NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:92k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades

“Pakde, ini bisa diselesaikan di rumah, jangan di jalan,” Krisna berkata. Nada suaranya tetap dingin, tapi ada kesan memerintah yang biasa dimiliki orang yang terbiasa membuat keputusan.

Raisa langsung membalas, “Saya nggak mau ikut ke rumah orang kaya itu! Nanti saya dituduh macam-macam!”

Pakde Suyat mengangkat tangan, menenangkan. “Hei, hei! Tenang. Raisa, kamu juga jangan meledak-ledak. Krisna, kamu juga … kalau lewat genangan ya pelan, toh ini jalan kampung.”

Krisna menahan komentar. Ia melirik lumpur di tubuh Raisa—lalu map lamaran yang basah.

Sesaat, ia merasa ada sesuatu yang menusuk. Ia ingat dirinya dulu: bukan selalu anak Kades kaya. Dulu ia juga mengayuh sepeda ke sekolah, melewati lumpur, dihina teman kota karena bau kandang. Dulu ia bersumpah akan pergi jauh agar tidak kembali menjadi “anak desa”.

Dan sekarang ia kembali, membawa kehancuran hidupnya sendiri.

Raisa mengusap matanya, lumpur bercampur air hujan menetes. Entah kenapa, mata itu panas—bukan lagi karena marah, tapi karena rasa sakit yang tiba-tiba mengambang: sakit karena hari ini ia hanya ingin pekerjaan, hanya ingin membantu orang tuanya, tapi malah dipermalukan oleh mobil mewah.

Krisna melihat gerakan itu. Bayi di gendongannya berhenti menangis sejenak, menatap wajah Raisa dengan mata bulat.

Raisa menatap balik bayi itu, mendadak diam.

Pakde Suyat menarik napas. “Gini. Kalian berdua, jangan bikin warga tambah heboh. Krisna, kamu pulang dulu. Raisa … kamu pulang bersihin badan. Nanti sore, kita omongkan. Urusan kaca, urusan ganti rugi—diselesaikan baik-baik.”

Raisa hendak protes, tapi Pakde Suyat menatapnya tajam. “Raisa.”

Raisa menggigit bibir, napasnya memburu. Akhirnya ia mengambil sepeda, menegakkan kembali, tangannya masih gemetar.

Krisna melangkah ke mobil, masih menggendong bayi. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke Raisa.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada senyum. Tidak ada permintaan maaf. Yang ada hanya dua luka yang saling menatap—luka lelaki dewasa yang menutupi hancurnya hati dengan dingin, dan luka gadis muda yang menutupi rapuhnya hidup dengan sikap barbar.

Krisna berkata pelan, nyaris seperti ancaman, nyaris seperti janji: “Ini belum selesai.”

Raisa membalas tanpa kalah tajam, meski suaranya serak: “Aku juga nggak minta selesai.”

Mobil itu melaju pelan kali ini, melewati genangan tanpa menciprat, meninggalkan jejak ban di tanah basah.

Raisa berdiri di pinggir jalan, tubuh kotor, surat lamaran basah, tapi mata masih menyala.

Di kejauhan, suara warga mulai bergemuruh lagi, mengubah kejadian barusan menjadi bahan cerita baru.

“Raisa berani banget, lho, sama anak Kades!”

Hujan rintik-rintik terus turun, pelan tapi pasti, seakan berkata: di desa kecil ini, sesuatu baru saja dimulai.

Dan Raisa belum tahu—hari itu, ketika ia melempar batu dan memecahkan kaca, sebenarnya ia juga sedang memecahkan pintu menuju takdir yang akan menyeret hidupnya jauh dari rencana sederhana: mencari kerja, membantu keluarga.

Sementara di dalam mobil, Krisna menatap jalan desa yang basah, bayi di gendongannya kembali tertidur.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ada perasaan yang berbeda dari kosong.

Bukan bahagia.

Bukan tenang.

Tapi … sebuah gangguan.

Dan entah kenapa, gangguan itu bernama Raisa.

***

Ruang tamu rumah Pak Wijaya terasa hangat, bukan karena cuaca—melainkan karena aroma kopi tubruk yang baru saja diseduh. Hujan masih turun rintik di luar, mengetuk genteng dengan irama pelan. Krisna duduk di sofa panjang berwarna cokelat tua, bayi laki-lakinya terlelap di ayunan kain di sudut ruangan. Kemeja hitamnya masih sedikit lembap, rahangnya kaku, matanya menatap lurus ke depan.

Pak Wijaya duduk berseberangan, menyilangkan kaki, tangan besar itu memegang cangkir kopi. Tatapannya sesekali melirik ke arah jendela—ke mobil hitam yang terparkir di halaman.

Retakan di kaca belakangnya jelas terlihat.

Pak Wijaya menghela napas berat. “Mobilmu kenapa, Kris?”

Krisna mengangkat cangkir kopi, menyesapnya sekali. Cairan pahit itu mengalir di tenggorokannya, meninggalkan rasa hangat yang tidak benar-benar menenangkan.

“Retak,” jawabnya singkat.

Pak Wijaya mengernyit. “Ayah lihat. Maksud Ayah … kenapa bisa retak?”

Krisna menurunkan cangkir, menatap permukaan kopi yang bergetar halus. Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum, lebih mirip sindiran lelah.

“Ketemu gadis gila di jalan,” katanya datar. “Namanya Raisa.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air.

Di ambang pintu ruang tamu, seorang perempuan paruh baya yang baru saja masuk membawa nampan berisi camilan langsung tersentak. Tangannya bergetar, cangkir kecil di atas nampan beradu pelan.

Bu Rika.

Wajahnya yang biasanya tenang mendadak pucat. Matanya melebar, napasnya tertahan.

Pak Wijaya yang peka langsung menoleh. Tatapannya berpindah dari Krisna ke Bu Rika—ART yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumahnya, perempuan yang ia kenal jujur dan pendiam.

“Raisa?” ulang Pak Wijaya pelan. Lalu alisnya terangkat. “Bukannya Raisa itu anakmu, Bu Rika?”

Bu Rika seperti kehilangan pijakan. Ia berdiri kaku, jari-jarinya mencengkeram nampan seakan itu satu-satunya pegangan agar ia tidak jatuh.

“I-iya, Pak,” suaranya nyaris tak terdengar. “Raisa itu … anak saya.”

Udara di ruangan itu berubah.

Krisna yang semula menatap kopi, perlahan mengangkat kepala. Tatapannya mengarah ke Bu Rika—tajam, dingin, seperti pisau bedah yang siap mengiris lebih dalam.

Ibunya Raisa.

Perempuan yang setiap pagi membersihkan rumah ini. Perempuan yang mungkin—tanpa ia sadari—sudah sering ia lihat berlalu-lalang, tapi tak pernah benar-benar ia perhatikan.

“Aku nggak tahu anaknya siapa, Yah,” kata Krisna akhirnya, suaranya tetap datar, tanpa penyesalan. “Yang jelas dia masih muda. Rambutnya panjang. Pipinya agak cubby.”

Bu Rika terisak kecil, refleks. Tangannya gemetar makin hebat.

“Maaf, Den Krisna … maaf sekali,” katanya terbata, kepalanya menunduk dalam-dalam. “Anak saya memang … agak keras. Tapi dia bukan anak jahat. Dia—”

Pak Wijaya mengangkat tangan, menghentikan. “Tenang dulu, Bu Rika. Duduk dulu.”

Bu Rika ragu, lalu menurut. Ia duduk di kursi kecil dekat pintu, punggungnya bungkuk, wajahnya penuh rasa takut dan malu.

Krisna menyandarkan punggung ke sofa. Dalam kepalanya, adegan siang tadi berputar ulang: wajah Raisa yang berlumur lumpur, mata menyala penuh amarah, suara ketus yang berani menantangnya tanpa gentar.

Anak ART.

Anak Bu Rika.

Entah kenapa, fakta itu tidak membuatnya merasa menang. Justru sebaliknya—ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.

Pak Wijaya meneguk kopinya, lalu berkata dengan nada lebih tenang, tapi tegas, “Ceritakan dari awal.”

Krisna menghela napas. “Aku lewat jalan desa. Hujan. Ada genangan. Mobil nyiprat—”

“—Dan anak saya kena,” Bu Rika memotong tanpa sadar, lalu langsung menutup mulutnya sendiri, ketakutan. “Maaf, Pak.”

Pak Wijaya menoleh sebentar, lalu kembali ke Krisna. “Lanjut.”

Bersambung ... 💕

1
Herman Lim
wah ezio tau aja Raisa bakalan jadi mama nya nanti 🤭🤭
Herman Lim
akhir nya ezio py ibu asuh yg tulus
Sugiharti Rusli
beruntung bu Lita mengambil langkah tegas mau si Krisna protes atau tidak, toh kenyataannya sang cucu langsung anteng saat di tangan Raisa,,,
Sugiharti Rusli
sudah jelas saat bersama Raisa selama dua hari, anaknya tenang dan happy dalam pengasuhannya dan tidak rewel,,,
Sugiharti Rusli
ini mah hanya langsung si bapak yang putuskan hanya berdasarkan pengalaman yang belum pernah dia lihat,,,
Sugiharti Rusli
di mana" yah kalo cari buat pengasuh anak tuh seharusnya diperkenalkan kepada bayi nya si objek yang akan diasuh,,,
Sugiharti Rusli
kamu tuh sebenarnya cari pengasuh buat putra kamu atau buat siapa sih Kris sedari awal juga,,,
K4RL4
pawang dede ezio dtng 👍👍👍.
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊
mama
abis sholat terawih tak tengok kok blm up thor🤭..
Teh Euis Tea
alhamdulilah ezio udah tensng di tangan raisa dan untuk lena tdnya aku kasian sm km tp ternyata sikap polosmu hanya bohong belaka
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!