Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Suasana di dalam kamar utama mansion Volkov terasa begitu menyesakkan, lebih berat daripada udara sebelum badai besar menerjang. Bau sisa muntahan yang belum sepenuhnya hilang bercampur dengan aroma antiseptik yang dibawa oleh Dokter klan Volkov, Dr. Arisov. Alana terbaring lemah di atas ranjang raksasanya, wajahnya sepucat kertas linen, dengan selimut sutra yang membungkus tubuh ringkihnya hingga ke dada.
Langkah kaki yang berat dan berirama cepat terdengar dari koridor, seperti detak jantung kematian. Pintu kamar terbanting terbuka, menampakkan sosok Dante Volkov yang masih mengenakan jas hitamnya, napasnya sedikit memburu dengan aura gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Matanya yang sebiru es langsung tertuju pada sosok Alana yang tampak hancur di atas ranjang.
"Apa yang terjadi?" suara Dante menggelegar, rendah dan penuh ancaman. Ia menatap Dr. Arisov dengan tatapan yang bisa mencabut nyawa.
Dr. Arisov merapikan peralatannya, wajahnya menunjukkan ekspresi antara lega dan sangat berhati-hati. "Tuan Volkov, Nyonya Alana mengalami kelelahan yang ekstrem dan dehidrasi berat. Namun, itu bukan penyebab utama rasa mual dan pingsannya."
Dante melangkah maju, berdiri di samping ranjang dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. "Katakan intinya, Dokter. Jangan membuatku membuang waktu."
Dokter tua itu menarik napas panjang. "Nyonya Alana sedang mengandung, Tuan. Usia kehamilannya baru memasuki minggu keempat. Mengingat intensitas... aktivitas Anda berdua, ini adalah hasil yang sangat wajar. Benih Anda tumbuh dengan sangat kuat di dalam rahimnya."
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Dante.
Pria raksasa itu mematung. Kata-kata dokter itu menghantamnya lebih keras daripada peluru kaliber besar mana pun yang pernah menembus kulitnya. Matanya yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi kosong, menatap tajam ke arah perut rata Alana yang tertutup selimut. Di sana, di dalam tubuh mungil wanita yang ia klaim sebagai miliknya, ada sesuatu yang hidup. Sebuah nyawa yang membawa setengah dari darahnya—darah Volkov yang terkutuk.
Alana, dengan sisa tenaganya, perlahan membuka matanya. Ia mendengar semuanya. Jantungnya berdegup kencang antara rasa takut dan secercah harapan kecil yang muncul di hatinya. Ia menatap Dante, mencari binar kebahagiaan, mencari pelukan hangat, atau setidaknya sebuah genggaman tangan yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Alana berharap Dante akan duduk di sampingnya, mengusap perutnya, dan menyambut buah hati yang setiap malam pria itu tanam dengan beringas di dalam rahimnya.
"Dante..." bisik Alana lirih, tangannya yang gemetar terulur sedikit ke arah suaminya.
Namun, yang ia lihat justru sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Rahang Dante mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol hebat. Bukannya mendekat, Dante justru melangkah mundur. Tatapannya bukan lagi tatapan lapar atau posesif yang biasa Alana lihat, melainkan tatapan penuh kengerian dan kebencian yang mendalam. Alana melihat bagaimana tangan Dante bergetar bukan karena haru, melainkan karena gejolak emosi gelap yang meledak di dalam dirinya.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa memberikan pembelaan atau sekadar kata-kata penenang, Dante berbalik. Ia berjalan meninggalkan kamar itu dengan langkah lebar yang dingin.
"Dante! Kau mau ke mana?" suara Alana pecah menjadi tangisan kecil, namun Dante tidak berhenti.
Brak!
Pintu tertutup dengan sangat keras, meninggalkan Alana dalam kesunyian yang menyakitkan. Alana terisak, memeluk dirinya sendiri. Ia menyadari satu kebenaran pahit: Dante tidak menginginkan bayi ini. Pria itu baru saja menunjukkan bahwa kehadiran nyawa baru di antara mereka bukanlah sebuah berkah, melainkan kutukan yang ingin ia hindari.
***
Di balik pintu yang tertutup, Dante berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang goyah. Ia mengunci pintu dan langsung menghantamkan tinjunya ke dinding marmer hingga buku jarinya pecah dan berdarah.
"Sialan! SIALAN!" raungnya tertahan.
Pikiran Dante terbang kembali ke masa kecilnya yang kelam. Ia teringat ayahnya, sang Predator Volkov sebelumnya, yang tidak pernah sekali pun menatapnya dengan cinta. Ia tahap bagaimana ayahnya memperlakukannya seperti sampah, memukulinya agar ia menjadi kuat, dan mengatakan bahwa seorang Volkov tidak butuh keluarga, hanya butuh kekuasaan. Baginya, menjadi seorang ayah adalah sebuah konsep yang menjijikkan karena ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seorang ayah.
Dante menatap tangannya yang berlumuran darah. Bagaimana mungkin tangan yang penuh darah ini bisa menggendong bayi yang suci? Bagaimana mungkin pria yang hanya tahu cara merusak dan mendominasi seperti dirinya bisa menjadi pelindung bagi nyawa yang lemah?
Ia merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Predator Volkov merasa ketakutan luar biasa. Ia takut bahwa darah Volkov yang mengalir di dalam rahim Alana hanya akan melahirkan monster baru seperti dirinya. Ia takut ia akan berakhir menjadi ayahnya sendiri—seorang pria kejam yang akan menghancurkan hidup anaknya.
Malam itu, di saat Alana menangis meratapi nasib janin di rahimnya, Dante berdiri di balkon dengan cerutu di tangan, menatap kegelapan kota dengan hati yang membeku. Ia telah memutuskan: ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi lemah karena anak itu. Namun, di saat yang sama, ia tahu ia tidak akan pernah bisa melepaskan Alana.
Kekacauan baru saja dimulai di mansion Volkov. Sebuah nyawa telah hadir, namun alih-alih menyatukan, ia justru menciptakan jurang yang lebih dalam antara sang Predator dan Mawar Kecilnya.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔