Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Luka yang Kupahat Sendiri
Kenangan adalah racun yang paling lambat bekerja di dalam aliran darahku. Sambil duduk di kursi kulit apartemen baruku yang mewah, aku memandangi pantulan diriku di jendela kaca yang besar. Pria di dalam kaca itu terlihat tangguh, namun di balik itu semua, aku sedang dihantui oleh bayang-bayang seorang monster yang dulu pernah kupanggil dengan namaku sendiri.
Kalian mungkin melihatku sebagai pria hebat yang bisa menjatuhkan Darwin dalam sekejap, tapi di kehidupan pertamaku, aku adalah pecundang paling menjijikkan bagi wanita yang kucintai.
Aku teringat malam itu, sekitar sepuluh tahun setelah pernikahan kami yang dingin. Aku baru saja pulang dengan setelan jas seharga ratusan juta, merasa seperti penguasa dunia setelah berhasil mengakuisisi perusahaan saingan. Seeula menungguku di ruang makan dengan meja yang sudah penuh dengan masakan favoritku. Wajahnya yang cantik terlihat sangat lelah, namun dia tetap berusaha menyambutku dengan senyum yang paling tulus.
"Kau sudah pulang, Mas? Aku memanaskan sup ikan ini tiga kali agar tetap enak saat kau makan," ucap Seeula sambil melangkah mendekat untuk mengambil tasku.
Aku sama sekali tidak menoleh padanya. Aku hanya melempar tas kantorku ke atas kursi kayu mahoni, membiarkan debu jalanan mengotori taplak meja yang dia cuci dengan tangannya sendiri. Rasa hausku akan kekuasaan telah mengubah hatiku menjadi gumpalan es yang tidak bisa lagi merasakan kehangatan.
"Singkirkan semua makanan sampah ini. Aku sudah makan malam dengan kolega penting," bentakku dengan suara yang sangat kasar hingga membuat jemarinya gemetar.
Seeula tertegun, tangannya yang sudah memegang piring sup itu berhenti di udara. Aku bisa melihat genangan air mulai memenuhi pelupuk matanya yang jernih. Dia tidak membalas teriakanku dengan kemarahan. Dia justru menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan luka yang baru saja kutorehkan tepat di jantungnya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kau sudah makan. Tapi setidaknya minumlah air putih ini agar tenggorokanmu tidak kering," pintanya dengan nada bicara yang penuh dengan ketulusan yang menyakitkan.
Aku justru menyambar gelas kaca dari tangannya dan meletakkannya kembali di meja dengan sangat keras hingga airnya tumpah membasahi gaun sederhananya. Bagiku saat itu, Seeula hanyalah penghambat ambisiku. Aku merasa dia tidak mengerti beban besar yang kupikul untuk membangun kekaisaran bisnisku, padahal kenyataannya, dialah satu-satunya orang yang selalu mendoakan keselamatanku setiap detik.
"Kenapa kau tidak bisa diam dan berhenti mengurusiku? Pergilah tidur dan jangan muncul di depanku malam ini!" usirku sambil menudingkan telunjuk tepat ke arah kamarnya.
Seeula berbalik tanpa mengeluarkan satu kata pun. Saat punggungnya menjauh, aku mendengar isak tangis yang sangat halus, suara pecah yang selalu menghantui mimpiku sekarang. Meskipun aku memperlakukannya seperti sampah, keesokan paginya dia tetap akan menyiapkan pakaianku, menyemir sepatuku sampai mengilap, dan meletakkan vitamin di samping kopi pahitku.
Dia selalu menangis karena kekejamanku, namun dia tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkanku. Kesetiaannya adalah tamparan paling keras yang baru kurasakan setelah dia tidak ada lagi di dunia ini. Aku dulu sangat bodoh karena mengira bahwa uang bisa menggantikan kehadiranku di sampingnya.
Lamunanku terputus saat suara bel apartemen berbunyi dengan nyaring. Aku menarik napas panjang, menghapus sisa-sisa kesedihan di mataku, dan kembali menjadi sosok Yansya yang tak tersentuh. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu, menyadari bahwa pria dengan mobil sport merah di bawah tadi mungkin membawa informasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar urusan saham.
Saat aku membuka pintu, pria berambut klimis itu masih berdiri di sana dengan senyum liciknya yang sangat lebar.
"Kau terlalu lama membiarkan tamu penting menunggumu di lorong, Yansya," celetuknya dengan nada bicara yang sangat meremehkan.
Aku menatapnya dengan pandangan dingin yang bisa membekukan nyali siapa pun. Di kepalaku, aku sudah menyusun rencana untuk memastikan pria ini tidak akan pernah berani tersenyum seperti itu lagi di depanku.
"Masuklah, sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu bicara dengan satpam di lobi," balasku singkat tanpa memberikan celah baginya untuk merasa menang.
Pria itu melangkah masuk dengan gaya angkuh yang sangat khas. Dia memandangi furnitur di apartemenku seolah sedang melakukan audit properti. Namanya adalah Adrian, putra mahkota dari Bank Artha Kencana. Di masa depan yang sudah kulalui, bank ini akan terseret skandal pencucian uang yang sangat besar, namun saat ini mereka masih merasa sebagai penguasa aliran dana di negeri ini.
Adrian menghempaskan tubuhnya di sofa kulitku tanpa menunggu dipersilakan. Dia mengeluarkan sebatang rokok mahal, namun aku segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Jangan menyalakan api di tempatku jika kau ingin pembicaraan ini berlangsung lebih dari satu menit," tegurku dengan sorot mata yang mengunci pergerakannya.
Adrian mendengus kesal namun dia menyimpan kembali rokoknya. Dia menatapku dengan tatapan menyelidik yang penuh rasa ingin tahu.
"Langsung saja, Yansya. Aku tahu kau baru saja menyapu bersih saham Widowati Group dan membuat Darwin jatuh miskin dalam semalam. Ayahku tertarik dengan caramu bekerja, meskipun caramu itu sangat kasar untuk ukuran pemain baru," ujar Adrian dengan nada bicara yang berusaha terlihat dominan.
Aku menyandarkan tubuh di kursi kerja, menjalin jemariku dengan tenang. Aku tahu persis apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mengendalikan aset yang baru saja kuperoleh agar bisa menggunakannya sebagai jaminan pinjaman ke pihak lain. Sebuah strategi perbankan kuno yang sangat mudah kubaca.
"Ketertarikan ayahmu adalah pujian bagiku, tapi aku tidak sedang mencari mitra untuk saat ini. Aku lebih suka bekerja sendirian daripada harus berbagi kue dengan bank yang memiliki banyak celah keamanan di sistem internalnya," sindirku dengan senyuman tipis yang sangat provokatif.
Wajah Adrian mendadak kaku. Dia tidak menyangka aku akan menyerang titik lemah bank mereka secara terang-terangan. Rahasia tentang kerapuhan sistem bank mereka adalah kartu as yang kusimpan untuk masa depan, namun sedikit bocoran sekarang tidak akan merusak rencana besarku.
"Apa maksudmu dengan celah keamanan? Kau sedang mencoba menggertak perbankan nasional?" tanya Adrian dengan suara yang mulai meninggi karena tersinggung.
Aku berdiri perlahan dan berjalan mendekati jendela, membelakanginya seolah dia bukan ancaman yang berarti. Aku bisa merasakan tatapan matanya yang penuh kemarahan menusuk punggungku.
"Anggap saja itu saran dari seorang investor yang peduli. Sampaikan pada ayahmu, jika dia ingin bicara denganku, suruh dia datang sendiri. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kurir yang hanya bisa pamer mobil sport di lobi apartemen orang lain," ucapku dengan nada suara yang sangat merendahkan martabatnya.
Adrian bangkit dari sofa dengan rahang yang mengeras. Dia melangkah menuju pintu dengan langkah yang menghentak keras, menunjukkan betapa hancurnya ego yang selama ini dia banggakan. Dia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh ke arahku dengan kebencian yang meledak-ledak.
"Kau akan menyesal karena sudah menghina keluarga kami, Yansya. Kami bisa membekukan semua langkahmu hanya dengan satu panggilan telepon!" ancam Adrian sebelum membanting pintu dengan sangat keras.
Aku hanya terkekeh pelan mendengar ancaman kosong itu. Dia tidak tahu bahwa besok pagi, Widowati Group akan mengalami guncangan yang jauh lebih besar, dan aku membutuhkan keributan yang diciptakan Adrian untuk mengalihkan perhatian publik dari rencana asliku. Aku menatap layar ponselku, melihat pesan singkat dari Rian yang mengonfirmasi bahwa Seeula baru saja keluar dari rumahnya sendirian di tengah malam.
Hatiku berdesir hebat. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pertemuan yang sesungguhnya dengan ratuku, tanpa ada bayang-bayang Madam Widowati yang mengawasi.