NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 Dibalik Sabar

Tak semua doa perlu diucapkan keras-keras. Sebagian cukup dititipkan pada sabar, lalu Allah yang menjawabnya satu per satu.

—Aldivano Athariz—

Pantai itu belum ramai. Pagi masih terlalu muda untuk hiruk-pikuk wisatawan. Laut terbentang luas di hadapan mereka, tenang seperti hati yang baru selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Ombak datang dan pergi dengan irama teratur, menyerupai detak waktu yang tak pernah tergesa.

Celine berdiri agak menjauh dari rombongan. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, membuatnya sedikit bergidik, namun justru di sanalah ia merasa paling hidup. Seperti seseorang yang akhirnya berani menjejakkan kaki di air setelah lama berdiri di tepi.

Angin pantai berhembus lembut, rambutnya melambai seperti ombak yang dimainkan angin. Ia memejamkan mata, membiarkan suara alam meresap perlahan—debur ombak, desir angin, dan samar-samar suara tawa keluarganya di belakang. Semua itu menyatu seperti lantunan doa yang tak membutuhkan kata.

Reina mendekat tanpa suara, berdiri di sampingnya. Mereka tak saling menoleh. Dua pasang mata itu sama-sama memandang ke arah laut, seolah sedang membaca makna yang sama.

“Kamu kelihatan lebih tenang,” ujar Reina akhirnya.

Celine tersenyum kecil. “Mungkin karena aku berhenti melawan.”

“Melawan apa?”

“Perasaan sendiri.”

Reina menoleh kali ini. Ada kilat lembut di matanya, seperti cahaya matahari yang memantul di permukaan air.

“Laut nggak pernah melawan ombak,” katanya pelan. “Dia nerima, tapi tetap tahu batas.”

Kalimat itu jatuh tepat di hati Celine, seperti pasir yang perlahan mengendap setelah diaduk ombak. Ia mengangguk, seolah memahami sesuatu yang sejak lama ingin ia akui.

Di sisi lain pantai, Aldivano berdiri bersama Draven. Dua lelaki itu tak banyak bicara. Mereka sama-sama tipe yang lebih nyaman menyimpan pikiran daripada menumpahkannya sembarangan.

Draven memandang laut dengan kedua tangan di saku jaket.

“Tempat begini bikin orang jujur sama dirinya sendiri,” ucapnya datar.

Aldivano mengangguk. “Iya.”

“Termasuk soal niat.”

Kali ini Aldivano menoleh. Tatapannya tenang, tak defensif.

“Niat saya jelas,” katanya singkat. “Tapi saya tahu, niat baik pun perlu waktu.”

Draven menghela napas pelan. Ia menatap Aldivano seperti seseorang yang sedang mengukur kedalaman air sebelum berenang.

“Celine bukan anak yang mudah,” katanya. “Dia terbiasa memikul banyak hal sendiri.”

“Saya tahu,” jawab Aldivano tanpa ragu. “Makanya saya nggak mau jadi beban tambahan.”

Jawaban itu membuat Draven terdiam sejenak. Di hadapan mereka, ombak memecah karang dengan lembut—tak menghancurkan, tapi juga tak bisa dihalangi. Seperti kebenaran yang akhirnya selalu menemukan jalannya.

“Kalau begitu,” ujar Draven akhirnya, “yang kamu lakukan sekarang sudah benar.”

Aldivano tak menjawab. Ia hanya menunduk sebentar, seperti mengucap syukur dalam diam.

Keluarga-keluarga itu kemudian berkumpul lebih dekat ke bibir pantai. Tikar digelar, bekal dikeluarkan. Suasana terasa hangat, meski angin laut terus berhembus. Tawa terdengar ringan, seperti burung camar yang sesekali melintas di atas mereka.

Daddy Caesar duduk bersila, memandang sekeliling dengan perasaan penuh. Baginya, pemandangan ini lebih indah dari apa pun yang bisa dibeli. Anak-anak yang tertawa, keluarga yang utuh, dan dua hati yang perlahan belajar berjalan searah.

Bunda Afsheen menyeduh teh hangat, lalu membagikannya. Tangannya cekatan, geraknya tenang—seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan ritme hidup.

“Minum dulu,” katanya lembut pada Celine yang baru kembali dari tepi pantai.

Celine menerimanya dengan senyum tulus. “Terima kasih, Bunda.”

Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata yang terucap, namun ada rasa saling memahami yang mengalir begitu saja. Seperti dua sungai yang akhirnya bertemu di muara yang sama.

Tak lama kemudian, waktu zuhur tiba. Matahari mulai meninggi, cahayanya memantul di permukaan laut, menyilaukan namun indah. Tanpa banyak arahan, semua bersiap menunaikan shalat.

Sajadah digelar di atas pasir yang diratakan. Angin pantai terus berhembus, namun tak mengganggu kekhusyukan. Justru seolah menjadi saksi—bahwa di mana pun mereka berada, kewajiban tetap menjadi poros utama.

Celine berdiri di saf perempuan. Hatinya terasa lebih ringan dari biasanya. Dalam sujudnya, ia tak lagi memohon dengan gelisah. Doanya mengalir tenang, seperti air yang telah menemukan wadahnya.

“Ya Allah,” bisiknya dalam hati, “jika memang jalan ini Kau ridhoi, mudahkanlah. Jika belum, kuatkan aku untuk tetap sabar.”

Di saf pria, Aldivano berdoa dengan nada yang sama. Tak ada permintaan berlebihan. Hanya harap agar ia dijaga dari sikap tergesa, agar ia tak melangkah lebih cepat dari izin-Nya.

Dua doa itu mungkin tak terdengar, namun langit menerimanya tanpa ragu.

Setelah shalat, suasana kembali cair. Anak-anak bermain pasir, sebagian berjalan menyusuri pantai. Celine kembali berdiri menghadap laut, kali ini sendirian.

Aldivano memperhatikannya dari kejauhan. Ada dorongan kecil di dadanya untuk mendekat, namun ia menahannya. Ia memilih berdiri di tempatnya, seperti matahari yang tak pernah mengejar laut, namun selalu setia menyinarinya.

Celine merasakan kehadiran itu. Ia tak menoleh, tapi hatinya tahu. Detak jantungnya kembali berubah—lebih cepat, namun tak menakutkan. Seperti langkah yang mulai menemukan ritmenya.

Ia tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya, ia tak buru-buru menepis rasa itu.

Sore menjelang. Langit mulai berubah warna, dari biru terang menjadi jingga lembut. Ombak terus berkejaran, meninggalkan jejak basah di pasir, lalu menghilang—seperti pelajaran hidup yang datang, meninggalkan bekas, lalu memberi ruang untuk yang baru.

Reina menghampiri Celine sekali lagi.

“Kamu kelihatan beda,” katanya.

“Beda gimana?”

“Lebih… siap.”

Celine menatap laut, lalu menjawab pelan, “Mungkin karena aku akhirnya berhenti bertanya ‘kenapa’, dan mulai belajar bilang ‘kalau Allah mau’.”

Reina tersenyum lebar. “Itu langkah besar.”

Celine mengangguk. “Langkah kecil, tapi arahnya jelas.”

Di kejauhan, Aldivano dan Draven berdiri berdampingan, memandang matahari yang perlahan turun. Tak ada percakapan. Namun keduanya tahu, hari ini memberi banyak jawaban—meski belum semuanya lengkap.

Perjalanan ini belum berakhir. Pantai ini hanyalah satu titik singgah. Namun dari sinilah, banyak hati mulai menemukan keberanian untuk jujur, dan banyak niat mulai menemukan bentuknya.

Ombak kembali datang, memecah sunyi dengan suara lembut.

Dan di antara luas laut dan langit senja, sebuah kisah perlahan bergerak ke bab berikutnya—lebih dalam, lebih jujur, dan semakin mendekati waktunya.

Malam turun perlahan, seperti kain hitam yang dibentangkan tangan langit tanpa suara. Bintang-bintang berpendar malu-malu, seolah takut mengganggu sunyi yang sengaja diciptakan Tuhan untuk mereka yang ingin berpikir lebih dalam. Di sebuah balkon lantai dua villa yang menghadap langsung ke rimbun pepohonan dan suara laut yang jauh, Aldivano duduk seorang diri.

Lampu temaram menggantung di sudut balkon, cahayanya redup—cukup untuk menerangi halaman buku yang sedang ia baca, namun tidak cukup terang untuk mengusir segala pikiran yang bergelayut di kepalanya. Angin malam menyentuh kulitnya lembut, seperti sentuhan seorang ibu yang menenangkan anaknya yang gelisah.

Di pangkuannya, sebuah buku terbuka. Sampulnya sederhana. Isinya bukan kisah cinta, bukan pula cerita heroik. Ia adalah kumpulan renungan—tentang sabar, tentang waktu, tentang ikhtiar yang tak selalu berbuah segera.

Aldivano menarik napas panjang.

Ada satu kalimat yang sejak tadi membuat dadanya terasa penuh, seolah seseorang mengetuk ruang hatinya dari dalam.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Ia mengulang kalimat itu pelan, hampir seperti doa. Bukan karena ia tak hafal ayat tersebut—ia hafal, sangat hafal. Namun malam ini, kalimat itu terasa berbeda. Seperti cermin yang sengaja diletakkan tepat di hadapannya.

Kesulitan.

Kemudahan.

Dan di antara keduanya, ada proses panjang yang sering kali membuat manusia lelah sebelum sampai.

Aldivano menutup buku itu perlahan, jari-jarinya menekan halaman seolah takut kalimat itu terbang pergi jika ia melepaskannya. Pandangannya beralih ke langit. Hitamnya malam tampak dalam, seperti samudra tak bertepi.

Pikirannya melayang—dan tanpa ia sadari, satu nama muncul begitu saja, seperti cahaya kecil di ujung lorong gelap.

Celine.

Jika perasaannya adalah perjalanan, maka Celine adalah jalur yang paling sunyi namun paling ingin ia tempuh. Bukan jalan yang berisik dengan pengakuan, bukan pula jalan yang dipenuhi janji manis. Melainkan jalan yang mengharuskannya berjalan perlahan, menunduk, dan berkali-kali menguatkan diri sendiri.

Menaklukkan Celine.

Kalimat itu sempat terlintas di benaknya—namun segera ia luruskan.

Bukan menaklukkan.

Melainkan menjaga.

Mendekat tanpa merusak.

Mencintai tanpa mendesak.

Karena jika cinta harus memaksa, maka itu bukan cinta yang ingin ia perjuangkan.

Angin malam berembus lebih kencang. Daun-daun berdesir, seperti bisikan alam yang ikut menyimak kegelisahannya. Aldivano menyandarkan punggungnya pada kursi, menutup mata sejenak.

Bayangan Celine hadir begitu jelas.

Cara gadis itu tersenyum—tidak berlebihan, tapi cukup membuat orang ingin berhenti sejenak dari segala urusan dunia. Cara ia bicara dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap kata harus melewati timbangan hati terlebih dahulu. Dan caranya menjaga jarak akhir-akhir ini—bukan dingin, melainkan rapuh.

Aldivano merasakan perubahan itu.

Ia bukan lelaki yang tumpul membaca keadaan. Ia tahu, Celine sedang melindungi dirinya sendiri. Dari perasaan yang mungkin tumbuh terlalu cepat. Dari ikatan yang mungkin terlalu berat untuk dihadapi saat ini.

Dan Aldivano memilih satu hal yang tidak banyak lelaki pilih.

Diam.

Bukan karena menyerah.

Melainkan karena menghormati.

Ia teringat percakapan singkat dengan Bunda Afsheen sore tadi. Percakapan yang tidak panjang, namun meninggalkan bekas seperti tinta yang meresap ke kertas.

“Kadang,” kata Bunda Afsheen lembut, “cinta yang paling dewasa adalah yang tahu kapan harus melangkah, dan kapan harus berhenti sejenak.”

Aldivano mengerti itu.

Maka ia tidak mengejar.

Ia tidak menuntut.

Ia tidak bertanya mengapa jarak itu tercipta.

Ia hanya memastikan bahwa jarak itu tetap aman, tidak berubah menjadi jurang.

Langit semakin gelap. Jam menunjukkan lewat tengah malam. Dari kejauhan, suara ombak terdengar seperti napas panjang bumi—tenang, berulang, tidak tergesa.

Di kamar lain, Celine terjaga.

Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Lampu kamar sengaja dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela. Hatinya gelisah—bukan karena mimpi buruk, melainkan karena keheningan yang terlalu terasa.

Aldivano tidak menghubunginya.

Tidak mengirim pesan.

Tidak pula sekadar menanyakan kabar.

Dan entah mengapa, itu membuat dadanya terasa sesak.

Bukankah ini yang ia inginkan?

Jarak.

Ruang.

Waktu untuk menenangkan diri.

Namun ketika itu benar-benar terjadi, hatinya justru seperti kehilangan sesuatu yang selama ini diam-diam menjadi penopang.

Celine memejamkan mata.

Ia teringat bagaimana Aldivano mengantarnya ke kampus beberapa hari lalu. Tidak banyak bicara. Tidak menyinggung perasaan. Tidak menuntut penjelasan.

Hanya bertanya tentang kuliah.

Tentang rencananya.

Tentang hal-hal yang aman.

Sikap itu seperti selimut tipis—tidak menghangatkan berlebihan, tapi cukup membuat seseorang merasa dijaga.

“Kenapa kamu jadi begini?” bisiknya pada diri sendiri.

Detak jantungnya menjawab lebih dulu, berdegup lebih cepat dari biasanya.

Celine bangkit, berjalan ke jendela. Dari kejauhan, ia melihat siluet seseorang di balkon lantai dua. Ia tidak perlu memastikan—ia tahu siapa itu.

Aldivano.

Mereka berada di tempat yang sama.

Di waktu yang sama.

Namun terpisah oleh sunyi dan keheningan masing-masing.

Seperti dua garis sejajar yang berjalan beriringan, dekat namun belum bertemu.

Di balkon, Aldivano membuka kembali bukunya. Ada satu halaman yang terlipat—ia menandainya sejak lama. Ia membaca kalimat itu lagi.

"Allah tidak pernah terburu-buru, namun tidak pula lalai."

Ia tersenyum kecil.

Mungkin ini bukan waktunya.

Mungkin Celine belum siap.

Mungkin dirinya pun masih harus belajar lebih banyak tentang sabar.

Aldivano menutup buku, meletakkannya di samping. Tangannya terangkat, telapak menghadap langit. Doanya lirih, hampir tak terdengar.

“Jika ia bukan untukku saat ini, maka jagalah ia. Dan jika ia adalah amanahku kelak, maka siapkan aku tanpa melukainya.”

Doa itu tidak dramatis.

Tidak pula penuh permintaan.

Namun tulus—seperti air yang mengalir tanpa menuntut muara segera.

Di kamarnya, Celine merasakan sesuatu yang hangat menyentuh dadanya. Seperti ada doa yang melintas, meski ia tak tahu dari siapa.

Ia menunduk, mengusap dadanya pelan.

“Mungkin aku tidak lari,” gumamnya. “Aku hanya takut.”

Dan di antara takut dan berharap, ia berdiri di persimpangan.

Malam semakin larut.

Namun bagi Aldivano dan Celine, malam itu bukan akhir.

Ia adalah saksi.

Bahwa dua hati sedang belajar berjalan pelan—tanpa saling melukai, tanpa saling kehilangan.

Dan di balik gelapnya langit, Allah sedang menyiapkan kemudahan—dengan cara-Nya sendiri.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!