Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kultivasi Rendah
Ci Lung baru sadar ada yang berubah…
saat punggungnya tidak pegal setelah bangun tidur.
Ia berhenti di tengah gerakan meregang.
“Eh?”
Ia bengkokin pinggang. Putar bahu. Jongkok— lalu berdiri lagi.
“…kok enteng?”
Sistem akhirnya bunyi, dingin seperti biasa.
[Status Diperbarui]
[Qi Refining: Layer 4]
[Catatan: Stabilitas tidak normal]
Ci Lung membaca dua kali.
“Layer 4 doang, tapi kenapa rasanya kayak abis tidur 10 jam?”
Sistem diam. Seolah bilang: ya itu masalah lu.
Yan Yu bangun lebih pagi.
Ia keluar sambil bawa dua kail pancing—satu bengkok, satu patah.
“Guru,” katanya polos, “yang ini bisa dipakai?”
Ci Lung melirik. “Yang bengkok bisa. Yang patah jangan.”
Yan Yu mikir. “Kalau disambung?”
“Kalau kamu bisa nyambungin, kamu bisa jadi pandai besi.”
“Ohhhh.”
Yan Yu menyimpan kail patah itu… dengan penuh hormat.
Qi di sekitarnya beriak kecil.
Ci Lung tidak lihat. Lagi fokus nyari sarapan.
Di luar lembah, dunia tidak tenang.
Bukan karena ada ledakan.
Bukan karena petir.
Justru karena… tidak ada apa-apa.
Di peta resmi Tianlong, Zona Hitam Lembah Barat diberi catatan baru:
“Tidak terdeteksi fluktuasi berbahaya.”
Catatan itu bikin para tetua makin gelisah.
“Biasanya sebelum bencana besar, semuanya tenang,” kata seorang leluhur.
“Biasanya sebelum monster bangkit, dunia menarik napas,” sambung yang lain.
“Masalahnya,” gumam tetua ketiga, “kita sudah nahan napas terlalu lama.”
Tapi tidak ada yang berani mendekat.
Karena laporan terakhir menyebut:
“Penunggu Lembah… sedang hidup biasa.”
Dan entah kenapa, itu lebih menakutkan.
Di lembah, Ci Lung lagi ngitung.
“Kalau sistem minta 50 poin buat naik,” gumamnya,
“dan satu pujian cuma 0,05…”
Ia berhenti.
“Waduhh. Seribu pujian?”
Yan Yu yang lagi nyapu nanya, “Pujian itu apa?”
“Orang muji.”
Yan Yu langsung cerah. “Aku bisa muji Guru.”
“Gak guna. Harus dari orang luar.”
“Ohhhhh…”
Yan Yu mikir keras. Lama.
“Kalau aku keluar sambil bilang Guru hebat?”
Ci Lung langsung reflek: “JANGAN.”
Yan Yu kaget. “Ohhhhh.”
“Kamu masih hidup itu udah syukur,” tambah Ci Lung cepat, lalu menyesal.
Ia mengusap wajah. “Maaf. Refleks.”
Yan Yu nyengir. “Guru khawatir.”
“…iya.”
Sore hari, Ci Lung duduk sendirian.
Qi mengalir lebih rapi dari biasanya. Tidak deras. Tidak liar. Tapi taat.
Ia mencoba fokus.
Qi Refining layer 4.
Secara logika dunia, itu rendah.
Bahkan murid sekte luar umur belasan bisa lebih tinggi.
Tapi…
Lembah mendengarkan dia.
Tanah tidak menolak.
Udara tidak menekan.
“Levelku rendah,” gumamnya, “tapi kenapa dunia kayak nurut?”
Sistem tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, Ci Lung merasa tidak nyaman dengan pertumbuhannya sendiri.
Malam datang.
Yan Yu tertidur duluan. Kail masih di tangannya.
Ci Lung duduk di beranda, menatap kabut.
Dalam diam, ia sadar satu hal:
Naik level buat dia bukan soal kekuatan.
Tapi soal… konsekuensi.
Kalau dia naik ke layer 5—
apa yang berubah?
Dunia panik lagi?
Zona diperluas?
Atau… Yan Yu jadi sasaran?
Ia mengepalkan tangan.
“Kalau gitu,” gumamnya pelan,
“aku gak bisa naik sembarangan.”
Sistem akhirnya bunyi lagi.
[Peringatan]
[Menunda kemajuan akan meningkatkan tekanan pasif]
Ci Lung mendecak. “Ya elah.”
Ia berdiri, menarik napas panjang.
“Oke,” katanya ke malam.
“Pelan-pelan. Tapi jalan terus.”
Kabut bergetar tipis.
Di luar lembah, para tetua merasakan sesuatu—
bukan lonjakan kekuatan, tapi arah yang jelas.
Dan mereka semua, tanpa janji, tanpa perintah,
melakukan hal yang sama:
Menjauh satu langkah lagi.
Karena Penunggu Lembah
baru saja memutuskan untuk melangkah.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠