NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:434.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades

“Pakde, ini bisa diselesaikan di rumah, jangan di jalan,” Krisna berkata. Nada suaranya tetap dingin, tapi ada kesan memerintah yang biasa dimiliki orang yang terbiasa membuat keputusan.

Raisa langsung membalas, “Saya nggak mau ikut ke rumah orang kaya itu! Nanti saya dituduh macam-macam!”

Pakde Suyat mengangkat tangan, menenangkan. “Hei, hei! Tenang. Raisa, kamu juga jangan meledak-ledak. Krisna, kamu juga … kalau lewat genangan ya pelan, toh ini jalan kampung.”

Krisna menahan komentar. Ia melirik lumpur di tubuh Raisa—lalu map lamaran yang basah.

Sesaat, ia merasa ada sesuatu yang menusuk. Ia ingat dirinya dulu: bukan selalu anak Kades kaya. Dulu ia juga mengayuh sepeda ke sekolah, melewati lumpur, dihina teman kota karena bau kandang. Dulu ia bersumpah akan pergi jauh agar tidak kembali menjadi “anak desa”.

Dan sekarang ia kembali, membawa kehancuran hidupnya sendiri.

Raisa mengusap matanya, lumpur bercampur air hujan menetes. Entah kenapa, mata itu panas—bukan lagi karena marah, tapi karena rasa sakit yang tiba-tiba mengambang: sakit karena hari ini ia hanya ingin pekerjaan, hanya ingin membantu orang tuanya, tapi malah dipermalukan oleh mobil mewah.

Krisna melihat gerakan itu. Bayi di gendongannya berhenti menangis sejenak, menatap wajah Raisa dengan mata bulat.

Raisa menatap balik bayi itu, mendadak diam.

Pakde Suyat menarik napas. “Gini. Kalian berdua, jangan bikin warga tambah heboh. Krisna, kamu pulang dulu. Raisa … kamu pulang bersihin badan. Nanti sore, kita omongkan. Urusan kaca, urusan ganti rugi—diselesaikan baik-baik.”

Raisa hendak protes, tapi Pakde Suyat menatapnya tajam. “Raisa.”

Raisa menggigit bibir, napasnya memburu. Akhirnya ia mengambil sepeda, menegakkan kembali, tangannya masih gemetar.

Krisna melangkah ke mobil, masih menggendong bayi. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke Raisa.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada senyum. Tidak ada permintaan maaf. Yang ada hanya dua luka yang saling menatap—luka lelaki dewasa yang menutupi hancurnya hati dengan dingin, dan luka gadis muda yang menutupi rapuhnya hidup dengan sikap barbar.

Krisna berkata pelan, nyaris seperti ancaman, nyaris seperti janji: “Ini belum selesai.”

Raisa membalas tanpa kalah tajam, meski suaranya serak: “Aku juga nggak minta selesai.”

Mobil itu melaju pelan kali ini, melewati genangan tanpa menciprat, meninggalkan jejak ban di tanah basah.

Raisa berdiri di pinggir jalan, tubuh kotor, surat lamaran basah, tapi mata masih menyala.

Di kejauhan, suara warga mulai bergemuruh lagi, mengubah kejadian barusan menjadi bahan cerita baru.

“Raisa berani banget, lho, sama anak Kades!”

Hujan rintik-rintik terus turun, pelan tapi pasti, seakan berkata: di desa kecil ini, sesuatu baru saja dimulai.

Dan Raisa belum tahu—hari itu, ketika ia melempar batu dan memecahkan kaca, sebenarnya ia juga sedang memecahkan pintu menuju takdir yang akan menyeret hidupnya jauh dari rencana sederhana: mencari kerja, membantu keluarga.

Sementara di dalam mobil, Krisna menatap jalan desa yang basah, bayi di gendongannya kembali tertidur.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ada perasaan yang berbeda dari kosong.

Bukan bahagia.

Bukan tenang.

Tapi … sebuah gangguan.

Dan entah kenapa, gangguan itu bernama Raisa.

***

Ruang tamu rumah Pak Wijaya terasa hangat, bukan karena cuaca—melainkan karena aroma kopi tubruk yang baru saja diseduh. Hujan masih turun rintik di luar, mengetuk genteng dengan irama pelan. Krisna duduk di sofa panjang berwarna cokelat tua, bayi laki-lakinya terlelap di ayunan kain di sudut ruangan. Kemeja hitamnya masih sedikit lembap, rahangnya kaku, matanya menatap lurus ke depan.

Pak Wijaya duduk berseberangan, menyilangkan kaki, tangan besar itu memegang cangkir kopi. Tatapannya sesekali melirik ke arah jendela—ke mobil hitam yang terparkir di halaman.

Retakan di kaca belakangnya jelas terlihat.

Pak Wijaya menghela napas berat. “Mobilmu kenapa, Kris?”

Krisna mengangkat cangkir kopi, menyesapnya sekali. Cairan pahit itu mengalir di tenggorokannya, meninggalkan rasa hangat yang tidak benar-benar menenangkan.

“Retak,” jawabnya singkat.

Pak Wijaya mengernyit. “Ayah lihat. Maksud Ayah … kenapa bisa retak?”

Krisna menurunkan cangkir, menatap permukaan kopi yang bergetar halus. Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum, lebih mirip sindiran lelah.

“Ketemu gadis gila di jalan,” katanya datar. “Namanya Raisa.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air.

Di ambang pintu ruang tamu, seorang perempuan paruh baya yang baru saja masuk membawa nampan berisi camilan langsung tersentak. Tangannya bergetar, cangkir kecil di atas nampan beradu pelan.

Bu Rika.

Wajahnya yang biasanya tenang mendadak pucat. Matanya melebar, napasnya tertahan.

Pak Wijaya yang peka langsung menoleh. Tatapannya berpindah dari Krisna ke Bu Rika—ART yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumahnya, perempuan yang ia kenal jujur dan pendiam.

“Raisa?” ulang Pak Wijaya pelan. Lalu alisnya terangkat. “Bukannya Raisa itu anakmu, Bu Rika?”

Bu Rika seperti kehilangan pijakan. Ia berdiri kaku, jari-jarinya mencengkeram nampan seakan itu satu-satunya pegangan agar ia tidak jatuh.

“I-iya, Pak,” suaranya nyaris tak terdengar. “Raisa itu … anak saya.”

Udara di ruangan itu berubah.

Krisna yang semula menatap kopi, perlahan mengangkat kepala. Tatapannya mengarah ke Bu Rika—tajam, dingin, seperti pisau bedah yang siap mengiris lebih dalam.

Ibunya Raisa.

Perempuan yang setiap pagi membersihkan rumah ini. Perempuan yang mungkin—tanpa ia sadari—sudah sering ia lihat berlalu-lalang, tapi tak pernah benar-benar ia perhatikan.

“Aku nggak tahu anaknya siapa, Yah,” kata Krisna akhirnya, suaranya tetap datar, tanpa penyesalan. “Yang jelas dia masih muda. Rambutnya panjang. Pipinya agak cubby.”

Bu Rika terisak kecil, refleks. Tangannya gemetar makin hebat.

“Maaf, Den Krisna … maaf sekali,” katanya terbata, kepalanya menunduk dalam-dalam. “Anak saya memang … agak keras. Tapi dia bukan anak jahat. Dia—”

Pak Wijaya mengangkat tangan, menghentikan. “Tenang dulu, Bu Rika. Duduk dulu.”

Bu Rika ragu, lalu menurut. Ia duduk di kursi kecil dekat pintu, punggungnya bungkuk, wajahnya penuh rasa takut dan malu.

Krisna menyandarkan punggung ke sofa. Dalam kepalanya, adegan siang tadi berputar ulang: wajah Raisa yang berlumur lumpur, mata menyala penuh amarah, suara ketus yang berani menantangnya tanpa gentar.

Anak ART.

Anak Bu Rika.

Entah kenapa, fakta itu tidak membuatnya merasa menang. Justru sebaliknya—ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.

Pak Wijaya meneguk kopinya, lalu berkata dengan nada lebih tenang, tapi tegas, “Ceritakan dari awal.”

Krisna menghela napas. “Aku lewat jalan desa. Hujan. Ada genangan. Mobil nyiprat—”

“—Dan anak saya kena,” Bu Rika memotong tanpa sadar, lalu langsung menutup mulutnya sendiri, ketakutan. “Maaf, Pak.”

Pak Wijaya menoleh sebentar, lalu kembali ke Krisna. “Lanjut.”

Bersambung ... 💕

1
@alfaton🤴
semoga cepat sembuh..... kalaupun belum sehat beneran jangan paksakan tuk menulis Thor..... fokus dulu ke kesehatannya biar beneran fit 💪💪🙏
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
terima kasih tetap up walau sedang tidak baik-baik saja, momGin..
K4RL4
saya suka dg semangat mommy dlm menulis walo dlm keadaan sakit, rela memuaskan mata pembaca. terima kasih utk bab terbarunya 👍👍👍👍👍.
Marlina
cepet puluh mom
Nandi Ni
cie...cie..cie...akang dokter dah dapet restu,otw menikah ini mah...
Kuntyo Wantari Dewi
Cepat smebuh ya thorr
Sugiharti Rusli
restu sudah Krisna kantongi, peer dia hanya meyakinkan Raisa kalo cintanya tulus dan jangan terlalu ovt sama status sosialnya di mata masyarakat
Sugiharti Rusli
dan yang jadi kunci utamanya Krisna mencintai Raisa apa adanya, dan Enzo sangat nyaman bersama Raisa selama ini
Sugiharti Rusli
apalagi sejatinya Raisa memilki value yang tinggi yang mungkin melebihi perempuan yang memiliki pendidikan dan status sosial tinggi sekalipun
Sugiharti Rusli
dan pengalaman pak Wijaya yang dulu menikahi sang istri yang juga beda status sosialnya yang membuat mereka tidak keberatan sama sekali dengan Raisa yang sudah mereka kenal baik sejak kecil
Sugiharti Rusli
karena pada dasarnya kedua ortu Krisna bukan tipikal yang mengagungkan status sosial seseorang yah,,,
Sugiharti Rusli
satu langkah yang bisa membuat pernikahan kelak bisa berjalan adalah restu kedua ortu yah,,,
vj'z tri
doa terbaik buat mom🤲🤲🤲🤲 cepet sehat ya mom amin
Engkar Sukarsih
tetap semangat mommy 🥰🥰🥰
Engkar Sukarsih
Alhamdulillah...masih bisa update hari ini 🥰🥰🥰 semoga cepat sembuh dan sehat lagi seperti biasa mommy.aamiin🤲🤲🤲🙏🙏🙏
Rarik Srihastuty
semangat untuk sembuh mommy, terima kasih masih tetep nulis walaupun masih dalam masa pemulihan
Kar Genjreng
Kami juga maklum Mommy pokonya semangat untuk sembuh ya Mommy,,,dan selalu bersyukur agar di kasih umur panjang di mudahkan rezekinya dan sehat mahal harganya,,,siap melamar ya Mommy
Kris melar Raisa,,,Sa pokonya tidak ada pengasuh lagi di rumah joglo itu tetapi menjadi ratu Dokter Kris di rumah joglo itu
dan tidak usah terlalu mendengarkan kata kata orang. siapa orang itu iri anak gadis dapat jodoh yang biasa saja umum,,,sedang kan Kamu mendapatkan jodoh yang pokonya di pandang orang tinggi,,,bukan berarti sombong jodoh rezeki dan umur sudah Allah bagi bagi,,,
semoga panjang umur dan murah rezeki 🙏
Mineaa
fighting mommy....💪🥰
Nesya
bersyukur bgt krisna punya orang tua yang bijaksana g memandang status, lngsng merestui hubungan mereka
Eni Istiarsi
proud of you, Mom.. dalam keadaan sakit dan diruang perawatan,Mommy tetep berusaha menghilangkan dahaga readers, doa terbaik buat Mommy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!