Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBERANIAN CALISTA
Keesokan paginya, lonceng istana berbunyi tiga kali, pertanda sidang dewan akan di mulai.
"Sesuai prediksi ku, wanita itu langsung bergerak pagi ini," batin Yura, tersenyum miring.
Tidak ada rasa takut di wajah Yura, justru dia merasa tidak sabar, untuk datang dan memeriahkan drama yang di buat oleh, mantan ibu suri itu.
Dua pengawal istana datang untuk menjemput Yura, mereka membawa rantai perak, sebuah simbol untuk mereka yang dituduh melakukan sihir.
"Nona Calista, Anda diminta hadir di Aula Agung," ucap salah satu pengawal dengan wajah kaku.
Yura bangkit dari ranjangnya, dengan santai dia memakai pakaian yang paling sederhana, membiarkan wajahnya terlihat pucat tanpa riasan, namun matanya tetap setajam elang.
Sebelum pergi, Yura mencium kening Lorenzo yang sedang dijaga oleh dua pelayan kepercayaan Jayden.
"Tunggu aku, Kecil. Aku akan kembali sebelum waktu makan siangmu," bisik Yura.
"Kalian berdua jaga Pangeran! Kalau terjadi apa-apa segera beritahu aku," ucap Yura, melirik dua pelayan itu, dengan tatapan dingin nya.
"B-baik," jawab mereka berdua, takut.
"Silahkan Nona," ucap pengawal tadi, mengikat kedua tangan Yura, dengan rantai besi.
Yura hanya menatap dingin ke arah rantai besi yang mengikat tang nya, dan tanpa sepatah kata pun, Yura langsung berjalan keluar, dari kamar nya.
Saat Yura melangkah keluar dari paviliun, dia melihat Jayden berdiri di kejauhan, mengenakan zirah lengkapnya.
Mereka berdua tidak saling bicara, hanya saling bertukar pandang, dengan tatapan mata yang sama-sama tajam.
Jayden memberikan anggukan tipis, sebuah isyarat yang berarti. Jangan buat aku menyesali ini.
Yura berjalan dengan kepala tegak, meskipun rantai di tangannya bergemerincing, di dalam kepalanya, dia sudah menyusun setiap kata dan serangan yang akan dia lancarkan, nanti.
Kali ini tidak akan Yura biarkan wanita tua itu menang dan berbesar kepala.
"Mari kita lihat, siapa yang sebenarnya akan dibakar hari ini," batin Yura saat pintu Aula Agung terbuka di hadapannya.
KREIT....
Pintu aula terbuka lebar, di sana sudah hadir semua anggota dewan dan para petinggi istana kerajaan Florist.
Aula Agung Kerajaan Florist tampak begitu megah namun menekan.
Langit-langitnya yang tinggi dihiasi lukisan dewa-dewi, namun di bawahnya, suasana terasa sangat dingin dan mencekam, para tetua kuil duduk berderet, wajah mereka tampak menghakimi.
Di kursi kehormatan paling tinggi, meski terhalang tirai tipis, sosok Mantan Ibu Suri Isabella duduk dengan anggun.
Walaupun secara resmi dia sedang dalam pengasingan, pengaruhnya masih terasa kuat di ruangan ini.
Tak
Tak
Tak
Yura melangkah masuk dengan tangan dirantai perak.
Suara gemerincing logam itu memecah kesunyian, dia tidak menunduk, apalagi menangis, justru sebaliknya, Yura menatap setiap wajah menteri itu seolah-olah sedang memeriksa daftar belanjaan.
"Calista, Ibu Susu Pangeran Mahkota," suara Menteri Hukum, Baron Harry, menggelegar.
"Kau dituduh menggunakan sihir terlarang untuk membantai lima pengawal istana, serta menunjukkan perilaku yang tidak stabil yang membahayakan nyawa pewaris tahta. Apa pembelaanmu?" tanya Menteri Hukum, melihat Calista dengan sinis.
Mulai sekarang, kita panggil Yura. Calista!
Calista berhenti di tengah ruangan, dia tidak langsung menjawab, wajah nya tidak menunjukkan ketegangan sedikit pun.
Mata tajam Calista, menyapu keseluruhan ruangan, hingga tatapan nya jatuh pada Jayden yang duduk di kursi Panglima, tampak tenang namun tangannya mencengkeram erat sandaran kursi.
"Sihir terlarang?" ucap Yura mengulang kalimat itu dengan nada remeh.
"Baron Harry, apakah membela diri dari pembunuh yang masuk ke kamar bayi sekarang disebut sihir? Jika iya, maka seluruh pasukan Grand Duke Jayden seharusnya dibakar karena mereka jauh lebih ahli membunuh daripada aku," tanya Calista tersenyum sinis, tanpa memperdulikan status sosial mereka yang ada di ruangan itu.
"Jangan memutarbalikkan fakta!" bentak Baron Harry.
"Seorang pelayan desa tidak mungkin memiliki kemampuan bertarung seperti itu tanpa bantuan iblis!" bentak Baron Harry lagi, dengan urat-urat leher yang keluar semua.
Bukan nya takut dengan tuduhan dan berantakan itu, justru yang ada Calista terkekeh, suara tawanya yang dingin membuat beberapa menteri gelisah.
"Iblis tidak membantuku, Baron. Ketakutan lah yang membantuku," ucap Calista sambil berjalan perlahan, ke arah meja barang bukti, di mana tusuk konde peraknya diletakkan di atas kain beludru.
"Kalian menyebut ini sihir?" tanya Calista mengambil tusuk konde itu dengan gerakan cepat meskipun tangannya dirantai.
Para pengawal langsung menghunuskan pedang, namun Calista hanya tersenyum sinis.
"Ini bukan sihir, ini adalah anatomi, jika aku menusuk saraf di bawah telinga, kau lumpuh, jika aku menghujam titik di balik tengkuk, kau mati. Apakah pengetahuan tentang titik lemah manusia sekarang dianggap dosa di kerajaan ini? Jika iya, mungkin Tabib Istana kalian juga harus dirantai bersama denganku," ucap Calista dengan suara lantang, dengan dagu terangkat.
"Cukup omong kosong ini!" suara tajam Isabella terdengar dari balik tirai.
"Kau juga dituduh menghina protokol istana dan mencoba memfitnah keluarga kerajaan dengan menuduh adanya racun dalam makananmu. Kau mencoba mengadu domba Grand Duke dengan ibunya sendiri!" ucap Isabella, terdengar mengeram marah.
"Ah, Yang Mulia Ibu Suri yang terhormat, maaf Saya lupa, maksud Saya Mantan Ibu Suri yang sedang di asingkan, Saya tidak perlu memfitnah untuk membuat orang tahu ada racun," ucap Calista berbalik ke arah tirai.
"KAU! BERANI SEKALI KAU BERBICARA SEPERTI ITU HAH!"
Bentak Isabella, dari balik tirai.
Calista tidak perduli dengan kemarahan wanita tua itu, dia memilih kembali melanjutkan perkataannya.
"Bukti tentang racun itu ada di paviliun saya. Vas bunga yang mati, dan pelayan bernama Ajeng yang sekarang, jika Grand Duke melakukan tugasnya dengan benar, seharusnya sedang bernyanyi di ruang bawah tanah," ucap Calista, melirik Jayden dengan ekor mata nya.
"Ajeng sudah mengakui bahwa dia menerima bubur itu dari dapur pribadi kediaman Ibu, Namun, dia mengklaim tidak tahu ada racun di dalamnya," ucap Jayden membenarkan ucapan Yura, menarik perhatian semua orang.
"Apa jadi benar ada yang ingin meracuni ibu Susu Pengeran Mahkota," bisik para anggota dewan dan juga Mentri istana.
Suasana Aula menjadi gaduh, para menteri saling berbisik, sementara Baron Harry, tangannya terkepal kuat dengan tubuh sedikit bergetar.
"Itu fitnah! Pelayan itu pasti disiksa untuk bicara!" teriak Baron Harry, dengan wajah memerah padam.
"Baron, kenapa Anda begitu bersemangat membela pengirim racun? Apakah karena putra Anda yang baru saja diangkat menjadi pengawas gudang gandum adalah hasil kebaikan hati Isabella?" tanya Calista, dengan suara yang tiba-tiba sangat rendah dan berbahaya
Mendengar pertanyaan dari Callista, seketika wajah Baron Harry langsung pucat pasi.
Itu adalah rahasia dapur politik yang seharusnya tidak diketahui oleh seorang, apalagi wanita rendahan seperti Calista, yang hanya mejadi ibu susu.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.