"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.33. Hari itu kali pertama aku merasa memiliki duniaku, aku hamil. [RUKMINI]
Rukmini mendapat kabar dari salah satu pria anggota dari kelompok yang ada di rumah londo itu, senyum nya terbit mendengar ibunya hamil.
"Sesok, aku ke sana. Beberapa hari lagi kita juga ada perjamuan, kalau begitu pas sekali." Ucap Rukmini, pria itu mengangguk.
"Ijin pamit, den ayu." Ucap nya, Rukmini tersenyum.
Rukmini lalu duduk di meja rias, dia menatap pantulan wajah nya sendiri di cermin dan dia mengusap perut nya. Sejak terakhir kali dia hamil dan di gugurkan dia tidak tau apa sekarang dia juga hamil atau tidak, tapi sekarang Rukmini bisa mengingat - ingat ciri atau tanda - tanda dirinya hamil.
"Sepertinya aku juga hamil, besok juga kebetulan jadwal pengecekan dengan wa Minten." Gumam nya..
"Den mas.. anak iki.." Rukmini bicara dengan suami ghoib nya.
"Den ayu akan melahirkan sepasang anak kembar, tapi yang satu berasal dari bangsa den mas." Ucap suara suami ghoib nya, senyum Rukmini terbit mendengar kata melahirkan..
"Aku boleh melahirkan anakku, den mas?" Ucap nya terharu, karena selama ini dia akan langsung di paksa menggugurkan kandungan nya.
"Ya, itu anakku." Ucap suara suami ghoib Rukmini, Rukmini tersenyum.
Dia sama sekali tidak mengerti mengapa suami ghoib nya meng klaim itu anak nya, padahal setiap malam Rukmini berganti - ganti pasangan dan jelas Rukmini sendiri tidak tau anak nya itu anak siapa, jaman yang masih jauh dari kecanggihan membuat nya tidak bisa mengetahui itu anak siapa tentu saja.
"Aku akan jadi.. seorang ibu.." Gumam nya, dia bahagia..
"Ibu akan besarkan kamu, nak." Ucap nya sambil mengelus perut nya.
Yang Rukmini tidak tahu adalah, setelah dia melakukan segala ritual sejak awal sampai sekarang, pria - pria yang bersetubuh dengan nya itu di tunggangi juga oleh sosok suami ghoib nya.
Ke esokan harinya..
Rukmini datang ke rumah londo menggunakan delman, Jaman itu delman masih umum di gunakan sebagai alat transportasi juga selain sepeda, becak dan motor. Mobil pun sebenar nya banyak tapi belum ada di desa Rukmini yang punya mobil karena daerah nya terpencil dan jalan nya masih jalan batu dan tanah.
"Den ayu.." Sapa ki Gading, Rukmini tersenyum pada ki Gading, ia menjabat tangan ki Gading dan masuk ke dalam.
"Dimana wanita itu, ki?" Tanya Rukmini, yang dia maksud adalah ibunya.
"Ada di belakang, den ayu." Sahut ki Gading, sambil berjalan di sebelah Rukmini dan melirik wa Minten.
Rukmini berjalan kedalam mengikuti ki Gading, ternyata kamar tempat ibunya Rukmini di tahan itu bukan di rumah itu tapi ada rumah kecil di belakang rumah utama. Mereka pun sampai di depan sebuah kamar, kamar yang di tempati ibunya atau lebih tepatnya kamar yang di gunakan untuk mengurung ibunya.
Rukmini membuka pintu kamar itu dan cahaya dari luar pun masuk kedalam, ruangan itu gelap, lembab tanpa cahaya yang masuk dari mana pun, hanya ada lubang angin - angin itu pun tinggi.
"Ehm! Bau sekali." Ucap Rukmini ketika pintu kamar nya di buka.
"Dia buang kotoran di sana, den ayu." Jawab ki Gading, Rukmini sampai mual - mual.
Rukmini menutup hidung nya dengan sapu tangan dan dia masuk je dalam, terlihat ibunya sedang tergeletak di atas lantai yang dingin, dia membuka mata saat pintu kamar itu terbuka dan melihat Rukmini masuk.
"Mini, iku koe?" Ucap nya, Rukmini agak tertegun melihat kondisi ibunya yang sangat kurus, jauh dari terakhir kali dia bertemu.
"Apa kabar?" Tanya Rukmini, ibunya menangis mencoba bangun meraih Rukmini tapi Rukmini mundur.
"Mini, tolong keluarkan ibu nduk. Ibu minta maaf, ibu salah." Ucap nya, langsung meminta maaf pada Rukmini.
"Ibu dulu paksa koe, sekarang ibu sudah tau rasanya. Maafkan ibu, nduk." Ucapnya, tapi Rukmini hanya diam berdiri menatap ibunya dengan tatapan angkuh.
"Terlambat toh bu." Ucap Rukmini, ibunya mendongak dan meraung - raung.
"Nek ndak, bunuh saja ibu! Ibu ndak kuat hidup koyok ngene, ibu maksa koe pun ndak pernah perlakukan koe begini toh?!" Ucap ibunya, Rukmini tersenyum mesem dengan angkuh.
"Ibu ndak pernah ngurung koe! Koe masih bisa makan enak, minum layak, tidur pun juga di ranjang yang bagus." Ucap ibunya, emosi Rukmini terpancing mendengar itu.
"Memang nya aku minta?" Ucap Rukmini, ibunya mendongak menatap Rukmini yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Sejak awal aku sudah bilang ndak mau, sejak awal aku sudah bilang sakit, sejak awal aku sudah bilang tolong lepaskan aku, memang nya ibu dengarkan aku?" Ucap Rukmini, ibunya kembali menunduk merasa tertohok.
"Yang ibu katakan cuma, di awal memang sakit tapi nanti juga lama - lama terbiasa dan aku ikut menikmati, iya toh?" Ucap Rukmini, ibunya diam tidak bisa menjawab.
"Pakaian bagus yang ibu beli pun semata - mata untuk menarik pria - pria datang, ranjang bagus juga cuma fasilitas supaya kegiatanku melayani tamu ndak terganggu, lalu makanan enak.. memang nya itu makanan kesukaanku, itu makanan ibu dan bapak yang suka." Ucap Rukmini, ibunya menelan ludah nya.
"Dalam waktu yang panjang itu, rasanya aku bagai hidup di neraka, bu. Aku punya tubuh, seperti bukan tubuhku, aku punya suara pun ndak pernah ibu dengar. Jadi apa beda nya sama kondisi ibu sekarang? Sama." Ucap Rukmini, ibunya lalu meraung - raung dan memukuli lantai.
Memang selama Rukmini menjalani hidup nya, bukan hanya sejak 2 tahun lalu tapi sejak dia kecil.. Dia tidak pernah mendapat keadilan sama sekali. Orang tua nya hanya menjadikan nya alat bantu gratis, dia seperti kuli.. Tidak kerja maka tidak makan, setiap harinya dia menjalani kehidupan yang berat sebagai anak perempuan.
Dia kumuh, kucal, kurus dan seperti anak tidak terurus. Pakaian nya compang - camping dan penuh tambalan di mana - mana, dia.. Tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang. Rukmini sebenar nya anak yang baik, hatinya baik meski orang tua nya begitu, Rukmini hanya takut durhaka jika dia melawan, itulah mengapa dia manut saja di suruh ini dan itu.
Tapi takdir nya.. Seolah menyeret nya jatuh dari tempat yang tinggi setinggi - tinggi nya dan jatuh ke dasar yang paling dasar dan gelap. Tidak ada satupun tangan yang terulur padanya, tidak ada yang mau peduli pada nasib nya, hidup nya, keadaan nya, mereka.. Menutup mata dan malah bersama - sama mengolok - olok kondisi dirinya yang saat itu sedang sangat berharap ada cahaya datang.
"Mbok, tolong tarik bayi nya keluar." Ucap Rukmini, ibunya terkejut.
"Koe mau menggugurkan kandungan ibu, Mini?" Tanya ibunya, Rukmini hanya diam.
"Mini, koe mau balas dendam sama ibu?" Ucap nya lagi, Rukmini tersenyum dan mengusap perut nya.
"Iya, dan kali iki.. Aku akan besarkan anakku." Ucap Rukmini, lalu dia mundur.
"Mbok, tarik sekarang." Ucap Rukmini dan Wa Minten mengangguk.
"Wa! Kok sampean di pihak nya Rukmini toh!? Aku kan yang bawa sampean!" Ucap ibunya Rukmini, wa Minten tersenyum.
"Manut yo, Sri. Supaya ndak sakit, minum dulu jamu nya." Ucap wa Minten, ibunya Rukmini sampai tidak bisa berkata - kata lagi.
"Lakukan mbok, aku mau lihat." Ucap Rukmini, dia terang - terangan menunggu.
"Nggih, den ayu.." Sahut wa Minten.
"WA!!" Teriak ibunya Rukmini tapi kemudian menjerit saat perut nya di remas.
"AAARGHHH!!!"
BERSAMBUNG!!