Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Persiapan
Langit senja yang kemerahan menjadi saksi. Sebuah keputusan besar sudah disepakati bersama. Besok pagi, Meila dan Abyan akan melangsungkan akad Nikah.
Meila ingin menolak keputusan keluarga barunya itu. Entah mengapa, bibirnya terasa keluh hanya sekadar berucap, "Aku belum siap."
Semua bahkan setuju dia menikah dengan Abyan, pria asing yang baru beberapa jam ini dia kenal. Ada yang mengganjal dibenak Meila. Dia merasa aneh. Hanya karena permintaan sederhana kakek Hasan yang ingin memeluknya, pernikahan ini terjadi.
Meila memang tidak suka sembarang orang menyentuhnya. Jika hanya pria tua seperti kakek Hasan, Meila tidak akan menolak. Apalagi, jika pelukan itu mampu membuat pria tua itu bahagia.
Meila sadar, semua ini seperti sebuah konspirasi. Perdebatan antara oma Amanda dan kakek Hasan seolah sudah diatur, untuk menghasilkan kesepakatan yang mereka inginkan. Pernikahan antara Meila dan Abyan.
Terlepas dari itu semua, Meila melihat ketulusan dari keluarga barunya ini. Wajah bahagia yang terpancar dari mereka, kecuali Abyan. Pria itu tetap saja memasang wajah datar tanpa ekspresi. Mungkin pria itu terpaksa menyetujui pernikahan ini, karena kakek Hasan terus menekannya. Hingga suasana hening sesaat, menunggu jawaban Abyan yang akhirnya setuju.
Semua tersenyum bahagia mendengar jawaban Abyan. Semua orang sibuk menginginkan yang tebaik untuk Meila. Sangat jauh berbeda saat Meila menyampaikan akan menikah dengan Zayan pada keluarga Aksara.
Semua keluarganya mencemooh dirinya, tanpa terkecuali. Mengatakan bahwa, dirinya yang tidak memiliki kemampuan apa-apa itu, tidak pantas menikah dengan dokter hebat seperti Zayan.
Meila tidak peduli keputusannya ditentang oleh keluarganya. Dia tetap akan menikah dengan Zayan. Meila juga tidak peduli Zayan yang tidak sehangat sebelumnya, setelah bertemu keluarganya. Bahkan pria itu lebih sering bersama keluarganya dari pada dirinya. Meila pun harus mengurus sendiri persiapan pernikahannya dengan Zayan. Hingga akhirnya Meila merasa lelah sendiri. Puncaknya, Melisa memakai gaunnya pengantin miliknya.
Berbeda dengan saat ini. Semua keluarga meminta Meila hanya duduk manis di kamar. Semua persiapan akan diurus oleh keluarganya. Terutama om Narendra, pria paruh baya itu sangat bersemangat menyiapkan semuanya. Dia juga, orang pertama yang setuju dengan keputusan Abyan.
Di temani Dewi, Meila duduk di balkon kamarnya. Dia menatap langit malam yang bertabur bintang. Dibawahnya sana, para pekerja sedang memasang tenda. Meila kira, besok hanya akad secara sederhana saja. Dia tidak menyangka, kedua keluarga mengundang orang-orang penting.
Itu yang disampaikan Dewi, saat Meila bertanya, "Untuk apa pasang tenda segala?"
Dewi memperhatikan Meila yang gelisah. Dia tahu, pernikahan Meila dan Abyan terkesan terburu-buru, apa lagi keduanya baru saja kenal. Namun, mengingat yang mengatur semua ini keluarga Alamanda, Dewi ikut mendukung keputusan semua orang.
Bukan karena Dewi istri dari Erik. Tapi, dia tahu betul seperti apa keluarga Alamanda. Mereka tidak tanggung-tanggung melakukan yang terbaik untuk orang yang mereka sayangi.
"Aku belum siap Kak," ucap Meila.
"Abyan pria yang sulit didekati perempuan. Jika dia setuju dengan pernikahan ini. Itu tandanya dia memilih kamu Mei." Dewi mencoba membuka pikiran Meila.
"Tapi dia pimpinan HAS Company, Kak. Perusahaan terbesar nomor satu di kota ini. Bahkan usahanya sudah tersebar di seluruh Asia dan Eropa. Ini tidak mudah dan sulit dipercaya."
Dewi tersenyum. Apa yang Meila rasakan pernah Dewi rasakan saat Erik tiba-tiba melamarnya. Dewi yang saat itu hanya karyawan biasa, tentu saja terkejut dilamar oleh Erik, pimpinan tempat dia bekerja.
"Semua akan baik-baik saja Mei. Kamu lihat kakakmu ini. Bukankah dulu kamu yang menyemangati Kakak untuk menerima lamaran bang Erik. Padahal kamu tahu, kita tidak pernah bicara dengannya. Sekarang kamu lihat. Bagaimana abang kamu itu memperlakukan kakak?"
Meila mengangguk. Dewi dulu sama sepertinya saat ini. Dan dia yang meyakinkan Dewi, kakaknya itu mampu menjadi istri yang baik untuk seorang Erik. Pria dingin yang tak tersentuh oleh wanita manapun.
"Mei. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan bang Erik, opa dan om Narendra. Mereka membahas kamu dan bibi Ana. Sepertinya, mereka mengetahui sesuatu tentang keluarga kamu." Dewi kembali bicara, setelah diam sesaat sambil memperhatikan Meila yang diam saja.
Meila terkejut mendengar informasi yang baru saja disampaikan Dewi. "Apa mereka menemukan keberadaan bibi Ana?" tanyanya.
Selama ini Meila mencari keberadaan bibi Ana. Dia bahkan pernah mendatangi desa, tempat berasal pelayannya itu. Tapi hasilnya nihil. Bibi Ana tidak pernah pulang ke desa itu lagi. Entah dimana wanita paruh baya itu berada. Meila berharap, pelayannya itu baik-baik saja.
"Aku tidak tahu. Yang aku dengar selanjutnya, om Narendra ingin kamu segera menikah dengan pria yang dijodohkan sama kamu sejak kecil." Jawaban Dewi membuat kening Meila berkerut.
"Dari mana om tahu perjodohan itu? Papa dan mamaku bahkan tidak pernah membicarakan hal ini," tanya Meila heran.
Dewi mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu Mei. Tapi, sepertinya orang yang mereka bicarakan adalah Abyan."
Kening Meila kembali berkerut. Dia semakin penasaran dengan semua ini. Teka teki yang sudah lama dia ingin cari tahu kebenarannya. Masalah perjodohan itu, Meila ingat, bibi Ana pernah mengatakan hal tersebut. Sesaat sebelum wanita paruh baya itu diusir oleh nyonya Hana.
"Kak, selama ini aku selalu berpikir. Aku mungkin bukan anak kandung keluargaku," ucap Meila.
"Bukankah kita sama?" balas Dewi segera.
"Bukan hanya kamu yang berpikir seperti itu. Aku juga. Tapi kamu tahu sendiri, kakak memang anak kandung kedua orang tua kakak. Merekanya saja yang selalu membela abang kakak, karena dia anak laki-laki."
Meila hanya diam. Dia dan Dewi sama-sama diabaikan oleh keluarga mereka. Hanya saja, kasusnya berbeda. Dewi jelas, dia tidak dianggap karena terlahir sebagai anak perempuan. Sedangkan Meila, tidak dianggap karena mereka selalu melihat Melisa lebih baik dari dirinya. Keluarga Aksara tidak tahu saja, selama ini Melisa membohongi keluarga itu.
Pembicaraan mereka belum selesai, tapi Erik sudah masuk ke kamar Meila untuk memanggil Dewi. Meila dan istrinya harus segera istirahat. Besok pagi adalah hari yang penting untuk Meila, mereka tidak boleh kelelahan.
"Abang ambil dulu istri abang ini, Mei," ucap Erik sambil membawa Dewi berjalan keluar dari kamar Meila. "Kamu juga harus segera istirahat. Besok pagi-pagi sekali MUA datang untuk menyulap dirimu semakin cantik," ucap Erik lagi sebelum benar-benar membawa Dewi menjauh dari kamar Meila.
Meila masuk kamarnya. Dia segera membersihkan diri. Seperti yang Erik sampaikan, Dia butuh istirahat. Bukan hanya fisiknya saja. Meila juga mengistirahatkan pikirannya. Mulai besok hidupnya akan berubah. Mungkin inilah jalan yang harus Meila lewati, setelah dia pergi dari keluarga Aksara.
Baru saja Meila bersiap untuk tidur, smartphone miliknya berbunyi. Nama Beni yang tertera dilayar. Dia segera mengangkat panggilan itu, mengingat besok dia butuh Beni untuk menjadi walinya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Meila Ayunda!"
Suara Beni memekakkan telinga Meila. Selalu saja, tanpa salam tanpa menanyakan kabar dirinya, pria yang dia panggil papa itu menghakimi dirinya. Meila pikir Beni akan bicara baik-baik dengannya, karena dia tidak lagi menganggu pernikahan Zayan dan Melisa. Tapi Meila salah. Tetap saja dia selalu salah di mata keluarganya.
"Apa begitu putus asanya kamu tidak bisa menikah dengan Zayan, sampai harus menjebak seorang pria untuk menikah dengan kamu."
Kalimat itu sangat menyakitkan. Apakah dirinya benar-benar murahan di mata keluarganya, sehingga Beni menuduhnya menjebak pria lain untuk menikah dengannya.
"Kamu itu selalu saja membuat malu keluarga Meila. Tidak bisakah sedikit saja kamu membuat nama keluarga ini baik. Pantas saja Zayan lebih memilih kakak kamu. Karena kamu perempuan murahan!"
Luka Meila belum sepenuhnya sembuh. Hari ini, kata-kata dari pria yang seharusnya dia hormati, menusuknya lebih dalam. Meila tidak akan mengatakan apapun untuk membela dirinya. Karena, percuma saja memberikan pembelaan pada orang yang memang sudah tidak suka dengan dirinya.
Tekad Meila semakin bulat, dia akan menunjukkan pada keluarga Aksara, kalau dia mendapatkan suami yang lebih baik dari pada Zayan. Biar saja, Melisa panas melihat dirinya, setelah tahu dia menikah dengan CEO HAS Company.
"Tapi tidak apa-apa. Dengan begini, kamu tidak lagi mengganggu pernikahan Melisa dan Zayan. Besok Papa akan menikahkan kamu dengan pria itu. Tapi, setelah itu, Papa akan mengumumkan, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Aksara."
Meila mengepalkan tangannnya menahan amarah. Dia sudah diberi tahu opa Alan tentang Beni yang bersedia melepaskan Meila dari keluarga Aksara. Mendengar langsung dari mulut Beni, membuat Meila kembali meneteskan air mata. Semudah itu Beni Aksara membuang dirinya. Dia benar-benar tidak pernah diterima menjadi bagian dari keluarga Aksara.
Narendra yang ingin memastikan Meila baik-baik saja, ikut mengepalkan tangannya saat tahu Meila kembali menangis karena keluarga Aksara.
"Ini terakhir kalinya kamu menangisi keluarga itu Mei. Setelah ini, om akan memberitahukan siapa kamu sebenarnya."
Narenda mengurungkan niatnya menemui Meila. Dia kembali memeriksa persiapan untuk besok. Tidak boleh ada yang terlewakan. Pernikahan Meila harus sempurna, seperti yang keponakannya itu inginkan.
udh nyktin,tp msih ngemis....
pdhl udh d ksih kmpensasi,jdga brhak gnggu meila lg....
Ternyata masih banyak rahasia dari asal usul keluarganya Melia...
dsni qta bisa belajar keserakkahan tdk akan bisa membuat kebahagian lebih lama bersama qta ,, tp kehancuran lah yg tiap detik mendekati qta ,,
lanjut kak ,,
penasaran sama kelanjutan ny,,
ga sbr nunggu meila ktmu sm bbi ana dn kmbaran'nya,dia pst bhgia bgt....trs ga sbr jg nunggu pra benalu jd gmbel.....
dtggu next episode ny yx kak
☺️☺️☺️
licik di balas licik ,,
ayoo melisa dari sekarang belajar jdi gembel yuuuk ,,
jgn mau ny hidup enk truus ,,
km bukan keluarga aksara ternyata🤭🤭l🤭🤭/Smug//Smug//Smug/ ,,
Selamat menikmatiii ibu Hana ,, ank yg km bangga2kan ternyata bukan ank km ,, 🤭🤭🤭/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Sly//Sly/
dfnisi kta adalh do'a.....pura2 bngkrut,eeehhhhh....bnrn bngkrut.....
siap2 jd gmbel kl ttp ga mau tobat....
puas bgt sm fkta yg trungkap....
Zayan kl mau nysel,silakan aja sih..tp ga guna....trs kl mau mrebut meila,mkir sribu kali sblm mkin hncur....
yg lcik,d bls lcik....pdhl udh tau kl dia cma ank pngut,msih ga tau diri meebut mlik orng lain....cckkk....