Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Aturan Baru dan Rahasia yang Terikat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari pagi menyinari Kota Kabut Perak melalui celah jendela kamar penginapan. Cahaya kuning keemasan jatuh di atas lantai kayu yang bersih, menciptakan pola kotak-kotak yang rapi. Haneen sudah bangun sejak fajar. Dia duduk di meja kamar, membersihkan pistolnya dengan kain halus. Gerakan tangannya cepat dan efisien, kebiasaan lama yang tidak bisa ia tinggalkan.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya sejak semalam. Saat di hutan, dia sempat menyebut kata "Sistem" di depan Yan Ling. Itu adalah sebuah kesalahan. Dalam dunia intelijen, informasi adalah nyawa. Semakin sedikit orang yang tahu sumber kekuatanmu, semakin aman kamu bertahan hidup.
Ketukan pintu terdengar tiga kali. Itu tanda Yan Ling sudah siap.
"Masuk," ucap Haneen sambil menyimpan pistolnya ke dalam sarung khusus di lengan baju.
Yan Ling masuk membawa dua mangkuk sup hangat. Dia meletakkannya di meja, lalu duduk di hadapan Haneen. Wajahnya tampak segar setelah tidur nyenyak, namun matanya masih menyimpan pertanyaan tentang rencana mereka.
"Makan dulu," ucap Yan Ling sambil menyodorkan sendok. "Kita butuh tenaga untuk ke guild nanti."
Haneen mengambil mangkuk itu, tapi tidak langsung makan. Dia menatap Yan Ling dengan serius. Ekspresi dinginnya membuat suhu udara di kamar terasa sedikit menurun. Yan Ling berhenti mengunyah, menyadari ada sesuatu yang penting akan dibicarakan.
"Ada yang salah?" tanya Yan Ling pelan.
"Tentang kemampuan yang aku gunakan semalam," ucap Haneen tenang. Suaranya rendah namun tegas. "Aku menyebutnya Sistem di depanmu. Itu kesalahan."
Yan Ling mengerutkan kening. "Tapi aku sudah tahu. Aku tidak akan memberitahu siapa pun."
"Aku percaya padamu," jawab Haneen cepat. "Tapi kepercayaan tidak melindungi kita dari penyiksaan mental atau teknik pembaca pikiran. Jika kamu tertangkap musuh dan mereka tahu aku punya alat ajaib yang bisa mengeluarkan apa saja, kamu akan menjadi target utama untuk diperas."
Yan Ling terdiam. Dia tidak memikirkan sejauh itu. Baginya, loyalitas sudah cukup. Tapi bagi Haneen, loyalitas saja tidak cukup tanpa prosedur keamanan yang ketat.
"Mulai sekarang, jangan pernah sebut kata Sistem di depan orang lain. Bahkan saat kita berdua saja di tempat umum," instruksi Haneen. "Jika ditanya tentang alat teleportasi atau penyimpanan barang, kita sebut itu Artefak Ruang Warisan Keluarga. Itu hal yang umum di dunia kultivasi. Orang akan iri, tapi tidak akan seberbahaya jika mereka tahu itu adalah entitas cerdas yang menempel pada jiwaku."
Yan Ling mengangguk perlahan. Dia mengerti sekarang. Ini bukan tentang tidak percaya, ini tentang bertahan hidup. "Dimengerti. Artefak Ruang Warisan Keluarga. Aku akan ingat itu."
"Bagus," ucap Haneen sambil akhirnya mengambil sendok sup. "Satu hal lagi. Jika situasi memaksa kamu harus mengorbankan rahasia ini untuk menyelamatkan nyawa... lakukan. Nyawamu lebih penting daripada rahasiaku. Tapi pastikan hanya itu satu-satunya jalan."
Yan Ling tersenyum tipis. Dia merasa dihargai. Haneen tidak hanya menganggapnya sebagai alat, tapi sebagai rekan yang nyawanya berharga. "Terima kasih, Haneen. Aku tidak akan membuatmu menyesal sudah memberitahuku."
Mereka menghabiskan sarapan dalam diam. Setelah itu, mereka bersiap keluar. Haneen mengenakan jubah cokelat tua biasa yang dibeli dari toko pakaian sekunder. Yan Ling mengenakan pakaian perjalanan hijau gelap. Tidak ada yang mencolok. Mereka ingin terlihat seperti kultivator pengelana biasa, bukan buronan yang sedang bersembunyi.
Guild Petualang Kota Kabut Perak terletak di pusat distrik perdagangan. Bangunannya besar terbuat dari batu abu-abu dengan bendera bergambar pedang dan perisai berkibar di atap. Antrian panjang terlihat di depan pintu masuk. Berbagai jenis orang berdiri di sana, dari petani yang butuh bantuan mengusir hama binatang, hingga pedagang kaya yang mencari pengawal untuk kafilah.
Haneen dan Yan Ling bergabung dengan antrian. Mereka mengamati sekeliling sambil menunggu. Haneen mencatat posisi penjaga keamanan, lokasi kamera pengawas spiritual, dan jalur keluar darurat. Kebiasaan profiling lingkungan tidak bisa dimatikan.
"Kalian baru di kota ini?" tanya seorang pria di belakang mereka. Dia mengenakan armor kulit dan membawa kapak besar di punggung.
Haneen menoleh sedikit. "Baru sampai semalam. Mencari pekerjaan."
"Ha, bagus," ucap pria itu sambil tertawa. "Kota ini ramai tapi berbahaya. Jangan terima misi dari klien yang mencurigakan. Banyak yang tidak bayar setelah pekerjaan selesai."
"Terima kasih atas saran nya," ucap Haneen singkat. Dia tidak ingin berteman terlalu dekat. Informasi pribadi adalah risiko.
Akhirnya giliran mereka tiba di meja pendaftaran. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal duduk di belakang meja, menulis sesuatu di atas gulungan kertas.
"Nama?" tanya wanita itu tanpa menoleh.
"Ren," jawab Haneen.
"Dan saya Lin," tambah Yan Ling.
"Tingkat kultivasi?"
"Kondensasi Qi tingkat tiga," jawab Haneen. Dia sengaja menurunkan tingkatannya. Jika mereka terdaftar sebagai tingkat tinggi, mereka akan menarik perhatian yang tidak perlu.
Wanita itu mencatat, lalu memberikan dua lencana logam kecil. "Ini lencana anggota. Jangan sampai hilang. Biaya pendaftaran lima batu spiritual tingkat rendah."
Haneen membayar dengan tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Mereka menerima lencana dan buku panduan misi.
"Misi ada di papan belakang," ucap wanita itu sambil menunjuk. "Ambil sendiri. Serahkan kembali ke meja ini setelah selesai."
Mereka berjalan menuju papan misi besar di dinding belakang. Ratusan kertas tempel memenuhi papan itu. Ada misi mengambil bahan herbal, mengawal barang, hingga menangkap kriminal buronan.
Haneen memindai papan itu dengan cepat. Matanya berhenti pada sebuah misi di sudut kanan atas. Permintaan kertasnya sedikit lebih tebal dari yang lain, artinya kliennya lebih serius.
Misi: Selidiki Gangguan di Tambang Tua.
Lokasi: Distrik Utara, Lembah Batu Hitam.
Hadiah: 500 Batu Spiritual Tingkat Menengah.
Catatan: Hanya untuk tim kecil. Diskresi dijaga.
"Ini menarik," ucap Haneen sambil mengambil kertas itu. "Hadiahnya terlalu besar untuk misi penyelidikan biasa. Biasanya ada sesuatu yang disembunyikan."
"Distrik Utara itu area industri," ucap Yan Ling sambil membaca atas bahu Haneen. "Banyak tambang milik keluarga bangsawan. Mungkin ada persaingan bisnis."
"Atau ada sesuatu yang ditemukan di tambang itu yang membuat mereka takut ketahuan," tambah Haneen. "Kita ambil ini. Ini cocok untuk kita. Tidak terlalu mencolok, tapi memberikan akses ke area terbatas."
Mereka berjalan kembali ke meja pendaftaran untuk menyerahkan salinan misi yang diambil. Namun, saat mereka berbalik, seorang pria tinggi besar menghadang jalan mereka. Dia mengenakan jubah sutra biru dengan lambang keluarga mewah di dada. Dua pengawal berdiri di belakangnya dengan tangan di gagang pedang.
"Hey, anak baru," ucap pria itu sambil menyeringai. Dia melihat kertas misi di tangan Haneen. "Misi Tambang Batu Hitam itu milik keluarga Zhang. Kami yang mengambilnya."
Haneen berhenti langkah. Dia menatap pria itu datar. "Tidak ada nama di kertas ini. Siapa cepat dia dapat."
Pria itu tertawa meremehkan. "Kau tahu siapa aku? Aku Zhang Wei, putra kedua keluarga Zhang. Kami yang membiayai misi itu. Kami yang menentukan siapa yang boleh mengambil."
Yan Ling langkah maju, tangannya sudah dekat dengan pedangnya. "Kalau begitu kenapa dipasang di papan umum? Ambil saja sendiri kalau mau eksklusif."
Wajah Zhang Wei memerah karena marah. Dia tidak biasa dibantah oleh murid luar berpakaian murah seperti mereka. "Kalian mencari masalah? Di kota ini, keluarga Zhang adalah hukum."
Haneen menahan lengan Yan Ling agar tidak bertindak. Kekerasan di dalam guild dilarang keras. Pelanggar akan langsung diburu oleh penjaga kota. Itu jebakan.
"Kami tidak mencari masalah," ucap Haneen tenang. Suaranya tidak naik satu oktaf pun. "Kami hanya mengambil misi yang tersedia. Jika keluarga Zhang tidak ingin orang lain mengambil, seharusnya kertas ini tidak dipajang. Kesalahan ada pada pihak guild, bukan pada kami."
Haneen melangkah maju, melewati bahu Zhang Wei. Aura dingin yang dia keluarkan bukan dari energi spiritual, melainkan dari niat membunuh yang tertahan. Zhang Wei tanpa sadar mundur selangkah. Insting dasarnya memberitahu bahwa gadis di depannya berbahaya, meski aura kultivasinya terlihat biasa.
"Ayo, Lin," ucap Haneen tanpa menoleh lagi.
Mereka berjalan menuju meja pendaftaran, meninggalkan Zhang Wei yang masih terdiam karena kaget. Pengawal Zhang Wei hendak mengejar, tapi Zhang Wei menahan mereka.
"Biarkan mereka," gumam Zhang Wei. "Mereka akan menyesal sendiri saat sampai di tambang. Aku akan pastikan itu."
Haneen mendengar bisikan itu. Dia tersenyum tipis. Ancaman terbuka adalah keuntungan bagi mereka. Sekarang mereka tahu siapa musuh di lokasi misi.
Mereka menyerahkan kertas misi ke wanita pendaftaran. Wanita itu memberi cap persetujuan. "Klien menunggu di gerbang utara kota besok pagi. Jangan terlambat."
"Baiklah," jawab Haneen.
Mereka keluar dari guild. Udara siang terasa panas. Yan Ling menghela napas lega setelah jauh dari keramaian.
"Dia akan mencoba menjebak kita di tambang," ucap Yan Ling.
"Aku tahu," jawab Haneen sambil memeriksa lencana logam di tangannya. "Tapi justru itu yang kita butuh. Kita butuh akses ke tambang itu. Jika keluarga Zhang mencoba sesuatu, kita punya alasan resmi untuk melaporkan mereka ke otoritas kota."
"Kau punya rencana?" tanya Yan Ling.
"Selalu," jawab Haneen. "Malam ini kita beli peralatan tambang dan peta area utara. Besok kita lihat apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Zhang dibalik misi penyelidikan ini."
Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai. Di antara kerumunan orang, Haneen merasa aman. Anonimitas adalah perisai terbaik. Tapi dia tahu, kedamaian ini hanya sementara. Segera atau nanti, musuh dari Sekte Pedang Langit akan menemukan jejak mereka di kota ini.
Sampai saat itu tiba, Haneen akan menggunakan waktu untuk menjadi lebih kuat. Sistem masih memiliki banyak fitur yang belum terbuka. Dan setiap misi adalah kesempatan untuk mengumpulkan poin informasi.
"Satu langkah demi satu langkah," gumam Haneen pada diri sendiri.
Yan Ling mendengar gumaman itu. Dia tidak bertanya apa maksudnya. Dia hanya berjalan di samping Haneen, siap menghadapi apa pun yang akan datang bersama rekan setimnya. Rahasia mereka kini terikat lebih kuat, dilindungi oleh aturan baru yang akan menjaga mereka tetap hidup di dunia yang penuh dengan intrik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share😁