Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 (Part 2)
Pukul 21.45 WIB – Menuju Ruang Kerja
Kella segera meletakkan nampannya dan menyelinap melalui koridor pelayan yang terhubung dengan sayap barat. Lorong itu sunyi. Ia sampai di depan pintu kayu jati besar milik Bramantyo.
Ia mengeluarkan alat pemindai kecil yang diberikan Gala kemarin. Bip. Lampu merah berubah menjadi hijau. Gala berhasil meretas kode harian ayahnya. Namun, rintangan sebenarnya ada di dalam: brankas dengan sensor RFID.
Kella masuk ke dalam ruangan yang berbau cerutu dan kulit tua. Ia segera menuju lukisan ibunda Gala di sudut ruangan. Ia menggeser lukisan itu, menampakkan sebuah panel besi dengan lubang kunci dan sensor infra merah.
Kella menunggu. Ia tahu Bramantyo pasti akan kembali ke ruang kerjanya untuk menenangkan diri setelah insiden Gala tadi.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar mendekat. Kella segera bersembunyi di balik tirai beludru yang tebal.
Pintu terbuka. Bramantyo masuk sambil mengumpat pelan. Ia melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi. Ia tampak sangat lelah. Ia duduk di meja kerjanya, lalu—seperti rutinitas yang Gala ceritakan—ia melepas jam tangannya untuk memijat pergelangan tangannya yang pegal.
Jam tangan itu diletakkan di atas meja, hanya berjarak dua meter dari persembunyian Kella.
...
Pukul 22.00 WIB – Detik-Detik yang Menentukan
Bramantyo berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan untuk menuangkan wiski. Ini adalah satu-satunya kesempatan Kella.
Kella merayap keluar dari balik tirai. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa pusing. Ia mendekati meja kerja, tangannya yang gemetar terulur mengambil jam tangan itu.
Klik.
Kella menempelkan jam tangan itu ke sensor di balik lukisan. Panel brankas terbuka dengan suara desisan udara yang halus. Di dalamnya terdapat tumpukan map cokelat. Kella segera mencari map bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bangsa – Original".
Ia menemukannya. Dokumen dengan tanda tangan asli dan stempel notaris yang lama.
Tiba-tiba, suara gelas yang diletakkan di meja terdengar. Bramantyo sedang berjalan kembali ke mejanya.
Kella segera menutup brankas, memasukkan dokumen ke saku rahasia di pinggangnya, dan meletakkan kembali jam tangan itu ke posisi semula. Ia baru saja hendak kembali ke balik tirai saat kakinya menyenggol pinggiran karpet yang terlipat.
Krasak.
Bramantyo berhenti melangkah. Matanya yang tajam memicing ke arah meja kerjanya. "Siapa di sana?"
Kella membeku. Ia tidak punya waktu untuk bersembunyi sepenuhnya.
Bramantyo berjalan perlahan menuju meja, tangannya meraba laci meja—tempat ia biasanya menyimpan senjata api.
"Keluar. Sebelum aku menembakmu," perintah Bramantyo dingin.
Kella perlahan keluar dari balik meja, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "M-maaf, Tuan... saya hanya ingin mengambil gelas kosong yang tertinggal."
Bramantyo menatap masker hitam yang dikenakan Kella. "Staf katering? Kenapa kamu masuk ke sini tanpa izin?"
Bramantyo mendekat, tangannya terulur hendak membuka masker Kella. Kella memejamkan mata, pasrah pada nasibnya.
Namun, tiba-tiba pintu ruang kerja ditendang terbuka.
"AYAH!"
Gala berdiri di sana, napasnya tersengal, tubuhnya basah kuyup oleh hujan yang ternyata mulai turun di luar. Ia memegang botol wiski yang sudah kosong.
"Gala? Keluar! Ayah sedang ada urusan!" bentak Bramantyo.
Gala berjalan terhuyung mendekati ayahnya, ia sengaja menabrak Kella hingga gadis itu terdorong menjauh dari jangkauan tangan Bramantyo. "Gue mau tanya... kenapa Ayah harus ngundang Reno dan orang tuanya? Mereka itu cuma benalu!"
Gala terus meracau, menciptakan keributan baru yang memaksa Bramantyo mengalihkan fokusnya sepenuhnya pada putranya yang dianggap sedang mabuk dan sakit.
"Pergi kamu, pelayan! Keluar sekarang juga!" teriak Bramantyo pada Kella tanpa menoleh lagi.
Kella segera berlari keluar ruangan. Ia melewati lorong-lorong gelap, menuju garasi bawah seperti yang dijanjikan Gala.
...
Pukul 22.30 WIB – Pelarian
Kella sampai di garasi bawah yang remang-remang. Ia menemukan mobil van putih katering dengan plat nomor B 1207 GA. Pintunya tidak terkunci. Ia segera melompat masuk dan bersembunyi di balik tumpukan kotak serbet.
Beberapa menit kemudian, pintu pengemudi terbuka. Seseorang masuk dengan napas yang memburu.
"Kella? Lo di sana?"
Itu suara Gala. Ia sudah melepas tuksedonya, kini hanya mengenakan kemeja putih yang basah.
"Aku di sini, Gala," Kella muncul dari balik tumpukan kotak.
Gala tidak segera menjalankan mobil. Ia bersandar pada kemudi, bahunya berguncang. "Gue hampir... gue hampir mati jantungan pas liat Ayah mau buka masker lo."
Kella meraba saku rahasianya dan mengeluarkan map cokelat itu. "Aku berhasil, Gala. Dokumen aslinya ada di sini."
Gala mengambil map itu, namun ia tidak membukanya. Ia justru menatap Kella. Di dalam van yang sempit dan gelap itu, hanya ada suara hujan yang menghantam atap mobil.
Gala mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Kella yang masih tertutup masker. Ia perlahan membuka tali masker itu. Wajah Kella yang penuh keringat dan ketakutan terpampang di depannya.
"Lo luar biasa, Kella," bisik Gala.
Tanpa peringatan, Gala menarik Kella ke dalam pelukannya. Bukan pelukan yang kasar, melainkan pelukan yang penuh rasa syukur dan perlindungan. Kella bisa merasakan detak jantung Gala yang masih berpacu cepat, sama seperti miliknya.
"Kita belum selesai," gumam Gala di telinga Kella. "Hendra bakal sadar kalau dokumen itu hilang dalam waktu singkat. Kita harus segera menyerahkan ini ke Adrian malam ini juga.
Gala menyalakan mesin van. Saat mereka meluncur keluar dari gerbang singa kediaman Alangkara, Kella menoleh ke belakang. Rumah mewah itu masih bersinar terang, namun di tangan mereka, terdapat sumbu yang akan meledakkan seluruh kemegahan palsu tersebut.
...