Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Masa Lalu
Di pinggiran Distrik kota Kowloon,
Mei Lin adalah seorang anak panti asuhan di pinggir kota. Ia ditemukan di kolong jembatan saat berusia delapan tahun, kemudian diasuh oleh ibu panti. Sayangnya, ibu panti meninggal ketika Mei Lin berusia dua belas tahun tahun , dan panti dikelola oleh anak dari ibu panti, Xi Li Yu, seorang brandal yang suka mabuk.
Malam hari, Li Yu yang sedang mabuk masuk ke kamar Mei Lin. Gadis yang baru tumbuh remaja itu terkejut, ia yang saat itu masih berusia dua belas tahun, tak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Li Yu. Lelaki itu sering masuk ke kamar nya yang sempit(Mei Lin tidur sendiri karena dipindahkan oleh Li Yu), duduk di ranjang Mei Lin, kemudian mengelus puncak kepala gadis itu hingga mengelus bokongnya. Mei Lin hanya pura pura terlelap. Ia tak curiga, namun, suatu malam, sentuhan mulai intim, Mei Lin sadar ada yang salah. Li Yu berusaha melepas pakaian Mei Lin dan tatapan nya lapar. Mei Lin yang biasanya hanya pura pura tidur, ia seketika bangun. Ia memberontak malam itu di kamar panti yang reyot, petir menggelegar, Mei Lin menghujam kepala Li Yu dengan sebuah vas murahan saat lelaki itu mengeluarkan alat vital lelaki itu dengan tidak tau malu. Tak sampai sana, perlawanan Mei Lin lanjut dengan menghujam kan wajah Li Yu ke kayu ranjang nya yang tajam hingga darah mengalir ke berbagai sudut kamar itu.
Itu adalah pertama kali nya, seorang Mei Lin melakukan pembunuhan. Mata nya kosong dan sikap nya amat dingin.
Ia berlari tanpa arah. Dunianya yang sempit di panti asuhan telah runtuh. Kini, ia hanyalah seekor tikus kecil di belantara beton yang kejam.
Polisi yang saat itu menyelesaikan kasus pembunuhan Li Yu, tak akan pernah menyangka bahwa pembunuh nya adalah gadis remaja dua belas tahun.
***
Setelah dua hari berpindah-pindah dari satu kolong jembatan ke gudang kelontong yang bau apek, Mei Lin "dipungut" oleh faksi preman jalanan kecil pimpinan Pak Tua Hu. Tugasnya sederhana ; mengemis, mencuri dompet, atau menjadi pengalih perhatian.
Suatu siang, saat kabut tipis masih menyelimuti gang-gang sempit di Distrik Barat, Mei Lin melihat pemandangan yang memicu amarah di dadanya. Di balik tempat sampah besar, tiga anak laki-laki yang badannya jauh lebih besar tengah mengeroyok seorang anak kecil yang tampak ringkih.
"Ma-maafkan aku, aku hanya ingin sedikit makan..." rintih anak itu. Suaranya serak, tubuhnya meringkuk seperti janin, mencoba melindungi kepalanya dari tendangan yang datang bertubi-tubi.
DUAK! DUAK!
Satu tendangan mendarat di perut anak itu hingga ia memuntahkan cairan bening. Anak itu adalah Wang Yu. Saat itu, ia bukanlah jenderal polisi yang gagah, ia hanya seorang anak yatim piatu yang kabur dari asrama militer karena tidak tahan dengan perundungan para senior yang menganggapnya "anak titipan" yang lemah.
"Hei!! Berani nya sama anak kecil! Lawan aku!" pekik Mei Lin.
Ketiga perundung itu menoleh. Mereka tertawa melihat seorang "gadis" kurus dengan rambut panjang (wig murahan yang ia temukan di tempat sampah untuk menyamar).
"Pergi kau, Manis! Atau kau mau kami tendang juga?" salah satu dari mereka maju, tangannya terjulur ingin menjambak rambut Mei Lin.
Sret!
Tangan itu menarik rambut Mei Lin dengan kasar, namun yang didapatnya hanyalah rambut palsu yang terlepas. Di baliknya, terlihat rambut asli Mei Lin yang dipotong pendek berantakan menyerupai laki-laki. Matanya dingin, dan kosong---sorot mata yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah pernah mencabut nyawa.
"Kau..." Mei Lin tidak memberi kesempatan lawan bicara. Ia menerjang, memiting lengan anak terdepan, lalu menghantamkan lututnya ke ulu hati lawan. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk anak seusianya, ia mengambil batu bata di dekatnya dan menghantamkan ke kaki anak kedua.
Hanya dalam hitungan menit, ketiga perundung itu lari terbirit-birit, menyisakan keheningan di gang sempit itu.
Mei Lin mengatur napasnya. Ia menoleh ke arah Wang Yu yang masih telungkup di tanah. Ia berjalan mendekat, lalu dengan kasar menarik kerah baju Wang Yu agar anak itu duduk tegak.
"Bangun! Kalau kau cuma bisa minta maaf saat dipukuli, lebih baik kau mati saja sekarang!" gertak Mei Lin.
Wang Yu menatap gadis di depannya dengan pandangan kabur. Di matanya yang bengkak, Mei Lin terlihat seperti malaikat maut sekaligus penyelamat. "Terima kasih..." bisiknya lemah.
Mei Lin mendengus. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong roti keras yang ia curi pagi tadi, lalu melemparkannya ke pangkuan Wang Yu. "Makan itu. Lalu pergi dari sini. Jangan biarkan orang lain melihatmu lemah, atau mereka akan memakanmu hidup-hidup."
"Terimakasih..." Wang Yu menerima roti keras itu dengan senang hati. Ia melahap dengan rakus hingga remah roti nya jatuh berbagai sisi.
"Kenapa kau menolongku?"
"Ck, banyak tanya! Aku Mei Lin, aku tidak suka melihat penindasan! Nasib kita sama, beda nya aku sudah dari kecil bertahan hidup di jalanan, sementara kau..."
"Aku Wang Yu! Terimakasih Mei Lin..." Wang Yu tersenyum lebar. Menunjukan garis pipi nya yang samar.
Mei Lin tertegun sesaat, kemudian ia teringat harus kembali ke Pak Tua Hu untuk menjalankan misi. "Mei Lin, bolehkah kita berteman?"
"Teman?" mei lin mengamati seragam mahal yang dipakai Wang Yu. Ia menyimpulkan bahwa anak lelaki itu berasal dari kalangan berada.
Wang Yu mengangguk pelan. "Iya teman, kau adalah orang pertama yang menolongku. Aku ingin berteman dengan orang kuat seperti mu."
"Heh, baiklah! Sampai jumpa, ada hal yang harus kulakukan."
Lalu beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu dan mengobrol. Hingga pada suatu siang, Wang Yu tidak menemukan keberadaan Mei Lin. Ia tak akan pernah menyangka bahwa gadis itu telah dipungut oleh organisasi gelap(karena bakat alami nya) dan dilatih menjadi mata-mata tak berperasaan.
Hingga akhirnya ia terkenal sebagai 859, hanya sisa sisa kehidupan masa kecil nya yang mengetahui identitas asli No. 859.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
beautiful story
menjadi penjahat ataupun pahlawan semua tergantung sudut pandang bukan?
terkadang kita terbentuk dan menjadi sesuatu karena lingkungan yg menempa kita
tidak selalu akan tampak baik dan buruk atas penilaian orang lain
selama kita tau batas nya,kita adalah orang baik menurut versi kita.
dan seenggaknya takdir sangat baik sama mereka. walaupun tidak berjodoh di waktu ini,maka waktu aka n menggeser supaya mereka akhirnya berjodoh 😍😍
terimakasih atas cerita indah nya Thor
tapi yg penting dia orang ini akhirnya bahagia
aku udah happy
tega amet si ah🥹🥹
lucunya liat villain jatuh cinta 😜
lucunya liat villain jatuh cinta 😜