Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Nabilaaa..."
"Nabilaaa..."
"Ooooohhh Nabila monyett Kecilll!!! Aku pergi dulu!!" teriak Reynaldo. Sedari tadi Nabila tidak menjawab.
Dubbrraaakkkkk!!! Pintu Kamar Utama mereka dibuka kasar oleh Nabila.
"Astagaaa kamu merusak pintu kamar kita Nabila!!" ucap Reynaldo kaget, kini Nabila terlihat seperti akan siap pergi.
"Kamu ingin ke mana???" Ucap Reynaldo kini menatap istri cantiknya itu.
"Mau pergi.."
"Dengan siapa?"
"Dirimu lah kadal air, siapa lagi?? Oppa Jungkook maksudmu, yaudah gapapa gak pulang juga gapapa.."
"Nabila aku ingin kerja, tadi kita sudah bahas kita akan pergi setelah aku selesai meeting.."
"No.. noo Nooo Hubby, aku akan ikutt.. aku akan ikut, tenang saja aku akan menunggumu, aku tidak akan mengganggumu, percayalah pada istri cantikku ini" ucap Nabila dengan mode manjanya.
"Tidakk!, kamu tetap di sini, istirahat, tadi kamu masih terlihat pucat ..."
"Reynaldo Wijaya Mahkota, suami kontraknya Nabila Evelyn Patra yang cantik, percayalah aku tidak akan membuatmu malu sayang, kamu harusnya beruntung membawa istri secantik ini.."
"Nabila apa kamu sakit?? Mengapa kamu terlihat seperti orang anehh.." ucap Reynaldo memberikan tatapan geli.
"Ohhh begitu yasudah aku akan meminta Oppa security untuk membawaku pergi, kalau perlu culik aku Oppa ahhh.." ucap Nabila meninggalkan Reynaldo.
Reynaldo yang mendengar dan melihat tingkah Nabila dengan cepat menarik tubuh Nabila, menggendong gadis itu ala koala.
"Aaahhh suamikuu ternyata cemburu.." ucap Nabila menggoda Reynaldo, Nabila mengalungkan tangannya ke leher Reynaldo.
Nabila menatap wajah Reynaldo yang cemberut sambil menggendongnya, bagi Nabila terlihat sangat lucu.
"Mukanya jangan kusut gitu dong" ucap Nabila menggoda Reynaldo.
"Tinggal di setrika aja.." ucap Reynaldo masih dalam keadaan kesal.
"Hahahah melepuh dong"
Kini Reynaldo memasukkan Nabila ke dalam mobil. Di kursi penumpang terlihat Nabila yang terus menggoda Reynaldo. Bagaimana tidak, Reynaldo selalu saja kalah ketika Nabila mengancam dia akan pergi dengan Oppa security.
Bukan Nabila namanya jika tidak tidur dalam mobil. Entah mengapa "manusia monyet kecil" yang satu ini akan tertidur ketika berada dalam mobil. Nabila merasa ngantuk, dia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Reynaldo. Menyandarkan kepalanya ke bahu Reynaldo.
"Jika kamu tidur kamu akan kembali ke penthouse.." ucap Reynaldo kini.
"Bangunkan aku setelah sampai.." ucap Nabila sambil menguap.
"Tidak, rasain sendiri, siapa suruh minta ikut.."
"Ayolahhh yah yahhh... Baik sekaliii lohh kadal air ini ahh" ucap Nabila sambil memeluk lengan Reynaldo.
"Kali ini rayuanmu tidak mempan buatku.." cetus Reynaldo.
"Gak boleh gituloh, kamu tahu mendzalimi istri hukumnya haram loh kata orang Indonesia.."
"Diamlah kita orang Kota Perak, dan kamu pikir Reader Indonesia akan membelamu, tidak..! mereka mencintaiku Nabila.."
"Shittt!! Siapa yang kamu bilang mencintaimu Tuan Reynaldo!!" ucap Nabila kini berdecak pinggang kala mendengar kata mencintai.
"Tidakk.. tidakk adaaa..!"
"Siapa??"
"Tidak ada, tidurlah tidurr.. nanti aku akan membangunkannya.." ucap Reynaldo menarik kepala Nabila untuk bersandar di bahunya lagi.
"Aku jauh lebih baik mengalah sebelum mood-ku hilang ketika meeting nanti" gumam Reynaldo dalam hati, namun tangannya dengan lembut menepuk-nepuk pipi Nabila lembut, seperti menidurkan anak kecil.
Hampir setengah jam perjalanan kini mereka telah sampai di perusahaan pencakar langit. Nabila yang masih tidur kini terpaksa Reynaldo harus bangunkan.
"Nabila.. bangun.. Nabila.." bisik Reynaldo lembut.
"Hemmm.."
"Sudah sampai kamu masih mau di sini atau pulang ke penthouse.."
"Lima menit lagii.."
"Baiklah, antarkan dia kembali!" cetus Reynaldo, dengan cepat Nabila langsung berteriak seperti biasa.
"Tidak tidakk aku bangunn.." ucap Nabila langsung keluar dari pintu sebelah penumpang mobil itu.
Kini Nabila berada di samping Reynaldo. Reynaldo kini terlihat dengan identitasnya yang terkenal dengan cuek, dingin, si irit bicara. Berbanding terbalik dengan Nabila yang ceria, tengil, bar-bar namun kali ini Nabila terlihat menyimbangi karakternya dengan Reynaldo.
Reynaldo dengan setia merangkul pinggang ramping Nabila. Seakan berbicara bahwa wanita ini adalah miliknya. Sampai di lantai atas tempat mereka melakukan meeting. Terlihat para pengusaha muda baikpun tua ada di tempat itu, tidak banyak tapi mereka adalah orang-orang yang akan bekerja sama dengan Reynaldo, kali ini hanya Reynaldo saja yang menggandeng istrinya.
Hingga mata seluruh mata tertuju kepada Reynaldo dan Nabila. Seorang pria tampan datang menemui Reynaldo dan Nabila.
"Selamat datang Tuan Reynaldo.." ucap pria itu dengan wajah datarnya, namun pandangan pria itu tidak lepas melihat wajah cantik Nabila.
Reynaldo hanya diam dan mengangguk, dan semakin menarik pinggang Nabila agar tetap dekat dengannya.
Kemudian mereka melenggang pergi meninggalkan ruangan itu, melewati pintu khusus dalam ruangan itu. Saat mereka memasuki pintu itu mereka harus menaiki anak tangga, ruangan itu sedikit pencahayaan, Bram tetap siaga menjaga tuannya. Nabila yang fobia dengan gelap memeluk tubuh Reynaldo dengan erat, Reynaldo tahu jika istrinya sedang ketakutan namun sentuhan Reynaldo membuat Nabila tetap merasa aman.
Sampailah mereka di satu ruangan, ruangan itu tercium aroma alkohol.
Reynaldo dan Nabila dan semua orang yang ingin rapat duduk di sofa besar. Konsep ruangan itu seperti BAR. Terdapat 7 pelayan wanita berpakaian bikini yang sangat seksi. Pakaian itu hanya menutup bagian intim para pelayan. Seluruh pria hanya sudah menatap ingin segera menyantap wanita pelayan itu, berbeda hal dengan ekspresi Reynaldo dan Bram, wajah mereka tetap terlihat datar bahkan tidak ada rasa tertarikpun melirik wanita-wanita itu.
"Sediakan minumannya" ucap pria itu kepada para pelayan itu. Para wanita itu kini menyiapkan wine di setiap gelas.
"Tempat aneh.." bisik Nabila kepada Reynaldo.
"Sudah biasa.." ujar Reynaldo kembali berbisik kepada Nabila. Nabila yang mendengar 'sudah biasa', tentu otaknya melayang-layang dengan overthinking-nya.
"Menjijikkan.." cetus Nabila kini mengeratkan pelukannya di lengan Reynaldo, yah dengan tujuan mengatakan pada semua orang Reynaldo adalah miliknya.
"Tuan Reynaldo, kali ini kamu datang bersama dengan wanita cantik, siapa dia? Dan kamu bayar berapa dia dalam sehari.." ucap seorang pria berbadan besar perut buncit dengan tatapan nakal ke arah Nabila.
Reynaldo yang mendengar perkataan itu kini menatap tajam ke arah pria itu. Nabila yang melihat ekspresi Reynaldo berubah drastis dengan lembut Nabila mengusap tangan Reynaldo.
"Tenangkan dirimu..." ucap Nabila lembut.
Reynaldo yang biasanya tidak bisa mengontrol dirinya kini mulai tenang walaupun pria-pria itu menatap lekat kepada istrinya.
"Seharusnya kamu di penthouse bukan di sini.." ucap Reynaldo berbisik kepada Nabila.
"Aku tidak apa-apa sayang.." ucap Nabila menggoda Reynaldo agar tidak terpancing dengan mereka.
Reynaldo meminta Bram untuk mempercepat meeting itu.
"Maaf tuan, bagaimana dengan kerja samanya.." ucap Bram kepada semua calon kerja sama Reynaldo.
"Sepertinya Anda terlalu terburu-buru tuan, bagaimana jika kita bersenang-senang terlebih dulu, dan akan menyenangkan jika kita menikmati wanita ini" ucap pria yang lain menarik pinggang pelayan itu kemudian memukul bokong pelayan seksi itu, pelayan itu hanya menjerit manja namun bagi Nabila sangatlah menjijikkan.
Reynaldo meneguk minuman itu dan masih mengawasi pergerakan mata calon kerja samanya.
Pelayan wanita itu kini menuangkan kembali wine ke dalam gelas milik Reynaldo. Namun pelayan itu sangat tertarik kepada Reynaldo bagaimana tidak sedari tadi Reynaldo masih tidak tertarik dengannya berbanding terbalik dengan bos-bos yang lain. Wanita itu menyentuh paha Reynaldo dengan berpura-pura menjatuhkan sesuatu seraya mencoba menggoda Reynaldo. Nabila yang melihat itu dengan cepat menepis tangan pelayan itu.
"Jauhkan tanganmu dari priaku!!" ucap Nabila sinis.
Jelas kali ini yang tidak terima adalah Nabila.
Semua menatap ke arah Nabila. Nabila dengan tingkah lucunya dia mengambil tisu basah dari dalam tasnya, kemudian dia mengelap bekas tangan wanita itu dari paha Reynaldo.
"Takut ada virus.." cetus Nabila sedikit menguatkan suaranya. Jelas pelayan itu tidak terima dengan ucapan Nabila. Saat hendak ingin membalas namun tatapan Reynaldo sudah lebih dulu membuat nyalinya menciut.
"Ini meeting masih lama atau bagaimana sih..?" cetus Nabila kini mulai kesal dengan semua orang di dalam itu.
Bram menatap Reynaldo seraya mengatakan bagaimana, namun Reynaldo memberi kode untuk membiarkan Nabila yang berbicara.
"Siap-siap kena mental.." gumam Bram dalam hati.
Bagi Reynaldo jikapun kerja sama ini gagal tidak akan menjadi masalah baginya karena Reynaldo-lah orang penting di meeting kali ini. Terlebih lagi dana yang dijanjikan oleh Reynaldo sebagai investor terbesar sehingga membuat Reynaldo tidak khawatir akan apapun yang dilakukan oleh Nabila.
"Wah wah ternyata suaranya juga lembut.." ucap pria paruh baya gendut buncit itu.
"Lembut darimana, belum kena nada tinggi Nyonya Nabila nih orang.." gumam Bram dalam hati.
"Aku akan bergerak jika kalian menyentuhnya, tapi untuk adu mulut aku mundur.." ucap Reynaldo dalam hati.
"Bagaimana ini mau meeting atau gimana sih..!! Bram, tanyakan mana berkas yang ingin ditandatangani..!" ujar Nabila kepada Bram.
Bram hanya mengangguk kemudian menanyakan apa yang Nabila minta.
"Wah siapa wanita ini beraninya dia berbicara sombong seperti itu.." ucap salah satu pria.
"Tenanglah sayang kita bermain dulu.." ucap salah satunya lagi.
"Kamu tidak lihat mereka sedang ingin bermain di sini.." ucap salah satu pria yang sedang memainkan buah dada salah satu pelayan itu.
"Kemarilah sayang akan ku buat kamu berteriak kenikmatan.." ucap salah satunya lagi.
Kali ini Reynaldo berdiri seraya ingin menghajar pria yang merendahkan Nabila tadi. Untung saja tangan lembut Nabila mampu meredakan amarah Reynaldo.
"Duduklah.." ucap Nabila tersenyum manis kepada Reynaldo.
"Santaii Tuan, tenang saja kami akan membayarnya dengan harga tinggi nanti.." ucap pria buncit itu.
"Kalian sudah selesai berbicara para Ikan Blobfish...!!! Bram mana surat kerja samanya??" pinta Nabila sinis kepada pria-pria itu sambil meminta surat kerja sama itu.
"Dia berlagak seperti bos rupanya.." ucap salah satu pria itu.
"Batalkan saja kerja sama ini!!" ucap Nabila dengan santainya. Sedangkan Bram terkejut dengan pernyataan Nabila. Bagi Reynaldo itu tidak akan mempengaruhi kekayaannya. Lagipula Reynaldo tidak peduli dengan kerja sama itu lagi.
"Tapi Nyonya.." ucap Bram.
"Hah?? Nyonya? Maksudnya..?!"
"Jangan bilang dia..?"
"Nyonya..?"
Suara terkejut dari pria-pria yang telah menatap rendah Nabila kini menatap ke arah Reynaldo yang sudah terlihat sangat tajam ke arah mereka.
"Kaget yahh?? Kaget dong pasti ... Atau terkejut..?" ucap Nabila kini memainkan jari suaminya.
"Kaget dan terkejut bukannya sama??" bisik Reynaldo kepada Nabila.
"Kembar doang.." balas Nabila berbisik.
"Hubby, jika ini batal apa kita akan merugi??" ucap Nabila kepada Reynaldo dengan nada manjanya.
"Tidak! Lagipula bukan aku yang membutuhkan kerja sama ini tapi mereka.." ucap Reynaldo memperbaiki anak rambut Nabila.
"Jadi ini batal saja kalau begitu!!" ucap Nabila melempar map surat kontrak itu.
"Tidak bisaa.. ini kerja sama penting kita tuan, tuan tidak bisa membatalkannya begitu saja.."
"Tuan saya sudah mengeluarkan banyak dana untuk kerja sama ini, bagaimana mungkin dengan mudahnya..."
"Berisik woiii Ikan Blobfish!!" teriak Nabila kini membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Nyonya maafkan kami.. kami tidak tahu kalau Anda kerabat dari Tuan Reynaldo.."
"What do you say?? Kerabat?? Kamu tahu bahasa hubby gak sih kecebong airrr!! Kesal lama-lama.. Dan yah kamu Blobfish perut buncit! Tua! Sudah mau mati lagi..! Apa kamu tak punya istri hah?? Kalian apa belum menikah dan punya istri!! Beraninya kalian bermain dengan wanita-wanita jelek ini lagi, menjijikan!.. Siapa tadi yang bilang mau membayar aku? Hah?? Berani bayar berapa Anda Tuan? Tunggu apa kekayaanmu melebihi kekayaan suamiku??" ucap Nabila kini dengan mode tengilnya.
"Sedari tadi aku sudah menahan diri terhadap kalian bangsat! Dan yah kamu pikir aku gak milih-milih! Sadar wajah sudah kayak Blobfish, kelakuan kayak Babi Hutan!!! Kalian tahu jika saja aku tidak menahan Reynaldo, kalian pasti sudah habis di tangannya! Menjijikkan!!." ucap Nabila membuat lawan bicaranya terdiam.
"Maafkan kami Nyonya kami tidak tahu jika Anda adalah istri dari Tuan Reynaldo!"
"Jelas tidak tahu! Lagipula isi otak kalian hanya selangkangan saja brengsek!" ucap Nabila kini menatap tajam ke arah mereka.
"Kami minta maaf akan hal ini Nyonya, kami akan melakukan apapun asal kerja sama ini tetap berlanjut!"
"Ohh kalian siap melakukan apapun? Bagaimana jika 85% dari hasil kerja sama ini jatuh di tangan suamiku!! Jika tidak, kerja samanya BATAL!" ucap Nabila tersenyum manis.
Bram dan Reynaldo terkejut kala mendengar permintaan Nabila. Bagaimana tidak, saat seperti ini Nabila mengambil keuntungan besar.
Dari perjanjian 60% untuk Reynaldo, kini berubah menjadi 85%.
"Hahahha ku kira cupu! Ternyata suhuuuu.. Nyonya memang paling the besttt! " gumam Bram dalam hati.
"Bagaimana? Masih ingin kerja sama atau batal?"
"Berikan kami waktu untuk berpikir..! " ucap salah satu dari mereka.
"Baiklahh kami akan menunggunya.. dan yah Bram, ambil suratnya dan ubah perjanjian-perjanjiannya." ucap Nabila sinis.
"Reynaldo.." panggil Nabila lembut.
"Hemm.." ucap Reynaldo menatap wajah cantik istrinya.
Nabila merentangkan kedua tangannya seraya meminta digendong. Reynaldo yang melihat tingkah Nabila dengan cepat menggendong tubuh Nabila ala koala.
"Aku akan tunggu perjanjiannya dan Yah kalian ingat ini baik-baik! Aku percaya setelah ini suamiku akan menghajar mulut kalian satu per satu!!" teriak Nabila yang kini memberikan jari tengahnya kepada kolega yang tadi hendak bekerja sama dengan Reynaldo.
Nabila kini membenamkan wajahnya di ceruk leher Reynaldo.
"Aku pusing.." ucap Nabila lembut.
"Kamu ingin istirahat atau kita langsung ke Namsan Seoul Tower?" ucap Reynaldo lembut sambil membawa istrinya menuju lobi perusahaan itu.
Kini semua menatap ke arah mereka, melihat Reynaldo yang begitu meratukan Nabila.
Beberapa wanita merasa iri dengan cara Reynaldo menggendong Nabila.
"Sebenarnya aku pusing karena lapar hehehe" ucap Nabila tertawa mengatakan bahwa dia lapar.
"Baiklah Nyonya kita akan makan terlebih dulu.."
"Heheh Let's Gooo.." ucap Nabila tertawa.
"Tapi tunggu Ikan Blobfish apa??" ucap Reynaldo bertanya.
"Kamu lihat saja, dia lebih buruk dari kadal air ahhaha" ucap Nabila tertawa.
"Dasar anehh.." cetus Reynaldo kini membawa Nabila pergi meninggalkan perusahaan itu menuju Namsan Seoul Tower.