Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Percikan Pertama
Tiga hari berlalu seperti angin.
Tiga hari di mana tubuhku berjuang melawan sisa racun, dan pikiranku berjuang melawan keterbatasan dunia ini. Tiga hari di mana Hyun Moo menjadi tangan, kaki, dan punggungku—meskipun tulang rusuknya masih retak dan setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan.
Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, aku bangun dengan perasaan berbeda.
Tanganku tidak lagi gemetar.
Aku duduk di tepi tempat tidur, mengepalkan telapak tangan, merasakan otot-otot yang mulai responsif. Masih lemah. Masih jauh dari kondisi ideal. Tapi cukup untuk mulai bekerja.
"Tuan sudah bangun?"
Hyun Moo masuk dengan semangkuk bubur. Wajahnya terlihat lebih segar daripada kemarin. Mungkin karena ada harapan. Atau mungkin karena lukanya mulai sembuh.
"Aku mau kerja hari ini."
"Tuan yakin? Tubuh Tuan masih..."
"Aku yakin." Aku mengambil mangkuk itu dan menghabiskan buburnya dalam beberapa suapan. "Kalau hanya duduk dan menunggu, aku akan gila. Lebih baik sakit karena bekerja daripada sakit karena tidak melakukan apa-apa."
Hyun Moo tersenyum. Sepertinya dia mulai mengerti cara berpikirku.
"Baik, Tuan. Apa yang harus kulakukan?"
Aku berdiri. Untuk beberapa detik, dunia terasa berputar. Tapi aku bertahan, berpegangan pada dinding kayu.
"Pertama, kita buat arang."
---
Pembuatan arang ternyata lebih sulit dari dugaanku.
Bukan secara teknis—aku tahu teorinya. Tapi secara fisik. Dengan tubuh yang baru pulih dari racun, mengangkut kayu dan menggali lubang adalah siksaan tersendiri.
Kami bekerja di halaman belakang. Hyun Moo menggali lubang bundar sedalam satu meter, sementara aku duduk di dekatnya, mengarahkan, menjelaskan, kadang-kadang ikut memindahkan kayu meskipun Hyun Moo selalu protes.
"Tuan, biar aku saja. Tuan belum sembuh."
"Aku butuh gerak. Diam terlalu lama malah bikin lemah."
Itu bohong. Sebenarnya aku hanya tidak tahan melihat orang tua itu bekerja sendirian. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah pekerja. Aku tahu rasanya bekerja ketika tubuh sakit. Dan aku tidak tega membiarkan orang lain mengalaminya sendirian.
Setelah lubang selesai, kami menumpuk kayu di dalamnya. Kayu kering yang sudah dipotong kecil-kecil. Lalu menutupnya dengan daun pisang basah dan tanah, menyisakan lubang kecil untuk udara.
"Kita bakar perlahan," jelasku. "Api kecil, tanpa oksigen cukup. Kayunya akan hangus tapi tidak jadi abu. Itu arang."
Hyun Moo mengangguk-angguk. "Tuan tahu banyak tentang ini. Dari mana Tuan belajar?"
Aku diam sejenak. Lalu menjawab sejujurnya, meskipun tidak sepenuhnya jujur. "Aku banyak membaca. Dan... mengamati."
Untungnya Hyun Moo tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia sudah memutuskan untuk tidak mempertanyakan perubahan drastis pada diriku.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami membuka lubang itu. Arang pertama kami—hitam, ringan, dan saat dibakar menyala tanpa asap tebal.
"Ini..." Hyun Moo menatap arang itu dengan takjub. "Ini lebih baik dari arang biasa."
"Karena kita membuatnya dengan cara yang benar. Tanpa banyak oksigen, karbonnya murni. Panasnya lebih tinggi."
Tapi aku tahu ini baru permulaan. Arang berkualitas tinggi itu penting, tapi tanpa tungku yang tepat, semua ini sia-sia.
---
Hari keempat dan kelima habis untuk membuat batu bata dari tanah liat.
Kami mencetak tanah liat yang sudah dicampur jerami menjadi balok-balok persegi, lalu menjemurnya di bawah matahari. Hyun Moo awalnya skeptis.
"Tanah liat ini... kalau kering, dia rapuh, Tuan. Gampang hancur."
"Karena itu kita bakar nanti. Tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi akan berubah jadi keramik. Keras. Tahan panas."
Dan benar saja. Setelah tiga hari penjemuran, kami membakar batu bata itu dalam tumpukan kayu besar. Api berkobar semalaman. Dan paginya, ketika abu dingin, kami menemukan batu bata merah-oranye yang keras.
Hyun Moo mengambil satu, mengetuknya dengan buku jari. Suaranya nyaring.
"Luar biasa, Tuan. Ini... ini seperti batu bata untuk istana."
"Aku tidak butuh istana. Aku butuh tungku."
---
Hari ketujuh.
Tungku pertama mulai berdiri.
Aku sudah mendesainnya berkali-kali di kepala. Bentuk silinder, diameter satu meter, tinggi satu setengah meter. Dinding ganda dengan rongga di antaranya untuk isolasi. Lubang udara di bagian bawah yang bisa ditutup sebagian untuk mengatur aliran oksigen. Cerobong di atas. Pintu kecil di sisi untuk memasukkan bahan bakar dan mengeluarkan terak.
Membangunnya dengan batu bata tanah liat dan perekat dari campuran tanah liat cair lebih sulit dari yang kubayangkan. Apalagi dengan tenaga utama Hyun Moo yang tangannya terbiasa memegang pedang, bukan membawa batu bata.
Tapi akhirnya, setelah dua hari penuh keringat, umpatan, dan beberapa kali hampir roboh, tungku itu selesai.
Berdiri di halaman belakang rumah reyot, tungku itu terlihat... aneh. Terlalu modern untuk dunia ini. Seperti pesawat luar angkasa yang mendarat di desa terpencil.
Hyun Moo menatapnya dengan campuran takjub dan bingung.
"Tuan... ini benar-benar bisa melelehkan besi?"
"Bisa. Tapi kita harus uji dulu."
Kami menyalakan api pertama hari itu juga. Arang berkualitas tinggi kami masukkan melalui pintu atas. Hyun Moo memutar alat penghembus sederhana yang kubuat dari kulit kayu dan bambu—nenek moyang blower, tapi cukup efektif untuk memaksa udara masuk melalui lubang bawah.
Api berkobar. Panas mulai terasa.
Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tersenyum lebar.
---
Malam harinya, saat api sudah padam dan tungku mendingin, Hyun Moo bertanya.
"Tuan, aku mengerti kita bisa melelehkan besi. Tapi... apa yang akan kita buat? Pedang? Kita hanya berdua. Bahkan jika kita punya seratus pedang, kita tidak punya seratus pendekar."
Aku duduk di beranda kayu, menatap langit malam yang penuh bintang. Udara dingin mulai turun.
"Kau benar," kataku. "Pedang saja tidak cukup. Tapi kau tahu apa yang bisa mengalahkan banyak musuh?"
"Apa?"
"Ketakutan."
Hyun Moo mengerutkan kening.
"Coba pikir," lanjutku. "Hojun punya tiga puluh pendekar. Mereka setia padanya karena mereka percaya dia akan menang. Mereka percaya karena mereka pikir kita lemah. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan? Sesuatu yang tidak bisa dihadapi dengan pedang?"
"Apa maksud Tuan?"
Aku menatapnya. "Kau pernah lihat petasan? Mercon?"
"Pernah. Biasanya untuk perayaan."
"Bayangkan petasan yang seratus kali lebih besar. Yang tidak hanya mengeluarkan suara, tapi juga menghancurkan apa pun di depannya."
Hyun Moo terdiam. Lalu matanya membelalak.
"Tuan... jangan bilang Tuan bisa..."
"Aku tidak yakin. Tapi aku bisa mencoba."
---
Hari kedelapan, kami mulai mengumpulkan bahan untuk "proyek rahasia" itu.
Belerang. Aku tahu ada di sekitar sini? Hyun Moo bilang ada sumber air panas di pegunungan timur, dan kadang-kadang ada batu kuning di sekitarnya. Belerang.
Arang. Kami sudah punya banyak.
Sendawa. Ini yang paling sulit. Tapi aku ingat—dari ingatan Jin Tae-Kyung yang lama—bahwa para tabib kadang menggunakan batu tertentu untuk obat. Batu yang rasanya dingin di lidah. Kalium nitrat. Sendawa.
"Kita butuh itu," kataku. "Cari di tabib desa. Beli kalau perlu. Tapi jangan bilang untuk apa."
Hyun Moo mengangguk. Dia sudah berhenti bertanya. Mungkin dia pikir aku gila. Tapi dia tetap melakukannya.
---
Sementara Hyun Moo pergi, aku mulai mengumpulkan panci-panci besi dan peralatan dapur yang tidak terpakai. Aku memotong-motongnya dengan pahat dan palu—susah payah, karena tanganku masih lemah—menjadi potongan kecil.
Besok, potongan ini akan kumasukkan ke tungku.
Besok, kita lihat apakah teoriku bekerja.
---
Hyun Moo kembali menjelang malam. Wajahnya tegang.
"Tuan, ada masalah."
Aku menegang. "Hojun?"
"Bukan. Atau... mungkin terkait." Dia menghela napas. "Di desa, ada kabar. Hojun akan mengadakan upacara besar tiga hari lagi. Pengangkatannya sebagai Patriark sementara. Dia akan mengumumkannya di depan semua tetua dan perwakilan klan tetangga."
Hatiku berdetak kencang.
"Tiga hari?"
"Iya. Setelah itu, secara resmi dia akan memegang kendali penuh atas klan. Semua sumber daya, semua pendekar yang masih netral, akan berada di bawahnya."
Aku diam, mencerna informasi ini.
Tiga hari.
Dengan tungku yang baru selesai, dengan bahan baku seadanya, dengan tubuh yang baru setengah pulih, aku harus melakukan sesuatu dalam tiga hari.
Tapi justru itulah yang membuat darahku mendidih.
Tekanan. Deadline. Itu sudah jadi makanan sehari-hari di kehidupan sebelumnya. Aku terbiasa bekerja di bawah tekanan. Aku justru lebih produktif saat dikejar waktu.
"Hyun Moo."
"Iya, Tuan."
"Kau bilang upacara itu tiga hari lagi. Di mana?"
"Di markas utama klan. Aula Leluhur."
"Berapa banyak orang?"
"Semua pendekar klan. Mungkin lima puluh orang, termasuk yang netral. Plus beberapa tamu dari klan tetangga."
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum predator.
"Lima puluh orang. Bagus. Semakin banyak, semakin baik."
"Tuan... apa yang Tuan rencanakan?"
Aku menatapnya. "Kau percaya padaku?"
"Sepenuhnya."
"Bahkan jika aku bilang kita akan menghancurkan upacara itu sendirian? Kau dan aku?"
Hyun Moo terdiam sejenak. Lalu dia tertawa. Tawa parau seorang pendekar tua yang sudah melihat banyak pertempuran.
"Tuan, empat puluh tahun lalu, aku bertarung melawan seratus musuh sendirian. Dan menang. Jadi ya, aku percaya. Tapi..." dia menatapku, "Tuan bukan pendekar. Tuan lemah. Bagaimana Tuan bisa bertarung?"
Aku berdiri, berjalan ke arah tungku yang masih hangat. Di sampingnya, ada karung berisi bubuk hitam yang baru saja kurakit—campuran arang halus, belerang, dan sendawa dengan perbandingan 15:3:2.
Bubuk mesiu.
Mesiu primitif, belum sempurna, tapi cukup untuk membuat suara dan cahaya. Cukup untuk membuat kaget. Cukup untuk menciptakan kekacauan.
"Aku tidak akan bertarung dengan pedang," kataku pelan. "Aku akan bertarung dengan ini."
Kulihat Hyun Moo menatap karung itu dengan rasa ingin tahu.
"Apa itu, Tuan?"
"Aku belum punya nama untuknya. Tapi percayalah... tiga hari lagi, Jin Hojun akan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."
Aku mengepal tanganku. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, tanganku tidak gemetar.
"Kita akan membuat kejutan untuk pesta pengangkatannya, Hyun Moo."
Pria tua itu tersenyum lebar.
"Aku tidak sabar melihat wajahnya, Tuan."
---
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur dengan senyuman di wajah.
Di luar, angin malam berhembus membawa aroma tungku dan asap. Di kejauhan, di markas klan, lampu-lampu masih menyala. Mereka mungkin sedang bersiap untuk pesta.
Mereka tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa di gubuk reyot ini, seorang pria yang seharusnya sudah mati sedang mempersiapkan kejutan.
Percikan pertama telah menyala.
Dan api itu akan segera berkobar.
---
[Bersambung ke Bab 4]