Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. The Echoes of the Past
Minggu pagi di perdesaan Vermont selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti padang rumput dan suara lonceng gereja kayu tua yang berdenting di kejauhan. Bagi Julian, ini adalah melodi yang jauh lebih indah daripada sorak-sorai di Madison Square Garden.
Julian mengenakan kemeja flanel sederhana dan topi beanie yang ditarik rendah hingga menutupi dahinya. Alice berjalan di sampingnya, mengenakan gaun bunga-bunga panjang dengan kardigan rajut, tangannya menggandeng lengan Julian dengan erat.
"Kau yakin ingin memainkan organ hari ini?" bisik Alice saat mereka memasuki pintu gereja yang berderit.
Julian tersenyum, menepuk tangan Alice lembut. "Pendeta John bilang pemain organ mereka sedang sakit pinggang. Ini cara kecilku untuk berterima kasih pada Tuhan, Al. Tanpa panggung, tanpa lampu blitz, hanya aku dan tuts piano."
Gereja kecil itu hanya berisi sekitar tiga puluh orang jemaat, sebagian besar adalah petani lokal dan lansia yang menghabiskan masa tua di desa. Julian duduk di bangku organ yang terletak di sudut remang-remang. Alice duduk di barisan depan, menatap suaminya dengan bangga.
Saat ibadah dimulai, Julian mulai menekan tuts organ tua itu. Awalnya, ia hanya memainkan nada-nada dasar yang sederhana. Namun, jiwanya adalah jiwa seorang musisi jenius. Tanpa sadar, jemarinya mulai menari, menciptakan harmoni yang sangat dalam, megah, namun tetap khusyuk.
Di barisan tengah, seorang pria paruh baya bernama Arthur Vance mengerutkan kening. Arthur bukan petani biasa; ia adalah mantan jurnalis senior dari majalah Rolling Stone yang memilih pensiun dini karena muak dengan industri musik. Telinganya yang terlatih menangkap sesuatu yang tidak biasa.
"Teknik fingering itu... modulasi itu... tidak mungkin seorang relawan desa biasa memiliki sentuhan seperti itu," batin Arthur, matanya menyipit menatap sosok bertopi di sudut gereja.
Puncaknya terjadi saat sesi lagu pujian terakhir. Penyanyi latar gereja—seorang gadis remaja—tiba-tiba kehilangan nada karena gugup. Suasana menjadi canggung. Julian, yang ingin membantu, akhirnya membuka suaranya untuk menuntun nada tersebut.
"Amazing grace, how sweet the sound..."
Suara bariton Julian yang khas, yang telah menghipnotis jutaan orang di seluruh dunia, menggema di ruangan kayu yang sempit itu. Suara itu begitu bersih, penuh tenaga, namun bergetar dengan emosi pertobatan yang jujur. Seluruh jemaat terdiam. Mereka berhenti menyanyi hanya untuk mendengarkan "relawan" baru itu bernyanyi.
Alice membelalak. Ia tahu Julian sedang dalam bahaya. Ia mencoba memberi kode dengan batuk kecil, namun Julian sedang terpejam, benar-benar tenggelam dalam komunikasinya dengan Tuhan melalui lagu itu.
Setelah ibadah selesai, jemaat mengerumuni Julian.
"Luar biasa, Nak! Suaramu... seperti malaikat," puji Nenek Martha, salah satu jemaat tertua.
"Terima kasih, Nek. Saya hanya mencoba membantu," ujar Julian sambil tetap menunduk, mencoba menghindari kontak mata.
Namun, Arthur Vance melangkah maju, memecah kerumunan. Ia menatap Julian dengan tajam, tangannya terlipat di dada.
"Permainan yang bagus," ujar Arthur dingin. "Sangat bagus. Bahkan terlalu bagus untuk seseorang yang mengaku hanya seorang 'pekerja lepas' yang sedang berlibur."
Julian menegang. "Saya belajar sedikit saat sekolah dulu, Tuan."
"Sedikit?" Arthur tertawa sinis. "Aku menghabiskan tiga puluh tahun mendengarkan musisi terbaik dunia. Teknik staccato yang kau gunakan tadi hanya dimiliki oleh segelintir orang. Dan suara itu... jika aku menutup mata, aku akan bersumpah bahwa yang baru saja bernyanyi adalah pria yang seharusnya sedang 'menghilang' dari New York."
Alice segera menghampiri, mencoba mencairkan suasana. "Maaf, Tuan, suami saya memang sedikit ambisius jika berhubungan dengan musik. Kami harus segera pulang untuk memasak makan siang."
"Tunggu dulu, Nona," Arthur menahan lengan mereka. "Kau Alice Vane, bukan? Model yang sedang naik daun itu?"
Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Beberapa jemaat lain mulai ikut berbisik-bisik. Julian menarik napas panjang, ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Arthur dengan tenang.
"Tuan, di sini saya bukan siapa-siapa," bisik Julian dengan nada yang sangat dalam. "Saya hanya seorang pria yang sedang mencoba mencari jiwanya kembali. Jika Anda benar-benar mengenal siapa saya, saya mohon... berikan saya ketenangan yang selama ini tidak pernah saya dapatkan."
Arthur tertegun. Ia melihat kejujuran yang menyakitkan di mata Julian—sebuah kelelahan yang luar biasa dari seorang megabintang. Arthur perlahan menurunkan tangannya.
"Dunia sedang mencarimu, Nak. Ellena Breeze sedang sekarat di media, dan kau di sini membersihkan lantai gereja?" tanya Arthur dengan nada yang sedikit melunak.
"Dunia bisa menunggu," jawab Julian mantap. "Tuhan tidak."
Mereka berdua berjalan cepat menuju rumah. Begitu sampai di dalam dan mengunci pintu, Alice langsung lemas di balik pintu.
"Itu hampir saja, Julian! Pria itu... dia jurnalis!"
Julian melepaskan topinya, membuangnya ke sofa. Ia segera menghampiri Alice dan memeluknya erat, seperti permen karet yang tidak mau lepas. "Maafkan aku, Al. Aku terbawa suasana. Aku hanya merasa sangat bebas saat bernyanyi di sana."
"Kau harus lebih hati-hati. Jika dia menulis berita tentang kita di sini, pengasingan kita berakhir," Alice membalas pelukan Julian, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang berdegup kencang.
"Aku tahu. Tapi kau lihat tadi? Ayahmu benar," Julian mengangkat dagu Alice, menatapnya mesra. "Saat aku bernyanyi bukan untuk uang atau popularitas, hatiku terasa sangat ringan. Aku merasa... suci."
Julian kemudian mencium bibir Alice dengan lembut, sebuah ciuman yang panjang dan penuh rasa syukur. Ia menggendong Alice menuju balkon belakang yang menghadap ke lembah.
"Biarkan jurnalis itu bicara apa saja," bisik Julian di telinga Alice. "Selama aku punya kau di sampingku, dan selama aku punya keberanian untuk berlutut di gereja itu setiap Minggu, aku tidak takut lagi pada dunia."
Namun, di kejauhan, di balik rimbunnya pohon mapel, sebuah lensa kamera long-range berkilat tertimpa cahaya matahari. Bukan Arthur Vance yang memegangnya, melainkan seorang pria bertopi hitam dengan seringai licik.
Sean Miller telah menemukan mereka. Dan dia baru saja merekam momen Julian dan Alice yang sedang bermesraan di balkon—sebuah rekaman yang jika dipotong dengan benar, akan membuat Julian terlihat seperti pria yang tidak peduli pada "mantannya" yang sedang sekarat.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/