Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Kota Metropolitan Menyambut
Setelah konser dadakan berakhir, Reno dan Gery kembali ke markas mereka di bangku paling belakang. Keduanya duduk bersila di kursi yang luas, menumpahkan isi gelas plastik itu ke tengah-tengah. Lembaran uang ribuan, lima ribuan, hingga beberapa lembar sepuluh ribuan yang kumal bercampur menjadi satu.
"Dapet berapa, Ger? Buruan hitung!" desak Reno dengan mata berbinar, seolah baru saja menemukan harta karun terpendam.
Gery tertawa kecil sambil tangannya lincah memilah uang. "Sabar, Ren. Gue rapiin dulu duit-duit yang lecek ini. Ada yang dilipet-lipet kayak surat cinta begini," jawab Gery sambil menyetrika lembaran uang itu di atas lututnya agar rapi kembali.
Setelah beberapa menit menghitung dengan saksama, mata Gery membelalak. "Gila... totalnya hampir dua ratus ribu, Ren!"
"Serius lo?" Reno hampir berteriak. "Wih, gila! Ngamen cuma sekali keliling bus doang dapet segitu. Kalau kita ngamen dari Jogja sampai Jakarta, bisa beli motor baru kita! Bagi dua, Ger, bagi dua!"
Gery membagi tumpukan uang itu menjadi dua bagian yang sama rata dengan penuh tawa. Uang seratus ribuan di tangan masing-masing terasa seperti kemenangan besar atas rasa lelah mereka. Vanya yang duduk di depan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa lucu melihat dua "atlet" sekolahnya itu mendadak jadi pengusaha saweran yang sukses.
Tak lama kemudian, pemandangan yang sangat mereka kenali mulai muncul di balik jendela bus. Gerbang besi besar berwarna hijau dengan papan nama sekolah terpampang gagah. Bus berhenti dengan perlahan di area parkir sekolah.
Suasana berubah menjadi sedikit lebih tenang saat satu per satu siswa turun membawa tas dan oleh-oleh mereka. Mereka semua diarahkan untuk berbaris di lapangan upacara yang luas. Di depan sana, Kepala Sekolah yang tidak ikut serta dalam perjalanan sudah berdiri menunggu dengan senyum bangga.
"Selamat datang kembali, anak-anakku," buka Kepala Sekolah dalam pidato singkatnya. Beliau memberikan apresiasi atas kedisiplinan para siswa dan keselamatan rombongan hingga kembali ke rumah. "Silakan kembali ke rumah masing-masing, beristirahatlah, dan bawa semangat baru ini ke dalam kelas besok pagi."
Barisan dibubarkan. Suasana lapangan langsung riuh dengan suara pamitan. Siswa-siswi mulai berpencar; ada yang sudah dijemput orang tua, ada yang mencari ojek pangkalan, dan ada yang masih sibuk bertukar kontak terakhir.
Gery berdiri di tepi lapangan, memanggul tasnya yang terasa lebih berat dari saat berangkat. Ia menoleh ke arah Vanya yang sedang berdiri bersama Nadia, tampak sedang menunggu jemputan mobilnya. Perasaan yang aneh menyelimuti hati Gery—perasaan bahwa "kontrak" mereka selama di Jogja mungkin saja akan berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata di Jakarta.
Siang itu, trotoar di depan gerbang sekolah menjadi saksi bisu bubarnya rombongan Bus 4 yang paling berisik. Satu per satu mulai berpencar, kembali ke kehidupan nyata masing-masing.
Suasana semakin sepi saat Dion menyalakan mesin motornya. Di belakangnya, Sherly—yang tampak lelah namun tetap rapi dengan gaya khas jurusan Busana—melambaikan tangan. "Kita duluan ya, Guys! Sampai ketemu di kelas!" seru Dion sambil memutar gas, memboncengkan Sherly meninggalkan area sekolah.
Tak lama kemudian, Feri dan Vivi menyusul dengan motor masing-masing. Kemudian disusul oleh klakson mobil jemputan Yola, Nadia, dan Rini yang datang hampir bersamaan. Lapangan yang tadi ramai kini menyisakan lima orang yang masih berdiri di bawah bayang-bayang pohon di depan gerbang.
Reno melirik jam tangannya, lalu menatap Gery yang tampak tenang berdiri di samping Vanya. "Ger, lu masih mau nungguin sampai jemputannya Vanya dateng?" tanya Reno dengan nada menyelidik.
Gery mengangguk pelan. "Iya, gue nunggu dikit lagi. Kalau lo bertiga mau duluan nggak apa-apa, Ren."
Reno, Adrian, dan Sammy saling berpandangan. "Ya udah kalau gitu. Kita duluan ya ke tempat ngetem angkot di depan. Capek banget nih, mau cepet-cepet rebahan," kata Adrian sambil menyampirkan tasnya. Mereka bertiga pun berpamitan, berjalan kaki menuju pangkalan angkutan umum yang jaraknya beberapa ratus meter dari sekolah.
Kini, benar-benar hanya tersisa Gery dan Vanya. Keheningan mendadak terasa canggung setelah keramaian yang mereka lalui selama tiga hari terakhir. Vanya menunduk, memainkan ujung tali tasnya dengan perasaan tidak enak.
"Ger... sori ya," ucap Vanya lirih. "Gara-gara gue, lo jadi pulang terlambat dan ditinggal sama anak-anak. Pasti lo capek banget kan pengen cepet sampai rumah?"
Gery menoleh, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Nggak apa-apa, Van. Santai aja. Lagipula arah rumah mereka beda sama rumah gue. Kalaupun bareng ke tempat ngetem, nanti pas di angkot juga bakal pisah jalur. Percuma juga."
Gery diam sejenak, lalu melanjutkan, "Harusnya kalau nyokap lo nggak janjiin jemput, lo mending bareng mereka tadi. Adrian kan rumahnya sebelahan sama lo, jadi lo ada temennya."
Vanya menghela napas panjang, matanya menatap aspal jalanan. "Iya, tadi nyokap maksa banget mau jemput sendiri, katanya kangen pengen denger cerita perjalanan. Alhasil, kita malah jadi yang paling terakhir di sini."
Vanya melirik Gery dari sudut matanya. Meski ia merasa bersalah karena menahan Gery lebih lama, di sudut hatinya yang terdalam, ia sebenarnya bersyukur. Momen terakhir di depan sekolah ini memberinya waktu tambahan untuk merasakan kehadiran Gery, sebelum "kontrak" manis selama study tour ini mungkin kembali menjadi hubungan biasa saat mereka masuk sekolah lusa.
Gery berjalan sejenak ke arah kios di depan gerbang sekolah yang mulai sepi. Ia kembali dengan dua botol air mineral dingin, menyerahkan salah satunya kepada Vanya. Di bawah bayang-bayang pohon, mereka menghabiskan waktu dengan berbincang kecil—hal-hal ringan tentang oleh-oleh yang mereka beli atau rencana tidur seharian esok hari. Momen ini terasa sangat tenang, kontras dengan keriuhan di dalam bus beberapa jam lalu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil perak meluncur pelan dan berhenti tepat di depan mereka. Vanya langsung berdiri dengan semangat dan melambaikan tangan. Dari balik kemudi, seorang wanita paruh baya yang tampak modis dan awet muda keluar dengan senyum lebar.
"Vanya! Anak Mama akhirnya pulang!" seru sang ibu sambil merangkul anak sulung kesayangannya itu.
Namun, perhatian sang ibu tidak bertahan lama pada Vanya. Matanya segera beralih pada sosok pemuda jangkung yang berdiri sopan di samping anaknya. Sang ibu tersenyum penuh arti sambil memperhatikan Gery dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu pasti Gery, ya?" tanya Ibu Vanya ramah. "Vanya banyak cerita tentang kamu lho di telepon. Katanya ada cowok yang—"
"MAMAAA!" Vanya memekik, wajahnya berubah merah padam secepat kilat.
Sebelum rahasia-rahasia curhatannya bocor lebih jauh, Vanya langsung bergerak cepat menutup mulut ibunya dengan tangan. Dengan ekspresi malu-malu yang sangat kentara, ia mendorong dan menarik ibunya masuk kembali ke dalam mobil. "Ayo Ma, pulang! Katanya kangen, ayo buruan jalan!"
Gery hanya bisa terpaku, lalu sebuah senyuman geli muncul di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap usil dan dominannya, Vanya ternyata sesering itu menceritakannya kepada sang ibu.
"Ger, gue duluan ya! Kabari kalau sudah sampai rumah!" teriak Vanya dari balik kaca mobil yang mulai tertutup. Gery mengangguk dan melambaikan tangan saat mobil itu mulai bergerak menjauh, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan di depan sekolah.
Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Gery tidak langsung pergi. Ia menghela napas panjang, menatap langit Jakarta yang mulai tertutup polusi siang hari. Matanya kemudian tertuju pada beberapa botol kosong dan plastik sisa makanan yang berserakan di sekitar tempat mereka duduk tadi.
Dengan tenang, Gery membungkuk, memunguti satu per satu sampah tersebut dan membuangnya ke tempat sampah besar di samping pos satpam. Baginya, menjaga kebersihan adalah bagian dari disiplin yang ia bawa dari rumah perkampungannya.
Setelah memastikan area itu bersih, Gery membetulkan letak tas punggungnya. Ia mulai melangkah sendirian menyusuri trotoar menuju pangkalan angkot. Meski tubuhnya lelah dan ia harus berdesakan di angkutan umum nanti, ada rasa hangat yang tertinggal di hatinya. Perjalanan Jogja mungkin telah usai, namun cerita antara dirinya dan gadis komplek itu sepertinya baru saja benar-benar dimulai.