Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko Harta Langit
Tetua Peng Bei dan Gao Rui akhirnya tiba di depan Toko Harta Langit.
Bangunan itu menjulang megah di salah satu jalan utama Kota Yanjing. Pilar-pilar batu putih menopang gerbang besar, sementara papan nama berlapis emas berkilau diterpa cahaya matahari. Di sekelilingnya, beberapa pekerja terlihat masih sibuk. Ada yang memperluas sayap bangunan, ada pula yang memperkuat fondasi dengan formasi sederhana. Jelas bahwa toko ini sedang berkembang pesat.
Toko Harta Langit memang bukan kelompok dagang biasa di kota ini. Di sinilah berbagai sumber daya langka, pil, hingga senjata khusus para pendekar diperjualbelikan.
Gao Rui berhenti sejenak di depan bangunan itu. Matanya menatap kagum, tanpa sadar sedikit melebar.
“Besar sekali…” gumamnya lirih. Ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Tetua Peng Bei meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Di Kota Yanjing, ini salah satu kelompok dagang yang cukup kuat. Banyak sekte dan keluarga bangsawan pun harus menjaga hubungan baik dengan mereka. ”
Gao Rui mengangguk pelan. Namun yang tidak diketahui Tetua Peng Bei dan juga sengaja tidak ingin dibicarakan Gao Rui adalah fakta bahwa berkat campur tangan gurunya, Boqin Changing, ia memegang dua puluh lima persen kepemilikan di kelompok dagang ini. Dengan kata lain, Gao Rui juga pemilik Toko Harta Langit.
Namun alih-alih merasa bangga, justru ada rasa canggung di hatinya. Kepemilikan itu terasa… cuma-cuma. Gurunya, dengan nilai investasi yang luar biasa, telah membantu pemilik sebelumnya, Lan Suya, hingga Toko Harta Langit bangkit dan berkembang pesat. Sebagai bagian dari kesepakatan, sebagian kepemilikan diberikan kepada Gao Rui, tanpa ia benar-benar melakukan apa pun. Itulah sebabnya, sejak awal, ia memilih diam dan berpura-pura menjadi tamu biasa.
Keduanya melangkah masuk. Begitu mereka melewati ambang pintu, suasana di dalam toko langsung terasa berbeda. Rak-rak kayu hitam berjajar rapi, dipenuhi kotak penyimpanan bersegel, botol giok kecil berisi pil, dan bahan-bahan aneh yang memancarkan fluktuasi energi lembut. Beberapa pendekar dan keluarga bangsawan berpakaian mewah terlihat sedang bertransaksi, sementara pelayan-pelayan toko bergerak cepat namun tetap sopan.
Seorang pelayan segera menghampiri. Begitu melihat wajah Tetua Peng Bei, ekspresinya langsung berubah.
“T-Tetua Peng Bei!” serunya dengan nada hormat. “Sungguh kehormatan besar Anda berkunjung ke Toko Harta Langit.”
Ia membungkuk dalam-dalam.
Tetua Peng Bei mengangguk ringan. Reputasinya sebagai Tetua Ketiga Sekte Bukit Bintang memang dikenal luas. Sejak muda, namanya sudah sering dibicarakan di kalangan atas Kota Yanjing.
Pelayan itu lalu melirik Gao Rui. Sekilas, wajah bocah itu tampak biasa saja. Terlalu muda. Terlalu tenang. Namun pandangannya kemudian jatuh pada pakaian yang dikenakan Gao Rui. Pelayan itu membeku sesaat.
“Itu…,” batinnya terkejut.
Pakaian tersebut bukan pakaian pendekar biasa. Bahannya halus, seratnya nyaris tak terlihat, namun memancarkan aura perlindungan samar dan kualitas bahan terbaik. Itu adalah pakaian mahal yang hanya bisa didapatkan oleh pendekar papan atas atau keluarga bangsawan besar.
Sekejap saja, pelayan itu sadar. Bocah ini… jelas bukan bocah biasa.
Tanpa berkata banyak, ia segera berkata dengan lebih hormat,
“Silakan ikut saya, Tetua. Kami akan menyiapkan ruang khusus.”
Mereka dibawa ke sebuah ruangan tenang di bagian dalam toko. Ruangan itu dilapisi kayu wangi, dengan meja rendah dan kursi empuk. Sebuah formasi kecil penghalang suara aktif secara otomatis.
“Apakah Tetua berkenan memberitahu keperluannya?” tanya pelayan itu dengan sopan.
Tetua Peng Bei tidak bertele-tele.
“Aku ingin membeli beberapa sumber daya untuk membuat pil.”
Pelayan itu mengangguk sigap.
“Silakan sebutkan bahan-bahannya. Akan saya siapkan.”
Tetua Peng Bei menoleh ke arah Gao Rui.
Gao Rui sedikit terkejut, lalu berkata,
“Tolong sediakan pena dan kertas terlebih dahulu.”
Pelayan itu tidak bertanya apa pun. Ia segera keluar dan kembali beberapa saat kemudian dengan pena halus dan kertas putih berkualitas tinggi.
“Silakan,” katanya, lalu memberi hormat dan mundur. “Jika sudah selesai, panggil saya.”
Gao Rui mengambil pena itu. Jemarinya kecil, namun mantap. Ia mulai menulis satu per satu bahan yang dibutuhkan. Anggrek Bulan. Apel giok. Serbuk bunga matahari tingkat rendah.… Nama demi nama tertulis rapi.
Namun setelah cukup banyak menulis, tangan Gao Rui tiba-tiba berhenti. Alisnya mengerut.
“Ada yang kurang…” batinnya.
Ia menatap daftar itu lama. Dadanya terasa sedikit sesak. Gao Rui menutup matanya, mencoba mengingat kembali saat pertama kali ia berhasil membuat pil penguat tubuh di bawah bimbingan gurunya.
Saat itu, Boqin Changing berdiri tepat di sampingnya. Tidak ada transmisi pikiran. Tidak ada catatan tertulis. Gurunya mengajarinya secara langsung, menyebutkan bahan, menjelaskan fungsinya, memperingatkan kesalahan.
Namun kini… Beberapa sumber daya itu terasa buram di ingatannya. Peluh dingin mulai muncul di dahi Gao Rui.
Sebelumnya, ia sudah berjanji akan menyelamatkan Paman Jiang. Namun sekarang… ia justru melupakan bahan penting.
Tetua Peng Bei memperhatikan perubahan itu.
“Rui’er,” tanyanya pelan, “apa ada masalah?”
Gao Rui tersentak. Ia segera menggeleng, tersenyum canggung.
“Tidak apa-apa, Tetua. Aku hanya… mengingat takaran yang tepat.”
Ia menunduk kembali. Dalam hatinya, Gao Rui menghela napas panjang.
Hidup terlalu lama bersama gurunya membuat dirinya lengah. Biasanya, jika ada yang terlupa, Boqin Changing akan langsung mengingatkan. Namun sekarang… ia benar-benar sendirian.
“Sial… aku bodoh sekali,” umpatnya dalam hati.
Ia menyadari satu hal dengan jelas. Selama ini, hampir semua yang ada pada dirinya terinspirasi dari gurunya. Cara bicara. Sikap. Cara berpikir. Bahkan ketenangan dingin yang perlahan menggantikan sifat riangnya dulu.
Namun kemampuan? Bahkan satu persen pun belum.
Meski begitu, Gao Rui juga tahu. Di masa depan, satu-satunya orang yang paling dekat untuk bisa mendekati pencapaian gurunya… adalah dirinya sendiri. Untuk itu, ia tidak boleh berhenti.
Ia menarik napas dalam-dalam. Perlahan, pikirannya menjadi lebih jernih.
Satu per satu, potongan ingatan kembali tersusun. Bahan-bahan tambahan untuk menstabilkan tubuh… Ia kembali menulis. Satu bahan. Lalu satu lagi.
Hingga akhirnya, ia berhenti. Daftar itu hampir lengkap.
“Hanya kurang satu…” batinnya lirih.
Gao Rui menatap kertas itu dengan tatapan dalam, berusaha sekuat tenaga mengingat satu bahan terakhir yang belum tertulis. Ia menatap kertas itu sampai pandangannya sedikit kabur, seakan-akan nama bahan terakhir itu tersembunyi tepat di balik lapisan tipis ingatan yang enggan terbuka.
Ia menutup mata lagi. Mengingat tungku pembuatan pil. Mengingat aroma pahit yang menyengat. Mengingat suara gurunya yang datar namun tegas. Namun tetap saja… kosong. Nama bahan itu tidak muncul.
Jemarinya tanpa sadar menggenggam pena sedikit lebih kuat. Ujung pena hampir merobek kertas.
“Kenapa tidak ingat…” batinnya gusar.
Tetua Peng Bei tidak mengganggunya lagi. Ia hanya duduk diam, punggung tegak, matanya terpejam setengah. Sebagai orang tua yang sudah melalui banyak hal, ia tahu saat seperti ini, tekanan justru hanya akan memperburuk keadaan.
Beberapa tarikan napas berlalu. Tetap buntu. Hingga akhirnya seseorang datang.
Klik.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan. Tetua Bei refleks membuka mata.
Pelayan yang sebelumnya melayani mereka muncul di ambang pintu. Wajahnya menunjukkan sedikit keraguan, seolah ia tidak yakin apakah waktunya tepat untuk masuk.
“Maaf mengganggu, Tetua,” katanya sopan. “Karena sudah cukup lama tidak ada panggilan, saya berniat mengambil daftar barang yang diminta… jika memang sudah siap.”
Tetua Peng Bei membuka mata dan mengangguk ringan.
“Tidak apa-apa.”
Pelayan itu melangkah masuk beberapa langkah, namun sebelum sempat mendekat ke meja, dari luar ruangan, samar-samar terdengar suara dua orang yang sedang berjalan melewati lorong.
“…stok ginseng itu benar-benar menipis,” kata suara pertama, agak berat.
“Ginseng hitam yang datang dari Wilayah Utara itu terlalu langka. Banyak keluarga besar sudah memesan lebih dulu,” jawab suara kedua.
Langkah kaki mereka terdengar mendekat… lalu perlahan menjauh.
Namun bagi Gao Rui, kata itu seperti petir yang menyambar pikirannya. Ginseng hitam. Tubuh Gao Rui menegang seketika. Matanya membelalak.
“Itu…!” batinnya bergetar.