NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

"Enggak bisa dipercaya, gimana bisa malah Ridho yang celaka? Kenapa enggak Ning saja?"

"Iya, Buk." Dewi menyetujui.

Koridor rumah sakit siang itu penuh bau antiseptik dan langkah kaki tergesa. Bu Sumi datang dengan wajah tegang, tas coklat biru disampirkan di bahu. Dewi berjalan di sampingnya, rambut rapi, wajah dibuat pucat, seolah ikut berduka.

"Wi, ingat ya," gumam Bu Sumi sambil mempercepat langkah. "Kali ini kamu harus bisa ambil hati ibunya Ridho."

"Pasti, Bu," sahut Dewi pelan. Nada suaranya dibuat bergetar. "Aku juga khawatir sama keadaan Mas Ridho. Moga aja enggak ada hal serius."

"Gimana enggak ada hal serius gimana?" sambar Bu Sumi, "Dia sampai masuk rumah sakit loh, enggak sadarkan diri lagi."

Begitu mereka tiba di depan ruang ICU, suasana langsung berubah. Ibunya Ridho duduk di bangku besi, wajahnya sembab, mata merah karena menangis semalaman. Ayah Ridho berdiri di dekat pintu, tangan bersedekap, sorot matanya tajam.

"Kalian mau apa kemari?" tanya sang ayah dingin. "Puas kalian bikin anak kami begini?"

"Kami tidak ada maksud buruk, Pak," jawab Bu Sumi cepat. "Kami kemari, karena kami perduli sama Ridho. Gimana pun, Dewi pernah dekat sama Ridho."

Belum selesai kalimat itu, ibunya Ridho berdiri dengan napas memburu. "Tidak usah banyak bicara, kalian kan sama saja!"

Nada suaranya membuat Dewi menelan ludah. "Bukan begitu, Bu. Kami dengar Mas Ridho kecelakaan. Kami sangat prihatin," katanya lembut, nyaris berbisik. "Kami tau kalian pasti menyalahkan Ning. Kami turut minta maaf atas semua yang terjadi."

"Minta maaf?" Ibunya Ridho tertawa getir. "Anak saya enggak sadar! Dan kalian datang cuma bawa kata maaf?"

Bu Sumi langsung tersinggung. "Kami juga kaget, Bu. Jangan bicara sembarangan!"

Dewi cepat menahan lengan ibunya. "Bu, tolong… jangan emosi. Kami datang dengan niat baik."

Ia lalu menoleh ke ibunya Ridho, matanya berkaca-kaca. "Saya… saya merasa sangat bersalah. Kalau saja malam itu tidak terjadi keributan di rumah kami..."

"Apa maksudmu?" potong ayah Ridho curiga.

Dewi menghela napas panjang, seolah menimbang berat cerita. "Waktu Mas Ridho datang, dia ingin bicara baik-baik. Tapi… adik tiri saya, Ning, menolak dengan keras. Dia memang sudah menerima lamaran dari Seseorang,..." Dewi terisak kecil, "Dewi rasa, itulah yang membuat Mas Ridho kecewa dan berpikir macam-macam... Lalu terjadilah kecelakaan itu..."

Ibunya Ridho membelalak. "Apa?"

"Iya, Bu," Dewi mengangguk cepat. "Mas Ridho pulang dalam keadaan sangat terpukul. Saya lihat sendiri wajahnya pucat, tangannya gemetar. Saya takut… takut kalau itu yang bikin dia kehilangan fokus di jalan."

Bu Sumi ikut menyahut, nadanya menyulut. "Anak itu memang pembawa masalah! Dari dulu selalu bikin susah keluarga!"

"Ibu benar, Ibunya Ning meninggal saat Ning lahir, Dewi rasa itu adalah karma buat dia karena masuk ke keluarga kami."

Wajah ibunya Ridho memerah. "Jadi benar!" teriaknya. "Anak itu yang bikin Ridho hancur!"

Ayah Ridho menggebrak dinding. "Saya sudah bilang dari awal, hubungan ini tidak sehat!"

Dewi menunduk, pura-pura menangis. "Saya benar-benar minta maaf, Bu. Kalau boleh jujur, saya pun menyesal tidak menghentikan Ning lebih keras. Andai saja dia tidak berkata kejam begitu… mungkin Ridho tidak seperti ini," sambungnya terus menghasut.

Namun, ibunya Ridho menatap Dewi dengan dingin. "Kamu jangan berpikir aku bodoh. Mau Ning atau kamu, kalian tetap satu keluarga. Anak saya celaka setelah dari rumah kalian."

Dewi terdiam. Senyum tipis yang tadi nyaris muncul cepat ia tekan.

"Kalian pergilah," lanjut sang ibu tajam. "Saya tidak ingin melihat wajah keluarga itu di sini."

Bu Sumi membuka mulut, tapi Dewi cepat menariknya. "Sudah, Bu. Kita pulang saja," bisiknya.

Siang berlalu dan berganti sore ketika Ning dan Pak Hasto tiba di rumah sakit. Ning berjalan perlahan dengan kruk yang diganti sementara, wajahnya pucat, mata sembab.

Begitu mereka mendekat ke ruang ICU, ibunya Ridho langsung berdiri. "Kamu lagi?" bentaknya. "Ngapain kamu ke sini!?"

Pak Hasto menghela napas. "Kami hanya ingin melihat Ridho sebentar. Kami sangat khawatir."

"Khawatir?" Ayah Ridho maju selangkah. "Setelah kamu menghancurkan perasaan anak saya? Membuat anak saya celaka?!"

Ning tersentak. "Saya… saya tidak..."

"Diam!" Ibunya Ridho menunjuk Ning. "Aku benci lihat wajah penuh kepura-puraan mu itu! Pergi dari sini!"

Air mata Ning tumpah. "Buk... Ning mohon, biarkan Ning melihat Mas Ridho sebentar saja ..."

Plak!

"Pergi!" bentak ayah Ridho.

"Apa-apaan ini!? Kenapa malah memukul anak saya!?" Pak Hasto balik membentak.

Ning jatuh berlutut perlahan, kruknya berdentang begitu saja di lantai. "Tolong… izinkan saya melihat Mas Ridho sebentar saja. Saya mohon."

"Ning!" Pak Hasto menegur, sedih sekali hatinya Ning sampai seperti itu.

Ibunya Ridho mundur selangkah, wajahnya dingin. "Tidak. Kamu dilarang menemui Ridho lagi. Jangan pernah datang ke hidup anak saya."

Pak Hasto menahan napas. "Ning, ayo kita pergi. Tak ada gunanya kita di sini."

"Bagus! Bawa dia pergi!" teriak sang ibu.

Ning terduduk, bahunya bergetar hebat. Dalam diam, hatinya menjerit. Ia memang menyukai Ridho, diam-diam, tulus, tapi perasaan itu selalu ia tekan, demi Dewi, demi rumah ini, demi tidak menambah masalah.

Pak Hasto mengangkat Ning perlahan. "Sudah, Ning. Kita pulang."

Ning menoleh ke pintu ICU terakhir kali, air matanya jatuh tanpa suara.

****

"Uuhhh...."

Di ruang rawat yang sunyi, Ridho akhirnya membuka mata. Cahaya putih menyilaukan. Kepalanya terasa kosong, seperti halaman buku yang terhapus.

"Mmmm…?" suaranya serak.

Ibunya Ridho langsung mendekat dan memeluk tangannya. "Alhamdulillah… kamu sadar, Dho."

Ridho menatap wajah-wajah di sekitarnya, bingung. "Siapa…?" tanyanya pelan.

"Ini ibuk, Dho."

"Kenapa aku di sini?"

"Kamu kecelakaan, Dho."

"Aaakkkhhh! Kepalaku..." keluh Ridho.

"Ayah panggilkan dokter, Buk," ujar bapaknya Ridho bergegas keluar. Tak lama dokter masuk.

Dokter melakukan serangkaian test dan pengecekkan.

"Sepertinya... Pasien mengalami amnesia. Dia kehilangan sebagian ingatannya..."

"Apa?"

1
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
Marina Tarigan
ĺanjut harta malapetaka
Marina Tarigan
rayunan pulau kelapa sangat indah semoga tdk memalukan afau peluk saja langsu g juda. itu Dewi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!