NovelToon NovelToon
Sinyal Dari Lantai 4.5

Sinyal Dari Lantai 4.5

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Action / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.

Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reparasi Waktu

Menara Sembako berdiri tegak di jantung Jakarta, namun pagi ini, gedung pencakar langit itu tampak seperti gambar di televisi yang sinyalnya terganggu. Kadang-kadang, pilar beton di pintu masuknya terlihat berganti menjadi marmer putih bergaya kuno, lalu sekejap kemudian berubah lagi menjadi besi karat yang mengerikan. Orang-orang di sekitar gedung tidak berani mendekat; mereka berdiri di seberang jalan dengan ponsel terangkat, merekam fenomena yang mereka sebut sebagai "Jakarta Mirage".

"Genta, baca sensor ini," Sarah menyodorkan tabletnya dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Gedung ini tidak hanya mengalami kerusakan fisik. Radius sepuluh meter di sekitarnya sedang mengalami 'Data Lea.age' dari masa lalu. Seseorang atau sesuatu—sedang membuka folder lama yang seharusnya sudah dihapus dari server alam semesta."

Genta merapikan sabuk peralatannya. Kunci inggris emasnya mungkin sudah hilang, tapi dia sekarang membawa sebuah perangkat baru hasil rakitannya bersama Sarah: sebuah obeng magnetik yang ujungnya dibuat dari serpihan memori *The Shifter*. "Tahun 1998, ya? Pantas saja saya tadi lihat ada orang keluar dari lift pakai celana cutbray sambil megang pager."

"Ini bukan lelucon, Genta," Aki memperingatkan sambil memeriksa tekanan udara di sekitar mereka menggunakan bulu ayam yang ia basahi. "Kalau kita tidak segera menutup kebocoran ini, seluruh Jakarta bisa tersedot masuk ke dalam 'Loop' sejarah. Kita bisa bangun besok pagi dan menemukan diri kita kembali di zaman batu, atau lebih buruk lagi, di zaman saat harga cabe masih seribu perak tapi kita nggak punya uangnya."

Mereka bertiga melangkah masuk melintasi garis batas anomali. Saat Genta menginjakkan kaki di lantai lobi, sensasinya seperti tersengat listrik statis. Seketika, seragam teknisinya berubah menjadi kemeja batik, lalu kembali lagi ke seragam teknisi.

"Akses Root: Stabi liz!" gumam Genta sambil memfokuskan pikirannya.

Getaran di telapak tangannya meredam distorsi di sekelilingnya. Mereka sampai di depan lift nomor empat—lift legendaris yang menjadi saksi bisu awal mula petualangan ini. Pintu lift itu bergetar hebat, mengeluarkan suara musik "disco" tahun 90-an dari dalamnya.

"Sarah, tahan jaringannya! Aki, jaga pintunya! Saya mau masuk ke panel pusat di atas kabin!" perintah Genta.

Genta memanjat ke atas kabin lift melalui celah plafon lobi. Di atas sana, dia menemukan sesuatu yang membuatnya mual. Bukan kabel yang putus, tapi sebuah perangkat berbentuk seperti jantung manusia yang terbuat dari komponen komputer tua dan jam tangan mekanik. Benda itu berdenyut, memancarkan cahaya oranye yang berirama.

"Ini 'Chr.nos-Drive'," suara Sarah terdengar lewat earpiece, bergetar karena interferensi. "Itu adalah proyek rahasia Baskoro untuk melakukan 'Undo' pada kesalahan sejarah. Sepertinya saat kamu menghancurkan bunker Menteng, perangkat ini terpicu secara otomatis sebagai protokol darurat."

"Bisa saya cabut?" tanya Genta sambil mengarahkan obeng magnetiknya.

"Jangan! Kalau dicabut paksa, energinya akan meledak dan menyebarkan pecahan waktu ke seluruh kota. Kamu harus 'Menyeimbangkan' arusnya. Kamu harus menyinkronkan waktu di alat itu dengan waktu sekarang," jelas Sarah.

Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari kegelapan di atas rel lift. Bayangan itu berbentuk seperti pria tanpa wajah yang mengenakan jas kantor tahun 90-an lengkap dengan tas koper kulit.

"Subjek Genta... waktu adalah komoditas yang tidak boleh kau utak-atik..." suara bayangan itu bergema, terdengar seperti suara rekaman kaset yang melambat. "Biarkan kami kembali ke masa di mana semuanya masih dalam kendali kami."

"Maaf, Pak," Genta menghantamkan obengnya ke rel lift untuk menciptakan percikan energi. "Saya ini teknisi masa depan. Dan menurut standar keamanan saya, masa lalu itu tempatnya di buku sejarah, bukan di lobi gedung!"

Bayangan itu menyerang. Dia bergerak tidak secara linear; sekejap dia ada di depan Genta, sekejap kemudian dia ada di belakangnya. Genta merasa dirinya ditarik-ulur oleh waktu. Dia melihat sekilas masa kecilnya, melihat saat dia pertama kali belajar memperbaiki radio, lalu melihat dirinya sendiri yang sudah tua dan sedang memperbaiki lift di Mars.

"Aki! Sarah! Saya terjebak di antara folder masa depan dan masa lalu!" teriak Genta.

"Genta! Gunakan titik nolmu!" suara Aki menggelegar dari bawah. "Jangan lihat apa yang terjadi, tapi lihat apa yang 'sedang' terjadi! Rasakan detik ini!"

Genta memejamkan mata. Dia mengabaikan bayangan masa lalu dan masa depan. Dia memfokuskan pendengarannya pada suara detak jam tangannya yang murah. Tik. Tok. Tik. Tok.

"Sekarang!"

Genta menusukkan obeng magnetiknya tepat ke tengah jantung mekanis Chr.nos-Drive. Dia tidak menghancurkannya, tapi dia menyalurkan akses [ROOT]-nya untuk memberikan perintah baru: REBOOT TO CURRENT TIMES TAM].

Cahaya oranye yang menyilaukan meledak dari perangkat itu. Bayangan tanpa wajah itu menjerit dan menguap menjadi debu digital. Seluruh Menara Sembako bergetar hebat sampai ke fondasinya. Di luar, orang-orang menyaksikan "Mirage" itu tiba-tiba tersedot masuk ke dalam gedung, meninggalkan lobi yang kembali normal dengan beton yang kokoh dan musik lobi yang membosankan.

Genta jatuh terduduk di atas kabin lift, napasnya tersengal. Jantung mekanis itu kini berhenti berdenyut dan berubah menjadi tumpukan logam tua yang tak berguna.

Dia merangkak turun kembali ke lobi. Sarah dan Aki segera menghampirinya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sarah sambil memeriksa suhu tubuh Genta. "Wajahmu tadi sempat kelihatan kayak anak umur lima tahun, terus berubah jadi kakek-kakek sebentar."

"Saya baik-baik saja," kata Genta sambil menyeka keringat. "Cuma... saya baru tahu kalau jadi tua itu punggungnya sakit banget. Kita harus bener-bener jaga kesehatan, Ki."

Aki terkekeh sambil menepuk pundak Genta. "Selamat, Nak. Kamu baru saja menyelamatkan masa lalu dari dirinya sendiri. Tapi lihat ini."

Aki menunjuk ke arah cermin di lobi. Di sana, Genta melihat pantulan dirinya. Di dahinya, sempat muncul tato digital angka 1998 yang perlahan memudar dan menghilang.

"Sisa-sisa residu waktu," ujar Sarah. "Akan hilang dalam beberapa jam. Tapi masalahnya, Genta... saat Chr.nos-Drive itu meledak, dia sempat mengirimkan sinyal 'Ping' ke sebuah lokasi di dasar laut selatan Jawa."

"Jangan bilang ada bunker lagi di sana," keluh Genta.

"Bukan bunker," Sarah menatap layar tabletnya dengan wajah pucat. "Itu adalah lokasi penyimpanan cadangan 'Hardware' asli dari realitas kita. Tempat di mana 'Cetak Biru' manusia disimpan secara fisik dalam bentuk untaian DNA digital."

Genta menghela napas panjang, mengambil topi teknisinya yang sempat jatuh, dan memakainya kembali dengan mantap. "Oke. Jadi setelah selokan, panti jompo, mal hantu, dan gedung pencakar langit, sekarang kita harus jadi penyelam?"

"Bukan cuma penyelam," Aki tersenyum penuh rahasia. "Kita butuh kapal selam yang bisa menembus tekanan nasib buruk di kedalaman tiga ribu meter."

Genta menatap lift nomor empat yang sekarang sudah berfungsi normal. Dia melihat sekelompok orang kantor masuk ke dalamnya dengan wajah biasa saja, tidak tahu bahwa beberapa menit lalu mereka hampir menjadi bagian dari sejarah yang terlupakan.

"Ayo kita cari kapalnya," ujar Genta. "Tapi sebelum itu, saya mau makan bakso dulu. Dan kali ini saya mau bakso yang nggak melayang, nggak punya akses root, dan bener-bener nyata di tahun 2026."

Mereka bertiga berjalan keluar dari Menara Sembako. Jakarta kembali berdenyut dengan segala kekacauannya yang jujur. Genta tahu, tugasnya sebagai "System Admin" baru saja dimulai. Karena di dunia yang kini terbuka aksesnya, bahaya bukan lagi datang dari sistem yang mengatur manusia, tapi dari manusia yang mencoba mengatur kembali sistem yang sudah ia bebaskan.

"Genta," panggil Sarah saat mereka di depan gerobak bakso.

"Ya?"

"Kamu tadi di masa depan lihat apa? Yang di Mars itu?"

Genta tersenyum tipis. "Saya lihat saya lagi benerin lift menuju roket. Dan tebak apa? Harganya masih tetap mahal, tapi setidaknya liftnya nggak macet."

Sarah tertawa, dan untuk sejenak, waktu terasa benar-benar sempurna.

1
Melissa McCarthy
mantap bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!