___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 15
langkah kaki Vanya terdengar riang di sepanjang koridor menuju gedung belakang. Perasaan menang benar-benar menyelimuti hatinya setelah melihat wajah Geby yang pucat tadi.
Dengan kunci pemberian Aiden di genggamannya, Vanya merasa seperti memegang kunci menuju wilayah terlarang.
Begitu sampai di depan pintu kayu jati yang kokoh di belakang kantor OSIS, Vanya memutar anak kunci itu.
Cklek.
Ruangan itu sangat berbeda dari kantor OSIS yang sibuk. Di sini hanya ada sofa kulit besar berwarna cokelat tua, meja yang rapi, kulkas kecil di sudut, dan aroma maskulin yang sangat kuat aroma Aiden.
Di balik meja, Aiden sedang bersandar, menatap laptopnya. Ia langsung menutup layar saat melihat siapa yang datang.
"Gimana sidangnya, Bocah?"
tanya Aiden dengan suara rendah yang menenangkan.
Vanya langsung berlari dan menjatuhkan dirinya di sofa, bersandar manja.
"Skakmat, Kak! Geby diskors dua minggu! Mama sama Mami keren banget tadi, gwehh sampe terharu!"
ucapnya dengan logat manja yang kental.
Aiden bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Vanya. Ia menarik tangan Vanya, memaksa gadis itu berdiri tepat di depannya.
"Bagus kalau gitu. Berarti nggak ada lagi yang ganggu jam makan siang lo."
Aiden tiba-tiba memegang dagu Vanya, mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu.
Jantung Vanya mulai berdegup tak keruan. Sisi mesum Aiden mulai terpancar dari tatapannya yang menggelap.
"Tadi lo hebat di depan Kepsek. Sebagai imbalannya... gue mau sesuatu,"
bisik Aiden.
Wajah Aiden perlahan mendekat, napasnya yang hangat terasa di bibir Vanya. Vanya reflek memejamkan mata, tangannya meremas seragam Aiden.
Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan
BRAKK!
"WOY, DEN! Lo di dalem kagak?! Gila nih proposal lomba basket minggu depan"
Pintu terbuka lebar.
Bagas, Rian, dan Kiki tiga sahabat Aiden sekaligus inti pengurus OSIS masuk tanpa mengetuk.
Mereka langsung mematung melihat posisi Aiden yang sedang memegang dagu Vanya dengan jarak wajah yang sangat intim.
"Astaga naga... gue salah liat atau gimana nih?"
Rian melongo, kunci mobil di tangannya hampir jatuh.
"Waduh, ganggu ya? Sori, sori! Lanjutin aja, Den!" seloroh Kiki sambil menutup mata dengan tangan, tapi jarinya tetap terbuka lebar.
Aiden tidak langsung melepaskan Vanya. Ia justru menoleh perlahan ke arah teman-temannya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin membunuh mereka di tempat.
"Gue bilang jangan masuk tanpa ngetuk, kan?" desis Aiden dingin.
Bagas berdehem canggung, mencoba mencairkan suasana.
"Sori, Tapi ini darurat. Sekolah tetangga minta kepastian soal lomba minggu depan. Mereka bawa sponsor gede, kita harus rapatin sekarang."
Vanya yang sudah merah padam wajahnya langsung berusaha menjauh dari Aiden, tapi tangan Aiden masih menahan pinggangnya sebentar sebelum akhirnya dilepaskan.
Vanya langsung duduk di pojok sofa, menunduk malu, pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Duduk lo semua,"
perintah Aiden mutlak.
Suasana santainya hilang, berganti dengan mode Ketua OSIS yang tegas.
Tiga cowok itu duduk di kursi yang tersedia, meski sesekali Rian dan Kiki saling sikut sambil melirik Vanya.
"Jadi gimana? Sekolah sebelah mau kita yang jadi tuan rumah, tapi biayanya bagi dua,"
buka Bagas mulai serius.
Selama hampir tiga puluh menit, mereka berdebat soal teknis lomba, keamanan sekolah, hingga koordinasi dengan guru olahraga.
Vanya yang menunggu di sofa merasa bosan, tapi juga kagum melihat Aiden yang sangat berwibawa saat memimpin teman-temannya.
Sesekali, Aiden melirik Vanya bukan lirikan bisnis, melainkan lirikan lapar yang membuat Vanya bergidik ngeri sekaligus berdebar.
"Oke, fiks ya. Besok jam sepuluh kita survei lapangan lagi,"
tutup Aiden.
"Siap, Bos! Yuk cabut, mumpung bel masuk masih lama, laper gue,"
ajak Kiki.
Mereka bertiga bangkit. Sebelum keluar, Bagas menepuk bahu Aiden.
"Den, pelan-pelan ya sama adek kelas. Jangan sampe lecet, ntar bapaknya lapor polisi,"
canda Bagas sambil tertawa dan langsung lari sebelum Aiden sempat melempar buku.
Begitu ketiga temannya keluar dan suara langkah kaki mereka menjauh, Aiden tidak langsung kembali ke mejanya. Ia berjalan perlahan menuju pintu.
Cklek.
Aiden memutar kunci pintu itu dua kali. Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi dan privat.
Vanya menelan ludah, ia merasa seperti mangsa yang baru saja dikurung dalam kandang singa.
Aiden berbalik, melepaskan dasinya dan membuka dua kancing atas seragamnya.
"Tadi ada yang kepotong, kan?"
tanya Aiden dengan seringai miring yang sangat mesum.
"K-kak... kan udah bel istirahat hampir habis," cicit Vanya, mencoba kabur tapi Aiden sudah berdiri di depannya, mengunci pergerakan Vanya di antara sofa dan tubuh kokohnya.
"Gue nggak peduli. Dan gue tau, as* lo udah mulai penuh lagi dari tadi sidang, kan? Sini... biar gue bantu pumping tanpa alat."