mengajak Kael untuk masuk. Ia mendudukkan anak laki-laki itu di kursi dan memanggil pelayan. Tapi, alih-alih dilayani, mereka justru kembali diusir dari sana.
Sang pemilik kedai bahkan berteriak-teriak padanya meski banyak orang di sana. Semua tatapan mata langsung tertuju pada keberadaan mereka berdua.
“Pergilah dari kedaiku! Kalian bisa merusak selera makan orang-orang di sini!” sentak sang pemilik kedai.
Elizabeth menatapnya tajam, “Kalau begitu suruh mereka saja yang pergi dan layani kami,” katanya datar.
Sang pemilik kedai semakin berang, “Apa?! Berani sekali kau! Awas saja, ku pukul kau dengan sapu baru tahu rasa!” Sang pemilik kedai bertubuh gempal itu langsung mengambil sapu dan berniat memukul Elijah.
Namun gerakan tangan Elizabeth jauh lebih cepat. Ia menangkis sapu itu dengan satu tangan dan mematahkannya menjadi dua bagian, lalu melemparkannya tepat ke hadapan sang pemilik kedai.
“Hei, Gendut. Cepat sajikan makanan yang mahal, adikku sudah lapar!” titah Elizabeth sambil duduk dengan tenang.
Kael menatapnya dengan kagum sementara para pengunjung yang lainnya merasa terheran-heran.
Elizabeth menatap sang pemilik kedai lagi yang masih terdiam dengan heran, ia merasa aneh dengan apa yang baru saja ia lihat. “Apa lagi yang kau tunggu?” tanya Elizabeth datar.
Sang pemilik kedai langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyajikan makanan yang diminta sementara ia kembali ke dalam. “Astaga, apa itu tadi? Auranya benar-benar mengerikan,” gumamnya bergidik ngeri.
Setelah selesai makan sampai puas, Elizabeth meninggalkan beberapa uang di meja dan pergi tanpa mengatakan apapun.
“Kau keren sekali, Kak.” Kael tiba-tiba bersuara di tengah perjalanan pulang mereka. “Kau membuat mereka seperti patung dan ketakutan. Malam ini aku akhirnya bisa tidur dengan nyenyak tanpa kelaparan lagi. Kau lihat perutku, Kak? Perutku sampai penuh.” Kael tertawa di akhir kalimatnya.
Suara tawanya itu sontak membuat Elizabeth menoleh dan menatap Kael selama beberapa saat. Ada binar kebahagiaan di matanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan entah dorongan dari mana, Elizabeth mengusap pucuk kepala anak itu pelan.
Melihat kebahagiaan sederhana Kael, membuat hatinya terasa menghangat oleh perasaan yang malu Elizabeth akui. Melihat senyuman anak laki-laki itu membuat Elizabeth ingin memberikan segalanya pada Kael.
Namun, kebahagiaan mereka itu tak berlangsung lama saat segerombolan preman menghalangi jalan mereka.
“Hai, Elijah.”
Mereka tersenyum nakal pada Elijah. Salah satu dari mereka bahkan berani menggodanya tepat di hadapan Kael.
Melihat keberadaan mereka, Kael refleks bersembunyi di belakang sang kakak. Elizabeth mengernyit, lalu menatap satu persatu para pemuda penuh tato itu dengan dingin.
“Kakak, ayo kita pergi. Aku takut,” bisik Kael menggenggam ujung baju Elijah dengan erat.
Elizabeth meliriknya sekilas. “Tidak apa-apa, mereka hanya preman yang pengecut,” katanya lantang, sengaja memancing para preman itu.
“Apa yang kau katakan tadi? Pengecut? Kau sudah berani, ya? Kau ternyata masih belum puas, baiklah. Aku akan memberimu pelajaran bagus kali ini,” kata salah seorang dari mereka yang sepertinya adalah ketua preman.
Elizabeth meminta Kael untuk pergi menjauh dan menutup mata serta telinganya. Kael langsung pergi tanpa bertanya lagi. Anak laki-laki itu berjongkok di dekat tumpukan kardus, menutup mata dan telinganya.
“Mau langsung atau pemanasan dulu?” tanya Elizabeth santai.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇