Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20—Sebuah Ajakan
Siangnya di sekolah. Jam istirahat telah dimulai, Rahmat berjalan di koridor sekolah dengan pikiran kacau.
Kalau boleh jujur Ia benar-benar tidak tertarik dengan konser, keramaian, musik keras, lampu sorot bukan dunianya. Tapi—
[Ding!]
[PERINGATAN KALAU SAMPAI MISI INI GAGAL SEMUA HADIAH DARI SISTEM KEMARIN, TERMASUK MOBIL, DAN MOTOR AKAN DI CANCEL]
Rahmat menghela napas panjang. “Ini yang gue males…” Ia bisa saja menjual tiketnya. Bisa saja membiarkannya hangus.
Tapi penalti sistem bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Dan jujur sayang juga, ini adalah tiket VIP, backstage, kursi paling depan pula.
Suaranya pelan tapi jelas, “Sistem, lo ini maksa banget ya…”
\[Karena saya ingin Tuan menikmati masa muda!\]
{Tuan sudah menyelesaikan arc 1 dalam babak kehidupan anda, sekarang kita butuh refreshing\]
“Dih, seenaknya sendiri .. dan apa pula maksudmu arc 1? Kau kira ini sebuah cerita?”
Belum ada jawabannya, hanya layar transparan yang perlahan hilang..
Ia mengusap wajahnya. Oke. Mau tidak mau harus dipakai.
Masalahnya satu, sekarang siapa yang bisa di ajak? Masa dia mau ngajak teman cowo, berbatang? Tentu bisa … bisa dikira gay maksudnya.
Tapi kalau cewek pun dia tidak punya pengalaman mengajak perempuan main keluar.
Lagian dia tidak punya banyak teman cewek … kecuali — .
“Kamu lagi mikirin soal ujian atau lagi mikirin apa sih?”
Rahmat tersentak sedikit. Alya berdiri di sana, roti terpegang di tangan kanannya, dia memakan roti itu, lalu menatapnya dengan ekspresi setengah heran.
Orang yang dimaksud malah datang!
“Kok mukanya tegang banget?”
Rahmat refleks meluruskan bahunya. “bukan apa-apa”
Alya menyipitkan mata. “Kamu barusan hampir nabrak tiang.”
Rahmat menoleh. Benar, Ia berdeham kecil. “Cuma lagi mikir.”
“Berat banget kayaknya sampai dunia sekitar nggak kelihatan.”
Rahmat diam sebentar. Ya ini berat, tapi ini momentum, ini kesempatan, Kalau sekarang tidak, dia harus muter-muter cari alasan lagi.
Alya memperhatikannya, tampak khawatir. “Serius deh, kamu kenapa?”
Rahmat menarik napas pendek. Menatap gadis itu tajam “Alya!”
“e-eh iya?”
jawabnya tersentak dan sedikit malu, ini pertama kali Rahmat memanggilnya dengan tegas, suara maskulin itu sedikit membuat dia berdebar. Terlebih mata itu, mata yang melihat sangat bergairah.
“A-apa sih lihat aku kaya gitu?
Suasana koridor Sekolah tiba tiba menjadi ramai, Alya sosok primordial Sekolah yang berbicara dengan Rahmat terlebih adegan ini sudah mirip acara melamar tentu membuat orang orang tertarik.
“Eh, ada apa ini?”
“Rahmat lagi. Lagi -lagi mereka Deket.”
“Eh, jangan-jangan rumor mereka pacaran itu benar!”
Alya mendengarkan semua bisikan itu dan membuat wajahnya memerah karena malu, sementara Rahmat malah tidak mendengarkan itu karena terlalu fokus akan apa yang hendak ia katakan.
Jujur ia juga malu terlebih harus mengajak cewe cantik seperti dia, tapi ekspresi Rahmat yg kaku saja susah ditebak.
“Kamu sibuk malam ini?”
Alya berkedip cepat. “M-malam ini?” ulangnya, pura-pura tenang padahal jantungnya mendadak berdetak tidak wajar.
Rahmat mengangguk. “Iya.”
Beberapa siswa yang tadi berbisik makin mendekat sedikit. Aura gosip langsung mengental.
Alya melirik kanan kiri, lalu menatap Rahmat lagi dengan wajah setengah kesal.
“Kamu itu ya… ngomong bisa nggak jangan kayak mau ngajak duel?”
Rahmat mengernyit. “Hah?”
“Tatapanmu itu loh. Serius banget.”
Rahmat terdiam. Ia memang tidak sadar kalau ekspresinya terlalu intens. “Ah, maaf.’
“Aku cuma nanya,” katanya datar.
Alya mendecih pelan, lalu menggigit roti di tangannya untuk menyembunyikan gugupnya. “Kenapa emangnya?”
Rahmat menarik napas pendek.“Aku punya dua tiket konser. VIP. Satu kosong.”
Roti di tangan Alya berhenti di udara. “VIP?” suaranya naik setengah nada. “Terus?”
Rahmat mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan e-ticket itu.
Alya Langsung terkejut, mata nya terbuka lebar itu adalah konser yang baru baru ini Booming, anak muda mana pun tahu. Katanya akan mengundang beberapa artis baik artis laki tampan atau perempuan cantik, dan dikatakan akan heboh.
“eh, itu kan konser yang itu kan!” ucapnya. Tapi ia tahu, itu harganya sangat mahal. “kamu beli tiket itu jangan jangan hasil jualan koin di lelang kemarin?”
Rahmat menggaruk kepala, “hm seperti itu lah.”
Rahmat menatapnya lurus. “Jadi… kamu sibuk nggak?”
Alya terdiam. Mukanya memerah tipis.
“Kenapa… ngajak aku?” tanyanya pelan, berusaha tetap tenang. “Emang nggak ada yang lain?”
“Ada,” jawab Rahmat jujur..
Alya langsung membeku. “Oh… ya udah ajak yang lain aja.”
Rahmat mengernyit lagi. “Maksudku ada banyak orang di sekolah ini. Tapi yang kepikiran cuma kamu.”
Sunyi, Kalimat itu terlalu langsung.
Beberapa siswa yang menguping langsung bersuara:
“WOOOYY!”
“CONFESS ANJIR”
“Rahmat gercep juga!”
“NGERINYA!!”
Sementara beberapa fans fanatik garis keras Alya mengumpat kesal.
Alya panik. “Diam kalian!” Wajahnya makin merah.
Rahmat masih fokus. “Aku cuma butuh satu orang buat pakai tiketnya. Kalau kamu nggak mau, ya sudah.”
“bego, aku gak bilang kalau nggak mau …” gumamnya nyaris seperti bisikan.
“ha?”
Nada itu terlalu tenang. Terlalu logis. Tidak ada rayuan.
Justru itu yang membuat Alya makin kesal. Harga dirinya merasa diinjak-injak, jangan salah ia senang telah diajak, tapi kenapa orang ini mengajak seolah olah sedang diskusi serius.
“Kamu ini ya… ngajak orang tuh minimal kayak ngajak, bukan kayak lagi nawarin kerja kelompok.”
Rahmat memiringkan kepala. “Bedanya?”
Alya hampir kehilangan kata-kata. “Bedanya itu… ya… ya beda!”
Rahmat terdiam beberapa detik.Lalu lebih pelan, lebih manusiawi— “Alya, mau nggak ikut konser bareng aku malam ini?”
Nada itu berubah, tidak setegas tadi, tidak sekaku tadi, lebih lembut.
Alya merasakan dadanya bergetar sedikit. Terlebih Melihat tatapan Rahmat yang makin tulus serta lembut.
Dia menunduk, pura-pura bermain dengan rambut panjangnya.
“Bukan karena aku nggak ada temen ya,” gumamnya cepat. “Kebetulan aja aku lagi kosong.”
“Jadi kamu kosong?” tanya Rahmat.
“Iya! Maksudnya… nggak ada acara lain!” bentaknya malu.
Beberapa siswa tertawa kecil.
Alya menatap Rahmat dengan wajah sok galak. “Kalau aku ikut… jangan aneh-aneh.”
“Contohnya?”
“ya jangan aneh-aneh! Contohnya kaya tadi … ngajak orang kaya ngajak berantem, kayak dipaksa sesuatu .. minimal kalau ngajak cewe yang … yang gitulah!”
Rahmat berpikir sejenak. “Aku memang agak dipaksa.”
Alya terdiam.
Rahmat cepat menambahkan, “Maksudnya dipaksa keadaan.”
Alya mendesah kesal. “Kamu tuh ya…”
Hening beberapa detik.
Lalu pelan— Alya berkata pelan “…ya udah. Aku ikut.”
Rahmat mengangguk kecil. “Jam tujuh. Aku jemput.”