“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
"Enggak bisa dipercaya, gimana bisa malah Ridho yang celaka? Kenapa enggak Ning saja?"
"Iya, Buk." Dewi menyetujui.
Koridor rumah sakit siang itu penuh bau antiseptik dan langkah kaki tergesa. Bu Sumi datang dengan wajah tegang, tas coklat biru disampirkan di bahu. Dewi berjalan di sampingnya, rambut rapi, wajah dibuat pucat—seolah ikut berduka.
"Wi, ingat ya," gumam Bu Sumi sambil mempercepat langkah. "Kali ini kamu harus bisa ambil hati ibunya Ridho."
"Pasti, Bu," sahut Dewi pelan. Nada suaranya dibuat bergetar. "Aku juga khawatir sama keadaan Mas Ridho. Moga aja enggak ada hal serius."
"Gimana enggak ada hal serius gimana?" sambar Bu Sumi, "Dia sampai masuk rumah sakit loh, enggak sadarkan diri lagi."
Begitu mereka tiba di depan ruang ICU, suasana langsung berubah. Ibunya Ridho duduk di bangku besi, wajahnya sembab, mata merah karena menangis semalaman. Ayah Ridho berdiri di dekat pintu, tangan bersedekap, sorot matanya tajam.
"Kalian mau apa kemari?" tanya sang ayah dingin. "Puas kalian bikin anak kami begini?"
"Kami tidak ada maksud buruk, Pak," jawab Bu Sumi cepat. "Kami kemari, karena kami perduli sama Ridho. Gimana pun, Dewi pernah dekat sama Ridho."
Belum selesai kalimat itu, ibunya Ridho berdiri dengan napas memburu. "Tidak usah banyak bicara, kalian kan sama saja!"
Nada suaranya membuat Dewi menelan ludah. "Bukan begitu, Bu. Kami dengar Mas Ridho kecelakaan. Kami sangat prihatin," katanya lembut, nyaris berbisik. "Kami tau kalian pasti menyalahkan Ning. Kami turut minta maaf atas semua yang terjadi."
"Minta maaf?" Ibunya Ridho tertawa getir. "Anak saya enggak sadar! Dan kalian datang cuma bawa kata maaf?"
Bu Sumi langsung tersinggung. "Kami juga kaget, Bu. Jangan bicara sembarangan!"
Dewi cepat menahan lengan ibunya. "Bu, tolong… jangan emosi. Kami datang dengan niat baik."
Ia lalu menoleh ke ibunya Ridho, matanya berkaca-kaca. "Saya… saya merasa sangat bersalah. Kalau saja malam itu tidak terjadi keributan di rumah kami..."
"Apa maksudmu?" potong ayah Ridho curiga.
Dewi menghela napas panjang, seolah menimbang berat cerita. "Waktu Mas Ridho datang, dia ingin bicara baik-baik. Tapi… adik tiri saya, Ning, menolak dengan keras. Dia memang sudah menerima lamaran dari Seseorang,..." Dewi terisak kecil, "Dewi rasa, itulah yang membuat Mas Ridho kecewa dan berpikir macam-macam... Lalu terjadilah kecelakaan itu..."
Ibunya Ridho membelalak. "Apa?"
"Iya, Bu," Dewi mengangguk cepat. "Mas Ridho pulang dalam keadaan sangat terpukul. Saya lihat sendiri wajahnya pucat, tangannya gemetar. Saya takut… takut kalau itu yang bikin dia kehilangan fokus di jalan."
Bu Sumi ikut menyahut, nadanya menyulut. "Anak itu memang pembawa masalah! Dari dulu selalu bikin susah keluarga!"
"Ibu benar, Ibunya Ning meninggal saat Ning lahir, Dewi rasa itu adalah karma buat dia karena masuk ke keluarga kami."
Wajah ibunya Ridho memerah. "Jadi benar!" teriaknya. "Anak itu yang bikin Ridho hancur!"
Ayah Ridho menggebrak dinding. "Saya sudah bilang dari awal, hubungan ini tidak sehat!"
Dewi menunduk, pura-pura menangis. "Saya benar-benar minta maaf, Bu. Kalau boleh jujur, saya pun menyesal tidak menghentikan Ning lebih keras. Andai saja dia tidak berkata kejam begitu… mungkin Ridho tidak seperti ini," sambungnya terus menghasut.
Namun, ibunya Ridho menatap Dewi dengan dingin. "Kamu jangan berpikir aku bodoh. Mau Ning atau kamu, kalian tetap satu keluarga. Anak saya celaka setelah dari rumah kalian."
Dewi terdiam. Senyum tipis yang tadi nyaris muncul cepat ia tekan.
"Kalian pergilah," lanjut sang ibu tajam. "Saya tidak ingin melihat wajah keluarga itu di sini."
Bu Sumi membuka mulut, tapi Dewi cepat menariknya. "Sudah, Bu. Kita pulang saja," bisiknya.
Siang berlalu dan berganti sore ketika Ning dan Pak Hasto tiba di rumah sakit. Ning berjalan perlahan dengan kruk yang diganti sementara, wajahnya pucat, mata sembab.
Begitu mereka mendekat ke ruang ICU, ibunya Ridho langsung berdiri. "Kamu lagi?" bentaknya. "Ngapain kamu ke sini!?"
Pak Hasto menghela napas. "Kami hanya ingin melihat Ridho sebentar. Kami sangat khawatir."
"Khawatir?" Ayah Ridho maju selangkah. "Setelah kamu menghancurkan perasaan anak saya? Membuat anak saya celaka?!"
Ning tersentak. "Saya… saya tidak..."
"Diam!" Ibunya Ridho menunjuk Ning. "Aku benci lihat wajah penuh kepura-puraan mu itu! Pergi dari sini!"
Air mata Ning tumpah. "Buk... Ning mohon, biarkan Ning melihat Mas Ridho sebentar saja ..."
Plak!
“Pergi!” bentak ayah Ridho.
"Apa-apaan ini!? Kenapa malah memukul anak saya!?" Pak Hasto balik membentak.
Ning jatuh berlutut perlahan, kruknya berdentang begitu saja di lantai. "Tolong… izinkan saya melihat Mas Ridho sebentar saja. Saya mohon."
"Ning!" Pak Hasto menegur, sedih sekali hatinya Ning sampai seperti itu.
Ibunya Ridho mundur selangkah, wajahnya dingin. "Tidak. Kamu dilarang menemui Ridho lagi. Jangan pernah datang ke hidup anak saya."
Pak Hasto menahan napas. "Ning, ayo kita pergi. Tak ada gunanya kita di sini."
"Bagus! Bawa dia pergi!" teriak sang ibu.
Ning terduduk, bahunya bergetar hebat. Dalam diam, hatinya menjerit. Ia memang menyukai Ridho, diam-diam, tulus, tapi perasaan itu selalu ia tekan, demi Dewi, demi rumah ini, demi tidak menambah masalah.
Pak Hasto mengangkat Ning perlahan. "Sudah, Ning. Kita pulang."
Ning menoleh ke pintu ICU terakhir kali, air matanya jatuh tanpa suara.
****
"Uuhhh...."
Di ruang rawat yang sunyi, Ridho akhirnya membuka mata. Cahaya putih menyilaukan. Kepalanya terasa kosong, seperti halaman buku yang terhapus.
"Mmmm…? suaranya serak.
Ibunya Ridho langsung mendekat dan memeluk tangannya. "Alhamdulillah… kamu sadar, Nak."
Ridho menatap wajah-wajah di sekitarnya, bingung. "Siapa…?" tanyanya pelan.
"Ini ibuk, Dho."
"Kenapa aku di sini?"
"Kamu kecelakaan, Dho."
"Aaakkkhhh! Kepalaku..." keluh Ridho.
"Ayah panggilkan dokter, Buk," ujar bapaknya Ridho bergegas keluar. Tak lama dokter masuk.
Dokter melakukan serangkaian test dan pengecekkan.
"Sepertinya... Pasien mengalami amnesia. Dia kehilangan sebagian ingatannya..."
"Apa?"