Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Luka di Balik Kata "Hiburan"
"Hiburan?"
Suara Lyra nyaris tidak terdengar, namun kata itu menggema begitu keras di kepalanya. Di depannya, Sean masih berdiri dengan angkuh, menatap Celia dengan tatapan merendahkan. Namun bagi Lyra, tatapan itu tidak lagi terasa seperti perlindungan.
Celia tersenyum sinis, menatap Lyra dari atas ke bawah. "Kau dengar itu, Sekretaris? Sean sendiri yang bilang. Kau hanya hiburan. Jangan bermimpi terlalu tinggi hanya karena dia menyentuhmu."
Sean menyadari perubahan raut wajah Lyra. Ia hendak meraih tangan Lyra. "Lyra, bukan itu maksudku—"
Lyra menghindar dengan halus. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang mulai memanas. "Saya mengerti, Pak Sean. Maaf saya mengganggu waktu Anda dengan... tamu Anda."
"Lyra, diam di tempat!" perintah Sean, suaranya kembali meninggi, penuh otoritas.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya, Lyra mengabaikan perintah itu. Ia membungkuk hormat dengan kaku, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan jati itu tanpa menoleh sedikit pun.
Begitu pintu tertutup, Lyra merasa dadanya sesak luar biasa. Kata-kata Sean terasa lebih menyakitkan daripada "hukuman" fisik yang ia terima semalam. Hiburan. Jadi bagi dia, semua ini hanya permainan untuk memuaskan egonya di depan orang lain?
"Lyra! Hei, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali!" Seryl langsung berdiri saat melihat Lyra keluar dengan terburu-buru.
Lyra tidak berhenti. Ia menyambar tasnya di meja, tangannya gemetar saat memasukkan ponselnya. "Seryl... tolong. Laporkan izin sakit untukku ke HRD. Aku... aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan hari ini."
"Sakit? Tapi tadi kau—"
"Tolong, Seryl. Aku mohon," potong Lyra dengan suara serak.
Tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Lyra berlari menuju lift. Ia tidak peduli jika Sean akan mengejarnya atau memecatnya. Saat ini, ia hanya ingin menghilang.
Lyra duduk di dalam taxi, menatap jalanan Jakarta yang buram karena air mata yang mulai menetes. "Ke Rumah Sakit Medika, Pak. Tolong cepat sedikit," ucapnya lirih.
Setengah jam kemudian, taxi itu berhenti di depan sebuah rumah sakit besar tempat ibunya, Kirana, bekerja sebagai perawat senior. Lyra tidak masuk ke dalam. Ia tahu ibunya sedang sibuk di bangsal dalam jam kerja yang padat.
Ia memilih duduk di sebuah kafe kecil yang terletak tepat di samping gerbang rumah sakit. Dari jendela kafe, ia bisa melihat ambulans yang keluar masuk dan orang-orang yang berlalu lalang dengan beban hidup mereka masing-masing.
Lyra memesan segelas teh hangat yang tidak disentuhnya. Ia hanya memandangi gedung putih di depannya itu dengan tatapan kosong.
"Ibu..." bisik Lyra pelan.
Pikirannya kembali pada kenyataan pahit tentang dirinya. Ia adalah anak dari seorang wanita yang dikhianati, lahir tanpa nama ayah, dan selalu merasa sebagai "noda" di dunia yang serba sempurna ini. Ia pikir Sean adalah pria yang bisa menerima noda itu, pria yang menyelamatkannya. Namun ucapan Sean di depan Celia tadi menyadarkannya bahwa ia mungkin hanya "hiburan" mewah untuk menutupi kebosanan sang CEO.
Apakah aku benar-benar serendah itu di matanya?
Lyra menyentuh syal di lehernya, bekas-bekas merah di bawahnya kini terasa seperti tanda hinaan daripada tanda cinta. Ia merasa bodoh karena sempat merasa nyaman di pelukan Sean semalam. Ia merasa bodoh karena percaya bahwa "aturan main" Sean adalah tentang perasaan, bukan sekadar kepemilikan.
Di kejauhan, ia melihat sosok Kirana keluar dari lobi rumah sakit sejenak untuk membuang sampah medis, mengenakan seragam perawat putihnya yang rapi. Melihat ibunya yang tetap tegak berdiri meski hidup tanpa suami selama puluhan tahun, hati Lyra semakin sesak.
"Aku harus pergi, Bu..." gumam Lyra. "Aku tidak bisa terus berada di dekatnya jika hanya untuk menjadi mainan."
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Lyra bergetar hebat. Nama "Sean" muncul di layar, berkali-kali. Lyra menatap ponsel itu dengan benci, lalu dengan tangan gemetar, ia mematikan daya ponselnya.
Untuk saat ini, ia tidak ingin menjadi sekretaris. Ia tidak ingin menjadi Nyonya Elgar. Ia hanya ingin menjadi Lyra, gadis kecil yang merindukan tempat yang benar-benar bisa ia sebut rumah, tanpa ada jerat atau kontrak di dalamnya.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...