Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Ignis
Sedangkan di sisi lain, Valerius si Raja Vampir dan Raja Ignis sangat terkejut saat tubuh Aira menghilang seketika. Tapi tak lama kemudian, Raja Ignis tertawa, ia merasa telah memenangkan pertempuran Sementara Valerius sangat terkejut, ini kali pertamanya ia melihat ada makhluk dengan tangan yang sangat besar telah hidup di dalam bawah tanah.
"Aira!". Teriak Valerius dengan menempelkan telinganya pada tanah tempat dimana Aira menghilang. Valerius berbalik melihat ke arah Raja Ignis dengan tatapan penuh arti.
"Apa? Kau penasaran kenapa aku tertawa bahagia?". Ucap Raja Ignis menyadari arti tatapan Valerius. "Putri Es telah mati! Dan kini tidak ada lagi yang akan menjadi ancamanku. Keturunan Es telah musnah. Haha..hha..ha...".
Valerius tertegun mendengarnya . "Benar juga apa yang Ignis katakan. Lagi pula, dengan kematian Aira itu berarti kristal Umbra juga akan musnah". Pikirnya
"Tapi apa kau yakin dia telah mati,Ignis?". Tanya Valerius.
"Putri Es telah mati, dan di jadikan Tawaaran oleh pemilik asli kristal Umbra, maka dari itu dia di telan bumi. Sepertinya pemiliknya murka karena ada yang mencuri pusaka yang telah ia jaga selama ribuan tahun. Dan kamu berharap apa? Berharap dia masih hidup? Kalaupun hidup, dja tidak akan pernah muncul ke atmosfer lagi". Jawab Raja Ignis sambil mengangkat kedua tangannya keudara seolah mendapatkan sesuatu yang istimewa.
" Lalu bagaimana dengan istanaku? Kau telah membuat kerusakan pada istanaku!". Ucap Valerius dengan suara lantang.
Raja Ignis terdiam, ia berusaha memutar otaknya mencari jawaban. Sedangkan Valerius sudah melesat melangkah maju ke arahnya dengan tatapan membunuh. Raja Ignis yang terkenal kejam sedikit merasakan kegugupan karena ia sendiri tahu seberapa saktinya Valerius.
"Tunggu! Aku memiliki tawaran kesepakatan untuk perdamaian antara kerajaan Api dan kerajaan Vampir". Ucap Raja Ignis mencoba menahan langkah Valerius.
Dengan langkah yang sangat cepat, Valerius mengangkat kedua tangannya dengan mulut yang melontarkan mantra sihir. Sehingga muncul awan hitam dari kedua telapak tangannya yang membentuk bola sihir lalu melemparkannya ke arah Ignis. Dan wuss....
Bola sihir itu melesat menabrak tubuh Ignis, dan memvuat sang empu terseret mundur beberapa langkah.
"Cih!...perdamaian kau bilang? Sejak kapan kau berubah menjadi manusia, Ignis!". Bentak Valerius penuh amarah.
Ia kembali melemparkan bola sihirnya pada Ignis. "Aku berjanji akan mengabulkan apa pun yang kau mau. Aku bersumpah". Ucap Ignis membela diri.
Valerius menahan serangannya. "Apa pun?". Tanyanya memastikan.
"Ya". Timpal Ignis dengan cepat. Dan secepat itu pula ia menyesali ucapannya.
Valerius merubah posisinya menjadi lebih santai, dan menghenrikan serangan. "Baiklah. Aku minta agar kay memperbaiki istanaku". Tuturnya. "Tidak ada yang berubah satu pun dari sebelumnya. Dengan syarat, barus selesai dalam kurun waktu satu minggu".
Ignis mengangguk setuju atas permintaan Valerius. " Aku akan kirimkan ribuan pasukanku ke Kerajaan Vampir, dan hitunglah waktu mulai esok pagi". Ujarnya menyanggupi.
Kamudian Valerius mengingat satu hal. "Apa yang kau lakukan pada Nocturna, Adikku?". Tanya Valerius kembali menatap Ignis dengan murka.
"Aku tidak pernah bertemu dengan adikmu! Bahkan dengan raja Vampir saja aku baru bertemu sekarang!". Elak Ignis.
Valerius tak mempercayai apa yang di ucapkan oleh Ignis. "Wanita yang menghadangmu masuk untuk menghancurkan kerajaanku!". Teriak Valerius dengan penuh penekanan.
Raja Ignis tentu mengingatnya, ia begitu tercengang mendengarnya. "D-Dia adikmu?".
Dengan gerakan cepat, kedua tangan Valerius sudah berada di leher Ignis. " JANGAN BILANG KALAU KAU...". Ucapannya terputus, rahangnya mengeras karena amarah.
Tangannya mencengkeram erat leher Ignis, amarahnya semakin membuncah. Dan kini tubuh Ignis sudah terkapar di tanah dengan Valerius yang tidak melepaskan cengkeramannya. Yang ada dia malah mempererat cengkraman.
"Ak-aku..t-tidak...membun-nuh...ad-dikmu...". Ignis mencoba membela diri dengan suara tercekat.
"LALU APA? JIKA KAU TIDAK MEMBUNUHNYA, DIA AKAN ADA DI SINI!". Bentak Valerius. "ANGAN BILANG KALAU KAU...". Ucapannya menggantung.
Ignis bergerak meronta-ronta di atas tanah mencoba agar bisa lepas dari Valerius. "I- iya...". Ucapnya.
Valerius mengangkat satu tangannya hendak memberi serangan lagi. Tapi Ignis berhasil menghentikannya.
"Aku akan bertanggung jawab penuh atas Nocturna!". Ucapnya membuat Valerius tersentak.
"Apa maksudmu? Kau tidak menggantungnya? Lalu apa yang kau lakukan pada adikku?". Tanya Valerius yang emosinya tak kunjung mereda.
"JAWAB IGNIS!". Desaknya dengan suara keras.
" Meskipun wujudmu Vampir, tapi kau juga pria! Aku melakukan hal yang lebih, lebih dari saat kau menatap Putri Es!". Ada sedikit validasi dalam perkataan Ignis.
Valerius terdiam. "Saat aku melihat Aira? Memangnya kenapa? Apa Ignis tahu kalau aku menyukai Aira hanya dari tatapanku?". Pikir Valerius, kini fokusnya telah buyar.
Valerius tak sengaja meregangkan tangannya yang sedang mencengkeram leher Ignis. Sedang kan Ignis yang mendapat kesempatan besar pun tak menyia-nyiakannya untuk segera melepaskan diri.
"Oke!...oke!...Aku akan menikahinya". Ujarnya penuh pengakuan.
"Apa? Jadi kau....". Ucapannya terhenti. "Aku tak sudi jika harus bersaudara denganmu!". Teriak Valerius kembali memberikan serangan bertubi-tubi pada Ignis.
Ignis terus menahan serangan Valerius yang tak berhenti menyerangnya, ia tak berniat membalasnya sedikit pun. "Hentikan! Kau jangan membunuhku!".
"Apa peduliku!". Valerius menyerang secara membabi buta.
"Apa kau akan membiarkan Nocturna menderita?". Ignis membuat perlawanan.
"Aku akan membunuhmu Ignis!".
"Aku menyukai adikmu! Sejak lama". Ignis terus berceloteh. "Sejak seratus tahun yang lalu!".