NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:98.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, Erza bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap map gambar yang sudah ia siapkan sejak semalam. Di dalamnya ada krayon kesayangannya, raut pensil, dan satu lembar kertas kosong yang akan menjadi medan perjuangannya hari ini.

Hari ini ia akan mengikuti lomba mewarnai mewakili TK-nya. Namun, yang paling membuat dadanya berdebar bukanlah lomba itu sendiri, melainkan satu harapan kecil yang ia simpan rapat-rapat.

“Mommy ....” Erza berdiri di ambang pintu dapur, menatap Azalea yang sedang menyiapkan sarapan. “Daddy bisa datang, kan?”

Azalea berhenti mengaduk sayur. Ia menoleh dengan senyum lembut, meski hatinya langsung terasa berat.

“Daddy sedang berusaha, Kak.”

Di ruang keluarga, Enzo sedang berbicara di telepon dengan Ramon. Nada suaranya serius, alisnya berkerut. “Tidak bisa diubah?” tanyanya pelan.

Jawaban di seberang membuatnya terdiam lama.

“Baik,” ucap Enzo akhirnya. “Kita lanjut sesuai jadwal.” Telepon ditutup.

Enzo menoleh dan mendapati Erza berdiri tak jauh darinya. Anak itu tidak menangis. Tidak juga merengek apalagi ngamuk, hanya menatapnya dengan mata yang penuh harap dan itulah yang justru paling menyakitkan.

“Daddy ....” Erza mendekat. “Daddy jadi datang, kan?”

Enzo berlutut agar sejajar dengan putranya. Tangannya ragu-ragu mengusap bahu kecil itu.

“Maaf, Kak,” ucapnya jujur. “Daddy ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.”

Wajah Erza meredup. “Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik menuju kamar tanpa berkata apa-apa lagi.

Hati Enzo terasa diremas. Ekspresi putranya menunjukkan rasa kecewa dan sedih.

Azalea yang menyaksikan semuanya dari kejauhan segera menghampiri Erza di kamar. Ia duduk di samping putranya, mengusap rambutnya perlahan. “Erza kecewa?” tanyanya lembut.

Erza menggeleng, tapi matanya berkaca-kaca. “Enggak. Daddy tidak bisa datang karena harus kerja.”

Azalea tersenyum, lalu memegang kedua tangan Erza. “Justru karena itu, Erza harus melakukan yang terbaik.”

Erza menoleh.

“Kalau Erza menang, Mommy akan videokan semuanya. Nanti Daddy lihat,” lanjut Azalea. “Dan Daddy akan bangga sekali punya anak yang berani dan berusaha.”

Erza terdiam. Lalu ia mengangguk pelan. “Aku mau Daddy bangga.”

Azalea memeluknya erat. “Yang semangat, ya, Sayang!”

Di lokasi lomba, suasana ramai oleh anak-anak TK dengan seragam warna-warni. Orang tua berkumpul di sisi lapangan, membawa kamera dan ponsel.

Azalea menggandeng Erza di tangan kiri dan Elora di tangan kanan. Anak laki-laki itu terlihat bersemangat, sementara gadis kecilnya melompat-lompat kecil di samping mereka, sambil membawa balon.

“Semangat, Kak!” seru Elora mengepalkan tangan ke atas.

Azalea tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. “Mommy rekam dari sini, ya.”

Langkah Azalea terhenti ketika ia melihat sosok yang sangat dikenalnya. Nadia, wanita itu berdiri tak jauh, mengenakan gaun mencolok dan kacamata hitam besar. Di sampingnya, seorang anak perempuan berseragam TK berdiri sambil memegang krayon.

Di waktu yang bersamaan, Nadia juga melihat Azalea. Senyum sinis langsung terbit di bibirnya. Dia menelisik penampilan Azalea.

“Wah,” ucap Nadia lantang tanpa basa-basi. “Pengasuh zaman sekarang makin berani ya. Datang ke acara sekolah pakai gaya kayak nyonya rumah.”

Beberapa orang menoleh. Azalea tetap tenang. Ia merapikan jilbabnya pelan. “Ada yang salah dengan berpakaian rapi?” tanyanya lembut.

Nadia terkekeh. “Kamu lupa diri apa gimana? Wanita mandul sepertimu, ngapain sok jadi ibu di depan umum begini?”

Suasana di sekitar mendadak hening. Elora memeluk kaki Azalea, dia merasa bingung ketika semua orang melihat ke arahnya.

Azalea menatap Nadia dengan sorot mata tenang, tidak marah juga tidak gemetar.

“Terima kasih sudah mengingatkan,” ucap Azalea pelan tapi jelas. “Aku memang tidak melahirkan Erza.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum tipis, “Tapi aku merawat, mendidik, dan mendoakannya setiap hari. Dan bagiku, menjadi ibu bukan soal rahim, tapi soal tanggung jawab.”

Beberapa ibu mengangguk setuju. Wajah Nadia berubah mengeras dan senyumnya hilang.

Azalea menunduk sedikit, menatap anak Nadia. “Semoga anakmu juga menang hari ini.”

Lalu, Azalea berbalik tanpa menunggu jawaban. Tidak lupa Elora berjalan di sampingnya dengan langkah buru-buru seakan ingin menjauh dari kerumunan itu.

Nadia tercekat. Dia sudah dibuat malu di hadapan banyak pasang mata.

Lomba dimulai. Anak-anak duduk rapi di meja kecil mereka. Erza memegang krayon dengan percaya diri. Azalea berdiri di belakang garis pembatas, merekam dengan ponselnya.

“Bismillah,” bisik Erza sebelum mulai mewarnai.

Azalea menahan napas, dadanya hangat melihat putranya begitu fokus. “Daddy pasti bangga,” gumamnya sambil terus merekam.

Waktu berlalu. Waktu pengumuman pun tiba.

“Juara pertama lomba mewarnai … Erza Adrian Kaiser!”

Erza terpaku sejenak. Lalu matanya membulat. “Aku juara satu?” tanyanya tak percaya.

Sorak-sorai terdengar. Azalea menutup mulutnya, air mata haru menggenang.

Erza naik ke panggung kecil, menerima piala dan piagam. Tangannya gemetar, tetapi senyumnya begitu lebar.

Begitu turun dari panggung, dia mencari Azalea di antara kerumunan. “Mommy!” teriaknya.

Azalea mengangguk sambil tersenyum, mengangkat ponsel lebih tinggi. “Daddy lihat ini nanti,” bisiknya.

Sore harinya, Enzo membuka pesan di ponselnya saat jeda rapat. Sebuah video masuk dari Azalea. Ia menekan putar. Tampak Erza berdiri di panggung, memegang piala dengan bangga.

“Daddy ....” Suara Erza di video terdengar jelas. “Aku juara satu.”

Enzo menelan ludah. Dadanya sesak dan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar menyesal tidak berada di sana. Dia juga baru menyadari, anak yang dulu sering ia abaikan kini tumbuh menjadi anak yang kuat. Dan itu karena Azalea.

Enzo menutup ponselnya, menarik napas panjang. “Aku bangga padamu, Kak,” gumamnya lirih.

Sementara di rumah, Erza memeluk piala kecilnya sambil tersenyum bahagia. Dia menyimpan satu kebanggaan yang akan ia ingat seumur hidup.

1
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
Yulay Yuli
udh lebaran Duluan y
Nar Sih
semoga habis lebaran ini enzo dan lea bisa seperti psngn suami istri separti org lain agar erza juga elora cpt punya adik lgi
Dewie
👍
Sun Rise
bgus
Kar Genjreng
Gengsi mamak masih meninggi kapan tu kira kira akan runtuh menjadi manusia
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!