NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kabar kehamilan Alya bukan hanya membawa kebahagiaan bagi Rangga, tetapi juga memicu sisi protektifnya hingga ke level yang belum pernah Alya bayangkan sebelumnya.

Jika dulu Rangga posesif karena obsesi gelap, kini ia posesif karena rasa takut yang luar biasa akan kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya: Alya dan calon buah hati mereka.

​Bagi Rangga, rahim Alya sekarang adalah tempat suci yang harus dijaga oleh barikade baja.

...****************...

​Pagi itu, sinar matahari musim dingin masuk melalui celah jendela pondok. Alya baru saja membuka mata dan hendak beranjak dari tempat tidur untuk sekadar meregangkan otot atau mengambil segelas air. Namun, baru saja ujung kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, sebuah tangan besar dan hangat langsung menahan pinggangnya.

​"Mau ke mana, Sayang?" suara berat Rangga terdengar tepat di telinganya. Rangga ternyata sudah bangun sejak tadi, hanya diam memperhatikan istrinya tidur.

​"Mau ambil air, Mas. Haus," jawab Alya lembut.

​"Diam di situ. Jangan bergerak satu inci pun," perintah Rangga dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah.

Ia segera melompat dari ranjang, berlari ke dapur, dan kembali dalam hitungan detik membawa segelas air hangat dengan suhu yang sudah ia ukur dengan termometer digital.

​"Minum ini. Pelan-pelan," ucapnya sambil menyodorkan gelas itu ke bibir Alya.

​Alya meminumnya sambil menahan senyum. "Mas, aku cuma hamil, bukan lumpuh. Aku bisa jalan ke dapur sendiri."

​Rangga menatapnya dengan pandangan serius, hampir terlihat seperti sedang menginterogasi musuh. "Lantainya dingin, Alya. Bagaimana kalau kau terpeleset? Bagaimana kalau suhu kakimu turun dan memengaruhi sirkulasi darah ke janin? Dokter Hans bilang kau harus dijaga. Dan 'dijaga' versiku berarti kau tidak boleh melakukan apa pun yang berisiko."

​Kegilaan protektif Rangga berlanjut sepanjang hari. Di atas meja makan, Alya menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Di dalamnya, Rangga telah menuliskan daftar panjang "Larangan untuk Istriku" dengan tulisan tangannya yang rapi namun tegas:

1.​Dilarang menaiki atau menuruni tangga tanpa pengawalan (Rangga harus menggendong).

​Dilarang menyentuh benda tajam (pisau, gunting, bahkan pembuka surat).

3.​Dilarang mengonsumsi makanan yang suhunya di bawah 20°C atau di atas 40°C.

​Dilarang berjalan di luar rumah tanpa sepatu khusus antiselip.

​Dilarang memegang ponsel lebih dari 30 menit (radiasi berbahaya).

​Alya membelalak membaca daftar itu. "Mas! Ini berlebihan! Aku bahkan tidak boleh memotong apel sendiri?"

​Rangga yang sedang sibuk menyiapkan sup sarang burung walet di dapur menoleh. Ia memegang spatula kayu seolah-olah itu adalah senjata taktis. "Pisau itu tajam, Alya. Jika jarimu teriris, kau akan stres. Jika kau stres, bayi kita stres. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Mulai sekarang, semua buah akan kusajikan dalam bentuk potongan kecil yang sudah dikupas."

​Alya menghela napas panjang, kepalanya mulai pening. Puncaknya adalah ketika Alya hendak mandi. Saat ia masuk ke kamar mandi, ia kaget melihat Rangga sudah berdiri di sana, sedang memeriksa suhu air di bathtub dengan siku tangannya.

​"Mas, aku mau mandi sendiri!" protes Alya.

​"Tidak. Lantai kamar mandi itu licin, meskipun sudah kupasang karpet karet. Aku akan memandikanmu. Aku tidak mau kau kehilangan keseimbangan," jawab Rangga datar. Wajahnya sangat serius, tidak ada gairah nakal di sana, yang ada hanyalah dedikasi seorang pelindung yang fanatik.

​Alya akhirnya hanya bisa pasrah saat Rangga dengan sangat telaten menyabuni tubuhnya, menyiram air dengan sangat hati-hati, dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang paling lembut seolah-olah Alya adalah kristal yang sangat rapuh.

​Sore harinya, Alya merasa bosan karena dilarang melakukan aktivitas apa pun. Ia mencoba mengambil sapu untuk membersihkan sedikit debu di sudut ruangan. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang sapu, Rangga yang tadinya sedang membaca buku di ruang tengah langsung muncul seperti hantu.

​"Letakkan sapu itu, Alya," perintahnya dingin.

​"Mas, aku cuma mau menyapu sedikit!"

​"Debu itu mengandung alergen. Jika kau bersin, otot perutmu akan berkontraksi. Itu berbahaya bagi janin yang baru berusia empat minggu," Rangga mengambil sapu itu dari tangan Alya dan mulai menyapu lantai itu sendiri dengan gerakan yang sangat efisien namun penuh amarah pada debu-debu tersebut.

​Alya duduk di sofa, memijat pelipisnya. Kelakuan Rangga benar-benar membuatnya pusing. Pria ini memperlakukannya seperti ratu di dalam penjara kaca. Tidak ada privasi, tidak ada kebebasan fisik. Semua gerak-geriknya diawasi oleh sepasang mata tajam yang siap menerkam siapa pun—bahkan debu sekalipun—yang berani mengganggu Alya.

​Namun, di balik rasa pusing dan kesal itu, ada kehangatan yang merayap di hati Alya. Ia teringat masa lalu, di mana Rangga mengejarnya dengan niat gelap dan obsesi yang menyakitkan. Kini, pria yang sama sedang berlutut di depannya, sibuk memasangkan kaus kaki wol pada kakinya agar ia tidak kedinginan.

​Alya menatap puncak kepala Rangga saat pria itu sedang merapikan selimut di kakinya. Ia menyadari sesuatu: keposesifan Rangga kali ini lahir dari sebuah cinta yang sangat murni, sebuah rasa tanggung jawab dari seorang pria yang merasa dirinya tidak layak mendapatkan kebahagiaan ini, sehingga ia berusaha setengah mati untuk menjaganya agar tidak hilang.

​"Mas..." panggil Alya pelan.

​Rangga mendongak, matanya yang tajam langsung melembut saat menatap Alya. "Ada apa? Kau butuh sesuatu? Perutmu sakit? Kau mual lagi?"

​Alya menggeleng, ia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Rangga yang kini tampak lebih tirus karena kurang tidur demi menjaganya semalaman. "Terima kasih."

​Rangga tertegun. "Untuk apa? Aku belum melakukan apa pun dengan benar. Aku masih merasa rumah ini kurang aman. Aku berencana memasang oksigen tambahan di kamar ini..."

​Alya tertawa kecil, suara tawa yang sangat jernih. "Terima kasih karena sudah sangat mencintai kami. Tapi Mas, tolong... biarkan aku berjalan ke kamar mandi sendiri besok, oke? Aku janji akan berpegangan pada dinding."

​Rangga diam sejenak, tampak sedang bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. Akhirnya, ia menghela napas dan mencium tangan Alya. "Baiklah. Tapi aku akan tetap berdiri di depan pintu. Dan aku akan memasang pegangan besi di sepanjang dinding koridor besok pagi."

​Alya hanya bisa geleng-geleng kepala. Keposesifan Rangga Dirgantara memang tidak ada obatnya. Namun, bagi Alya, "penjara" di Alpen ini adalah tempat paling bahagia di dunia. Ia merasa sangat dicintai, sangat dilindungi, dan sangat dimiliki.

​Malam itu, mereka tidur dengan posisi yang sangat unik. Rangga memeluk Alya dari belakang, namun tangannya diletakkan dengan sangat hati-hati di atas perut Alya, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun paling berharga di dunia.

​"Tidurlah, Alya. Tidak akan ada yang menyakitimu, bahkan takdir sekalipun. Aku akan berdiri di antara kau dan maut," bisik Rangga sebelum ia sendiri terlelap.

​Alya tersenyum dalam kegelapan. Pusing karena kelakuan Rangga adalah harga kecil yang harus ia bayar untuk cinta sehebat ini.

Bersambung......

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!