NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia pulih belum tentu sembuh

Sebria membuka toko bunga nya seperti biasa. Membiarkan cahaya matahari pagi masuk melalui sela ventilasi. Membuka beberapa jendela agar sirkulasi udara bertukar. Aroma bunga menyeruak lembut seperti biasa. Meski begitu ingatan wanita itu jatuh pada percakapan semalam. Ia paham maksud Keona. Bagaimana pun, adiknya itu adalah orang yang menjadi saksi dan berjuang bersama nya selama ini.

Denting lonceng di pintu 'Toko Bunga Adree' terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan seorang pelanggan wanita yang mencari mawar, melainkan seorang pria dewasa dengan jas kantor yang sudah rapi, melangkah masuk membawa sebuah paper bag cokelat yang aromanya sangat menggoda.

Di ambang pintu, Jehan sempat tertegun melihat Sebria. Sang pemilik toko yang sedang sibuk memangkas duri mawar di balik etalase.

"Selamat pagi," Sapa Jehan dengan nada sedikit canggung namun hangat.

Sebria mendongak, matanya menatap penuh selidik melihat sosok yang sudah tidak asing itu. "Jehan? Tumben sekali mampir sepagi ini. Ada pesanan mendadak?"

Jehan tertawa kecil sambil mengangkat paper bag itu. "Bukan pesanan bunga, tapi pesanan perut. Sebelum berangkat. Byan benar-benar cerewet. Dia bilang, Papa harus antar bubur ayam langganan kita ke Tante Sebria, soalnya kemarin Tante bilang suka bubur ayam."

Sebria meletakkan gunting bunganya, senyumnya melebar. Byan sering mampir ke toko hanya untuk membantunya mengambil beberapa tangkai bunga atau sekadar bercerita tentang kesehariannya. Dan semenjak mengalami kecelakaan itu Byan belum datang lagi.

"Anak itu... dia benar-benar ingat ya?" gumam Sebria lembut, ada rona tipis di pipinya.

"Dia tidak hanya ingat, dia memastikan aku benar-benar membelinya. Katanya, jangan sampai Tante Sebria sakit nanti tidak bisa main sama Byan lagi'," Jehan melangkah mendekat, meletak sarapan itu di meja kayu jati. "Jadi, ini misi dari bos kecil. Aku tidak berani melanggar."

Suasana toko yang penuh aroma mawar dan tanah basah itu seketika terasa lebih hangat. Ada percikan perhatian yang tulus di sana bukan sekadar tentang sarapan, tapi tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jembatan bagi dua orang dewasa yang perlahan mulai saling berbagi cerita di antara helai kelopak bunga.

"Toko kamu nyaman pantas saja Byan betah disini." Jehan melangkah pelan menyisir tiap sudut toko. "Sudah berapa lama kamu buka disini."

"Lumayan lama dua tahunan kalau tidak salah."

"Pantas saja aku baru tahu sesekali aku bisa antar Byan ke sekolah tapi tidak pernah tahu pemilik toko ini adalah kamu." Jehan menatap teduh.

"Sampaikan sama Byan terimakasih bubur ayamnya."

Jehan mengangguk. "Aku ke kantor dulu atau kamu mau ikut?"

"Buat apa aku ke sana?" Sebria memasang wajah bingung.

"Menemani aku kerja." Jehan tersenyum lebar dan sialnya senyum itu yang pernah membius Sebria.

"Sana berangkat." Sebria meraih isi paper bag untuk menyamarkan rasa panas menjalar di pipi.

Jehan melangkah pergi. Ia menatap sekali lagi pintu toko bunga milik Sebria sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.

Bertahun-tahun hanya menjadi nama dalam ingatan, kini Jehan bertemu Sebria dengan senyum yang masih sama persis seperti yang dulu selalu ia lihat.

Ada desir aneh yang tiba-tiba merambat di dada, seperti ribuan kelopak bunga yang mendadak mekar serentak tepat di ulu hati.

Rasa canggung yang di bayangkan ternyata kalah telak oleh kehangatan yang menjalar saat mereka saling bicara. Suara Sebria masih membawa nada yang dulu paling akrab di telinga Jehan dan memicu debaran yang sudah lama dikira telah padam.

Sepanjang percakapan singkat tadi, Jehan merasa seperti kembali menjadi remaja. Setiap tawa kecil Sebria adalah embun yang menyirami taman di dalam kepala yang sempat gersang.

Tidak ada dendam, tidak ada luka menganga yang ada hanyalah perasaan berbunga-bunga yang ganjil namun manis.Ternyata, meski cerita mereka sudah bertitik, sisa-sisa rasa masih sanggup membuat dunia Jehan mendadak berwarna merah muda, hanya dalam satu temu yang tak terduga.

...----------------...

Siang hari saat jam makan siang biasanya ditandai dengan perubahan ritme kota yang menjadi lebih cepat sekaligus hangat. Matahari yang berada tepat di atas kepala menciptakan hawa panas yang menyengat, namun di balik itu, ada geliat kehidupan yang penuh kebersamaan dan cerita.

Lonceng di atas pintu berdenting nyaring, memecah ketenangan aroma lili dan mawar di dalam toko. Mentari siang yang garang menembus kaca jendela, menyinari kelopak bunga yang baru saja disemprot air.

Sebria, sang pemilik toko, masih sibuk menata buket krisan saat sebuah bayangan berdiri tegak di depan meja kasir. Ia mendongak, berniat menyapa pelanggan dengan senyum profesional, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Hai," Sapa Jehan. Sambil mengangkat sebuah kantong plastik berisi dua kotak makan siang yang aromanya langsung bersaing dengan wangi bunga. "Aku tahu ini jam istirahatmu. "Ayo makan."

"Je...kenapa jauh-jauh makan siang kesini?" Sebria melepaskan guntingnya lalu melangkah ke pojok ruang mengecilkan musik jazz.

"Sengaja biar ada menemani kamu makan siang." Jehan mengeluarkan makanan yang di bawa ke atas meja jati. "Seperti nya toko bunga ini jadi markas baru aku sama Byan."

"Jangan gila, Je." Sebria mengambil peralatan makannya. Lalu menata nya ke atas meja.

"Wah itu lucu." Jehan terfokus pada gelas keramik bermotif. Lalu beberapa perabotan lucu lainnya.

"Itu punya Byan. Kami sering makan disini."

"Pantas saja dia kadang menolak makan setelah pulang sekolah. Seperti nya aku juga harus belanja peralatan makan untuk di taruh disini."

"Je, toko bunga ku bukan tempat menaruh barang-barang kamu."

Jehan tersenyum sambil melepaskan jas nya. "Jangan tidak adil, Bria."

Sebria menarik nafas panjang. Pria ini kenapa tidak berubah. Sering suka-sukanya seperti dulu menaruh barang-brang pribadi di apartemen Sebria.

"Je !" Sebria tersentak merasakan sentilan tidak kuat di jidat nya.

"Jangan memikirkan aneh-aneh."

Sebria meraih gelas air putih lalu meminumnya. "Jadi, dalam rangka apa orang sibuk seperti kamu ini tiba-tiba makan siang di toko ku yang kecil."

"Ingin saja."

Di tengah obrolan itu lonceng toko berbunyi. Di depan pintu seorang pria menatap tajam ke dalam. Kaki nya terpaku disana menenangkan diri. Lalu tatapannya berubah hangat.

"Aku mau jemput kakak makan tadi ternyata kakak punya tamu." Keona melangkah masuk.

"Kamu tidak mengabari kakak sebelumnya." Sebria merasa canggung dengan suasana itu.

"Aku sudah kirim pesan."

Sebria mencari ponselnya ternyata ada di pojok meja lain. Ia membuka layar ponsel itu ternyata Keona memang mengirim pesan bertepatan dengan kedatangan Jehan tadi.

Sementara Jehan terlihat biasa saja sambil menikmati makan siangnya meskipun tatapan Keona seperti bilah pisau siap menusuknya.

"Aku sudah selesai, Bria."

"Cepat sekali kamu makan." Sebria semakin merasa tidak enak.

"Aku harus kembali ke kantor. Adik mu juga butuh waktu berdua sama kamu." Manik mata Jehan menatap datar ke arah Keona.

"Terimakasih makanan nya, Je..." Sebria tersenyum tipis.

"Kita bicara di luar." Keona berucap dingin lalu melangkah keluar.

"Je..."

Duda beranak satu itu tersenyum kepada Sebria. "Habiskan makananmu." Ucapnya lalu melangkah keluar menyusul Keona yang sudah berada disana.

"Byan mungkin bisa di terima tapi anda jangan mencari kesempatan. Kak Sebria sudah dua kali jatuh dengan luka berbeda dia mungkin pulih tapi belum tentu sembuh."

1
Ayuwidia
Dari sinopnya udah nyesek 🥺
Human
kisah yang menarik,Sebria tokoh wanita yang hebat dan tangguh,mentalnya kuat banget menghadapi segala cobaan
Ririn Rira: terimakasih kak mampir di buku baru lagi ya...
total 1 replies
Joey Joey
sebenarnya kamu tidak pgen pisah tapi karena keadaan and kamu tidak mau melibatkan terlalu jauh maka dengan kepahitan kamu melepaskan nya
Lisa
Wah udh ending nih..ceritanya bagus banget Kak..akhirnya Bria bahagia bersama keluarga kecilnya..
Lisa: Sama² Kak..oke Kak..
total 2 replies
Lisa
Ternyt Deric yg bermasalah..dia tdk mau mangakuinya..y sudahlah lebih baik mereka berpisah & Bria menemukan kebahagiaannya.
Ayuwidia
Benar, Bria nggak perlu tahu kehancuran sang mantan suami yg diakibatkan oleh keegoannya sendiri. Kelak, semoga Deric juga temukan bahagia bersama wanita yg bisa menerima dia apa adanya.

Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰
Ayuwidia: sama2, Kak Ririn 🥰
total 2 replies
Ayuwidia
Alhamdulillah, akhirnya kebahagiaan mendekap erat Sebria setelah luka yang dialaminya bertubi-tubi 🥰
Indhira Sinta
bagus ceritanya,lain daripada yg lain
Ayuwidia
Harusnya, kamu dulu jujur saja, Ric. Banyak jalan yg bisa ditempuh untuk memiliki keturunan. Tapi ya sudahlah, semua dah terlanjur. Makasih sudah membebaskan Bria, sehingga dia bisa bebas dan sekarang bahagia dengan kehidupan barunya.
Lisa
Selamat y utk Bria & Jehan..sehat² y Bria sampai HPL nya nanti..
Ayuwidia
Lagi-lagi ikut bahagia sekaligus terbaru, luka yg dulu menganga sekarang terobati sempurna. Selamat buat kalian, Jehan--Bria 🥰
Ayuwidia: ralat: terharu, keyboardnya kerasukan Kak 😄
total 1 replies
Lisa
Koq cepat Kak..udh mau ending 🤭
Ririn Rira: iya kak buku meminjam ibu sehari emang di targetkan bab nya pendek
total 1 replies
Ayuwidia
Loh, kok cepet banget, Kak?
Ayuwidia: Rama-Hawa jg cuma dikit bab nya, Kak. Buat mengisi ramadan aja kaya' nya 😅
total 2 replies
Lisa
Syukurlah Byan udh ga ngerasa takut lg..bahagia selalu y utk kalian bertiga
Ririn Rira: terimakasih kak🥰
total 1 replies
Dewi Eka
menarik
Ayuwidia
Semoga kelak jika Mama Bi punya dedek bayi, Byan bisa menerima dan nggak cemburu 😉
Ririn Rira: Byan tetap jadi prioritas mama B 😄
total 1 replies
Lili Inggrid
banyak banyak up ..cerita bagus banget😊
Lisa
Ya Byan jgn dengerin kata² yg g baik itu..Mama B sangat menyayangimu.
Ayuwidia
Mama B itu tulus mencintai kamu, Byan. Jadi, meski kelak mama B punya baby, cintanya nggak pudar
Ayuwidia
Waduh, kalimat yg memprovokasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!