NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah berpamitan dengan Intan di depan gerbang pesantren, Rizal tidak mengarahkan mobilnya ke jalur keluar kota menuju Jakarta.

Alih-alih menuju tol, ia justru melajukan kendaraannya dengan kecepatan stabil menuju Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo.

Aisyah yang menyadari arah jalan yang berbeda mulai merasa bingung. Ia menatap suaminya yang tampak sangat tenang di balik kemudi.

"Mas, ini kan jalan ke arah Surabaya? Kita mau ke mana? Nggak jadi pulang lagi, Mas?" tanya Aisyah heran.

Rizal tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung istrinya.

Tawa itu terdengar begitu lepas, seolah beban berton-ton yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap bersama angin Kediri.

"Kita memang akan pulang, Sayang. Tapi bukan ke Jakarta," ujar Rizal penuh teka-teki.

"Rizal yang akhirnya memutuskan untuk membawa Aisyah ke Paris sebagai hadiah bulan madu yang sesungguhnya."

Aisyah terbelalak. "Paris? Perancis? Tapi Mas, kita bahkan tidak membawa koper besar! Kita hanya bawa baju seadanya untuk ke Kediri!"

Rizal melirik istrinya dengan tatapan jenaka.

"Semua sudah diatur. Paspor dan keperluanmu sudah ada di dalam tas di kursi belakang. Kita akan belanja semua yang kamu butuhkan di sana."

Tiba-tiba Aisyah teringat sesuatu dan menunjuk ke arah kursi belakang dengan panik.

"Lalu oleh-oleh dan ayam panggang bagaimana? Kan sayang kalau basi di pesawat atau tertinggal di mobil!"

Rizal kembali terkekeh, kali ini sambil meraih ponselnya.

"Siska sudah ada di bandara untuk mengambilnya, Sayang. Begitu kita turun dari mobil, dia akan mengambil oleh-oleh itu untuk dibagikan ke orang-orang kantor di Jakarta, dan kita langsung masuk ke terminal internasional."

Aisyah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya dengan kejutan suaminya yang begitu rapi.

Di tengah kemelut yang sempat menghantam, Rizal ternyata telah merencanakan sebuah pelarian indah untuk mereka berdua.

"Mas benar-benar ya..." bisik Aisyah sambil

tersenyum malu.

"Ini adalah janji yang sempat tertunda, Aisyah. Aku ingin kita melihat dunia dengan mata yang baru," ucap Rizal tulus sambil menggenggam tangan istrinya erat-erat saat bandara mulai terlihat di ufuk depan.

Mobil berhenti tepat di area keberangkatan internasional Bandara Juanda.

Benar saja, di sana sudah berdiri Siska, asisten kepercayaan Rizal, yang tampak rapi dengan tablet di tangannya.

Ia tersenyum profesional namun hangat saat melihat pasangan itu turun dari mobil.

Sesampainya di bandara, mereka bertemu dengan Siska yang langsung sigap membantu mengeluarkan tas-tas belanjaan berisi oleh-oleh khas Kediri dari bagasi.

"Semua aman, Pak Rizal. Tiket, paspor, dan reservasi hotel di Paris sudah ready di tangan Bapak," lapor Siska dengan cekatan.

Rizal mengangguk puas.

Ia mengambil tas kecil berisi dokumen perjalanan mereka, lalu menepuk bahu Siska dengan tatapan yang berubah menjadi lebih serius.

"Aku titip Intan ya," ucap Rizal dengan nada seorang ayah yang penuh tanggung jawab.

"Meskipun dia di pesantren, tolong sesekali pantau kebutuhannya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, jangan sampai dia merasa sendirian di sana."

Siska menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Siap, Pak. Saya sudah jadwalkan kunjungan rutin setiap dua minggu sekali untuk mengantar kebutuhan pribadi Mbak Intan. Bapak dan Ibu fokus saja menikmati perjalanan ini. Urusan kantor dan pengawasan Mbak Intan, serahkan pada saya."

Aisyah mendekat dan menyalami Siska. "Terima kasih banyak ya, Siska. Titip ayam panggangnya juga, jangan sampai lupa dimakan selagi hangat."

"Tentu, Bu. Ayam panggang ini akan jadi rebutan teman-teman di kantor," jawab Siska sambil terkekeh.

Kemudian Rizal merangkul pinggang Aisyah, menuntunnya masuk menuju gerbang keberangkatan.

Dari kejauhan, Siska melambaikan tangan, melihat bosnya yang kini tampak jauh lebih manusiawi dan bahagia sejak bersama Aisyah.

Rizal dan Aisyah melangkah masuk, meninggalkan sejenak segala hiruk-pikuk urusan bisnis dan drama keluarga, menuju kota paling romantis di dunia untuk merayakan cinta mereka yang baru saja "pulih".

Suara deru mesin turbin pesawat Boeing 777 itu perlahan meninggi, menciptakan getaran halus yang memacu adrenalin.

Perlahan namun pasti, tubuh pesawat raksasa itu terangkat, meninggalkan daratan Jawa yang hijau menuju cakrawala yang luas.

Pesawat lepas landas menuju ke Paris, membawa Rizal dan Aisyah terbang melintasi benua untuk menjemput kebahagiaan mereka.

Di dalam kabin kelas satu yang mewah dan privat, Aisyah menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan mengecil dan menghilang di balik awan.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rizal, merasa sangat tenang.

"Akhirnya kita benar-benar pergi, Mas," bisik Aisyah.

Rizal hanya tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya.

Tak lama kemudian, seorang pramugari menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua.

Dengan gerakan yang sangat sopan dan elegan, sang pramugari menata meja di depan mereka dengan taplak putih bersih.

"Silakan, Pak Rizal, Bu Aisyah. Untuk pembuka, kami sajikan Smoked Salmon dengan creamy cheese dan jus jeruk segar sesuai permintaan," ucap pramugari tersebut dengan ramah.

Aisyah menatap hidangan mewah di depannya, lalu teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri.

"Tadi pagi kita makan punten pecel di pinggir jalan, sekarang kita makan hidangan Perancis di atas awan. Hidup memang penuh kejutan ya, Mas?"

Rizal tertawa kecil sambil mengangkat gelas jusnya.

"Itulah indahnya, Sayang. Kita harus bisa menikmati keduanya. Tapi yang paling penting bukan apa yang kita makan, tapi dengan siapa kita menikmatinya."

Mereka pun bersulang kecil. Di ketinggian ribuan kaki, di atas samudra yang luas, Rizal dan Aisyah menikmati setiap suapan makanan mereka, sementara pilot mengarahkan burung besi itu menuju jantung kota Paris yang penuh romansa.

Lampu kabin perlahan diredupkan, menciptakan suasana remang yang menenangkan dan nyaman.

Rizal menurunkan sandaran kursi Aisyah hingga senyaman tempat tidur di rumah, lalu menyelimuti istrinya dengan selimut wol yang lembut.

"Sekarang istirahatlah karena perjalanan kita masih lama," bisik Rizal dengan nada protektif.

Ia tahu perjalanan menuju Paris memakan waktu belasan jam, dan ia ingin istrinya tiba di sana dalam keadaan segar.

Aisyah yang kekenyangan menganggukkan kepalanya pelan.

Perutnya terasa sangat penuh setelah menikmati hidangan pembuka hingga hidangan penutup yang disajikan pramugari tadi.

Kombinasi rasa kenyang, suhu kabin yang sejuk, dan rasa aman berada di samping Rizal membuatnya sangat cepat merasa mengantuk.

Ia memejamkan matanya, merasakan usapan lembut tangan Rizal di kepalanya.

Tidak butuh waktu lama bagi Aisyah untuk terlelap jauh ke dalam mimpi indah, meninggalkan segala kepahitan masa lalu di daratan yang kian menjauh di bawah sana.

Rizal tetap terjaga sejenak, menatap wajah tidur istrinya yang tampak sangat damai.

Ia mengambil tabletnya, bukan untuk bekerja, melainkan untuk melihat kembali foto-foto mereka saat di Simpang Lima Gumul tadi pagi.

Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya; ia berjanji dalam hati bahwa ini hanyalah awal dari ribuan hari bahagia yang akan ia berikan untuk Aisyah.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!