Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjauh
Arka berdiri di depan Aurora.
Hanya beberapa langkah.
Tapi rasanya seperti jarak yang tak bisa ditembus.
“Aurora,” suaranya pelan, hati-hati. “Kita perlu bicara.”Aurora menatapnya.
Tatapan yang dulu hangat kini seperti dinding kaca.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Pak Arka.”
Kata “Pak” itu.
Dingin.
Formal.
Menusuk.
Arka menelan napas.
“Apa yang Surya katakan padamu?”
Aurora tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
“Ternyata Bapak tahu.”
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
Aurora mengangkat map yang tadi diberikan Surya.
“Ini kebenaran, bukan?”
Arka melihat sekilas.
Dan wajahnya menegang.
“Dokumen itu belum tentu benar”ucap arka
“Mobil Wiryamanta Group ada di lokasi kecelakaan ayah saya!” suara Aurora meninggi.
Itu pertama kalinya ia menyebutnya terang-terangan.
ayah saya.
Arka mendekat satu langkah.
“Ayahku bukan pembunuhnya.”
“Dan ayahku tidak mungkin membunuh sahabatnya”
Aurora menatapnya dengan mata basah.
“Bagaimana Bapak tahu?”
Hening.
Arka tidak punya jawaban instan.
Dan keraguan sekecil apa pun… sudah cukup menghancurkan Aurora.
“Apakah ayah Bapak pernah menceritakan kecelakaan itu?” tanya Aurora lirih.
Arka terdiam.
Aurora mengangguk pelan.
“Jadi benar bukan mobil ini milik Wiryamanta.”
Plak!
Tamparan itu terdengar jelas.
Arka tidak menghindar.
Ia hanya menerima.
Aurora langsung menutup mulutnya sendiri, kaget dengan tindakannya.
“Maaf… saya…”
Air matanya jatuh deras.
“Kalau benar keluarga Anda terlibat… bagaimana saya harus bersikap kepada Anda?”
Arka tidak membalas.
Ia hanya berkata pelan,
“Kalau kamu menjauh karena kamu takut membenciku… aku mengerti.”
Aurora gemetar.
“Tapi kalau kamu menjauh karena kamu tidak percaya padaku… itu yang menyakitkan.”
Tatapan Arka sendu….tidak tahu harus berkata apa lagi.
Malam itu Arka pulang ke rumah ayahnya, Tuan Wiryamanta.
Ia ingin mendengar penjelasan dari mulut ayahnya sendiri.
“Apakah Ayah pernah terlibat dalam kecelakaan Om Adiyaksa?”
Wiryamanta membeku.
Nama itu sudah lama tak disebut.
“Ayah tidak pernah menabraknya,” jawabnya tegas.
“Tapi kasusnya dihentikan.”
Hening panjang.
“Ayah menghentikan penyelidikan,” ujar Wiryamanta akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena saat itu kondisi perusahaan sedang diserang. Jika kasus itu membesar, bisnis kita runtuh. Ayah pikir itu hanya kecelakaan biasa.”
Arka mengepalkan tangan.
“Siapa pengemudinya?”
Wiryamanta menatapnya.
“Bukan Ayah.”
Jawaban itu cukup.
Arka berdiri tegak.
“Aku akan cari tahu siapa pelakunya.”
Wiryamanta menatap putranya lama.
"Maaf arka...Ayah tidak bisa memberi tahu siapa pengemudinya.!!dalam hati Wirya
“Kau melakukannya untuk perusahaan?”
Arka menjawab tanpa ragu.
“Untuk Aurora.”
Beberapa hari kemudian…..
Sebuah berita kecil muncul di media online.
“Kasus Lama Kematian Pebisnis Adiyaksa Kembali Disorot.”
Nama Wiryamanta terseret.
Media mulai menghubungi kantor.
Reputasi mulai goyah.
Doni masuk ke ruangan Arka dengan wajah tegang.
“Bre.., ini bukan kebetulan.”
“Semua ini sudah terencana”
Arka tahu.
Hanya satu orang yang cukup licik dan sabar untuk ini.
Surya Pradana.
Aurora kini menghindari Arka.
Tidak lagi makan siang bersama.
Tidak lagi tertawa.
Tidak lagi memanggil namanya tanpa formalitas.
Dimas melihat celah itu.
“Aurora, kalau kamu butuh teman bicara…”
Aurora tersenyum tipis.
Dan dari kejauhan,
Arka melihatnya.
Cemburu itu kini bukan lucu lagi.
Tapi menyakitkan.
Namun ia tidak marah.
Ia hanya semakin yakin.
Ia tidak bisa kehilangan wanita itu.
Bahkan jika dunia mengatakan keluarga mereka musuh.
Malam itu…
Arka menerima hasil penyelidikan awal.
Nama pengemudi akhirnya muncul.
Bukan Wiryamanta.
Bukan orang perusahaan.
Tapi…..
Surya Pradana.
Arka membeku.
Tangannya mengepal.
Jadi ini rencananya.
Surya bukan hanya memutarbalikkan cerita.
Ia menanam kebencian di hati Aurora terhadap keluarga yang tidak bersalah.
Arka menatap foto Aurora di ponselnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu dimanfaatkan dan menjadi pion surya pradana.”
Dan di rumah Surya
Surya berdiri di depan Aurora.
“Apa Arka sudah menjelaskan?”
Aurora menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin melihatnya maupun berbicara padanya"
Surya tersenyum.“Bagus.” dalam hatinya
Permainannya hampir sempurna.
Tapi ia tidak tahu,
Arka sudah memegang kartu paling berbahaya.
Kebenaran.
😭😭😭