Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 01: Bangkitnya Ratu Racun Dari Dimensi Lain!
***
Mata Mo Yuyan belum terbuka, namun dia dapat mencium bau da-rah yang pekat dari sekitarnya.
Aroma logam yang pekat, bercampur dengan tanah lembap dan sesuatu yang ... busuk.
Bukan aroma bangkai ...
Lebih seperti aroma kebencian yang sudah lama mengendap dalam dirinya.
Eh, dirinya ...?
Bukankah dirinya sudah mati ...?
Kenapa masih bisa merasakan sakit dan mencium bau yang hanya ada di dunia ...?
Kelopak matanya terasa sangat ... berat.
Sakit ...
Setiap kali dia mencoba untuk bernapas, ada sensasi perih yang menggigit disekitar dadanya.
Seperti ada sebuah jarum-jarum halus, yang menari di dalam nadinya.
Dia membuka matanya perlahan ...
Langit diatasnya terlihat gelap, seolah jurang ini sudah menelan semua cahaya yang ada. Kabut hitam bergerak malas, menutupi dinding-dinding batu yang curam.
"Jurang ...???"
Suara itu terdengar lirih saat berbicara, dan itu bukanlah suara miliknya.
Mo Yuyan menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya sangat kering, hingga rasanya seperti tersayat saat menelan.
Dia mencoba untuk bangkit, namun seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.
Tangannya menekan dinding batu yang dingin, dan dia merasakan sesuatu yang terasa sangat ... lengket.
Itu adalah ... darah!
Dan si-alnya, itu adalah darahnya.
Mo Yuyan menatap tajam telapak tangannya sendiri.
"Haisssh! Tangannya terlalu halus untuk tangan seorang pembunuh. Dan ada luka memanjang di area pergelangan, seperti luka seretan ..." gumamnya pada diri sendiri.
Mo Yuyan memejamkan matanya, dan sebuah ingatan asing menghantam kepalanya seperti sebuah gelombang tsunami.
Sekte Abadi ...
Aula Utama ...
Wajah-wajah yang meremehkan dan menatapnya seperti seorang ... sampah.
Dan ada sebuah suara yang terdengar lembut, seolah perduli ... namun ternyata menusuknya sangat dalam.
"Mo Yuyan ... aku percaya kamu ... akan tetapi, buktinya terlihat sangat jelas ..."
Mo Yuyan membuka matanya kembali.
"Ah, hahahaha! Ternyata jiwaku melakukan ... Transmigrasi? Kesempatan kedua? Perjalanan waktu seperti novel-novel online yang pernah aku baca sekilas?"
"Tenyata ... semua itu nyata, ya? Hahahaha!"
Di kehidupan sebelumnya, dia mati dalam sebuah ruangan dingin dengan banyak lampu warna putih yang menyilaukan, dan bau densifektan yang kuat.
Ada seseorang yang memanggil namanya, tapi bukan untuk menyelamatkannya ... melainkan untuk memastikan, jika dia sudah tidak dapat berbicara kembali.
Karena jebakan itu, dia tidak sempat marah ataupun membalas mereka.
Dan sekarang ... jiwanya diberi sebuah raga baru.
Raga seorang gadis berusia enam belas tahun, yang dipaksa mati sendirian di dalam sebuah jurang.
"Haaaah ...."
Mo Yuyan menghela napasnya pelan.
Terasa menyakitkan, namun ... menarik!
Mo Yuyan menyeringai tipis.
Saat sedang merasakan sesuatu yang ditanam dalam raga barunya, dia mendengar sebuah langkah dari arah belakang sebuah batu besar.
Mo Yuyan tidak bergerak, dia hanya memiringkan kepalanya, seolah-olah sedang mendengarkan bisikan angin.
Dari balik kabut, muncullah sosok yang memakai jubah berwarna hitam.
Raganya terlihat sangat kurus, wajah tertutup kain seluruhnya, hanya matanya saja yang terlihat.
Mata itu berwarna merah, namun redup ... seperti bara yang hampir mati.
"Eh, ternyata masih hidup?" ujar sosok bersuara serak itu.
Mo Yuyan memutar bola matanya dengan gerakan malas.
"Jika aku bilang sudah mati, apakah kamu akan pergi?" balas Mo Yuyan tanpa gentar sedikitpun.
Sosok itu tertawa menyeramkan, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"Hahahahaha! Berani sekali kamu menjawabku?! Tidak takut?" ujar sosok.itu dengan nada meremehkan.
"Aku hanya tidak.punya waktu untuk merasa takut!" jawab Mo Yuyan sambil menahan batuk.
Sosok itu berjalan mendekat, lalu dia berjongkok di dekat Mo Yuyan.
"Putri angkat Ketua Sekte Abadi ... Mo Yuyan. Difitnah hanya untuk disingkirkan ... Hahaha!" ujar sosok itu dengan nada mengejek.
"Apakah kamu tahu? Mereka sangat ingin melihatmu mati, namun tidak ada yang berani turun ke dalam jurang ini ..." lanjut sosok itu kepada Mo Yuyan.
Mo Yuyan menatap mata sosok itu tanpa berkedip sedikitpun.
"Lalu, kenapa kamu turun?" tanya Mo Yuyan dengan nada dingin.
"Hanya ingin memastikan, kamu sudah jadi bangkai apa belum ..." jawab sosok itu.
Mo Yuyan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tapi sayang, aku mengecewakanmu ..."
Sosok itu tertawa sangat kencang, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Hahahahaha! Lucu sekali! Tubuhmu sekarat, tapi mulutmu masih sangat tajam!"
Mo Yuyan mengangkat tangannya perlahan, lalu dia menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Di dalam sini ... ada sebuah segel ..."
Sosok itu menyipitkan matanya, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Kamu bisa merasakannya?" tanya sosok itu.
Mo Yuyan menatap sosok di depannya dengan wajah kesal.
"Bukan hanya merasakannya, namun aku juga tahu nama segel itu!" jawab Mo Yuyan dengan susah payah.
"Apa namanya?" tanya sosok itu.
"Segel Pemakan Jiwa ..." jawab Mo Yuyan.
Mendengar jawaban Mo Yuyan, sosok itu langsung bersikap waspada.
"Dari mana kamu tahu?" tanya sosok itu.
"Dari ingatan gadis ini ..." jawab Mo Yuyan sambil tersenyum samar.
Sosok itu menatap mata Mo Yuyan sangat lama, lalu dia bergumam:
"Matamu terlihat ... berbeda ..."
Mo Yuyan menundukkan kepalanya sebentar, lalu dia mengangkatnya kembali.
"Tentu saja beda! Yang kamu lihat sekarang bukanlah jiwa gadis itu lagi!" sahut Mo Yuyan, lantang.
Sosok itu tertawa, namun terdengar tidak ramah.
"Jadi ... kamu adalah 'Jiwa Asing' yang masuk ke dalam raga gadis ini?" tanya sosok itu.
"Jika aku adalah 'Jiwa Asing', apakah kamu akan membunuhku?" ujar Mo Yuyan, bertanya balik.
Sosok itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ..."
"Kenapa?" tanya Mo Yuyan.
"Karena jiwa asing itu biasanya lebih menarik, daripada jiwa aslinya yang bodoh!" jawab sosok itu.
"Lalu, kamu ini siapa?" tanya Mo Yuyan sambil menyipitkan matanya.
"Aku hanyalah seseorang yang tersesat saja ... tidak penting!" jawab sosok itu sambil mengibaskan jubahnya.
Mo Yuyan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Berapa lama kamu bisa bertahan di dunia ini? Segel Pemakan Jiwa itu akan memakan habis jiwamu dalam waktu tujuh hari, loh!" ujar sosok itu dengan gaya angkuh.
Mo Yuyan mengangkat alisnya.
"Ah, jadi kamu tahu juga tentang segel ini?" tanya Mo Yuyan.
"Tentu saja aku tahu! Aku sudah melihat banyak orang yang mati karena segel itu. Mereka menangis ... meratap ... dan memohon ..." jawab sosok itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lalu?" tanya Mo Yuyan.
Sosok itu memandang Mo Yuyan dengan tatapan aneh.
"Lalu? ... Ya, lalu kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama seperti mereka?" ujar sosok itu.
"Karena aku tidak dibesarkan untuk menangis ..." jawab Mo Yuyan.
"Siapa yang membesarkanmu?" tanya sosok itu, penasaran.
"Dunia yang penuh dengan ... pengkhianatan!" jawab Mo Yuyan.
Suasana menjadi hening sejenak setelah jawaban Mo Yuyan jatuh, kabut hitam terlihat bergulung diatas jurang itu, membuat suasana menjadi tambah dingin.
Dari kejauhan, terdengar suara gemerisik halus ... seperti ada sesuatu yang merayap cepat diantara celah batu.
Sosok berjubah hitam itu menoleh cepat, lalu dia berkata:
"Sepertinya ada binatang jurang yang datang! Mereka mencium bau da-rahmu ..."
Mo Yuyan menoleh ke arah datangnya suara itu, lalu dia terkekeh pelan.
"Bagus sekali dia datang ... aku memang sudah sangat lapar! Hehehehe!" ujar Mo Yuyan.
"Apakah kamu gila?!" tanya sosok itu.
"Ya ... aku akan menjadi gila jika kelaparan ..." jawab Mo Yuyan.
Sosok itu menggelengkan kepalanya, lalu dia mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna hitam pekat dari lengan bajunya.
"Minumlah! Ini adalah ramuan penahan rasa nyeri ..." ujarnya kepada Mo Yuyan.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Mo Yuyan.
"Karena aku ingin melihat aksimu ..." jawab sosok itu.
Mo Yuyan mengulurkan tangannya untuk mengambil botol tersebut.
Dia membuka tutupnya, lalu mencium baunya.
"Dasar badjingan! Ini bukan ramuan penahan nyeri, sia-lan!" maki Mo Yuyan sambil menyeringai.
"Ini racun!" lanjut Mo Yuyan dengan nada dingin.
Sosok itu langsung menegang, dia tidak mengira jika jiwa asing itu bisa mengetahuinya dengan cepat.
Mo Yuyan mengangkat botol itu, seolah-olah dia sedang menilainya.
"Ini adalah racun "Membusuk Dalam Tiga Hari' ... Membuat organ dalam terasa terbakar, tapi tidak membunuh orang yang meminumnya dengan cepat. Sangat cocok untuk metode penyiksaan ..." ujar Mo Yuyan.
Sosok itu menatap Mo Yuyan seperti melihat ... monster.
"Ba--bagaimana kamu tahu?" tanya sosok itu.
"Karena aku pernah membuatnya ..." jawab Mo Yuyan.
Sosok itu langsung mundur beberapa langkah, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"K--kamu ..."
"Tenang saja, aku tidak marah ..." ujar Mo Yuyan sambil mengibaskan tangannya.
"Kenapa tidak marah?! Aku baru saja mencoba untuk meracunimu, gadis bodoh!" ujar sosok itu dengan nada naik satu oktaf.
"Aku tahu ..." jawab Mo Yiyan sambil menganggukkan kepalanya.
"Lalu, kenapa tidak marah?" tanya sosok itu.
Mo Yuyan mengangkat botol tersebut, dan menggoyangkannya perlahan.
"Karena pembuatan racun ini sangat buruk! Tidak se-sempurna buatanku ..." jawab Mo Yuyan.
Sosok itu membeku kembali, saat mendengar jawaban Mo Yuyan. Dia menatap Mo Yuyan dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu ini siapa sebenarnya?" tanya sosok itu.
"Aku adalah 'Ratu Racun' dikehidupan sebelumnya. Kenapa? Takut sekarang? Hehehehe ..."
"Aku adalah 'Mo Yuyan' dari dimensi yang sudah maju ratusan tahun ke depan, tapi mati ditangan para pengkhianat yang aku percaya ..."
Klik!
Mo Yuyan menutup kembali botol tersebut, dan melemparkannya ke arah si sosok berjubah hitam.
"Aku mau pulang ..." ujar Mo Yuyan, sambil menatap langit kelam.
"Pulang? Hahahahaha! Pulang ke Sekte Abadi, heh? Aku jamin, mereka akan langsung membunuhmu saat melihatmu muncul ..." ujar sosok itu dengan nada sinis, sambil menaruh kembali botol racun tersebut.
Mo Yuyan mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk membunuhku ..." jawab Mo Yuyan.
"Apakah kamu ingin membalas dendam?" tanya sosok itu kembali.
Mo Yuyan menyeringai, sosoknya terlihat sedikit menakutkan di bawah kelamnya malam.
"Bukan untuk membalas dendam ... tapi untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianati ketulusanku ..." jawab Mo Yuyan dengan nada dingin.
Suara gemerisik itu pun semakin dekat ...
Dari balik bebatuan, muncul seekor makhluk berwujud seperti serigala, namun seluruh tubuhnya berlapis sisik berwarna hitam.
Matanya merah, dan air liurnya menetes deras layaknya air terjun Niagara.
"I--itu adalah binatang jurang tingkat satu! Kamu tidak akan bisa—"
Sebelum sosok berjubah itu menyelesaikan ucapannya, Mo Yuyan sudah meraih sebuah pecahan tulang dari atas tanah.
Dia perlahan berdiri dengan tubuh yang masih gemetar, namun langkahnya stabil.
"Jangan berisik!" ujar Mo Yuyan sambil mendelik sinis.
"A--apaaa?!"
"Diam! Jika ingin melihatku bertarung, berdirilah dengan tenang!" ujar Mo Yuyan kembali.
Mo Yuyan menatap serigala itu dengan tatapan liar, seperti melihat sepiring steak wagyu-A5 medium well tersaji dihadapannya.
Serigala itu menggeram, lalu dia melompat ke arah Mo Yuyan dengan ganas.
"GRRRR ... GROAAAARH!"
Mo Yuyan tidak menghindar, dia justru melangkah maju tanpa gentar sedikitpun.
Di detik-detik terakhir, Mo Yuyan langsung menusukkan pecahan tulang itu ke bawah rahang serigala tersebut, tepat ke titik vital yang menghubungkan ke syaraf yang langsung memutuskan nyawanya.
JLEB!
"GROOARRH---RRHH!"
Geraman itu terputus seketika, serigala itu jatuh dengan tubuh mengejang kesakitan.
Mo Yuyan memutar tulang itu sedikit, lalu dia menariknya keluar.
SRET!
BRUUSH!
Darah serigala itu memancar keluar dengan deras, sehingga memercik ke wajah Mo Yuyan.
"Kamu lihat itu?" tanya Mo Yuyan kepada si sosok berjubah.
"Kamu ... membunuhnya hanya dengannsatu tusukan?!"
"Ya, anatomi tubuh adalah sebuah ilmu yang sangat indah ..." jawab Mo Yuyan.
Sosok itu menelan salivanya dengan susah payah.
"K--kamu bukan manusia ..." ujar sosok itu.
"Terima kasih pujiannya ... aku hanya tidak ingin mati kembali ..." ujar Mo Yuyan.
Mo Yuyan melangkah ke arah bangkai serigala itu, merogoh bagian dadanya, dan mengambil sebuah 'Inti Roh' kecil berwarna hitam.
Inti Roh ditangannya berdenyut pelan dan terasa sangat hangat, seolah-olah inti tersebut hidup.
"Jika kamu memakannya, maka kamu bisa menahan segel kematian itu sementara ..." ujar sosok itu.
"Akhirnya kamu bisa mengatakan sesuatu yang berguna ..." ujar Mo Yuyan sambil tersenyum.
"Hmmp!"
"Namaku—"
Mo Yuyan langsung menghentikannya, suaranya terdengar lembut namun tajam.
"Sudahlah ... aku tidak perduli namamu ..." ujar Mo Yuyan.
"Namun, jika masih sayang dengan nyawamu ... maka, jangan pernah berpikir untuk meracuniku lagi!" lanjut Mo Yuyan dengan nada peringatan.
Sosok tersebut menatap Mo Yuyan sedikit lama, lalu dia menganggukkan kepalanya.
" ... Baik!"
Tidak lama setelah itu, Mo Yuyan memasukkan Inti Roh tersebut ke dalam mulutnya.
GLEK!
Rasa pahit dan panas langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
NYUUT!
Segel yang ada di dalam dadanya berdenyut, rasanya seperti terbakar.
Namun Mo Yuyan hanya menghela napas pelan.
"Haaah! ... Akhirnya ..."
Sosok itu kembali menatap Mo Yuyan.
"Apa kamu benar-benar akan kembali ke Sekte Abadi?" tanya sosok itu.
"Ya ..." jawabnya.
"Untuk apa?" tanya sosok itu kembali.
"Untuk mengambil kembali, apa yang telah mereka curi ..." jawab Mo Yuyan tanpa ragu.
"Dan setelah itu?" tanya sosok itu.
"Setelah itu ..."
"Aku akan 'mengajari' mereka secara perlahan ..."
"Bahwa racun yang paling berbahaya itu, bukanlah racun yang membunuh lawan dengan cepat."
"Tapi yang akan membuat seseorang ..."
" ... memohon untuk ... MATI!"
☣☣☣
Hai Reader's tersayang ...
Selamat membaca novel terbaruku ini ... semoga suka ya 🙏🏻🤗.
Jangan lupa untuk memberi Like, Komen, Subscribe, dan Vote bila berkenan. Setelah itu, Follow aku, oke? 😁✌🏻💖.
Love you All sekebon jengkol ...💖💖💖