NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Koridor belakang sempit dan gelap.

Lampu darurat berkedip merah, membuat bayangan mereka bergerak patah-patah di dinding beton. Bau asap mulai merambat dari ruang utama, menyusup seperti ancaman yang sabar.

Aidan memimpin di depan, langkahnya cepat namun tanpa suara. Kael berada paling belakang, menutup jalur dengan ketenangan yang mengintimidasi. Lucian membawa tas perangkat keras di satu bahu, masih mengetik pada tablet kecil di tangannya.

Di tengah mereka—Damian dan Lyra.

Tangan Damian masih menggenggam pergelangan Lyra. Bukan keras, tapi tidak memberi ruang untuk ragu.

“Jalur ini menuju ke mana?” bisik Lyra.

“Terowongan servis lama,” jawab Damian pendek. “Keluar di pelabuhan kering.”

“Pelabuhan kering?” Lyra menahan napas kecil. “Kalian benar-benar hidup di film aksi.”

Lucian berbisik dari depan, “Kalau ini film, kita sudah dapat musik dramatis.”

Aidan mengangkat tangan memberi tanda berhenti.

Semua langsung membeku.

Dari ujung koridor terdengar suara logam bergesek.

Kael menggeser posisi, senjata terangkat. Damian menarik Lyra sedikit ke belakang tubuhnya.

Suara itu makin jelas. Langkah kaki. Dua orang.

Aidan memberi isyarat tiga jari… lalu dua… lalu satu. Gerakan cepat. Dua tembakan teredam. Hening kembali turun.

Aidan menoleh singkat. “Bersih.”

Lyra menelan ludah. Ia masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri lebih keras daripada langkah mereka.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Koridor berbelok tajam, lalu menurun. Tangga besi berderit saat diinjak. Udara makin lembap, bercampur aroma laut yang samar.

Di titik tengah tangga, Damian berhenti sejenak.

Lyra langsung menoleh. “Kau kenapa?”

“Tidak apa,” jawabnya pelan.

Namun napasnya lebih berat dari sebelumnya.

Lyra mengamati wajahnya. Pucat. Keringat dingin di pelipis.

Tanpa bertanya, ia menyelipkan bahunya di bawah lengan Damian.

“Sandar,” katanya tegas.

Damian hendak menolak—namun Kael sudah bicara lebih dulu.

“Lakukan.”

Damian diam. Lalu membiarkan sebagian berat tubuhnya bertumpu pada Lyra.

Gerakan kecil, tapi semua melihatnya.

Lucian melirik ke belakang dengan senyum tipis. Aidan tidak menoleh, namun langkahnya melambat sedikit menyesuaikan ritme mereka.

Tangga berakhir di pintu baja tua.

Aidan memeriksa mekanisme pengunci, lalu membuka perlahan.

Udara malam menerpa wajah mereka.

Dingin. Asin. Bebas.

Di luar, area pelabuhan kering terbentang luas—deretan kontainer tua, lampu jalan redup, dan kabut tipis dari laut. Namun kebebasan itu hanya ilusi. Suara mesin kendaraan terdengar di kejauhan.

Kael mengamati sekeliling. “Mereka memperkirakan jalur ini.”

Lucian mengangkat tablet. “Aku bisa menutup kamera sekitar… tapi mereka tidak hanya mengandalkan kamera.”

Lyra menatap Damian. “Rencana cadangan?”

Damian memandang area terbuka itu, matanya kembali tajam.

“Kita pecah formasi sebentar,” katanya. “Lucian, arahkan gangguan sinyal. Aidan, posisi tinggi. Kael—jalur evakuasi kedua.”

Semua bergerak tanpa pertanyaan.

Lyra tetap di sisi Damian.

“Dan aku?” tanyanya.

Damian menatapnya lebih lama dari yang diperlukan.

“Kau tetap denganku.”

Jawaban sederhana. Tapi nadanya tidak memberi ruang bantahan.

Lampu jalan di kejauhan tiba-tiba padam satu per satu.

Lucian berseru pelan, “Gangguan listrik bukan dari kita.”

Aidan sudah naik ke struktur besi terdekat. Suaranya turun melalui komunikator, “Kontak visual. Tiga kendaraan. Mereka menyebar.”

Angin laut bertiup lebih kencang.

Lyra merasakan sesuatu di dalam dirinya—bukan lagi kepanikan, melainkan kesiapan yang aneh.

Ia menatap Damian.

“Kau tahu,” katanya pelan, “aku dulu cuma ingin liburan murah.”

Damian menoleh. “Menyesal?”

Lyra tersenyum tipis. “Belum.”

Suara tembakan jauh memecah malam.

Kael berlari kembali dari sisi kiri. “Jalur kedua terbuka, tapi tidak akan lama.”

Damian mengangguk.

Ia menatap Lyra sekali lagi—tatapan yang tidak lagi hanya berisi kewaspadaan, tapi keputusan.

“Kita bergerak bersama,” katanya.

Lyra mengangguk.

Di tengah kabut, di antara bayangan kontainer dan lampu yang mati satu per satu, mereka mulai berlari. Bukan sekadar melarikan diri. Tapi menuju sesuatu yang tak bisa lagi mereka hindari. Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai—lyra merasa ia tidak hanya bertahan.

Ia memilih.

---

Mereka berlari di antara deretan kontainer baja yang menjulang seperti dinding labirin.

Suara langkah kaki mereka bergema di permukaan beton basah. Kabut laut menebal, membatasi pandangan hanya beberapa meter ke depan.

Lyra mencoba menyesuaikan napasnya dengan ritme Damian. Ia bisa merasakan tubuh pria itu semakin berat, tapi langkahnya tetap stabil.

“Kalau kau pingsan sekarang,” bisik Lyra di sela napas, “aku akan marah besar.”

Damian tidak menjawab. Tapi genggaman tangannya di pergelangan Lyra sedikit menguat.

Dari atas struktur besi, suara Aidan terdengar melalui komunikator kecil di telinga mereka.

“Dua kendaraan mendekat dari utara. Satu tim pejalan kaki dari sisi barat. Mereka mengunci perimeter.”

Lucian menjawab cepat, “Aku ganggu sinyal mereka… tapi mereka pakai frekuensi cadangan. Ini tim profesional.”

Kael muncul dari jalur sempit di depan, memberi isyarat tangan tajam.

“Belok kanan. Ada lorong sempit menuju jalur evakuasi kedua.”

Mereka berbelok cepat.

Lorong itu lebih gelap, hanya diterangi lampu redup yang berkedip. Air menetes dari pipa tua di atas, menciptakan suara ritmis seperti hitungan mundur.

Lyra merasakan instingnya menegang.

Ada sesuatu yang tidak beres.

“Kael,” bisiknya, “terlalu sepi.”

Kael tidak menjawab. Tapi langkahnya melambat setengah detik. Dan itu cukup.

Bayangan muncul dari balik kontainer. Tiga orang. Mereka semua Bersenjata.

Tembakan pertama meledak tanpa peringatan.

Kael langsung menarik Damian dan Lyra ke sisi dinding baja. Aidan menembak dari posisi tinggi, peluru teredam namun mematikan.

Lucian berseru dari belakang,

“Aku kehilangan akses ke kamera area ini! Mereka memutus jalur internal!”

Percikan api berhamburan ketika peluru menghantam kontainer tepat di samping kepala Lyra.

Ia menunduk refleks, jantungnya menghantam tulang rusuk.

Damian mengangkat senjatanya dan membalas tembakan dengan presisi dingin.

Satu musuh jatuh. Dua lainnya mundur cepat ke bayangan.

“Ini bukan serangan langsung,” kata Kael tajam. “Mereka memperlambat kita.”

Aidan menambahkan, “Tim kendaraan sudah lebih dekat. Mereka memotong jalur pelabuhan.”

Lucian mengumpat pelan. “Mereka ingin kita keluar ke area terbuka.”

Hening sepersekian detik. Semua menyadari arti strategi itu. Ini Jebakan.

Lyra menatap Damian. “Rencana baru?”

Damian memandang lorong di depan. Gelap. Sempit. Tidak pasti.

Namun matanya tidak ragu.

“Kita tetap maju.”

Kael mengangguk tanpa tanya.

Mereka bergerak lagi, lebih cepat dari sebelumnya. Suara mesin kendaraan kini terdengar jelas di kejauhan. Sorot lampu menyapu kabut seperti mata predator yang mencari mangsa. Lorong berakhir pada ruang terbuka sempit di antara tumpukan kontainer tinggi.

Aidan melompat turun dari atas struktur, mendarat di depan mereka.

“Jalur ke dermaga kecil di sebelah timur,” katanya. “Ada perahu tua. Tidak ideal, tapi cukup untuk keluar dari radius pengejaran.”

Lucian menambahkan, “Aku bisa menyalakan mesin dari jarak jauh jika sistemnya masih hidup.”

Damian menatap arah yang ditunjuk. Angin laut menerpa lebih kuat di sini. Bau garam dan logam bercampur di udara.

Lyra merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya—ketakutan yang berubah menjadi tekad.

Ia menoleh pada Damian.

“Kita hampir keluar?”

Damian menatapnya.

Untuk sesaat, semua kebisingan seakan meredup.

“Belum,” jawabnya pelan. “Tapi kita semakin dekat.”

Tiba-tiba lampu sorot terang menyala dari arah belakang mereka. Suara mesin meraung. Teriakan perintah terdengar dalam bahasa asing.

Kael langsung berteriak, “Lari!”

Mereka berlari lagi, menembus kabut menuju cahaya samar di ujung dermaga.

Di tengah langkah panik dan suara tembakan yang mengejar, Lyra menyadari sesuatu yang tidak bisa ia sangkal lagi— Ia tidak lagi sekadar bertahan.ia berlari menuju masa depan yang tak pernah ia rencanakan. Dan di sisinya, Damian tetap menggenggam tangannya…seolah melepaskannya bukan lagi pilihan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!