NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat belas

"Gue yakin Meira bukan pencurinya." Lana menyilangkan tangan di dada, lalu duduk di meja Hesty bersama dengan Ayara yang sudah duduk di bangku Meira.

"Punya bukti apa lo kalau tuh cewek bukan maling?" timpal Risa dari bangkunya seraya menatap sinis ke arah Lana.

"Gue sahabatnya, gue jauh lebih tau segalanya tentang dia. Meira gak mungkin ngelakuin hal tercela kayak gitu." sahut Ayara.

"Hobi baru yang belum lo tau, maybe." Risa terkekeh meledek.

"Heh, lo jangan asal ngomong ya. Gue malah lebih curiga sama temen sebangku lo itu!" Hesty bersuara.

"Giani maksud lo?" Risa menutup mulutnya guna menyamarkan tawanya. "Lo gak liat kalau selama pelajaran olahraga kemarin Gia bareng terus sama gue?" matanya melirik Hesty yang terdiam.

"Kalau gitu lo juga gak bisa nuduh orang sembarangan, belum ada bukti kuat bahwa Meira pencurinya." Haris yang berjalan mendekat ke arah ketiga cewek itu bersuara.

"Perasaan sebelum cewek itu datang kesini, kelas ini damai-damai aja, tuh. Gak pernah ada kasus kecolongan kayak sekarang." sindir Risa.

"Tapi Meira orang baik, dia gak mungkin mencuri!"

"Yaelah, penampilan gak bisa mencerminkan karakter seseorang. Kalau dasarnya maling ya maling aja. Dari awal gue liat dia masuk ke sini, gue udah punya firasat buruk." Risa tersenyum sinis, menatap satu persatu orang di bangku Hesty.

"Jaga mulut lo, ya!" Ayara yang sudah kelewat kesal menggebrak meja seraya menunjuk Risa yang kini tertawa meledek. Cewek berambut cokelat itu benar-benar membuat Ayara habis kesabaran.

"Gue ngomong sesuai faktanya. Harusnya kalian lebih percaya Giani yang udah lama di kelas ini, ketimbang Meira yang baru seminggu disini." Risa menanggapi kekesalan Ayara dengan santai. "Gue sempet mikir juga, apa jangan-jangan lo sekongkol sama 'sahabat' lo itu?" Risa menekankan ucapannya pada kata sahabat.

"Lo tuh, ya!" Haris menahan Ayara yang hendak menghampiri Risa. Cowok itu tidak mau ada pertengkaran di antara teman kelasnya.

"Udah, Ay, lo gak usah ladenin dia." Lana mengelus punggung Ayara. Tampaknya Ayara sudah benar-benar kehilangan kesabarannya, terlihat dari wajahnya yang sudah merah padam menahan amarah.

"Orang macem dia harus dikasih pelajaran, gak bisa cuma didiemin." tatapan Ayara masih terpaku pada Risa yang semakin melebarkan senyuman kesenangan.

"Kalau lo lawan itu artinya lo sama dia gak ada bedanya. Udah biarin aja, gak usah dengerin omongan dia." Hesty menatap Risa dan Ayara bergantian.

Ayara dan ketiga temannya yang lain kompak menoleh ke arah pintu kelas yang jaraknya tak jauh dari posisi mereka. Seorang cewek melanjutkan langkahnya yang terhenti dari arah ambang pintu menuju ke bangkunya. Giani segera duduk di kursi dengan sesantai mungkin, ia sadar betul bahwa Ayara, Hesty dan Lana sedang menatapnya lekat. Ia masih belum bisa mengartikan tatapan ketiga cewek itu.

"Gimana keadaan Meira, Ham?" suara Haris memecah keheningan.

Ayara dan kedua temannya kompak menoleh ke arah ambang pintu, dimana Ilham, Abil dan Rey berdiri.

"Kalian ninggalin Meira sendirian di UKS?" kata Hesty cepat.

Ilham menggeleng lalu berjalan mendekat, diikuti oleh Abil di belakangnya. Sedangkan Rey memilih pergi ke bangku nya.

"Meira ke ruangan kepsek." lanjut Ilham seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi.

"Lo gak cegah dia?" Hesty kembali bertanya.

"Cegah gimana, gue dateng kesana Meira udah pergi. Harusnya lo tanya tuh si ketua kelas kenapa dia biarin Meira pergi." Ilham menunjuk Rey.

Rey yang sedang berdiri di depan mejanya kini menjadi sorotan. Ia membalas satu persatu tatapan tajam teman-temannya dengan tak kalah tajam. Dengan santainya, cowok itu malah menunjuk Giani yang berada di hadapannya, yang terhalang satu bangku.

"Harusnya dia yang kalian tanya. Dia udah tega ngedorong teman kalian sendiri ke dalam masalah yang dibuat oleh dirinya sendiri." Rey tersenyum miring di ujung kata. Giani balas menatap Rey antara takut dan kesal.

"Heh, lo kenapa nuduh Gia terus sih? Udah gue bilang temen gue gak salah! Lo harusnya—"

"Gue tahu lo gak benar-benar ikhlas belain dia." Rey menyela ucapan Risa. "Selama ini lo cuma jadiin dia babu yang bisa seenaknya lo suruh-suruh, lo gak pernah anggap dia sebagai teman beneran. Jadi gue yakin lo belain dia karena lo takut kehilangan peliharaan lo, kan?" tangannya ia tempelkan ke meja, berusaha mensejajarkan tatapannya dengan Risa.

Risa ternganga sejenak, wajahnya yang tadi penuh kemenangan kini berubah menjadi merah padam karena malu. Ucapan Rey menohok tepat di ulu hatinya. Di kelas ini, bukan rahasia lagi kalau Giani sering membawakan tas Risa, membelikannya minum di kantin, atau bahkan mengerjakan tugas-tugas Risa yang menumpuk.

Walaupun begitu, Giani tidak pernah mempermasalahkannya, ia malah menganggap semua suruhan Risa adalah hal wajar. Giani tetap menganggap Risa sebagai temannya, disaat semua orang tidak pernah mengakuinya. Tetapi di satu sisi, ia juga kadang merasa kesal, apalagi ketika Risa kerap menyuruhnya membuatkan contekan sebelum ulangan berlangsung.

"Lo... lo jangan asal bicara ya, Rey!" jerit Risa histeris. "Gue belain dia karena dia emang bareng gue terus kemarin!"

"Bareng lo?" Rey terkekeh sinis, lalu menegakkan tubuhnya. "Gue punya bukti yang jauh lebih jujur daripada mulut lo, Sa."

Rey melangkahkan kakinya ke sudut kelas bagian kiri, kemudian ia menarik kursi milik Aldo. Ia naik ke kursi itu lalu meraih sebuah kamera yang menempel pada CCTV kelasnya yang mati. Rey turun dari kursi dengan gerakan tenang namun penuh intimidasi. Di tangannya, sebuah kamera kecil berbentuk bulat kini menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kelas. Risa tampak mulai gelisah, sementara Giani mengepalkan tangannya di bawah meja, berharap bumi saat ini juga menelannya.

"Lo inget tentang ini kan?" Rey meniup sedikit debu yang menempel pada kamera berukuran kecil di tangannya, lalu mengangkatnya tepat di depan wajah Giani.

Ekspresi wajah Giani seketika berubah takut. Begitu pula dengan semua penghuni kelas, mereka sedikit terkejut kalau selama ini Rey diam-diam menaruh kamera di kelas.

"Lo pasang kamera, Rey?" Haris bertanya tak percaya.

"Itu punya gue." sahut Gean yang ada disebelahnya. "Entar gue ceritain. Sekarang kita tonton dulu aja drama gratis ini." lanjutnya ketika Haris menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

"Jadi, apa alibi lo?" Rey tidak menghiraukan ucapan Gean atau pertanyaan dari Haris. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kejujuran dari Giani.

Seluruh penghuni kelas XI IPA 1 menahan napas. Ayara, Hesty, dan Lana saling lirik, merasa angin segar mulai berpihak pada mereka. Sementara itu, Abil dan Ilham hanya bersedekap, menunggu bom waktu yang dipegang Rey meledak.

Giani gemetar hebat. Ia berdiri perlahan, kakinya terasa seperti jeli. Ia menatap Risa yang mulai terlihat gelisah, lalu beralih pada kursi kosong Meira. Rasa bersalah itu menusuk-nusuk dadanya lebih tajam daripada ancaman Rey.

"Gue... gue emang masuk ke kelas kemarin." suara Giani nyaris tak terdengar.

"Tuh kan! Dia cuma masuk, belum tentu dia yang ambil!" sergah Risa cepat, mencoba melakukan pembelaan terakhir.

"Diem lo, Anjing!" bentak Ayara. "Biarin dulu si Giani beresin omongannya!"

Giani memejamkan mata rapat-rapat. "Gue—"

"Cukup!"

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!