"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KHAWATIR TAPI GENGSI
"Bawa dia ke Kamar Kristal! Hanya energi murni di sana yang bisa menstabilkan darah campurannya!" perintah Arion kepada para pengawal.
"Bagaimana pertemuan pertama mu dengan putra Alistair?" tanya Arion menatap ke arah tandu Leo yang menjauh, lalu menatap putrinya.
"Pria itu sangat menyebalkan, Ayah, dia sombong, merasa paling kuat, dan sok pahlawan, dia bahkan berani menggendongku seperti karung beras!" jawab Aurora mendengus, menghapus noda darah di pipinya dengan kasar.
Arion mengangkat alis, menahan senyum tipisnya.
"Begitukah?"
"Iya! Dan dia bilang dia menang taruhan jumlah musuh karena dia menghitung yang jatuh ke jurang! Benar-benar tidak sportif," jawab Aurora dengan cerewet, tangannya bergerak-gerak menjelaskan betapa menyebalkannya Leo.
"Tapi, Ayah..." ucap Aurora, suaranya mendadak merendah, matanya menatap lantai marmer istana.
"Dia tidak membiarkan satu pun sihir menyentuhku, dia menahan semuanya sendirian..." lanjut Aurora, lirih.
"Dia menjalankan tugasnya dengan baik," gumam Serena, Serena mengelus rambut putrinya lembut.
"Sudahlah, aku mau menyusulnya, siapa tahu serigala itu butuh air," ucap Aurora, asal.
Aurora pergi dari sana menuju ruangan kristal, meninggal kan kedua orang tua nya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sifat Putri mereka.
Khawatir tapi gengsi.
Aurora melangkah lebar-lebar menyusuri lorong istana yang dingin, mengabaikan tatapan para pelayan yang membungkuk hormat padanya. Gaun tempurnya yang sobek di bagian lengan dan noda darah kering di pipinya membuatnya tampak seperti dewi perang yang baru saja turun dari gunung es.
"Minggir! Jangan menghalangi jalan!" ketus Aurora saat seorang pelayan hampir menabraknya karena membawa nampan berisi kain bersih.
Langkah kaki Aurora berhenti tepat di depan pintu besar berbahan kristal biru yang memancarkan cahaya redup, sebelum masuk, Aurora menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa berpacu lebih cepat daripada saat dia bertarung melawan lima puluh prajurit tadi.
Ceklekk
Pintu terbuka pelan, suasana di dalam Ruang Kristal sangat tenang, hanya ada suara dengung halus dari batu-batu kristal yang tertanam di dinding untuk menyerap hawa murni pegunungan.
Di tengah ruangan, di atas ranjang batu yang dialasi bulu beruang kutub, Leo terbaring tak berdaya.
"Masih belum sadar juga?" gumam Aurora sambil mendekat.
Grett
Aurora menarik kursi kayu di samping ranjang dan duduk dengan kasar, matanya menatap wajah Leo yang biasanya penuh seringai menyebalkan, kini tampak sangat pucat.
Dada pria itu naik turun dengan sangat lambat, menunjukkan betapa habisnya tenaga yang ia miliki.
"Lihat dirimu, Alistair, katanya serigala terkuat, katanya punya darah vampir murni Raja Arion, tapi sekarang malah terlihat seperti kerupuk disiram air," oceh Aurora sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Aurora meraih sepotong kain basah yang disediakan tabib di atas meja kecil, lalu dengan gerakan yang lembut dan sangat hati-hati, Aurora a mengusap sisa jelaga api di dahi Leo.
"Kalau kamu mati sekarang, aku tidak punya saingan untuk diajak bertengkar lagi. Dan itu akan sangat membosankan," bisik Aurora, suaranya tiba-tiba melunak.
Jari-jari Aurora tanpa sadar mengusap bekas luka goresan di lengan kekar Leo, dia tahu, luka itu didapat saat Leo menarik rantai raksasa demi melindunginya tadi.
"Kenapa kamu harus sejauh itu, hah? Kamu kan bisa saja membiarkan aku terkena sedikit sihir, toh aku juga kuat," omel Aurora lagi, seolah-olah Leo bisa mendengarnya.
Aurora mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat bulu mata Leo yang memiliki garis rahang yang tegas, tampak sangat sempurna.
Huh!
Aurora mendengus pelan, merasa kesal karena dalam keadaan pingsan pun, wajah pria ini tetap terlihat tampan dan tidak berdosa, sangat berbanding dengan mulutnya yang berbisa saat sedang sadar.
"Lihat ini, hidungmu tinggi sekali, apa ini juga keturunan serigala? Pantas saja kau selalu mendongak sombong," gumam Aurora sambil mencolek ujung hidung Leo dengan telunjuknya yang masih terasa dingin.
Tiba-tiba, suhu di dalam Ruang Kristal terasa sedikit meningkat, cahaya perak dari batu-batu di dinding mulai berpendar lebih terang, bereaksi dengan sisa energi yang ada di tubuh Leo.
Tubuh Leo sedikit menegang, dan urat-urat di lehernya menonjol, seolah sedang menahan rasa sakit dalam tidurnya.
"Eh? Hei, jangan menakuti ku! Leo!" seru Aurora panik, ia segera berdiri dari kursinya.
Tangan Aurora dengan sigap memegang dahi Leo, mencoba memeriksa suhu tubuhnya. Namun, bukannya panas, kulit Leo justru terasa sedingin es pegunungan yang paling dalam.
"Tabib! Seseorang! Kenapa dia jadi sedingin mayat begini?!" teriak Aurora ke arah pintu, namun suaranya hanya bergema di ruangan yang kedap suara itu.
Karena tidak ada jawaban, Aurora kembali menatap Leo dengan cemas, dia teringat kata-kata Ayahnya tentang darah campuran yang bisa bergejolak jika kehabisan energi batin.
Tanpa pikir panjang, Aurora menggenggam kedua tangan Leo yang besar dengan tangan mungilnya, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan dari tubuh vampir murninya.
"Dengar ya, Alistair, kalau kamu mati sekarang, aku akan pergi ke Wilayah Alistair dan membakar seluruh wilayah serigala mu!" ancam Aurora, suaranya gemetar antara marah dan takut.
"Bangun! Kamu belum membayar taruhanmu! Aku tidak mau menang, itu tidak terhormat!" ucap Aurora, keras.
Aurora terus menggenggam tangan Leo, bahkan kini dia ikut naik ke pinggiran ranjang batu, duduk bersimpuh di samping tubuh pria itu agar bisa lebih dekat, meniup-niup telapak tangan Leo, menggosoknya dengan gerakan cepat agar aliran darah pria itu kembali lancar.
"Ayolah, bangun, kamu bilang darah Ayahku mengalir di nadi mu, kan? Buktikan kalau kamu bukan serigala lemah yang hanya bisa menggonggong!" ucap Aurora lagi, kini kepalanya perlahan merunduk, hingga keningnya menyentuh lengan Leo.
Suasana kembali hening, hanya terdengar detak jantung Aurora yang tidak beraturan dan suara angin yang melolong di luar dinding istana.
Aurora memejamkan matanya, tanpa sadar ia membisikkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak percaya telah mengatakannya.
Ceklekk
Tuba-tiba pintu terbuka, membuat Aurora langsung mengalihkan perhatian ke arah pintu, ternyata yang datang bukan tabib tapi Raja Arion.
"Ayah kenapa dia tidak bangun-bangun? Ayah bilang di Pelindung ku, kenapa dia lemah begitu?" tanya Aurora, beranjak menghampiri Ayah nya.
Arion tersenyum kecil, mengelus lembut rambut Putri nya, dia tahu Aurora sebenarnya sangat Khawatir dengan Leo, hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengatakan nya dengan benar.
"Tenang lah, Putri ku, dia pria yang luar biasa, dia tidak akan mati hanya karena sihir hitam, murahan itu," ucap Raja Arion, menatap Leo yang masih memejamkan mata nya.
"Dia sedang istirahat, Sayang, kamu tidak perlu khawatir," lanjut Arion, menatap putri nya.
"Aku tidak khawatir," bantah Aurora, memalingkan wajahnya.