Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30- Tetap di Sini
Pukul enam sore. Jakarta sedang berada di puncak kegilaannya, klakson bersahutan, asap knalpot mengepul, dan orang-orang berwajah lelah berdesakan di trotoar. Namun, di dalam toko buku, suasana justru terasa sunyi sekaligus mencekik. Aksa berdiri di depan pintu kaca, memperhatikan Alea yang sedang duduk mematung di kursi sudut, menatap deretan rak buku tanpa benar-benar melihatnya.
Dinda, yang sedang bersiap pulang, menghampiri Aksa dengan langkah pelan, wajahnya penuh kecemasan.
“Pak,” bisik Dinda. "Alea...dia benar-benar nggak mau bicara hari ini. Nasi bungkus yang saya belikan tadi siang masih utuh di meja belakang. Dia bilang mual tiap kali lihat makanan. Saya sudah bujuk, tapi dia malah makin diam.”
Aksa mengangguk singkat, rahangnya mengeras menahan emosi yang tidak bisa dia definisikan. “Makasih, Din. Kamu pulang saja. Biar aku yang urus dia.”
Aksa melangkah mendekati Alea. Bunyi sepatunya di lantai kayu biasanya akan memancing Alea untuk mendongak dan memberikan sindiran tajam tentang kehadirannya yang selalu tepat waktu, tapi kali ini perempuan itu tetap tak bergeming.
“Alea. Sudah jam enam. Ayo pulang,” ucap Aksa dengan nada rendah namun tegas.
Alea tidak bergerak sedikit pun. Matanya tetap tertuju pada jalanan di luar sana. “Aku mau di sini dulu sebentar. Kamu pulang saja duluan, Aksa. Nggak usah nunggu.”
“Toko harus tutup, Al. Dinda sudah mau pulang dan dia butuh kunci. Kamu nggak bisa sendirian di sini dengan kondisi perut kosong dan mata kayak gitu,” sahut Aksa. Ia menarik kursi di depan Alea, memaksa perempuan itu untuk memperhatikannya. “Ayo, berdiri.”
Alea akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena baru menangis, tapi karena kelelahan batin yang luar biasa. “Kenapa sih kamu nggak bisa biarin aku sendiri aja, Sa? Aku cuma mau napas sebentar tanpa harus ada orang yang tanya aku kenapa, atau tanya aku sudah makan apa belum. Bisa nggak?”
“Masalahnya, kamu bukan cuma mau napas, Al. Kamu lagi berusaha buat menghilang pelan-pelan,” balas Aksa telak. “Ayo, berdiri. Aku nggak mau dengar bantahan lagi atau kita bakal debat di sini sampai pagi.”
Alea mendengus, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan. Ia akhirnya berdiri, meraih tas kanvasnya dengan gerakan lambat, dan berjalan mendahului Aksa menuju mobil. Begitu pintu mobil tertutup rapat dan kedap dari bisingnya jalanan, suasana kabin yang mewah itu terasa seperti ruang interogasi bagi Alea.
Aksa menjalankan mobilnya perlahan, membelah kemacetan. “Kita mampir makan dulu. Kamu mau apa? Nasi uduk? Atau sup yang hangat?”
“Aku nggak lapar, Aksa. Berapa kali harus aku bilang?”
“Kamu nggak lapar atau kamu sengaja mau menyiksa dirimu sendiri?” tanya Aksa dengan nada yang mulai tidak sabar.
Alea menoleh tajam, matanya berkilat marah. “Maksud kamu apa? Kamu pikir aku sengaja begini biar dikasihani?”
“Aku nggak bilang gitu. Tapi aku lihat kamu, Al. Kamu sengaja menutup diri dari Dinda, dari aku, bahkan dari makanan. Kamu mau membuktikan apa?”
Alea tertawa sinis, ia menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang empuk yang rasanya sangat tidak pantas ia duduki. “Membuktikan apa? Nggak ada yang perlu dibuktikan, Aksa. Aku cuma sadar posisi saja. Aku ini cuma pelayan toko buku kecil yang hampir bangkrut. Hidupku penuh drama, trauma, dan hal-hal nggak penting lainnya.”
Ia kemudian menatap Aksa lurus-lurus, nadanya mulai meninggi. “Sedangkan kamu? Kamu itu Aksa. Kamu CEO. Kamu punya perusahaan besar, punya ribuan karyawan yang nasibnya di tangan kamu. Kamu punya rapat-rapat penting, urusan triliunan rupiah, dan dunia yang isinya orang-orang hebat. Ngapain sih kamu di sini? Ngapain CEO kayak kamu buang-buang waktu cuma buat ngurusin aku yang bahkan makan saja harus dipaksa?”
Aksa tetap tenang, meski tangannya mencengkeram setir lebih kuat. “Urusan kerjaan itu ada porsinya sendiri, Al. Dan kamu ada di porsi yang berbeda.”
“Porsi apa? Porsi kasihan? Porsi proyek amal kamu?” Suara Alea bergetar. “Dengar ya, Sa. Kamu nggak punya kuasa buat perintah otakku supaya berhenti mikirin hal-hal buruk. Kamu pikir kalau aku makan satu piring nasi, terus tiba-tiba semua trauma ini hilang dan aku jadi normal lagi buat dampingi kamu? Kamu salah besar!”
Aksa mengerem mobilnya di tengah kemacetan yang sedang berhenti total, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Alea. “Aku nggak pernah minta kamu jadi normal, Alea. Aku juga nggak pernah anggap kamu proyek amal. Kamu pikir aku sebodoh itu? Aku ini CEO, seperti yang kamu bilang. Aku tahu mana investasi waktu yang berharga dan mana yang nggak. Dan menurutku, berada di sini, memastikan kamu tetap hidup, itu jauh lebih berharga daripada rapat mana pun malam ini.”
Alea tertegun. Kata-kata Aksa yang lugas dan tetap dingin itu justru menghujam tepat ke ulu hatinya. Air matanya mulai jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat.
“Tapi aku beban, Sa. Aku ini rusak. Harusnya kamu cari perempuan yang bisa kamu ajak ke pesta perusahaan, yang bisa bicara pintar soal bisnis, bukan yang harus kamu antar pulang dalam kondisi kayak mayat hidup begini hanya karena sebuah lagu lama.”
”Aku sudah bilang, aku nggak butuh orang buat dipamerkan di pesta,” balas Aksa, suaranya melembut, kali ini benar-benar tulus. “Aku cuma mau di sini. Mau kamu diam seribu bahasa, mau kamu marah-marah nggak jelas, atau mau kamu menangis sampai pagi pun, aku tetap di sini. Kamu nggak bisa usir aku cuma dengan alasan aku CEO dan kamu bukan. Itu alasan paling konyol yang pernah aku dengar.”
Alea terdiam, hanya suara isak tangisnya yang tertahan mengisi kesunyian di dalam mobil. Benteng pertahanan yang dia bangun seharian ini mulai retak perlahan.
“Sampai kapan?” tanya Alea lirih, nyaris seperti bisikan di tengah isaknya.
“Sampai kamu ingat caranya tersenyum lagi. Dan kalau itu butuh waktu setahun, dua tahun, atau selamanya, aku bakal tetap di sini. Jadi, berhenti suruh aku pergi.”
Mobil kembali bergerak perlahan. Tidak ada lagi perdebatan sengit setelah itu. Hanya ada keheningan yang kali ini terasa sedikit lebih ringan, seperti beban yang mulai dibagi dua. Ketika mobil akhirnya berhenti tepat di depan pagar kost Alea yang kusam, perempuan itu memegang gagang pintu mobil tanpa langsung turun.
“Makasih buat hari ini. Dan maaf... aku sudah bicara kasar tadi,” gumam Alea tanpa menoleh.
“Makan sesuatu di dalam, walau sedikit. Biar besok kamu punya tenaga buat marahin aku lagi,” sahut Aksa, sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak terlihat. “Besok jam enam sore, aku jemput lagi. Jangan telat tutup toko.”
Alea turun dan berjalan masuk ke gerbang kostnya. Aksa tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia tetap di sana, mencengkeram setir, menatap jendela kamar Alea sampai lampunya menyala. Ia menghela napas panjang, ada rasa sesak yang aneh di dadanya melihat bahu Alea yang tampak begitu rapuh.
“Aku nggak tahu kenapa dia bisa sehancur ini,” gumam Aksa pada kegelapan di dalam mobil. “Tapi aku nggak akan jadi orang selanjutnya yang hilang dari hidupnya. Aku tetap di sini, Al. Sampai kamu sadar kalau kamu berharga.”