NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia pulih belum tentu sembuh

Sebria membuka toko bunga nya seperti biasa. Membiarkan cahaya matahari pagi masuk melalui sela ventilasi. Membuka beberapa jendela agar sirkulasi udara bertukar. Aroma bunga menyeruak lembut seperti biasa. Meski begitu ingatan wanita itu jatuh pada percakapan semalam. Ia paham maksud Keona. Bagaimana pun, adiknya itu adalah orang yang menjadi saksi dan berjuang bersama nya selama ini.

Denting lonceng di pintu 'Toko Bunga Adree' terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan seorang pelanggan wanita yang mencari mawar, melainkan seorang pria dewasa dengan jas kantor yang sudah rapi, melangkah masuk membawa sebuah paper bag cokelat yang aromanya sangat menggoda.

Di ambang pintu, Jehan sempat tertegun melihat Sebria. Sang pemilik toko yang sedang sibuk memangkas duri mawar di balik etalase.

"Selamat pagi," Sapa Jehan dengan nada sedikit canggung namun hangat.

Sebria mendongak, matanya menatap penuh selidik melihat sosok yang sudah tidak asing itu. "Jehan? Tumben sekali mampir sepagi ini. Ada pesanan mendadak?"

Jehan tertawa kecil sambil mengangkat paper bag itu. "Bukan pesanan bunga, tapi pesanan perut. Sebelum berangkat. Byan benar-benar cerewet. Dia bilang, Papa harus antar bubur ayam langganan kita ke Tante Sebria, soalnya kemarin Tante bilang suka bubur ayam."

Sebria meletakkan gunting bunganya, senyumnya melebar. Byan sering mampir ke toko hanya untuk membantunya mengambil beberapa tangkai bunga atau sekadar bercerita tentang kesehariannya. Dan semenjak mengalami kecelakaan itu Byan belum datang lagi.

"Anak itu... dia benar-benar ingat ya?" gumam Sebria lembut, ada rona tipis di pipinya.

"Dia tidak hanya ingat, dia memastikan aku benar-benar membelinya. Katanya, jangan sampai Tante Sebria sakit nanti tidak bisa main sama Byan lagi'," Jehan melangkah mendekat, meletak sarapan itu di meja kayu jati. "Jadi, ini misi dari bos kecil. Aku tidak berani melanggar."

Suasana toko yang penuh aroma mawar dan tanah basah itu seketika terasa lebih hangat. Ada percikan perhatian yang tulus di sana bukan sekadar tentang sarapan, tapi tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jembatan bagi dua orang dewasa yang perlahan mulai saling berbagi cerita di antara helai kelopak bunga.

"Toko kamu nyaman pantas saja Byan betah disini." Jehan melangkah pelan menyisir tiap sudut toko. "Sudah berapa lama kamu buka disini."

"Lumayan lama dua tahunan kalau tidak salah."

"Pantas saja aku baru tahu sesekali aku bisa antar Byan ke sekolah tapi tidak pernah tahu pemilik toko ini adalah kamu." Jehan menatap teduh.

"Sampaikan sama Byan terimakasih bubur ayamnya."

Jehan mengangguk. "Aku ke kantor dulu atau kamu mau ikut?"

"Buat apa aku ke sana?" Sebria memasang wajah bingung.

"Menemani aku kerja." Jehan tersenyum lebar dan sialnya senyum itu yang pernah membius Sebria.

"Sana berangkat." Sebria meraih isi paper bag untuk menyamarkan rasa panas menjalar di pipi.

Jehan melangkah pergi. Ia menatap sekali lagi pintu toko bunga milik Sebria sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.

Bertahun-tahun hanya menjadi nama dalam ingatan, kini Jehan bertemu Sebria dengan senyum yang masih sama persis seperti yang dulu selalu ia lihat.

Ada desir aneh yang tiba-tiba merambat di dada, seperti ribuan kelopak bunga yang mendadak mekar serentak tepat di ulu hati.

Rasa canggung yang di bayangkan ternyata kalah telak oleh kehangatan yang menjalar saat mereka saling bicara. Suara Sebria masih membawa nada yang dulu paling akrab di telinga Jehan dan memicu debaran yang sudah lama dikira telah padam.

Sepanjang percakapan singkat tadi, Jehan merasa seperti kembali menjadi remaja. Setiap tawa kecil Sebria adalah embun yang menyirami taman di dalam kepala yang sempat gersang.

Tidak ada dendam, tidak ada luka menganga yang ada hanyalah perasaan berbunga-bunga yang ganjil namun manis.Ternyata, meski cerita mereka sudah bertitik, sisa-sisa rasa masih sanggup membuat dunia Jehan mendadak berwarna merah muda, hanya dalam satu temu yang tak terduga.

...----------------...

Siang hari saat jam makan siang biasanya ditandai dengan perubahan ritme kota yang menjadi lebih cepat sekaligus hangat. Matahari yang berada tepat di atas kepala menciptakan hawa panas yang menyengat, namun di balik itu, ada geliat kehidupan yang penuh kebersamaan dan cerita.

Lonceng di atas pintu berdenting nyaring, memecah ketenangan aroma lili dan mawar di dalam toko. Mentari siang yang garang menembus kaca jendela, menyinari kelopak bunga yang baru saja disemprot air.

Sebria, sang pemilik toko, masih sibuk menata buket krisan saat sebuah bayangan berdiri tegak di depan meja kasir. Ia mendongak, berniat menyapa pelanggan dengan senyum profesional, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Hai," Sapa Jehan. Sambil mengangkat sebuah kantong plastik berisi dua kotak makan siang yang aromanya langsung bersaing dengan wangi bunga. "Aku tahu ini jam istirahatmu. "Ayo makan."

"Je...kenapa jauh-jauh makan siang kesini?" Sebria melepaskan guntingnya lalu melangkah ke pojok ruang mengecilkan musik jazz.

"Sengaja biar ada menemani kamu makan siang." Jehan mengeluarkan makanan yang di bawa ke atas meja jati. "Seperti nya toko bunga ini jadi markas baru aku sama Byan."

"Jangan gila, Je." Sebria mengambil peralatan makannya. Lalu menata nya ke atas meja.

"Wah itu lucu." Jehan terfokus pada gelas keramik bermotif. Lalu beberapa perabotan lucu lainnya.

"Itu punya Byan. Kami sering makan disini."

"Pantas saja dia kadang menolak makan setelah pulang sekolah. Seperti nya aku juga harus belanja peralatan makan untuk di taruh disini."

"Je, toko bunga ku bukan tempat menaruh barang-barang kamu."

Jehan tersenyum sambil melepaskan jas nya. "Jangan tidak adil, Bria."

Sebria menarik nafas panjang. Pria ini kenapa tidak berubah. Sering suka-sukanya seperti dulu menaruh barang-brang pribadi di apartemen Sebria.

"Je !" Sebria tersentak merasakan sentilan tidak kuat di jidat nya.

"Jangan memikirkan aneh-aneh."

Sebria meraih gelas air putih lalu meminumnya. "Jadi, dalam rangka apa orang sibuk seperti kamu ini tiba-tiba makan siang di toko ku yang kecil."

"Ingin saja."

Di tengah obrolan itu lonceng toko berbunyi. Di depan pintu seorang pria menatap tajam ke dalam. Kaki nya terpaku disana menenangkan diri. Lalu tatapannya berubah hangat.

"Aku mau jemput kakak makan tadi ternyata kakak punya tamu." Keona melangkah masuk.

"Kamu tidak mengabari kakak sebelumnya." Sebria merasa canggung dengan suasana itu.

"Aku sudah kirim pesan."

Sebria mencari ponselnya ternyata ada di pojok meja lain. Ia membuka layar ponsel itu ternyata Keona memang mengirim pesan bertepatan dengan kedatangan Jehan tadi.

Sementara Jehan terlihat biasa saja sambil menikmati makan siangnya meskipun tatapan Keona seperti bilah pisau siap menusuknya.

"Aku sudah selesai, Bria."

"Cepat sekali kamu makan." Sebria semakin merasa tidak enak.

"Aku harus kembali ke kantor. Adik mu juga butuh waktu berdua sama kamu." Manik mata Jehan menatap datar ke arah Keona.

"Terimakasih makanan nya, Je..." Sebria tersenyum tipis.

"Kita bicara di luar." Keona berucap dingin lalu melangkah keluar.

"Je..."

Duda beranak satu itu tersenyum kepada Sebria. "Habiskan makananmu." Ucapnya lalu melangkah keluar menyusul Keona yang sudah berada disana.

"Byan mungkin bisa di terima tapi anda jangan mencari kesempatan. Kak Sebria sudah dua kali jatuh dengan luka berbeda dia mungkin pulih tapi belum tentu sembuh."

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!