Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Di luar ruangan, Amayah menutup pintu dengan dada sesak. Wajahnya murung. Dadanya terasa sesak.
"Kurasa Brian akan lebih bahagia dengannya…"
Ia menunduk. Merasa kehadiran Lena lebih baik dibanding dirinya.
"Jika Brian menyukai Lena, maka aku…"
Tiba-tiba, John datang dan langsung terlihat kebingungan ketika melihat Amayah yang tampak murung dan sedih.
"Amayah?" tanyanya heran.
Amayah menoleh sekilas. "Apa?" jawabnya datar.
John sempat ragu, namun memilih tidak membahas lebih jauh. "Ayo, kita bicarakan soal Rafael dengan Brian," ujarnya akhirnya.
Sementara itu, Lena yang berada di dekat ranjang tersenyum kecil. "Makanmu lahap juga ya, Brian."
Atas ajakan John, Amayah kembali memasuki ruang rawat Brian.
"Baru saja bangun, tapi sudah bermesraan dengan wanita," ejek John begitu masuk.
"Bukankah kau sering begitu pada pacarmu itu?" balas Brian santai.
"Iya juga sih… tapi setidaknya aku tidak manja sampai disuapi saat makan," ujar John percaya diri.
Mendengarnya, Amayah menimpali dengan nada datar, "Aku pernah melihatmu disuapi Julia saat jam istirahat."
John langsung terdiam, kehabisan bahan untuk menyerang. Lena yang mendengar candaan mereka tertawa kecil, membuat suasana yang sempat canggung menjadi sedikit hangat. Mereka pun saling berpandangan, lalu ikut tersenyum.
Namun suasana itu tak bertahan lama.
"Ngomong-ngomong," kata John tiba-tiba, nadanya berubah serius, "Rafael telah dikeluarkan dari sekolah dan sekarang menjadi tahanan rumah."
Ruangan mendadak sunyi.
Brian terdiam. Ia memilih tidak menanggapi, hanya meraih gelas dan meminum obatnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka Rafael bisa melakukan hal seperti itu…" ucap Lena lirih.
Amayah menambahkan, "William yang menemukanmu tergeletak di lantai sekolah. Dia yang membawamu ke rumah sakit, lalu mengaku sebagai walimu."
Brian mengangguk pelan setelah menelan obatnya. "Pria itu lagi ya…" katanya sambil menghela napas.
"Sudah, sudah," ujar Lena lembut sambil menarik selimut dan merapikannya di tubuh Brian. "Lebih baik kita biarkan Brian beristirahat supaya cepat pulih dan bisa kembali bersekolah. Jangan memikirkan hal-hal berat dulu."
John mengangguk setuju. "Benar juga. Cepat sembuh, meja di kelas sudah merindukanmu."
Lena berdiri. "Ibuku juga memanggilku. Aku harus pergi. Maaf ya, Brian, sebenarnya aku ingin lebih lama di sini."
"Tidak masalah," jawab Brian datar.
"Ah, gawat. Julia meneleponku," kata John panik. "Aku pergi dulu ya, Brian."
"Ya…"
Pintu ruang rawat tertutup perlahan. Lena dan John pergi hampir bersamaan. Brian sempat merasa bingung, namun ia menerima alasan mereka.
Kini, di ruangan itu hanya tersisa Brian dan Amayah.
"Kau tidak ikut pergi juga?" tanya Brian datar.
Mendengarnya, Amayah langsung kesal. "Jadi kau ingin mengusirku? Baiklah kalau begitu," balasnya ketus.
"Bukan begitu maksudku," jawab Brian cepat.
Amayah menatapnya dengan sinis. Ia jelas tidak senang, meski di sisi lain ia justru sangat merindukan Brian.
"Bagaimana pendapatmu tentang Lena, setelah semua yang terjadi?" tanyanya tiba-tiba.
Brian tampak kebingungan. "Mengapa kau menanyakan itu lagi?"
"Jawab saja. Kau tidak perlu tahu alasannya," ujar Amayah tegas.
Brian menghela napas panjang. Ia berbaring, menatap langit-langit seperti kebiasaannya.
"Dia wanita yang baik. Senyumnya tulus, dan dia jujur terhadap perasaannya," ujar Brian santai. "Aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia berani menegurku meskipun dirinya sendiri merasa bersalah."
Ia melanjutkan, "Aku tidak bisa menilai seseorang terlalu jauh jika belum benar-benar mengenalnya."
"Apakah kau ingin mengenalnya lebih dalam lagi?" tanya Amayah pelan.
Brian terdiam sejenak. "Entahlah. Untuk saat ini, aku hanya ingin berteman dengannya. Dia salah satu orang yang bisa kupercaya."
Jawaban itu terasa menusuk.
"Begitu ya," balas Amayah singkat.
Ia lalu berdiri, menghela napas panjang. "Cepatlah sembuh. Aku masih ingin mencaci makimu lagi."
Brian justru memasang ekspresi cemas. "Kau ini…" gumamnya heran.
"Sudah, aku pergi dulu," ucap Amayah sambil melangkah ke pintu.
"Oh ya, tolong sampaikan ke Tante Emilia soal kondisiku," kata Brian santai.
"Baik, baik, Pak Tua," ejek Amayah sebelum menutup pintu.
Brian kembali memejamkan mata, mencoba beristirahat agar tubuhnya cepat pulih.
Sementara itu, di luar ruangan, Amayah kembali terlihat murung. Pikirannya dipenuhi oleh Lena—tentang kemungkinan persaingan yang bahkan belum dimulai.
"Dia lebih baik dariku… baik, ceria, tulus, penuh kasih sayang," batinnya. "Tidak seperti aku yang selalu bertengkar dengannya…"
Amayah melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan hati penuh keraguan.
"Untuk apa aku melakukan semua ini," pikirnya pilu, "jika pada akhirnya aku hanya menjaga jodoh milik orang lain?"
---
Keesokan paginya, Emilia dan Sophia datang menjenguk Brian. Keduanya tampak sangat khawatir—bahkan Emilia rela meninggalkan pekerjaannya demi memastikan keadaan Brian.
Brian menjelaskan situasinya dengan singkat. Namun, Emilia justru memeluknya erat, wajahnya dipenuhi rasa lega. Setidaknya, Brian baik-baik saja. Setelah pemeriksaan selesai, Brian diperbolehkan pulang, meski dokter menyarankan ia beristirahat sekitar dua hari lagi agar benar-benar pulih.
Emilia mengantarkan Brian kembali ke rumah. Begitu tiba, Brian merasa sedikit lega—terlebih saat Emilia menyiapkan makanan sehat untuknya. Akhirnya ia bisa terbebas dari makanan rumah sakit yang terkenal hambar.
Karena Amayah berangkat ke sekolah, Emilia dan Sophia yang merawat Brian selama di rumah. Meski Brian berkali-kali menolak dan mengatakan dirinya sudah sembuh, keduanya tetap bersikeras menjaganya.
"Kamu tidak memberitahu orang tuamu?" tanya Emilia sambil membersihkan lantai dengan alat penyedot debu.
Brian menjawab datar, "Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Aku ingin mereka fokus bekerja tanpa memikirkanku. Sudah seharusnya begitu."
Mendengarnya, Emilia tampak sedih, namun ia memilih menghormati keputusan Brian. "Benar juga. Mereka pasti akan langsung meninggalkan pekerjaan dan bergegas pulang," ujarnya sambil tersenyum lembut.
"Aku juga sangat khawatir padamu," lanjut Emilia. "Kamu adalah anak satu-satunya kakakku, dan aku bertanggung jawab menjagamu atas izin dari ibumu," katanya dengan senyum manis.
Ia kemudian menambahkan, "Tapi sepertinya sekarang kamu sudah punya banyak teman. Bahkan ada Amayah yang selalu berada di sisimu."
Brian terdiam sejenak, baru menyadari hal itu. "Benar juga. Aku merasa berbeda belakangan ini. Mungkin ini akan menjadi pengalaman berharga dalam hidupku," katanya sambil tersenyum tipis.
"Carilah teman sebanyak-banyaknya, Brian. Tapi pilihlah dengan bijak," ujar Emilia tulus. "Cari mereka yang menerimamu apa adanya—sikap dan perilakumu. Tante, Sophia, ayah, dan ibumu selalu mendoakan yang terbaik untuk hidupmu ke depannya."
Sementara mereka berbincang, Sophia sibuk memainkan bonekanya di sudut ruangan, diam-diam mendengarkan tanpa ingin mengganggu.
Kata-kata itu membuat hati Brian terasa hangat. "Terima kasih, Tante," ucapnya sambil menampilkan senyum manis—senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Itu jauh lebih baik daripada wajah datarmu yang biasa," kata Emilia sambil terkekeh. "Kalau terus begitu, orang-orang bisa mengira kamu tidak senang berada di dekat mereka. Jadi, cobalah tunjukkan sedikit senyuman dan ekspresi lainnya."
Brian mengangguk. "Baiklah. Tapi bukankah akan terasa aneh jika tiba-tiba aku sering tersenyum?" tanyanya.
"Kalau terasa aneh, lakukan perlahan," jawab Emilia sambil melipat tangan dan menunjuk ringan ke arahnya. "Tunjukkan ekspresimu pada hal-hal yang benar-benar kamu rasakan. Jangan memaksakan diri."
Brian kembali mengangguk. Saran itu terdengar sederhana, namun terasa sangat berharga—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.
Dulu, Brian hampir tidak memiliki teman. Kini, ia sudah punya beberapa orang yang berarti baginya. Karena itu, ia ingin mempertahankan semuanya. Ia tidak ingin kembali hidup dalam kesepian. Ia ingin hidupnya menjadi lebih berwarna.
Belajar seharian tanpa bersosialisasi terasa membosankan. Maka dari itu, Brian sangat bersyukur kini bisa mulai mempercayai orang lain—sesuatu yang dulu selalu ia hindari demi melindungi dirinya sendiri.
---
Amayah menerima pesan bahwa Brian sudah pulang ke rumah. Ia merasa senang, meski masih setengah tidak percaya.
Namun setelah benar-benar tiba di rumah Brian, Amayah terdiam. Apa yang Brian sampaikan ternyata sungguhan. Ia melihat Brian duduk santai di sofa, fokus bermain gim seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau sudah pulang, ya?" tanya Brian datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Amayah membalas dengan nada mengejek, ekspresinya tetap datar. "Akhirnya sang raja pemalas kembali menempati tahtanya."
"Aku baru saja sampai, jadi jangan dulu menghinaku," balas Brian tenang.
"Jadi, mau makan malam apa?" tanya Amayah santai sambil langsung melangkah ke dapur.
"Terserah," jawab Brian singkat.
Amayah berhenti sejenak dan menoleh. "Kau ini benar-benar pria, kan?"
Tanpa menunggu jawaban, Amayah mulai menyiapkan makan malam. Ia melirik sekilas ke arah ruang tengah. Brian masih sama seperti biasanya—cuek, malas, dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Namun entah mengapa, pemandangan itu justru membuat hatinya terasa hangat.
Tak seorang pun melihat senyum kecil yang muncul di wajah Amayah. Jantungnya berdebar pelan. Ia merasa senang karena akhirnya bisa kembali memasakkan makanan untuk Brian, setelah sebelumnya semua masakan yang ia buat terasa hambar tanpa kehadirannya.
Semangat Amayah pun kembali. Ia menyiapkan hidangan yang lebih spesial, memastikan rasanya tetap lezat.
"Enak sekali," ujar Brian sambil mengunyah. "Makanan buatanmu memang tidak pernah mengecewakan," pujinya dengan nada datar.
"Tentu saja. Memangnya masakanku pernah mengecewakanmu?" balas Amayah dengan nada angkuh.
Namun tak lama kemudian, Amayah kembali tersenyum. Ia memperhatikan Brian yang menyantap makanannya dengan lahap—pemandangan yang ternyata ia rindukan, meski hanya terpisah sekitar satu minggu.
"Ada apa? Mengapa kau tersenyum sendiri?" tanya Brian heran.
"Tidak ada! Jangan menuduh yang aneh-aneh!" sahut Amayah cepat sambil memalingkan badan.
Tiba-tiba, Brian berbicara dari belakangnya.
"Tapi aku sangat berterima kasih. Aku senang bisa merasakan makanan buatanmu lagi. Terima kasih juga karena sudah rela menungguku."
Mendengar suara Brian yang terdengar tulus, Amayah terdiam. Ia tidak sanggup memperlihatkan ekspresi senangnya.
"Sama-sama," jawabnya singkat. "Tapi jangan sampai kejadian itu terulang lagi. Aku tidak sanggup membiarkan daging dan sayuran di dapur terbengkalai selama satu minggu," tambahnya sambil tersenyum nakal.
"Iya, iya…" balas Brian sambil tersenyum kecil, sedikit heran.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Pukul setengah sebelas malam, Amayah baru saja selesai merapikan peralatan dapur dan menyelesaikan PR-nya. Setelah itu, ia berkeliling rumah untuk mematikan beberapa saklar lampu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat cahaya samar keluar dari celah pintu kamar Brian yang sedikit terbuka.
Merasa heran, Amayah mengintip ke dalam. Ia langsung terkejut mendapati Brian masih asyik bermain gim di depan komputernya.
Tanpa banyak bicara, Amayah masuk ke kamar dan langsung mematikan komputer Brian secara paksa, bahkan mencabut kabel listriknya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Brian kesal karena permainannya tiba-tiba terhenti.
Mendengarnya, Amayah justru semakin marah. "Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Mengapa kau masih bermain gim padahal ini sudah larut malam? Bukankah kau baru saja pulang dari rumah sakit?" katanya tegas.
"Aku sudah sembuh. Lagi pula aku merindukan gimku, jadi kau tidak berhak menuntutku," balas Brian datar.
"Bermain gim sampai larut malam itu tidak baik. Bukankah sebelumnya aku sudah memperingatimu?" ujar Amayah, nadanya meninggi.
"Aku tidak peduli apa pun alasanmu," lanjutnya tanpa memberi celah. "Ini demi kesehatanmu. Kau baru saja keluar dari rumah sakit dan harus pulih sepenuhnya. Kalau begini terus, kapan kau akan benar-benar sembuh?"
Mendengar itu, Brian terdiam. Ia merasa tersudut dan tak mampu membalas argumen Amayah.
"Maaf… aku salah. Apa yang kau katakan benar," ucapnya akhirnya.
Tanpa ingin memperpanjang masalah, Brian segera beranjak ke kasurnya. Ia tak ingin merusak suasana malam yang seharusnya tenang.
Namun, perhatian Amayah tertuju pada pakaian Brian yang berserakan di lantai kamar.
"Kau ini… sulit sekali merapikan pakaianmu," gumamnya sambil memungut satu per satu baju tersebut.
"Ah, aku lupa," jawab Brian singkat sambil bersiap untuk tidur.
Saat perhatian Brian teralihkan ke arah lain, Amayah diam-diam menghirup pakaian yang sedang ia pegang. Wangi khas Brian tercium jelas—aroma yang tanpa ia sadari sangat ia sukai.
Namun ketika Brian merasa heran karena Amayah tiba-tiba terdiam, ia menoleh ke arahnya. Amayah langsung tersentak dan buru-buru berpura-pura tidak melakukan apa pun.
Sambil melipat pakaian Brian dengan rapi, Amayah mencoba mengalihkan suasana. "Mengapa pakaianmu semuanya serba hitam? Bukan hanya pakaian, barang-barang yang kau beli juga hampir selalu berwarna hitam."
"Singkatnya karena aku suka warna hitam," jawab Brian datar. "Menurutku hitam itu enak dipandang, sederhana, dan tidak norak. Karena itu aku menyukainya."
Mendengarnya, Amayah memegang sehelai rambutnya dan menggulungnya perlahan, pipinya sedikit memanas.
"Begitu ya…" gumamnya pelan. "Apakah kau menyukai warna rambut Lena?" tanyanya datar.
"Warnanya memang bagus, tapi kurasa rambut hitammu lebih baik," jawab Brian polos.
Mendengarnya, Amayah hanya bisa terdiam sambil menahan rasa malu.
---
Dua hari kemudian, Brian akhirnya kembali bersekolah. Kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian setelah kabar bahwa Rafael resmi dikeluarkan dari sekolah menyebar luas. Ini merupakan kali kedua seorang siswa dikeluarkan akibat kasus kekerasan. Meski begitu, tatapan sinis masih tertuju padanya. Tidak ada yang benar-benar berubah, setidaknya bagi Brian.
Setibanya di ruang kelas, Brian langsung disambut oleh Lena dan John dengan senyum tulus. Di sisi lain, Amayah duduk di kursinya sendiri, memberikan senyum tipis yang tertangkap oleh pandangan Brian dari kejauhan.
Mereka pun mulai berbincang. Untuk pertama kalinya, Brian tidak mampu menahan senyumannya. Ia belum pernah merasakan sambutan hangat dari seseorang yang bisa ia sebut teman.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda. Orang-orang di sekitar kini tampak tidak lagi mempermasalahkan kedekatannya dengan Lena. Seolah sesuatu telah terjadi sebelum ia kembali.
"Ah, Lena melakukan sesuatu yang bisa dibilang cukup gila," ujar John sambil tersenyum heran.
"Apa itu?" tanya Brian.
"Tolong jangan dijelaskan, John…" ucap Lena sambil tersipu malu.
Melihat ekspresi Lena, John hanya tertawa kecil. "Singkatnya, Lena menyatakan sesuatu agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
"Begitu ya. Terima kasih karena sudah membantuku, Lena," ujar Brian datar.
"Sama-sama. Apa pun demi dirimu," balas Lena dengan senyum bahagia.
Tiba-tiba, perhatian Brian teralihkan. Di lorong kelas, William tampak berjalan melewati mereka dengan ekspresi datar, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Brian refleks berdiri dari tempat duduknya dan mengejarnya. Tatapannya tajam, tangannya dikepalkan seolah menahan emosi. Lena serta John merasa bingung sekaligus penasaran.
"Hei, William," panggil Brian dengan nada berat, menyiratkan emosi yang tertahan.
William berhenti lalu menoleh. "Sopan sekali, ya, memanggil guru dengan namanya langsung," ujarnya sambil tersenyum.
"Untuk apa aku bersikap sopan pada guru yang telah menjatuhkanku ke jurang permasalahan?" balas Brian dengan ekspresi marah—sesuatu yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.
William menatapnya dengan senyum ramah yang sama. "Apa maksudmu?" tanyanya ringan.
"Di balik Rafael sebagai pelaku—bahkan Michael beberapa tahun lalu—sebenarnya kau yang merencanakan semua ini, bukan?" tanya Brian tegas.
Mendengar itu, senyum ramah di wajah William perlahan berubah. Senyum yang kini terasa jauh lebih gelap.
"Wah, sepertinya aku ketahuan," ujarnya pelan.
Brian dan William pun saling menatap. Dua pasang mata dengan makna yang bertolak belakang. Brian, korban yang akhirnya mengetahui kebenaran. Dan William—guru yang selama ini menjadi dalang di balik rentetan kejadian tersebut.
Bersambung.
semangat terus bang!!!