Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"Ajarkan Nisa order, kenapa?"
Gian berdecak pelan, "Biar aku saja, sekalian aku mau cek kehadiran karyawan di dalam."
"Cek saja silahkan, biar aku yang bayar semuanya Gian." Kata Hari sedikit memaksa.
"Ayo Nisa." Ajak Hari.
Gian hanya bisa terdiam.
Ini semua gara-gara dia mengenalkan dirinya sebagai sepupuku. Tapi mungkin memang pada dasarnya wanita desa mempunyai bakat menggoda, apalagi terhadap orang kota. Cih! Batin Gian.
Hari sedang mengantri untuk memesan, pria itu sangat terlihat sumringah. Padahal sebelumnya ... Gian tidak pernah melihat sahabatnya seceria itu.
Tak butuh waktu lama, Nisa dan juga Hari datang ke tempat dimana mereka duduk, Nisa tak membawa apapun ... Semuanya di ambil alih oleh Hari.
"Ranti bolehkan kita tukar tempat duduk, aku bosan mendengarkan pembahasan bisnismu dengan Gian."
"Ya ya ya ... Silahkan." Ucap Ranti sambil beranjak pindah tempat duduk.
Gian membuang pandangannya ke samping, saat Hari terus berusaha menjelaskan makanan yang telah Nisa pesan.
"Aku jamin, sekali kamu mencoba ini ... Pasti ketagihan!" Ucap Hari, tangannya membantu Nisa memotong Cordon bleu yang ukurannya cukup besar itu.
"Iya ... Kelihatannya memang enak." Satu suapan sudah di kunyah oleh Nisa. "Mmm ... Enak banget Kak." Ucapnya pada Hari.
Hah Kak? Dia panggil Hari ... Kakak?" Batin Gian.
"Kan ... percaya pokoknya sama Kak Hari." Ucap Hari yang sudah mulai akrab dengan Nisa.
Gian merasa sedikit muak dengan kedekatan Hari dan juga Nisa di hadapannya, terlebih lagi Ranti yang sibuk dengan beberapa panggilan di ponselnya. Tanpa berbasa-basi Gian langsung beranjak dari duduknya menuju back office cafe untuk mengecek ketersediaan produk dan pertumbuhan omzet.
Nisa melihat Gian yang berjalan lenggang meninggalkannya dan juga Hari.
Huh ... Aku tak peduli, mau kemana pun kau ... Yang terpenting sekarang aku memiliki teman! Batin Nisa.
...
Menjelang sore, Gian dan Nisa sudah dalam perjalanan pulang.
"Gatal betul, butuh salep gak kira-kira?" Ucap Gian membuka pembicaraan.
Nisa memandang kedua tangannya dan melihat sekitar kulitnya, dia juga meraba leher dan juga wajah, tidak teraba ada bentol atau penyakit kulit lainnya. "Apa yang kamu bicarakan? Maksudmu aku yang gatal dan butuh salep? Bagian mana kulitku yang menurutmu ada gangguan?"
"Haha masih pura-pura tidak sadar."
"Gian apa maksudmu?"
"Asal kau tahu, aku lebih tua 2 tahun di banding Hari."
"Oh ya? Lalu aku harus apa?"
Sial, perempuan ini sama sekali tidak peka.
"Menurutmu?!"
"Apa? Bicara langsung saja ... Tidak usah menggunakan pribahasa atau kata-kata sarkas." Ujar Nisa dengan emosi.
Sial!
"Oke! Tadi aku mendengar kau memanggil Hari dengan sebutan Kakak, lalu mengapa kau tidak melakukan hal yang sama? Padahal aku lebih tua 2 tahun daripada Hari ... Tapi kau sama sekali tidak menghormatiku!"
Nisa langsung membetulkan posisi duduknya jadi menghadap ke arah Gian. "Menghormatimu? ... Apa kau menghormatiku juga?"
"Aku ini pria ... Aku pantas di hormati, karena akulah donatur dalam pernikahan ini."
"Yang harus kamu tau Gian, bagiku ... Orang yang harus di hormati adalah bukan sekedar orang yang mempunyai uang, atau orang yang lebih tua sekalipun. Tapi bagaimana cara dia menghormati sesama. Jika kamu melakukan itu ... Aku akan menghormatimu lebih dari siapapun."
"Aku tidak butuh, aku cuma ingin kau bersikap tidak seenaknya seperti tadi, aku tak suka?"
"Seenaknya yang mana? Aku hanya mengikuti apa yang temanmu inginkan. Akupun tidak mengumbar status pernikahan kita pada semua temanmu, tak sukanya bagian mana?"
Gian mengepalkan tangannya kuat, tak mungkin dia berkata tidak suka ketika Nisa berdekatan dengan Hari. Bisa-bisa Gian akan di anggap sudah mencintai Nisa.
"Sudahlah tidak usah di bahas, buang-buang energi ku saja." Ucap Gian mengakhiri.
Nisa yang mendengar itu langsung diam, dan memilih untuk mengimbangi apa yang Gian lakukan padanya.
Orang aneh! Padahal dia yang memulai. Batin Nisa.
***
Pagi hari.
Gian sudah terjaga dari tidur nyenyak ya semalam, dia bermain ponsel sambil sesekali melihat ke arah Nisa yang sedang menyisir rambutnya, pagi ini Nisa menggunakan baju pemberian dari Lulu, mertuanya itu banyak memberikan model baju dan juga aksesorisnya.
Nisa terlihat seperti anak kuliahan jika berdandan seperti ini, celana pendek selutut dengan atasan kemeja crop, dia juga menyisir rambut panjangnya dan menggunakan bando polos berwarna senada dengan bajunya.
Sia-sia sekali aku menikahi dia tapi tidak bisa menggunakan hak ku untuk memerintah nya ini itu ... Batin Gian.
"Siapkan baju kerjaku, kemeja putih dengan jeans coklat."
Nisa melirik sedikit ke arah Gian dengan tatapan penuh tanya. Ada angin apa dia berbicara dan memerintahku seperti itu?
"Ya." Sahut Nisa.
Gian menyunggingkan senyumnya sedikit, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu. "Jangan lupa, bereskan tempat tidur."
"Memang selalu aku bereskan!" Sahut Nisa.
"Jaga nada bicaramu Nisa! Aku suamimu!" Kata Gian dengan wajah datar tapi penuh dengan penekanan.
Apa-apaan sih dia? Kenapa sekarang bersikap seperti seorang suami pada umumnya?
Nisa tak menyahuti, dia langsung pergi menuju lemari untuk menyiapkan baju yang Gian minta.
Setelah selesai menyiapkan baju set untuk di pakai Gian bekerja, Nisa terburu menaiki kasur dan membereskannya, Mengingat sudah siang dia belum juga keluar kamar.
Aku belum membantu Ibu menyiapkan sarapan.
Baru Nisa akan melangkahkan kakinya keluar kamar, tapi Gian yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghentikannya.
"Nisa! Jangan pergi sebelum aku bersiap." Titah Gian dengan suara kencangnya
Ish apa sih maunya?!
"Tapi Ibu ... "
"Ibu pasti maklum."
Nisa menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan ke arah tempat tidur, dia kesal karena tidak di izinkan untuk membantu mertuanya.
"Untuk apa aku berdiam diri disini!" Ocehnya sambil melihat Gian bersiap, wanita itu terduduk sambil memandangi Gian bersiap.
"Jangan terlalu banyak protes, hidupmu sudah enak disini ... Kau hanya tinggal mengikuti semua perintahku untuk membalasnya."
Beda tipis dengan pembantu !
"Jika boleh aku ingin pulang ke desa, aku juga tak ingin disini!"
"Jangan banyak bicara ... Selama masih ada ikatan pernikahan, kau harus mengikuti semua apa yang aku katakan." Ujar Gian sambil tangannya sibuk menggunakan gel untuk menata rambutnya.
Nisa mendelikan matanya sebal, tangannya mencengkram kuat sprei tempat tidur, kali ini dia tak menjawab apapun lagi, karena semua yang di katakan Gian benar adanya, bahwa seorang istri harus patuh terhadap suami.
Sebenarnya pria ini tidak termasuk dalam kategori suami yang harus di patuhi istrinya!
Gian melihat Nisa dari cermin, terlihat Nisa dengan raut wajah kesalnya dengan bibir yang di majukan.
"Aku yakin sekali, kau pasti sedang mengataiku di dalam hatimu? Iya kan?" Ucap Gian dengan percaya diri.