Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Malam Pertama
Rumah sudah sunyi.
Lampu ruang tengah dimatikan satu per satu. Hanya cahaya temaram dari dapur yang tersisa, seperti sengaja memberi ruang pada hari yang baru saja mereka lewati.
Anak-anak tidur lebih cepat malam itu.
Bukan karena lelah saja.
Tapi karena hati mereka… lebih tenang.
Aruna berdiri di depan jendela kamar. Gaun putih sederhana tadi sudah ia ganti dengan pakaian rumah yang lembut. Rambutnya terurai, sedikit berantakan oleh angin malam yang masuk dari celah jendela.
Ia memeluk lengannya sendiri.
Bukan dingin.
Gugup.
Pintu kamar terbuka pelan.
Arka masuk tanpa suara berlebihan. Ia tidak langsung mendekat. Hanya berdiri beberapa langkah di belakang Aruna.
Seperti memberi waktu.
“Kamu belum tidur?” suaranya rendah.
Aruna menggeleng pelan. “Masih terasa… aneh.”
Arka mendekat satu langkah. “Aneh yang buruk?”
Aruna tersenyum tipis tanpa menoleh. “Aneh yang nyata.”
Sunyi sebentar.
Arka berdiri di sampingnya, ikut melihat ke luar jendela. Kota kecil itu tenang, lampu-lampu rumah redup seperti napas panjang setelah hari yang penuh.
“Kita menikah tanpa keramaian,” kata Aruna pelan.
“Tapi tidak tanpa arti,” jawab Arka.
Aruna akhirnya menoleh.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada jarak yang canggung, tapi ada sesuatu yang baru… sesuatu yang belum pernah mereka hadapi sebagai pasangan yang benar-benar memilih satu sama lain.
Arka mengangkat tangan pelan, menyentuh ujung rambut Aruna yang jatuh di bahunya.
Gerakannya hati-hati. Seolah masih memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.
“Kamu masih tegang,” katanya pelan.
Aruna menghembuskan napas kecil. “Banyak hal berubah dalam waktu singkat.”
Arka mengangguk. “Kita tidak perlu terburu-buru mengejar perasaan.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat bahu Aruna sedikit turun.
Ia tidak ditarik. Tidak didorong. Tidak dituntut.
Hanya ditemani.
Aruna menatap Arka lebih lama. “Dulu semuanya terjadi terlalu cepat.”
Arka tidak menyangkal. “Sekarang kita pelan.”
Ia menggenggam tangan Aruna. Hangat. Stabil.
Tidak ada desakan. Hanya kepastian.
Aruna tidak menarik tangannya.
Mereka duduk di tepi ranjang, berdampingan. Tidak bicara beberapa saat. Hanya mendengar suara malam yang tipis dari luar.
“Aku takut kehilangan ketenangan ini,” bisik Aruna.
Arka menoleh. “Ketenangan tidak hilang karena dunia ribut. Hilang kalau kita saling menjauh.”
Aruna menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
“Kalau suatu hari aku ragu…” Ia berhenti sebentar. “Jangan pergi duluan.”
Arka menjawab tanpa jeda, “Aku di sini bukan untuk datang dan pergi.”
Sunyi kembali turun.
Arka mengangkat tangan Aruna ke bibirnya, mencium punggung tangannya pelan. Gestur sederhana. Tapi cukup untuk membuat Aruna menutup mata sejenak.
Tidak ada kata-kata besar malam itu.
Hanya kedekatan yang tumbuh tanpa paksaan.
Aruna bersandar pelan ke bahu Arka. Pria itu tidak bergerak. Hanya menyesuaikan posisi agar Aruna lebih nyaman.
“Terasa berbeda,” bisik Aruna.
“Karena sekarang kita memilih,” jawab Arka.
Malam berjalan lambat.
Lampu kamar akhirnya dimatikan. Kegelapan tidak terasa asing. Ada napas yang selaras. Ada kehangatan yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Bukan malam yang penuh gejolak.
Bukan pula malam yang dingin.
Hanya dua orang yang akhirnya berhenti berlari dari masa lalu… dan mulai membangun kedekatan tanpa rasa takut.
—
Di kamar sebelah, Arsha terbangun sebentar.
Ia berjalan keluar dengan langkah kecil, mengintip pintu kamar Aruna yang tertutup.
Lampu sudah mati.
Ia kembali ke kamar, memeluk bantalnya.
“Papa masih di sini,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidur tanpa gelisah.
—
Pagi belum datang, tapi rumah itu sudah terasa berbeda.
Bukan karena status.
Bukan karena dunia luar.
Tapi karena hubungan yang dulu lahir dari kekacauan… kini tumbuh dari pilihan sadar.
Malam pertama mereka tidak menjadi akhir dari sesuatu.
Justru awal dari kebiasaan baru:
Hidup berdampingan tanpa jarak.
—
Beberapa saat setelah lampu dimatikan, Aruna belum benar-benar tidur.
Ia bisa merasakan ritme napas Arka di sampingnya. Stabil. Tenang. Tidak terburu-buru seperti malam lima tahun lalu yang masih sesekali muncul di ingatannya.
Dulu semuanya seperti badai.
Sekarang… seperti air yang mengalir pelan.
Aruna membuka mata dalam gelap.
“Apa kamu juga belum tidur?” bisiknya pelan.
Arka menjawab tanpa mengubah posisi, “Masih menyesuaikan.”
“Dengan apa?”
“Dengan kenyataan kalau kamu benar-benar di sini.”
Aruna tersenyum tipis di kegelapan. “Kalimat kamu kadang terlalu jujur.”
Arka menghela napas kecil. “Kalau tidak jujur sekarang… kapan lagi?”
Aruna memutar badan sedikit menghadapnya. Jarak mereka dekat, tapi tidak menyesakkan. Ada ruang untuk bernapas, ada ruang untuk merasa aman.
“Aku masih belajar percaya,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
Tidak ada penjelasan panjang dari Arka. Tidak ada janji berlebihan. Hanya pengakuan bahwa proses itu ada.
Aruna mengangkat tangannya, menyentuh lengan Arka pelan. Sentuhan sederhana, tapi kali ini bukan karena keadaan memaksa.
Karena pilihan.
“Aneh ya,” bisik Aruna. “Kita pernah jadi orang asing yang terjebak. Sekarang jadi pasangan yang memilih.”
Arka menoleh sedikit ke arahnya. “Dulu kita tidak punya kendali. Sekarang kita punya.”
Sunyi kembali turun, tapi bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang terasa penuh.
Beberapa menit berlalu.
Arka akhirnya berkata pelan, “Terima kasih sudah tidak menutup pintu untukku selamanya.”
Aruna menatap bayangan wajahnya dalam gelap. “Aku tidak membuka pintu untukmu…” Ia berhenti sebentar. “Aku membuka pintu untuk hidup yang tidak lagi sendirian.”
Kalimat itu membuat Arka tidak langsung menjawab.
Ia hanya menarik Aruna lebih dekat secara alami. Tidak memaksa. Tidak cepat. Gerakan yang terasa seperti refleks perlindungan.
Aruna tidak menolak.
Kepalanya bersandar di dada Arka. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu. Kuat. Stabil.
Aneh… tapi menenangkan.
“Aku selalu takut malam,” bisik Aruna.
Arka mengusap rambutnya pelan. “Sekarang?”
Aruna menutup mata. “Sekarang tidak terlalu.”
—
Beberapa jam kemudian, hujan turun tipis lagi di luar. Suara rintiknya lembut, seperti lapisan tambahan yang melindungi rumah kecil itu dari dunia luar.
Arka belum benar-benar tertidur. Ia menatap langit-langit gelap, pikirannya tidak lagi dipenuhi strategi bisnis atau tekanan publik.
Yang ada hanya satu kesadaran sederhana:
Ia tidak sendirian lagi.
Ia menoleh pelan.
Aruna tidur dengan napas tenang. Wajahnya jauh lebih lembut daripada saat siang hari ketika ia selalu tampak kuat.
Arka mengangkat tangannya ragu-ragu… lalu menyentuh punggung tangan Aruna dengan ujung jari.
Seperti memastikan.
Nyata.
Ia tidak pernah membayangkan malam pertamanya sebagai suami akan setenang ini. Tidak dramatis. Tidak penuh gairah yang membakar.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa penting.
Bukan tentang hasrat.
Tentang kepercayaan yang pelan-pelan kembali tumbuh.
—
Menjelang subuh, Aruna terbangun sebentar. Ia tidak langsung membuka mata. Ia sadar posisinya masih sama—bersandar pada Arka.
Tidak ada jarak.
Tidak ada kekakuan.
Ia menghela napas pelan dan berbisik hampir tak terdengar, “Kita benar-benar mulai dari awal, ya…”
Arka yang ternyata belum tidur menjawab lirih, “Bukan dari nol. Dari tempat yang lebih jujur.”
Aruna membuka mata sedikit. “Kamu tidak menyesal?”
Arka tidak butuh waktu berpikir. “Tidak.”
“Meski hidupmu berubah total?”
“Karena hidupku berubah… aku justru tahu apa yang penting.”
Aruna tidak menjawab lagi.
Ia hanya menutup mata dan membiarkan dirinya kembali tertidur.
—
Pagi belum datang, tapi sesuatu dalam hubungan mereka sudah bergeser.
Bukan lagi dua orang yang terikat oleh masa lalu.
Bukan lagi dua orang yang ragu melangkah.
Malam itu tidak meninggalkan jejak luka.
Ia meninggalkan rasa tenang yang sederhana…
Dan awal kebiasaan baru:
Bangun dengan keyakinan bahwa seseorang memilih untuk tetap tinggal.