NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Selingkuh / Ibu susu
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Danish reflek menoleh, lalu seketika bangkit. "Katakan... Kamu mau makan apa?" tanyanya netral. Namun sejak tadi pria tampan itu menatap lurus kedepan.

Hana berpikir sejenak. "Apa saja Pak Danish, yang penting saya kenyang!"

Dari kalimat itu, Danish kembali mengingat bagaimana dulu Rani selalu mengatakan lapar setelah memompa Asinya. Setelah cukup paham, dirinya berkata. "Ikut saya sekarang!"

Dan lagi, tanpa menunggu jawaban Hana, Danish berjalan cepat terlebih dulu. "Ih, di tinggalin lagi. Untung putrinya gemesin, gak kaya Bapaknya," gerutu Hana berjalan cepat mengikuti sang Majikan.

Merasa orang di belakangnya tertinggal cukup jauh, Danish kini mencoba memelankan jalanya, sambil melirik singkat kearah samping.

Mengikuti jalan Danish saja, napas Hana bahkan sampai ikut tersengal. Sebab ia berjalan sambil membenarkan pita pada pakaiannya, tiba-tiba saja tubuhnya menghantam sesuatu yang keras.

Bugh!

Awhhh...

Hana meringis sambil mengusap dahinya, kala tubuhnya menatap punggung Danish.

"Keras banget sih," gerutu kecil Hana, sambil mengetuk punggung keras tadi.

Danish menghela napas dalam. Ia hanya menoleh sebatas bahu, dan suaranya cukup dingin. "Makanya, kalau jalan itu lihatin depan! Kaya ada yang hilang aja," cercanya.

Hana mendengus kesal. Ia kini sudah berdiri disamping majikannya. "Siapa juga yang suruh, Bapak berhenti mendadak kek gitu. Ya kejedot lah kepala saya. Lagian ya... Punya tubuh keras banget!"

Danish yang merasa kesal, tanganya menarik ujung bahu dress Hana. Lalu tanpa banyak bicara lagi, ia tarik ujung pakaian tadi, bagaikan induk kucing yang tengah menyeret anaknya.

Sementara Hana, ia hanya mampu menekuk wajahnya kesal, bersedekap dada, sambil mengimbangi langkah kaki sang Majikan kembali.

Keduanya sudah sampai di parkiran mobil. Danish melepaskan cengkraman tanganya pada pakaian Hana tadi. Tak menghiraukan Hana, ia masuk ke dalam begitu saja.

Melihat Ibu Susu putrinya itu membuka pintu bagian belakang, sontak saja membuat Danish menoleh cepat. "Apa lagi, Pak?" Hana menatap bingung.

Danish menahan napas dalam, menatap Hana hampir frustasi. "Kamu pikir... Saya ini sopir kamu, Ha? Cepat pindah ke depan!" dagunya menunjuk jok disamping.

Hana malah menyandarkan punggungnya kebelakang. Ia sempat memalingkan wajahnya sekilas, lalu menatap sang Majikan dengan kuat. "Nggak, Pak ah! Saya nggak enak duduk disampingnya Pak Danish. Ntar di katain yang nggak-nggak kaya di kantor Bapak lagi," tolak Hana sambil bersedekap dada.

Danish cukup tersenyum lebar, namun rahangnya saling menggeretak. Kesabaranya kali ini benar-benar teruji oleh wanita di belakangnya itu.

"Oke baik! Kamu tunggu saja di situ. Ingat, tunggu! Jangan turun dulu!" Danish spontan melepas seal beltnya, dan segera turun mengitar, lalu membuka pintu belakang dengan sekali tarikan.

Hana tersentak. Ia bahkan sampai menarik tubuhnya menjauh, menatap penuh waspada. "Eh, Bapak mau ngapain?"

"Sekarang kamu pindah kedepan, atau saya gendong kamu untuk saya dudukan didepan!" Danish begitu menekan setiap katanya.

Hana seketika melebarkan matanya. Tanpa bantahan lagi, ia segera turun melalui pintu satunya. "Iya deh iya... Bapak lebih baik cepetan masuk. Nanti saya masuk juga!"

Tak ada bantahan lagi. Begitu Danish berjalan kedepan berniat masuk, Hana juga berjalan kebelakang memutar untuk masuk ke pintu samping.

 Setelah memastikan wanita disampingnya duduk dengan tenang, barulah Danish mulai melajukan mobilnya.

Selama menempuh perjalanan itu, keduanya saling diam. Meskipun Danish sesekali melirik kecil, namun Hana masih tetap sama seperti tadi, membuang wajah kearah jendela.

 Krik!

Krik!

Bahkan, saking sepinya, mobil itu seolah mengeluarkan suara jangkrik. Danish mencoba mengusir kesepian itu.

Arghhh....

Hana reflek menoleh, wajahnya jelas terkejut, "Bapak kenapa lagi? Tantrum?"

Danish menoleh sekilas. Wajahnya masih kaku, pandanganya juga fokus pada laju mobilnya. "Nggak! Hanya buang napas aja!" sanggahnya. "Oh ya, usia kamu berapa sih?"

"Bapak nanya saya?" goda Hana menoleh.

Saking geregetnya, Danish bahkan sampai menggigit tanganya sendiri. Melihat itu, Hana terperanjat hebat, lalu segera menarik tangan itu. "Pak, kok tanganya digigit sendiri sih? Kan kasian nggak salah!"

Danish menatap tanganya sejenak yang masih dipegang oleh wanita disampingnya itu. Seolah paham, Hana langsung bergegas melepaskan tanganya.

"Ma-maaf Pak, saya sengaja tadi. Kan emang kasian tanganya nggak salah," jawab Hana hati-hati.

Danish tak lagi menjawab. Ia mengangkat rendah tanganya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Bisa-bisa saya gila jika setiap hari bertemu sama wanita ini," batinya bergidik ngeri.

Kembali hening untuk beberapa menit, akhirnya mobil Danish memasuki sebuah resto ternama di kota Yogya.

Hana segera turun terlebih dulu. Namun ketika ia berbalik arah, seorang pria berwajahkan tampan memakai kemeja dipadukan celana hitam, serta kacamata kerja yang bertengker pada hidung mancungnya, kini berjalan kearahnya agak mengernyit.

"Hana... Kamu kesini? Sama siapa?"

Hana tersenyum tipis, baru saja akan menjawab, tapi Danish lebih dulu mendekat. "Hana datang bersama saya! Apa ada masalah?"

"I-iya, Dokter Rifki. Saya datang dengan Pak Danish, karena saya sekarang beker-"

Danish lebih dulu menyahut, "Dia ada urusan dengan saya. Kami duluan, permisi Dokter Rifki!" dengan gerakan cukup teratur, Danish segera menarik lengan Hana untuk diajaknya masuk.

Dokter Rifki segera mengejar, rasanya ia harus mendengar penjelasan itu semua dari mulut Hana.

"Hana, tunggu!" ditariklah satu lengan Hana dari belakang.

Hana seketika menoleh begitu Danish. Kedua alis pria tampan itu saling mejuling, sama-sama melempar tatap kuat, sambil saling tarik seolah tengah merebutkan sebuah kekuasaan.

"Lepaskan tangan Anda dari tangan Hana!" tekan Danish masih mengerutkan dahinya.

Dokter Rifki juga tak kalah menimpali, "Anda juga harus melepaskan tangan Hana! Saya lebih dulu mengenal dia daripada Anda!" tekannya tak kalah sengit. Lalu pandangan Rifki jatuh pada Hana. "Hana, ada yang ingin saya bicarakan sebentar. Ayo ikut saya!"

Hana menoleh kearah majikannya seakan meminta ijin terlebih dulu. "Pak Danish, saya ijin bicara sama Dokter Rifki sebentar."

"5 menit!" jawab Danish membuang wajah.

Dokter Rifki menarik pelan lengan Hana, dan melepaskannya setelah agak berjarak dari posisi Danish.

Ditengah rasa keterkejutannya, Dokter spesialis kandungan itu menatap Hana begitu dalam. "Han, kenapa kamu bisa bersama Pak Danish?"

Hana menarik napas dalam, lalu menjawab apa adanya, "Saya bekerja denganya sebagai Ibu susu untuk putrinya, Dok! Dan saya juga sudah meminta surat pembatalan kontrak dari rumah sakit."

"Hana, pesan saya... Jangan terlalu dalam menautkan hatimu pada bayi itu. Mereka keluarga berada, jadi bisa kapan saja mereka membuangmu. Saya cuma tidak ingin melihat kamu kecewa lagi," ujar sang Dokter. Suaranya begitu pelan tersirat rasa kekhawatiran yang begitu kuat.

Hana mengangguk. Ia juga tahu batasan apa yang tak harus ia lalui. "Dokter tenang saja, saya hanya bekerja... Dan saya juga tahu batasanya."

1
Ma Em
Danish kalau kamu suka sama Hana jgn jual mahal sok tdk butuh padahal hatinya mau , awas saja nanti ditikung Lukman baru Danish gigit jari wanita kesukaan nya diambil adiknya .
Anonymous
BUNUH RISMA BUNUH,, BUNUH BUNUH BUNUH... TATAKAE TATAKAE SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO
Anonymous
resign Cok resign
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Arin
Kasih bukti tuh orang tua Rani.... biar melek matanya. Jangan asal nuduh orang lain sebagai pelakor. Sedangkan anaknya sendiri yang lari dari rumah, masih ingin bebas celap celup dengan laki-laki lain ckckck😡😡😡😡
Hr sasuwe
👍
Titien Prawiro
Ada ya lelaki seperti itu, istri baru melahirkan, jahitan belum kering sdh diceraikan. kasihan kamu Hana. jgn ditangisi lelaki bejad, gk pantas air matamu kamu keluarkan.
Arin
Dzaki mengada-ada..... ya jelas dia buat tuntutan itu semua. Karena waktu itu dia sudah sibuk dengan Mona.... Dia gak perduli lagi sama Hana.
Ig:@septi.sari21: iya kak, jang jelas semua itu nggak bener. dia memalsukan semuanya.
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
💎💎💎💎💎
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍
Ig:@septi.sari21: kak herlina macihhh❤❤❤🙏
total 1 replies
Arin
Uuh..... kelakuan Mona-Dzaki.... Cepet banget udah hamil aja si Mona???
Ig:@septi.sari21: udah lama banget yang selingkuh🔥
total 1 replies
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Ig:@septi.sari21: hai kak deww jumpa lagi. makasih dukunganya🙏🙏❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!