Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Keluarga Malendra.
Julian tersentak, rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol di sekitar leher. "Siapa? Siapa nama bajing*an itu?!" tanyanya sembari mencengkram bahu anak buahnya.
Lelaki itu menggelengkan kepala. "Ma-maaf, Tuan. Saya tidak ta-aaragh!" Dia memekik kesakitan saat tubuhnya di hempaskan dengan kuat oleh Julian.
Julian mengepalkan kedua tangannya penuh kemarahan, dia lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Rangga—memberitahu apa yang sudah terjadi pada anak buahnya sekaligus markasnya.
"Halo, Rangga," ucap Julian saat panggilannya sudah dijawab.
"Kenapa kau belum bisa juga menemukan Rania, hah?" teriak Rangga membuat Julian spontan menjauhkan ponsel dari telinga. "Kalau sampai hari ini kau tidak menemukannya, maka aku yang akan menghancurkanmu!" ancamnya dari seberang telepon.
Julian berdecak. "Tutup mulutmu, Rangga!" bentaknya gantian. "Laki-laki yang bersama istrimu itu telah menghancurkan markasku, menghajar anak buahku!"
"Apa?" Rangga memekik kaget. "Ka-kau, kau bilang apa?" tanyanya dengan tidak percaya.
Julian mengumpat kesal, kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi, dia lalu menyuruh Rangga untuk datang ke rumahnya. Mereka harus bertemu secara langsung untuk membicarakan tentang hal ini.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Rangga sebelum mematikan panggilannya.
"Sh*it!" umpat Julian dengan kesal. Sebenarnya siapa yang berani mengusiknya seperti ini? Dia benar-benar merasa sangat marah dan penasaran.
Julian kemudian pergi dari tempat itu menuju rumahnya karena akan bertemu dengan Rangga. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini dan membalas dendam dengan bajing*an yang telah mengusik hidupnya.
Tidak berselang lama, sampailah Julian di tempat tujuan. Dia bergegas turun dan melihat mobil Rangga sudah terparkir di sana, laki-laki itu juga keluar dari mobil setelah melihat kedatangannya.
"Sebenarnya siapa laki-laki itu, Julian?" tanya Rangga dengan tajam.
Julian menghela napas kasar. "Aku juga tidak tau, tapi sepertinya dia sama sepertiku." jawabnya kesal. Dia memperhatikan para anak buahnya yang terluka, jelas mereka habis bertarung dengan seseorang yang sejenis dengan mereka—sama-sama bekerja di dunia gelap.
Rangga menggertakkan gigi, merasa benar-benar terbakar emosi. Apalagi saat mengingat jika Rania bersama dengan laki-laki itu, sungguh membuatnya sangat murka. Sebenarnya dari mana Rania bisa mengenal laki-laki seperti itu?
"S*ialan!" umpat Rangga dengan penuh amarah. "Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mencari mereka?" tanyanya frustasi.
"Aku akan melacak plat nomor mobil laki-laki itu, setelahnya baru kita tau dia siapa."
Rangga menganggukkan kepala saat mendengar ucapan Julian. "Kau harus melecaknya sekarang juga dan segera hubungi aku, aku harus bertemu dengan Vidi." perintahnya.
"Vidi?" Julian mengernyitkan kening. "Kau ingin meminta bantuan polisi?"
Rangga menggelengkan kepala, akan sangat rumit jika berurusan dengan polisi, dia juga jadi tidak bisa berbuat sesuka hati. "Rania melaporkanku pada polisi, jadi aku harus menyuruh Vidi untuk menolak laporannya."
Julian mengangguk-anggukkan kepala walau merasa sedikit terkejut, tidak disangka jika wanita kalem seperti Rania akan melakukan hal seperti itu, bahkan sampai sekarang dia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaannya.
Rangga kemudian bergegas pergi dari tempat itu menuju tempat tinggal Vidi, salah satu petugas kepolisian yang selama ini dekat dengan keluarganya, sekaligus menjadi tangan kanan sang papa untuk mengurus banyak hal yang bertentangan dengan hukum.
"Sebenarnya kau ada di mana, Rania?!" ucap Rangga seraya memukul-mukul setir mobilnya dengan kuat. "Lalu siapa laki-laki yang bersamamu? Apa sejak dulu kau sudah punya hubungan dengan dia?" sambungnya kesal.
Sepanjang perjalanan Rangga terus mengumpat kesal, melampiaskan seluruh amarahnya atas semua masalah yang telah terjadi. Sampai akhirnya mobil itu tiba di kediaman Vidi, terlihat mobil ayahnya juga sudah parkir di sana.
"Apa maksudmu, Vidi?"
Langkah Rangga terhenti di depan pintu yang sedang terbuka saat mendengar teriakan ayahnya, dia bergegas masuk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Aku sudah berusaha untuk menurunkan laporan itu, tapi atasanku malah turun tangan langsung," ucap Vidi. "Wanita itu bahkan menyewa pengacara terkenal, Andre Fahlevi. Dia punya koneksi yang sangat kuat, kita tidak bisa melawannya." sambungnya seraya menghela napas lelah.
"Apa?"
Vidi dan Beni terlonjak kaget saat mendengar teriakan seseorang, sontak mereka melihat ke arah pintu di mana Rangga berada.
"Kau bilang apa?" tanya Rangga kembali dengan tajam.
Vidi mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah berusaha untuk menurunkan laporan yang dibuat oleh Rania, kemudian menolaknya dengan alasan jika laporan itu tidak akurat. Namun, sebelum dia melakukan itu, atasannya turun tangan langsung untuk segera menyelesaikan laporan Rania. Dia sempat bertanya, lalu atasannya berkata untuk tidak ikut campur, lalu mengatakan jika kasus itu ditangani oleh pengacara terkenal yang punya koneksi dengan keluarga Malendra.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tidak ada harapan," ucap Vidi.
Rangga langsung mendekati Vidi dan mencengkram kerah kemeja laki-laki itu membuat Vidi memekik kaget, begitu juga dengan Beni. "Apa maksudmu tidak ada harapan, hah?" bentaknya sembari menghentakkan tubuh Vidi dengan kasar.
"A-aku mengatakan yang sebenarnya, ada orang berkuasa di belakang istrimu," ujarnya dengan tergagap. "Kasusnya di tangani oleh Andre, katanya dia menjadi pengacara pribadi di keluarga Malendra." sambungnya seraya berusaha untuk melepaskan cengkraman Rangga.
"Keluarga Malendra?" Rangga terkesiap, hingga cengkraman tangannya terlepas. "Kenapa pengacara keluarga itu bisa menjadi pengacara Rania?" tanyanya dengan tidak mengerti.
Vidi memegangi dadanya yang terasa sesak, lalu dia menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Rangga, sementara Beni yang sejak tadi diam memperhatikan juga tampak tidak mengerti kenapa Rania bisa berhubungan dengan pengacara Andre.
"Apa Rania mengenal keluarga Malendra?" tanya Beni.
Rangga melihat ke arah ayahnya. "Tidak, dia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan orang lain tanpa sepengetahuanku."
"Lalu kenapa pengacara keluarga itu bisa sampai menangani laporan Rania, hah?" bentak Beni dengan kesal, apalagi yang memulai masalah ini adalah putranya sendiri.
Rangga terdiam, mencoba untuk berpikir. Sampai akhirnya ponselnya bergetar dan dia segera menjawab panggilan dari Julian.
"Aku sudah menemukannya, Rangga," ucap Julian di seberang telepon membuat Rangga langsung menyuruhnya untuk memberitahu.
"Pemilik mobil itu adalah Damian Alexander, dia asisten pribadi Kenzo Malendra, putra kedua Arsenio Malendra.
"Apa?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda