Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
5 hari kemudian....
Zea berlari memasuki area sekolah dengan tergesa-gesa, ia tidak ingin terlambat menghampirinya, tidak ingin ketinggalan upacara bendera hari ini, dengan napas yang mulai terengah-engah, zea bergegas menuju lapangan tempat seluruh siswa berkumpul, berdiri rapi sesuai barisan kelas masing-masing.
Dengan cepat, zea mencari barisannya dan segera bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Syukurlah, upacara belum dimulai, jadi ia masih sempat menarik napas lega meski dadanya terasa sesak.
Guru piket yang bertugas memantau kedisiplinan siswa melemparkan tatapan tajam ke arahnya, namun beliau tidak mengatakan apa pun karena upacara akan segera dimulai.
"Ze, kenapa lo bisa telat? lo biasanya selalu tepat waktu." bisik chacha disampingnya.
"Semalem nyokap gue pengen ditemenin nonton drakor, udah kayak orang ngidam sepanjangan aja." balas zea.
"Selera mama lo emang menarik sih ze." chacha cekikikan.
"Entahlah cha, gue capek banget selalu nurutin kemauan mama gue yang nggak masuk akal itu, contohnya aja semalam, dia pengen dibeliin patung lee min-ho." ujar zea pelan.
"Mama lo melebihi remaja sekarang."
"Iya, lo bene-
"Ngengosipnya dijeda dulu." potong guru yang tadi sempet menatap tajam ke arah zea.
"Maaf buk." ujar mereka berdua serempak.
Upacara pun dimulai dengan kesunyian, hanya ada suara protokol dan guru didepan yang sedang berpidato dengan suara yang lantang.
Namun tiba-tiba dipertengahan upacara, zea merasa nafasnya sesak dan dadanya terasa berat, ia berusaha manarik nafas dalam-dalam, namun rasanya tidak cukup, matanya juga ikut berkunang-kunang.
Chacha yang menyadari perubahan zea terlihat panik. "Ze lo kenapa?" tanya chacha dengan panik dan terlihat khawatir melihat keadaan zea.
"Cha gu....gue se....sak banget." jawab zea terengah-engah.
"Mana inhaler lo, lo bawakan?"
"Nggak ta....u cha, ka....yak....nya gue lu....lupa bawa deh."
BRUKK
Sebelum chacha bisa berbuat apa-apa, zea jatuh ke lapangan, pingsan. Seketika chacha langsung panik dan berteriak.
"ZEA...." teriakkan chacha memecahkan keheningan di lapangan tersebut.
Beberapa siswa yang lain berlari mendekat ke arah mereka, diikuti oleh guru piket, anak PMR yang berada disana pun langsung berlari cepat menghampiri mereka.
"Ayo bawa ke UKS." perintah guru piket tadi sambil membantu anak PMR menaikkannya ke stretcher.
Mereka mengangkat zea berlari menuju ke UKS sekolah. Sedangkan suasana yang ramai dan riuh tadi kembali seperti semula, sunyi tanpa suara, kecuali suara guru di depan.
Di barisan paling belakang tepat di kelas Xl-3, terlihat sepasang mata menatap keempat anak PMR yang berlari membawa seorang gadis mungil namun wajahnya terlihat sangat pucat.
Leo memperhatikan gadis mungil di atas stretcher dengan keadaan yang terlihat lemah. Kenapa dengan cewek gila itu? kenapa dia bisa pingsan seperti itu? leo mengikuti kemana arah pergi mereka dengan wajah datarnya.
"Itu kan zea le?" tanya dani.
"Iya, itu kan cegil nya leo." timbal sony
"Kenapa nggak lo bantuin le?" tanya dani
Leo tidak menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-temannya, ia hanya diam sambil melihat ke arah gadis tadi.
****
Jam istirahat tiba, chacha dan angel langsung berlari cepat menuju UKS sekolah, menghampiri zea yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
"Ze, gue telpon nyokap lo ya." pinta chacha.
"Telpon aja cha." jawab angel.
"Nggak usah, gue nggak mau buat mereka khawatir!" kata zea dengan lemah.
Angel menggelengkan kepala, pertanda ia tidak menyetujui apa yang zea katakan. "Nggak bisa ze! ini masalah kesehatan lo, mereka berhak tau!"
"Jangan." sarkas zea.
"Tapi lo harus ngabarin nyokap lo ze." pinta angel.
"Gue janji gue bakal baik-baik aja kok."
"Ze lo-
"Please ngel." zea memotong ucapan angel dengan penuh permohonan.
"Gue kuat kok! lagian kalo sampe mereka tau! gue nggak bakalan disuruh masuk ke klub basket." lanjut zea.
"Apa? lo mau masuk klub basket?" tanya chacha dan angel dengan kaget.
"Iya."
"Tapi ze, lo kan tau gimana keadaan lo." kata chacha sedikit kesal.
"Papa gue udah ngebolehin kok, asal gue nggak kenapa-napa."
"BOHONG!" sarkas chacha.
"Kok lo nggak percaya sih cha? gue serius! tanya aja sama bokap gue."
"Lo tolol apa gimana sih ze, lo nggak bisa lari-larian!" ujar chacha.
"Iya gue tau cha! kak leo kan anak basket, jadi gue mau ikut basket juga, biar lebih dekat sama kak leo, apa itu salah?"
"SALAH! Salah besar ze! karna lo nggak mikirin keadaan lo! lo cuman mikirin perasaan lo sama dia yang sama sekali nggak pernah nganggep lo ada!" chacha menghela nafasnya dengan kasar.
Chacha mengalihkan pandangannya ke arah jendela UKS.
"Gue juga pengen sehat kayak kalian!gue pengen masuk ke klub mana aja tanpa harus khawatir tentang kesehatan gue."
"Iya gue tau ze! gue ngerti! tapi masalahnya ze lo-
"Iya, gue masuk kesana karna kak leo!" potong zea.
"Gue tau gue bodoh, karna terlalu berharap sama sesuatu yang mustahil buat digapai!" tambah zea dengan nada lemah.
"Tapi gue bakal tetap berusaha, gue pasti bisa ngabulin kemustahilan itu. Pepatahnya gini 'usaha tidak akan menghianatin hasil' jadi gue bakal berusaha sampe gue ngerasa capek dengan sendirinya." lanjut zea.
Chacha menatap wajah zea yang terlihat penuh tekad.
Selama satu minggu terakhir, mereka menjadi saksi usaha zea. Gadis itu benar-benar fokus mengejar leo, selalu mencari perhatian cowok itu setiap hari tanpa jeda.
"Ze lo....emang keras kepala." ujar chacha.
"Tapi ze lo harus ingat, lo jangan terlalu maksain diri lo! kalo capek, berhenti." timbal angel.
"Iya siap, gue janji bakal ingat itu."
Zea menatap chacha yang kembali memandang ke arah jendela UKS.
"Lo ngeliatin apaan? elang berak?" tanya zea sambil tertawa.
"Nyebelin lo." ujar chacha dengan kesal, sedangkan zea hanya tertawa.
"Ze, gue mau ke kantin dulu, lo mau dibeliin apa?" tanya angel.
"Beliin aja zea bubur ayam." sahut chacha masih dengan nada kesal.
"Gue nggak suka bubur, beliin aja gue bakso, terus cabenya banyakin." timbal zea.
"Nggak boleh! lo belum bisa makan bakso apalagi kalo pedas, lo harus makan bubur." ujar chacha.
"Gue nggak suka bubur cha! lo kan tau."
"Khusus hari ini lo beli bubur nggak boleh yang lain."
"Lo tunggu sini, kita berdua ke kantin dulu." lanjut chacha.
Zea menganggukkan kepalanya, ia hanya bisa menuruti apa kata sahabatnya itu tanpa harus menolak, chacha benar ia tidak boleh makan-makanan seperti itu untuk sekarang.
****
Dikantin chacha dan angel berjalan menuju stand bude ayu.
"Bude, bubur ayam satu ya." pinta angel.
"Siap, neng." jawab bude.
"Lo nggak mesen, cha?" tanya angel.
"Nggak, deh."
Angel memperhatikan chacha yang hanya diam dan tidak ikut memesan apa pun, ia menatap sahabatnya itu dengan heran.
"Bukannya lo yang ngajak ke sini?" tanya angel.
"Iya! tapi masalahnya, gue mau beli es jeruk." jawab chacha sambil melirik ke arah mang pian.
"Ya beli aja cha, apa susahnya?"
"Yaudah, lo aja yang beliin gue es jeruk satu."
"Eh! lo kan yang mau, kenapa harus gue yang beliin?" sahut angel, sedikit gugup.
"Kalo gitu temenin gue." ajak chacha.
"Lo aja cha, gue nunggu pesanan bubur di sini."
"Yaudah, nggak jadi deh." angel mengembuskan napas kasar, tanda kesal.
"Loh, neng zea ke mana? biasanya bertiga." tanya bude ayu penasaran.
"Zea di UKS bude, tadi pingsan pas upacara." jawab angel.
"Oalah, kasihan banget, sampaikan sama neng zea semoga cepat sembuh, ya."
"Iya bude." jawab chacha dan angel bersamaan.
"Ngel, nanti gue temenin lo beli es jeruknya. Tapi ingat, gue cuma nemenin aja." ujar angel akhirnya.
"Iya, makasih ngel!" angel tersenyum lebar, senang karena chacha bersedia menemaninya membeli es jeruk.
Dimeja yang lumayan dekat dengan stand bude ayu, terlihat keempat cowok yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Tumben berdua, yang satu kemana?" tanya digo.
"Pingsan tadi! pas upacara bendera." timbal dani.
"Kok gua nggak tau ya?"
"Lo kan telat! orang udah selesai upacara lo baru datang." sahut sony.
"Oh iya gua lupa."
"Lo nggak ada niatan buat jenguk tuh cewek di UKS le?" tanya dani.
"Buat apa?" tanya balik leo.
"Sebagai crush dia lo wajib kesana."
"Nggak ada urusannya sama gua."
"Inini kalo mau liat cowok yang nggak peka!" nimbrung digo.
"Dia bukan siapa-siapa gua."
"Gua do'ain semoga lo tergila-gila sama zea sampe MAMPUS! kayak magnet yang susah buat dilepas." kata digo.
Leo menatap digo dengan mata lebar, ngeri mendengar apa yang digo katakan, ia takut do'a digo membuatnya benar-benar menjadi budak cinta.
"Do'a lo nggak bakal dikabulin." sarkas leo.
"Tuhan itu maha adil, nggak mungkin do'a gua nggak dijabah." sarkas digo.
Balik lagi ke chacha dan angel, mereka berdua yang sudah selesai memesan bubur ayam berinisiatif membeli es jeruk untuk chacha, mereka berjalan menuju stand mang pian dengan perasaan gugup.
"Mang be....beli es jeruk satu." pinta chacha dengan gugup yang sejak tadi melanda hatinya.
"Baiklah, tunggu disini sebentar." jawab mang pian dengan suara yang sangat tegas, ia mulai membuatkan es jeruk pesanan chacha.
"Iy....iya mang." chacha memandang angel yang sejak tadi tidak berkutik.
"Ini, 5 rebu!" mang pian memberikan es jeruk itu dengan hati-hati.
Chacha memberikan uang 5 ribu kepada laki-laki paruh baya tersebut.
"Makasih mang." ucap chacha dan menarik angel untuk pergi dari sana setelah ia menyambar cangkir plastik yang sudah ditutup rapat diatasnya dan ada juga sedotan yang sudah ditancapkan didalamnya.
****
Leo duduk di tengah-tengah mama dan kakak perempuannya di gazebo taman belakang rumah, sembari menyeduh kopi yang ia buat dari mesin kopi portabel yang diletakkan diatas meja kecil disana.
"Kenapa tuh muka? udah kayak habis lari dari zona perang aja." kata lina kakak perempuan leo.
"Lagi setres."
"Setres? gue kira kulkas berjalan nggak pernah setres."
"Gua bukan kulkas."
"Nggak sadar diri." kata lina dengan nada mengejek.
"Kayaknya kulkas kita perlu dicas ulang deh ma, biar nggak setres!" tambah lina.
"Setres mikirin cewek ya le?" tanya mama leo.
"Mama tau dar-
"Mana ada cewek yang mau sama dia ma, orang dia nya aja kayak batu kali, keras dan nggak berpenghuni!" lina memotong ucapan leo yang belum tersampaikan.
"Lina, jangan gitu sama adek sendiri." peringat mamanya.
"Bercanda kok ma." lina tertawa dengan renyah.
Terdengar langkah kaki berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Pantasan papa cari didalam nggak ada, ternyata kalian disini." ujar suara papa leo terdengar cukup lantang.
"Udah pulang sayang?" mama leo berdiri memeluk suaminya dengan hangat.
Cup
"Iya sayang." jawab papa leo sembari mencium kening sang istri dengan penuh cinta.
Leo dan lina menatap mama dan papanya dengan ekspresi bosan, merasa jengah dengan kemesraan kedua orang tua mereka yang selalu dipertontonkan dimana pun mereka berada. Dan yang bikin leo kesal kenapa harus dia juga yang jadi penonton setia mereka.
"Leo ke kamar dulu." leo berpamitan tanpa banyak bicara.
Leo berusaha menghindari suasana yang terlalu norak baginya, ia merasa sedikit jengah dengan mama dan papanya yang terlalu berlebihan. Jika sesekali melihatnya masih bisa dimaklumi, ini sudah menjadi kebiasaan yang membuat leo merasa bosan dan jenuh.
"Loh kok pergi sayang?" tanya mamanya.
"Tugas sekolah leo numpuk." jawab leo.
"Ya udah, nanti kalo udah selesai kita makan malam ya"
"Iya ma." timbal leo.
Leo berjalan kekamarnya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi! ketika melewati kulkas di dapur, ia membuka pintu lemari es tersebut dan mengambil buah pir yang tersusun rapi didalam sana. Leo memandang kulkas dengan kening yang berkerut. Apa benar dia mirip seperti kulkas? diam dan tenang! kulkas tidak pernah menunjukkan reaksi apapun ketika dipegang, sama hal nya dengan dirinya, tidak menunjukkan reaksi apapun ketika didekati dengan seseorang. Leo mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Bersambung