Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Di sisi lain , David berdiri di depan apartemen Naina dengan napas terengah-engah. Cincin pertunangan di saku jaketnya terasa seberat beban dunia. Ia baru saja menyadari bahwa dalam usahanya mengejar "hantu masa lalu", ia telah membunuh "malaikat masa kini".
Ia mengetuk pintu berkali-kali, namun hanya keheningan yang menjawab. Seorang tetangga keluar dan menatap David dengan tatapan kasihan.
"Mencari Mbak Naina, Mas? Dia sudah pindah tadi sore. Katanya dia mau pulang ke kampung halamannya untuk waktu yang lama," ujar tetangga itu.
David jatuh terduduk di depan pintu yang tertutup rapat. Ponselnya menunjukkan pesan terakhir dari Naina: "Aku melepaskan mu, David. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, tapi karena aku sadar, tempatku di hatimu sudah digantikan oleh kenangan yang tidak bisa ku lawan. Berbahagialah dengan Aisyah." David meraung dalam diam. Ia kehilangan segalanya dalam satu malam: harga dirinya, tunangannya, dan mungkin juga Aisyah.
David menatap layar ponselnya hingga cahayanya meredup, menyisakan kegelapan yang memantulkan wajahnya yang hancur. Kata-kata Naina bukan sekadar salam perpisahan , itu adalah vonis mati bagi nuraninya. Ia baru saja menghancurkan hati wanita yang telah menemaninya di titik terendah, demi mengejar bayang-bayang yang bahkan tidak lagi mengenalinya sebagai masa depan.
Dengan sisa tenaga yang ada, David berlari menuju parkiran. Ia memacu mobilnya dengan membabi buta menuju bandara , berharap bisa menemukan sosok Naina sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari jangkauan mata nya.
"Jangan pergi, Naina... kumohon," bisiknya berulang kali seperti mantra.
Namun, takdir seolah sedang menertawakannya. Di bandara, ia hanya menemukan kerumunan orang asing yang berlalu-lalang. Naina telah pergi, membawa serta seluruh pengabdian dan kesabaran yang selama ini menjadi tempat David berteduh. Ia mencoba menghubungi nomor Naina, namun suara operator yang dingin memberitahunya bahwa nomor itu sudah tidak aktif. Naina telah memutus semua jalan komunikasi.
Dalam keputusasaannya, David meninggalkan bandara , di tengah malam Ia berjalan menyusuri jalan raya yang terlihat hening.
Langkah David terasa terseret, seolah beban di pundaknya bertambah berkali-kali lipat setiap kali ia mengembuskan napas. Jalan raya yang biasanya bising dengan klakson kendaraan kini membisu, hanya menyisakan deru angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Lampu-lampu jalan yang kuning pucat menciptakan bayangan panjang di aspal, memantulkan sosok pria yang baru saja kehilangan arah hidupnya.
Ia berhenti tepat di bawah sebuah lampu jalan yang berkedip redup. David mengeluarkan cincin pertunangan itu dari sakunya. Permata kecil di atasnya berkilau, seolah mengejek kesia-siaan perjuangannya. Tiga tahun ia menghabiskan waktu meratapi perpisahan nya dengan Aisyah, dan dalam sekejap amnesia wanita itu, ia mencoba mencuri kembali masa lalu yang sudah bukan miliknya.
"Apa yang sudah kulakukan?" bisiknya pada kegelapan.
Suara Rain yang penuh kemarahan beberapa waktu lalu kembali terngiang di telinganya . “Kau meninggalkannya saat dia paling membutuhkanmu!” Kalimat itu benar. Dan kini, ia baru saja melakukan kesalahan yang sama pada Naina. Ia meninggalkan jiwa yang hidup demi mengejar ingatan yang mati.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat David berdiri. Pintunya terbuka, dan Michael melangkah keluar dengan wajah yang sulit diartikan , campuran antara kasihan dan kemarahan yang tertahan.
"Pulanglah, Vid . Berdiri di tengah jalan tidak akan membawa Naina kembali, pun tidak akan membuat Aisyah mengingatmu sebagai pahlawan," ujar Michael dingin.
David mendongak, matanya kosong. "Dia pergi, Mike. Naina benar-benar pergi. Aku sudah menghancurkan segalanya."
Michael menghela napas panjang, bersandar pada kap mobilnya. "Kau terlalu sibuk menjadi pemeran utama dalam dramamu sendiri sampai kau lupa bahwa orang-orang di sekitarmu juga punya hati yang bisa hancur. Aisyah punya kehidupannya sekarang, dan Naina... dia punya batas kesabaran."
Michael menyerahkan sebuah amplop kecil yang tertinggal di mobil saat mereka masih di Bandung. "Naina menitipkan ini lewat Mayang. Dia tahu kau akan mencarinya ke apartemen."
Dengan tangan gemetar, David membuka amplop itu. Di dalamnya bukan surat panjang penuh makian, melainkan kunci apartemen mereka dan sebuah foto lama. Foto saat David dan Naina pertama kali merayakan pesta pertunangan mereka. Di belakangnya tertulis.
"Cinta tidak pernah meminta untuk diperebutkan seperti piala, David. Ia hanya meminta untuk dihargai saat ia ada. Aku menyerah, bukan karena aku kalah dari Aisyah, tapi karena aku kalah dari obsesimu."
David meremas foto itu di dadanya. Rasa sakitnya lebih hebat dari luka fisik mana pun.
David merosot ke aspal yang dingin, membiarkan dadanya tergoncang oleh isak tangis yang selama ini ia tahan demi sebuah ego bernama masa lalu. Suara raungannya pecah di keheningan jalan raya, menyatu dengan desis angin malam yang seolah ikut menghakiminya. Di tangannya, foto pertunangan itu kini remuk, sama hancurnya dengan masa depan yang baru saja ia buang ke tempat sampah.
Michael hanya berdiri mematung, menatap sahabatnya yang kini tak lebih dari seonggok raga tanpa jiwa. "Sudah terlambat untuk menyesal, Vid. Dunia tidak berhenti berputar hanya untuk menunggumu sadar."
"Aku monster, Mike..." rintih David di sela napasnya yang sesak. "Aku membohongi Aisyah yang sedang hilang ingatan, dan aku mengkhianati Naina yang memberikan seluruh hidupnya untukku. Aku tidak punya tempat untuk pulang."
Sementara itu, di kediaman orang tua Aisyah, suasana menjadi sangat hening . Rain duduk di samping ranjang Aisyah, matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa. Ia tidak lagi memaksa Aisyah mengingat, ia hanya setia menggenggam tangan istrinya.
Tiba-tiba, jemari Aisyah bergerak. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang tidak lagi kosong.
" Kamu masih di sini?." bisik Aisyah. Suaranya sangat tipis, hampir tak terdengar.
Rain tersentak bangun, jantungnya berpacu. "Aisyah? Kamu butuh sesuatu? Aku panggilkan mama?"
Aisyah menoleh perlahan." Kenapa kamu masih di sini,dimana David?" Tanya Aisyah sembari menarik tangannya yang ada dalam genggaman Rain.
" Sayang....kamu sudah bangun?" Seru seseorang yang tak lain adalah mama Retno,ia baru saja masuk ke kamar Aisyah dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Aisyah.
" Mama...siapa dia ?kenapa dia terus mengikuti ku bahkan sampai di kamar Aisyah."
Mama Retno meletakkan nampan di atas nakas dengan helaan napas panjang. Ia melirik Rain yang wajahnya sudah sepucat kertas ,pria itu tampak seperti baru saja ditolak oleh gebetan di depan seluruh sekolah, padahal statusnya adalah suami sah.
"Aisyah, pelankan suaramu. Kamu ini amnesia atau lagi latihan jadi juri galak?" goda Mama Retno sambil mengaduk bubur. "Ini Rain, suami kamu. Dia sudah tiga hari tidak mandi cuma buat jaga kamu. Kamu tidak cium bau-bau 'pengabdian' yang sedikit asam dari bajunya?"
Rain langsung refleks menciumi kerah kemejanya dengan wajah panik. "Eh, emang bau ya, Ma? Tadi katanya disuruh jaga Aisyah, jadi Rain lupa jadwal siram badan."
Aisyah mengerutkan kening, matanya menyipit menatap Rain dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Suami? Ma, selera Aisyah tidak mungkin seburuk ini. Lihat rambutnya, berantakan seperti sarang burung merpati. David itu rapi, wangi, dan..."
"Dan suka bohong?" potong Mama Retno cepat sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Aisyah yang sedang menganga. "Sudah, jangan banyak protes. David itu masa lalu yang sudah basi, mending ini... Rain. Biarpun sekarang kelihatannya seperti gembel ganteng, dia ini yang sabar menghadapi kamu yang kalau tidur suka menendang orang sampai jatuh dari kasur."
Rain meringis, mencoba memberikan senyum termanisnya meski matanya berkantung hitam. "Iya, Syah. Tiga bulan lalu kamu yang maksa aku nikah gara-gara aku pinter bikin sambal terasi. Kamu lupa? Kamu bilang, 'Rain, nikahi aku atau aku habisi stok sambalmu'."
Aisyah tersedak buburnya. "Aku? Bilang begitu? Tidak mungkin! Itu... itu tidak estetik sekali!"
"Estetik tidak kenyang, Sayang," sahut Mama Retno santai. "Nah, Rain, mending kamu mandi sekarang. Mama tidak mau anak Mama pingsan lagi bukan karena sakit, tapi karena keracunan aroma suaminya sendiri. Sana!"
Rain tertawa kecil, sedikit lega karena suasana tidak lagi setegang kemarin. Ia berdiri, lalu dengan berani mengacak rambut Aisyah pelan. "Aku mandi dulu ya, 'Istri Galak'. Jangan rindu, nanti kepalamu tambah sakit."
"Heh! Siapa juga yang rindu!" teriak Aisyah, wajahnya mendadak memerah. Entah karena marah atau karena jantungnya tiba-tiba melakukan gerakan akrobatik yang aneh.
Sepeninggal Rain, Aisyah terdiam. Ia menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu. Ada rasa hangat yang familiar saat pria itu menyentuh rambutnya ,rasa yang tidak ia temukan saat David menggenggam tangannya di rumah sakit tempo hari.
"Ma..." bisik Aisyah pelan. "Dia... benar-benar suamiku? Kok dia tahu aku suka sambal terasi?"
Mama Retno tersenyum penuh arti. "Dia bukan cuma tahu sambal kesukaanmu, Syah. Dia juga tahu kalau kamu belum sikat gigi pagi ini, tapi dia tetap saja mau mencium keningmu tadi subuh. Itu namanya cinta, atau mungkin dia memang sudah hilang indra penciumannya."