NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11. Lepas Kendali

Happy Reading

Masih di dalam kelas, Aily menyeka keringat di pelipisnya, begitu basah sampai membuatnya mengipas-ngipaskan buku catatannya ke arah wajahnya. Matanya saat ini tertutup.

Aily mengingat masa-masa saat dia masih bersama Sinta dan Riska, sahabat dekatnya dahulu. Sayangnya, itu hanya tinggal kenangan indah saja.

Memang menyakitkan jika hidup penuh dengan kepalsuan. Apalagi kepalsuan itu diberikan oleh sahabat sendiri, yang setia menemanimu, yang tersenyum saat kau senang, tetapi menghilang saat kau susah.

Aily dapat mengingat dengan baik setiap kenangan bersama mereka beberapa tahun yang lalu. Saat itu, mereka bertiga selalu saja bersama kemana pun.

"Aily, kamu cantik banget deh. Coba kalo kamu dandan kayak kami." Ucap Riska sembari duduk santai dan meminum es jeruk di rumah Aily.

"Kita kan masih SMP, buat apa pake dandan segala?" Jawab Aily.

"Kalo kamu gak dandan, kamu gak bakalan bisa punya pacar. Kan lumayan buat traktir ini-itu." Balas Sinta sembari memainkan alisnya.

Aily tertawa sambil mengedikkan bahunya tidak peduli. Karena pada kenyataannya, dia memang tidak memikirkan hal itu.

"Tapi, kamu emang lebih bagus gak dandan sih. Cantiknya alami." Balas Sinta tersenyum manis.

"Iya sih, bener juga." Sambut Riska.

Sinta langsung mengalihkan topik pembicaraan. Dia menyodorkan ponselnya dengan wajah yang amat berseri-seri.

"Eh tau gak, kakak kelas yang gue kecengin itu nge WA gue dong." Ucap Sinta teriak histeris sembari memeluk Riska.

"Serius lo? Mana coba sini liat." Riska merebut ponsel Sinta, lalu mulutnya terbuka karena kaget tidak percaya.

"Najis! Jelek banget selera lo!" Riska bergidik ngeri saat melihat foto cowok itu.

"Liat nih, jelek kan?" Tanya Riska pada Aily sembari memperlihatkan foto cowok itu.

"Tapi cowoknya baik, kan?" Tanya Aily.

Sinta tersenyum sinis, lalu merebut ponselnya. "Biar jelek ataupun buruk rupa, yang penting gue kenyang."

Riska mengguncang tubuh Sinta tidak percaya.

"Lo mau manfaatin duitnya kan?"

Sinta tersenyum puas dan mereka tertawa. Sementara Aily hanya terdiam.

Kedua temannya itu memang antusias jika membicarakan soal cowok, apalagi tentang kakak kelas yang tajir, ketua basket, ketua OSIS, dan berbagai jenis ketua lainnya, hingga membuat telinga Aily panas.

Dengan teliti, Aily kembali mengerjakan tugas seorang diri tanpa memedulikan mereka.

"Aily, nanti gue liat ya tugasnya. Lo kan yang paling pinter di antara kita." Ucap Sinta.

Riska langsung tertawa mendengar ucapan tersebut, "Kayaknya sih, emang dia doang yang pinter. Jangan ngaku-ngaku deh lo!"

"Kita berdua juga pinter kok."

"Pinter nipu." Mereka berdua terus tertawa dengan gembira, sementara Aily dengan santai mengerjakan tugas.

Seperti itulah mereka, menganggap keluarga mereka tidak mampu dan memanfaatkan cowok-cowok yang menyukai mereka.

Aily sempat menghela napas lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sepertinya, kedua sahabatnya itu memang tidak bisa berubah.

Dalam hatinya, dia selalu bersyukur kalau mereka hanya menipu cowok-cowok dan memanfaatkan uangnya untuk kesenangan mereka.

Aily bersyukur kedua sahabatnya tidak memanfaatkannya. Sampai suatu hari, matanya terbuka. Kedua sahabatnya seperti pisau yang menusuknya secara perlahan di balik punggungnya.

"Ya, ternyata mereka manfaatin aku juga." Batin Aily.

Semenjak memasuki masa SMA, mereka masih tetap seperti itu, tidak berubah. Menunjukkan wajah menor dengan baju ketat, dan berlaku seolah mereka adalah penguasa sekolah ini.

Terutama saat kehadiran Alderza di dalam genk mereka yang selalu menjadi sorotan utama. Selain karena dia tampan, lugu, dan polos, dia juga terlahir dari kedua orang tua yang bergelimang harta yang semakin membuatnya menjadi pusat perhatian.

Tiba-tiba Alderza berasa di hadapan Aily sembari menatap wajahnya yang lelah.

"Aily." Panggil Alderza yang kemudian membuyarkan lamunan Aily yang saat ini sedang bernostalgia dengan kenangan indahnya dahulu.

Mata Aily terbuka, terlihat amarah dan rasa sakit yang terpendam di matanya, membuat Alderza merundukkan kepalanya.

Apa Alderza merasa bersalah? Sepertinya begitu.

"Gue-"

Sebelum Alderza melanjutkan kata-katanya, Aily langsung berdiri dan memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

"Minta maaf?" Tanya Aily dengan nada agak tinggi.

Menyebalkan, entah kenapa mulut Alderza rasanya kaku. Cowok itu tidak bisa bahkan Alderza tak berani menatap Aily.

Aily langsung pergi begitu saja saat melihat Alderza terdiam tak berkutik. Ia langsung menabrak bahu Alderza dan pergi begitu saja seolah-olah Alderza tidak menyapanya, seolah Alderza tidak ada di depannya.

Rasanya terlalu sakit jika dia masih berusaha tersenyum walau memendam pedih. Alderza tidak pernah sedikit pun mendengarkan jeritan hatinya.

"Luka, luka, dan luka, semuanya terasa begitu menyakitkan. Aku memang sudah biasa menerima luka seperti itu. Tapi, kenapa rasanya begitu berbeda kali ini? Lukanya bahkan terasa begitu menyakitkan pada saat kau bersikap biasa saja terhadap diriku, Alderza?" Batin Aily.

Saat tepat berada di depan pintu kelas, Alderza menahan tangan mungil Aily dengan erat.

"Gue anterin lo pulang."

"Sebagai permintaan maaf?" Tanya Aily sama sekali tidak berpaling.

"Enggak, gue cuman gak enak-"

"Gak enak karena aku udah beresin kelas sendirian?" Tanya Aily tanpa ragu sedikit pun.

Aily menghela napas lalu melepaskan tangannya yang ditahan oleh Alderza dengan paksa lalu pergi meninggalkannya.

"Aily." Panggil Alderza lagi sambil berusaha menghalangi langkahnya lagi, tetapi usahanya sia-sia.

Aily masih saja memperlihatkan wajah datar, lalu berlari sekencang mungkin meskipun dia tahu kakinya sedang sakit. Namun tidak apa, rasa sakitnya tidaklah sebanding.

"Aily, denger gue dulu!" Pinta Alderza.

"Aily!"

Aily sudah muak mendengar omong kosong Alderza, dia terus jadi berlari tanpa mendengarkan ucapan xowok itu. Saat itu juga Aily meninggalkan Alderza dengan ojek online.

Setelah beberapa menit berlalu, Aily berhenti di sebuah hutan pohon pinus. Udaranya sangat sejuk, pepohonan besar nan tinggi ada di sekelilingnya.

Aily pergi menuju sebuah pagar hitam, lalu membukanya. Dia seorang diri memasuki kompleks makam keluarganya sambil beelari, lalu mengusap air matanya.

"Papa, Aily kembali lagi. Setiap hari Aily kanget banget sama Papa." Ucap Aily pada batu nisan ayahnya.

"Pa... Aily mau cerita lagi. Boleh, kan? Maaf Aily gak pernah nyeritain hidup Aily yang bahagia, karena memang begini adanya."

Aily masih mengusap air matanya sembari memegang dadanya yang terasa sesak. Aily masih tetap berusaha menarik napas, kemudian dia menangis sembari memeluk makam ayahnya.

"Aily capek pura-pura senyum terus Pa. Aily capek hiks.... hiks...."

Alderza hanya bisa menarik napas panjang melihat Aily yang amat menyedihkan. Seratus persen Alderza yakin bahwa dirinyalah yang membuat Aily menangis tersedu-sedu seperti itu.

Jadi, dia hanya menangis di depan makan ayahnya selama ini? Dia menyimpan air mata itu seorang diri lalu menutupinya dengan senyuman.

Hal itu semakin membuat Alderza tertohok. Alderza masih terdiam di balik pohon tua yang tak jauh dari makam.

Dia tak berani menunjukkan batang hidungnya. Alderza ganga mengepalkan tangannya sambil menunduk, meratapi berapa bodohnha dia yang telah berubah jahat kepada cewek sebaik Aily.

Dua puluh menit berlalu, dari tempat persembunyiannya, Alderza melihat Aily yang sedang menepuk-nepuk bajunya yang kotor. Lantas, dia mencium baru nisan tersebut.

"Nanti Aily je dini lagi sambil bawa bunga buat Papa."

Alderza langsunh berlari, dia tidak boleh ketahuan mengikuti Aily. Harga dirinya bisa runtuh jika Aily mengetahui kedatangannya.

Alderza menyembunyikan sepeda motornya. Dia melihat Aily berjalan keluar dari pemakaman. Sepertinya dia berniat pulang tanpa ojek online.

Dalam perjalanan, Alderza masih mengikuti Aily dengan motornya dari kejauhan. Entah hal bodoh apa yang tengah dia lakukan sekarang, tapi dia masih ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh cewek itu.

Aily malah duduk di pinggir jalan lalu membuka tas untuk mengeluarkan obat merah. Alderza yakin itu untuk mengobati luka yang ada di kakinya, namun ternyata dia salah.

Obat merah itu dia berikan untuk seekor kucing yang tidak bisa berjalan. Kakinya mengeluarkan darah seperti tertancap sesuatu.

Kucing itu mengeong. Aily mengangkat kucing itu, lalu mengobatinya.

"Kamu pasti lapar, besok jangan ke mana-mana ya. Aku bakal bawain kamu makanan." Ucap Aily sambil mengelus-elus kucing berbulu oren tersebut.

Setelah itu, Aily menuju rumahnya. Hal terakhir yang Alderza lihat adalah Aily yang mencuci mukanya sebelum dia masuk rumah dengan wajah lesu.

Alderza tahu bahwa Aily selalu menyembunyikan kesedihannya dari semua orang, bahkan ibunya sekalipun.

***

Setelah tiga hari berlalu, Alderza masih merasakan Aily yang berubah 180°. Biasanya Aily selalu tersenyum atas apa yang dia dan teman-temannya perbuat, tetapi kali ini berbeda. Dia bersikap biasa.

Tidak ada senyuman, tidak ada wajah ketakutan. Dia tidak mengucapkan apapun. Seperti robot hidup yang berada di tengah-tengah kumpulan manusia.

Setiap pulang sekolah, hal rutin yang dia lakukan adalah mengunjungi makam ayahnya xlalu memberi makan kucing dan para penhemis yang selalu bersamanya setiap sore. Hanya itu.

"Aily, mendingan lo jangan kayak gini deh." Ucap Aldersa sembari duduk di bangku Aily.

Alderza sengaja datang pagi-pagi karena dia sangat tahu bahwa Aily selalu datang sebelum ada orang lain. Dia selalu seorang diri di dalam kelas sembari menulis dalam diary lusuhnya.

"Mereka gak akan berhenti meskipun lo diem."

Aily hanya diam. Entah ini perasaannya saja atau bukan, tapi Alderza merasa Aily tidak menghiraukannya.

Dia sangat tidak suka Aily mendiamkannya seperti ini. Dia masih ingin melihat senyuman itu sesekali. Bukan karena merindukannya, melainkan dia ingin Aily bersikap seperti biasanya dan menunjukkan wajah ketakutannya juga.

"Lo denger gue kan?"

"Denger-"

Sebelum Alderza melanjutkan ucapannya, teman sekelasnya pun mulai berdatangan. Alderza laku berpura-pura bertindak semenan-mena.

"Woi, lo udah ngerjain tugas gue kan?"

Aily mendelik ke arah Alderza, lalu sadar bahwa anak-anak kelasnya sudah mulai berdatangan.

"Bagus kalo udah."

Aldersa pergi meski tidak mendapatkan jawaban dari Aily. Sialan, kenapa mulutnya masih aja berkata seperti itu?

Dan Aily, dia malah mengabaikannya. Diary ungu itu lebih penting dibandingkan tersenyum kepada Alderza. Menyebalkan.

Beberapa murid lainnya keheranan kenapa Alderza datang sepagi ini, tetapi mereka tidak berani bertanya.

Setelah bel berbunyi, genk Alderza datang dengan penampilan nyentrik, seolah tidak takut pada peraturan yang dibuat sekolah.

Ketua murid masuk kelas, lalu berdiri di depan papan tulis.

"Saya cuman mau ngasih pengumuman. Hari ini bu Tati gak masuk." Ucap KM XII IPS 4 itu.

"Yesss!" Teriak seluruh murid dengan teramat senang.

"Tapi ada tugas tambahan."

"Udah, nanti aja kerjainnya." Ucap Sinta kencang.

"Take home! Take home!" Ucap Rafa.

"Dikumpulinnya emang minggu depan."

"Oh iya, sama satu lagi. Jadinya kita foto angkatannya di gunung ya sekalian kamping. Kan nanti bakalan ada foto seangkatan sama pemadam tuh, nah nanti bakalan ada tempatnya tersendiri." Lanjut KM tapi sepertinya murid-murid lain tidak ada yang mendengarkan.

Kecuali Aily yang masih terdiam sembari mengeluarkan bunga yang ada di tasnya.

"Eh, bunga?" Tanya Wulan penasaran.

"Iya, takut bunganya layu."

"Bunga mawar merah ya. Cantik banget! Pasti Papa kamu seneng." Ucap Wulan semringah.

Dia sudah tatahu kebiasaan sahabatnya adalah menjenguk makam ayahnya sepulang sekolah. Namun, baru kali ini Ailu membawa bunga mawar.

"Ini mawarnya unyu banget!"

"Iya, baru aku ambil tadi pagi."

"Pantesan masih wangi."

Saat mereka mengobrol, tiba-tiba kepala sekolah datang dan meminta Wulan untuk mengikutinya. Aily hanya tinggal sendirian di meja tersebut.

Meskipun Wulan berkata 'kalau ada apa-apa telepon dia', tentu saja Aily tidak akan mengatakan apa-apa kepadanya.

Dia kembali menatap bubga tersebut sembari tersenyum. Lalu tiba-tiba, Sinta datang untuk menghapus senyumnya.

Seperti biasa, dia paling ahli menghancurkan perasaan Aily. Dengan lancang, dia mengambil bunga tersebut, lalu mengangkatnya ke udara.

"Liat." Ucap Sinta yang kemudian membuat seisi kelas menatapnya.

"Ini cewek ganjen banget bawa bunga ke sekolah. Lo mau nembak cowok emangnya! Gak bakal ada yang mau!"

Riska dan Rafa tertawa kencang, sementara Bintang mulai memanas.

"Udah, gak yaah ikut campur urusan orang!" Balas Bintang.

"Bukannya ikut campur Tang. Tapi mana ada cowok yang mau sama anak SD?"

"Sinta!"

Saat Bintang mulai berdiri dari tempatnya, Aily melotot ke arah cowok itu. Dia tidak mengizinkan Bintang untuk ikut campur dan itu membuat Bintang tidak bisa apa-apa.

Aldersa yang melihat hal tersebut pun mulai kebingungan. Sejak awal, Bintang memang terkesan membela Aily dari cacian Sinta dan Riska.

Tapi... Apa hubungan mereka sampai Aily berani melotot kepadanya? Dan sayangnya, gak itu tidak disadari teman-temannya yang lain.

"Sinta, balikin!" Ucap Aily tegas.

"Balikin lo bilang? Lo udah berani nyuruh gue?"

"Udah, rusakin aha bunganya, rusakin!" Teriak Riska dari belakang.

Sinta tersenyum puas. Wajah ketakutan yang sudah 3 hari hilang, kini muncul kembali. Aily mulai terlihat panik.

Bagaimana tidak, bunga tersebut sengaja dia petik sebelum berangkat ke sekolah khusus untuk ayahnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

"Sinta, bunga itu buat Papa aku!"

Alderza melotot. Dia seketika mengingat kejadian 3 hari lalu. Kejadian saat Aily menangis di makam ayahnya.

Dengan telinganya sendiri, dia mendengar bahwa Aily akan membawakan bunga untuk ayahnya.

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika Alderza tahu bahwa apa yang diucapkan oleh Aily benar dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia hanya bisa meratapi dirinya sendiri dengan mengeratkan tangannya kuat-kuat sambil berkata dalam hati bahwa Aily tidak berbohong.

"Jangan banyak alesan deh lo!"

"Buat apa bikin alasan? Aku gak mungkin-"

Tak butuh waktu lama bagi Sinta untuk menghancurkan bunga tersebut dan menginjak-injaknya bagai bunga yang menyedihkan.

Aily berusaha menahan air matanya. Dia sangat ingin memberikan bunga itu untuk ayahnya, tetapi kenapa mereka segila ini?

"Jangan malu-maluin kelas kita. Apalagi sampe kasih bunga ke cowok. Jangan kegatelan!" Sinta tersenyum puas.

Aily memalingkan wajahnya. Harga dirinya terasa sangat tertindas. Dan dia tidak bisa apa-apa.

Jika dia membela diri sekalipun, mereka selalu memiliki seribu cara untuk menjatuhkannya kembali.

"Tahan Aily, Tahan...."

Aily terus menarik napasnya dalam-dalam agar tarikan napasnya teratur dan menyegarkan hatinya yang rapuh. Semoga dia masih bisa bertahan.

"Alderza, kok diem aja? Gue bener kan? Gak salah?" Tanya Sinta.

"Iya, lo baik banget Sin. Mendingan lo ancurin sekalian bunganya daripada nanti dia ditolak sama gebetannya." Ucap Alderza sembari menatap Aily dengan ragu.

Apakah perkataannya kali ini sangat keterlaluan?

Thank you yang udah baca, gila panjang banget nih. Kalo ada typo, kesalahan kata atau semacamnya, tolong diperbaiki ya. Love you guys.

1
ros 🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!