NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:96.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh

Perjalanan dari pesantren menuju rumah orang tuanya memakan waktu hampir tiga jam. Namun bagi Arsenio, waktu itu terasa jauh lebih singkat dari biasanya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar pada satu hal yang sama. Hanin.

Lampu-lampu jalan mulai menyala ketika mobilnya melaju meninggalkan kawasan pesantren yang semakin sepi. Jalanan menuju kota besar itu perlahan dipenuhi kendaraan, tetapi Arsenio hampir tidak menyadarinya. Pikirannya terlalu sibuk.

Bayangan wajah Hanin yang tenang selalu muncul di kepalanya. Cara perempuan itu berbicara lembut, cara ia menunduk sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, bahkan cara ia tersenyum kecil ketika sedang mengajar anak-anak mengaji.

Semua hal kecil itu tanpa ia sadari telah menempati ruang yang cukup besar di pikirannya. Padahal awalnya tidak seperti itu.

Awalnya ia datang ke pesantren itu dengan satu tujuan yang sama sekali berbeda. Bukan karena ketertarikan. Bukan juga karena ingin mengenal Hanin. Ia datang karena rasa bersalah.

Rasa bersalah yang sudah ia bawa selama dua tahun terakhir. Tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat ketika ingatan lama itu kembali muncul.

Arsenio menelan ludah. Ia menghela napas panjang lalu mencoba mengusir bayangan itu. Namun tidak semudah itu.

Setiap kali ia melihat Hanin di pesantren, rasa bersalah itu selalu datang kembali. Perempuan itu tidak tahu apa pun.

Tidak tahu bahwa lelaki yang selama ini ia hormati sebagai donatur pesantren adalah orang yang tanpa sengaja merenggut kedua orang tuanya.

Arsenio memejamkan mata sejenak ketika mobil berhenti di lampu merah.

“Kalau dia tahu …,” gumamnya pelan.

Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Hanin jika suatu hari kebenaran itu terungkap. Selama ini dia bebas karena kedua orang tuanya orang terpandang yang mengurusnya.

Lampu berubah hijau. Arsenio kembali menjalankan mobilnya.

Langit sudah benar-benar gelap ketika akhirnya ia memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal.

Rumah besar itu berdiri di ujung jalan yang cukup tenang. Lampu halaman menyala terang, menerangi taman kecil yang selalu dirawat rapi oleh mamanya.

Arsenio memarkir mobil di garasi, lalu turun.

Anehnya, tubuhnya tidak merasa lelah sama sekali meskipun baru saja menempuh perjalanan panjang. Justru ada perasaan gelisah yang membuatnya sulit benar-benar tenang.

Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu membuka pintu utama, suara televisi langsung terdengar dari ruang keluarga.

Di sana, papa dan mamanya sedang duduk santai di sofa besar. Papanya memegang remote, sementara mamanya terlihat sedang mengupas buah di meja kecil di depan mereka.

Mereka berdua menoleh hampir bersamaan ketika melihat Arsenio masuk.

“Arsen?” ucap mamanya sedikit terkejut. “Kamu pulang malam sekali.”

Arsenio tersenyum kecil.

“Iya, Ma.”

Ia berjalan mendekat lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa di seberang mereka.

Mamanya memperhatikannya dengan lebih saksama. “Kamu dari pesantren lagi?”

Arsenio mengangguk pelan. Beberapa detik ia hanya diam. Seolah sedang menyusun kata-kata di kepalanya.

Papanya akhirnya menurunkan volume televisi. “Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” tanya beliau tenang.

Arsenio menarik napas pelan. “Aku sudah mengatakan niatku.”

Mamanya berhenti mengupas buah. “Niat apa?”

Arsenio menatap mereka berdua. “Aku sudah mencoba menyampaikan kepada Ustaz Hamid … kalau aku ingin melamar Hanin.”

Ruangan itu mendadak menjadi lebih hening.

Mamanya berkedip beberapa kali, lalu senyum kecil mulai muncul di wajahnya. “Benarkah?”

Arsenio mengangguk. Mamanya langsung meletakkan pisau kecil di atas meja.

“Semoga dia menerima lamaranmu, Nak.”

Arsenio tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sedikit.

Mamanya melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Dengan begitu … rasa bersalahmu karena telah membuat kedua orang tuanya meninggal … mungkin bisa sedikit berkurang.”

Kalimat itu membuat Arsenio menatap lantai lebih lama. Ada sesuatu yang menekan dadanya. Beberapa detik ia tidak berbicara.

Lalu akhirnya ia berkata pelan, “Aku takut.”

Papanya menoleh padanya. Begitu juga mamanya.

“Aku takut nanti … pada akhirnya dia tahu.”

Arsenio mengangkat wajahnya sedikit. “Bahwa akulah yang menabrak kedua orang tuanya.”

Ruangan kembali sunyi. Televisi di depan mereka masih menyala, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memperhatikannya.

Papanya menatap Arsenio dengan tatapan serius. “Itu memang risikomu.”

Arsenio terdiam. Papanya melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, tetapi tegas.

“Bahkan sebenarnya … kalau perlu kamu harus jujur dan bertanggung jawab.”

Arsenio langsung menggeleng pelan. “Aku tidak siap.”

Ia menghela napas panjang. “Awalnya aku memang berniat jujur.”

Mamanya menatapnya dengan penuh perhatian.

“Tapi semakin aku mengenalnya .…”

Arsenio berhenti sejenak. Ada sesuatu yang berubah dalam suaranya.

“Aku malah jadi menyukainya.”

Mamanya mengangkat alis sedikit. Arsenio melanjutkan dengan jujur. “Awalnya aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.”

Ia menatap ke arah meja, seolah mengingat sesuatu. “Tapi semakin sering aku datang ke pesantren … semakin sering aku melihatnya .…”

Ia tertawa kecil, pahit. “Aku malah jadi benar-benar menyukainya.”

Papanya masih diam, mendengarkan. Arsenio berkata lagi dengan suara yang lebih pelan. “Aku takut.”

Mamanya bertanya lembut, “Takut apa?”

Arsenio menatap mereka berdua. “Aku takut kalau dia tahu kebenarannya … dia akan membenciku.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Mamanya tidak langsung menjawab. Beberapa detik ia hanya memandang anaknya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Lalu akhirnya ia berkata pelan, “Jadi sekarang kamu ingin menikahinya … bukan hanya karena rasa bersalah?”

Arsenio menatap mamanya.

Mamanya melanjutkan, “Tapi karena kamu memang menyukainya?”

Arsenio mengangguk perlahan. “Iya, Ma.”

Ia menarik napas dalam-dalam. “Awalnya aku hanya ingin bertanggung jawab. Tapi sekarang … rasanya sudah berbeda.”

Mamanya tersenyum kecil. “Berbeda bagaimana?”

Arsenio terlihat sedikit canggung menjawab pertanyaan itu. Ia mengusap tengkuknya sebentar. “Aku suka melihatnya.”

“Maksudku … cara dia berbicara dengan santri kecilb… cara dia mengajar … cara dia memperlakukan semua orang dengan sabar.”

Ia menggeleng kecil, seolah tidak percaya dengan dirinya sendiri. “Aku bahkan sering datang ke pesantren tanpa alasan yang benar-benar penting.”

Papanya sedikit menyeringai. “Hanya untuk melihatnya?”

Arsenio tersenyum tipis. “Mungkin.”

Mamanya tertawa kecil. “Kalau begitu … itu berarti kamu benar-benar menyukainya.”

Arsenio mengangguk lagi.

“Iya, Bu.” Ia berkata dengan jujur.

“Kalau dulu aku berpikir menikahinya mungkin hanya cara untuk menebus kesalahanku .…”

Ia berhenti sebentar. "Sekarang aku ingin menikahinya karena aku memang ingin bersamanya.”

Mamanya terlihat puas mendengar itu. Namun papanya masih bersandar dengan ekspresi yang lebih serius.

“Apa pun alasannya,” ucap Papa akhirnya, “Kamu tetap harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.”

Arsenio menatapnya. Papanya berkata dengan tenang.

“Rahasia seperti itu tidak selalu bisa disimpan selamanya.”

Kalimat itu terasa berat. Arsenio mengangguk pelan. "Aku tahu.”

Papanya melanjutkan, “Kalau suatu hari dia tahu … kamu harus siap menerima reaksinya.”

Arsenio menelan ludah. “Termasuk kalau dia marah?”

Papanya menjawab tanpa ragu. “Termasuk kalau dia membencimu.”

Kalimat itu seperti menghantam dada Arsenio. Ia menunduk lagi.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Mamalah yang akhirnya memecah keheningan. “Tapi itu semua nanti.”

Ia menatap Arsenio dengan senyum lembut. “Sekarang kita bahkan belum tahu apakah Hanin menerima lamaranmu atau tidak.”

Arsenio tersenyum tipis. “Iya.”

Mamanya melanjutkan dengan nada lebih ringan. “Kalau dia menerima … mama dan papa akan datang ke pesantren bersama kamu.”

Ia menepuk tangan Arsenio pelan. “Kita akan melamarnya dengan baik-baik.”

Arsenio mengangguk. Ada sedikit rasa hangat yang muncul di dadanya mendengar itu.

Mamanya berkata lagi sambil tersenyum. “Dan kalau nanti kalian benar-benar menikah …”

Ia berhenti sebentar. “Mama berharap kamu menjaganya dengan sungguh-sungguh.”

Arsenio langsung menjawab tanpa ragu. “Aku akan melakukannya.”

Papanya menatapnya sekali lagi. “Kamu yakin?”

Arsenio mengangguk. “Sangat yakin.”

Ia berkata dengan suara yang lebih mantap. “Aku tidak ingin menyakitinya lagi.”

1
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Teh Euis Tea
yg datang pasti di fahri nih
Teh Euis Tea
syukurlah hanin sudah berdamai dgn hatinya, memaafkan arsen wlu tdk terucap tp dari tingkahnya udah membuktikan klu hanin memaafkan arsen, tinggal emaknya di fahri nih yg blm jujur, berani ga dia jujur sm hanin?
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: wkwkwk
pun, ini fiksi ye kan...
total 5 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!