NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: PELAMPIASAN SANG PREDATOR

Malam yang dingin di luar mansion tidak sebanding dengan hawa kematian yang terpancar dari tubuh Dante Volkov. Ia memacu mobil Lamborghini hitamnya membelah jalanan sepi dengan kecepatan gila. Setiap kali bayangan wajah Alana yang menangis tersedu-sedu muncul di benaknya, ia menginjak pedal gas lebih dalam. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar lehernya menegang seperti kawat baja.

Bagi Dante, tangisan Alana bukan sekadar penolakan fisik, melainkan penghinaan terhadap otoritasnya. Ia adalah pria yang bisa meruntuhkan bursa saham dalam semalam dan melenyapkan musuh tanpa mengedipkan mata, namun malam ini, seorang gadis polos berhasil membuatnya merasa seperti pecundang di ranjangnya sendiri.

Mobil itu berhenti mendadak di depan sebuah bangunan tua yang terlihat seperti pabrik pengolahan daging yang terbengkalai di pinggiran kota. Ini adalah salah satu "ruang bermain" rahasia milik organisasi Volkov—tempat di mana hukum negara tidak berlaku dan jeritan tidak akan pernah terdengar oleh telinga manusia.

Adam, sang tangan kanan yang setia, sudah berdiri di depan pintu besi besar bersama empat orang penjaga bersenjata lengkap. Begitu melihat sorot mata Dante yang gelap dan liar, Adam tahu bahwa malam ini akan ada darah yang tumpah lebih banyak dari biasanya.

"Tuan," sapa Adam sambil membungkuk hormat.

Dante keluar dari mobil, tidak membalas sapaan itu. Ia melepas kancing manset kemejanya yang berlumuran aroma parfum Alana—aroma yang kini membuatnya muak sekaligus haus. "Siapkan siapa pun yang pantas dihukum malam ini," suara Dante terdengar serak, rendah, dan sangat berbahaya. "Aku butuh pelampiasan. Sekarang."

Adam mengangguk cepat. "Ada dua orang pengkhianat dari klan sebelah yang tertangkap mencoba menyabotase pengiriman senjata kita di pelabuhan tadi sore, Tuan. Mereka sudah di dalam, menunggu keputusan Anda."

Dante melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip. Bau amis darah dan karat langsung menyambutnya. Di tengah ruangan, dua pria bertubuh besar sudah terikat di kursi besi dengan wajah yang sudah hancur akibat interogasi awal.

Begitu Dante mendekat, ia mengambil sebuah sarung tinju kulit dari meja kayu di sudut ruangan dan memakainya perlahan. Ia tidak ingin menggunakan senjata api. Ia ingin merasakan setiap hantaman, setiap retakan tulang, dan setiap rintihan kesakitan dengan tangannya sendiri. Ia ingin memindahkan rasa frustrasi dan gåïråh yang terpendam di kamar pengantin tadi ke dalam kepalan tangannya.

"T-tuan Volkov... tolong... kami hanya menjalankan perintah..." salah satu pria itu merintih dengan sisa tenaganya.

Dante tidak menjawab. Ia berdiri tepat di depan pria itu, menatapnya dengan tatapan kosong yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan yang meledak-ledak. Bayangan Alana yang menolaknya, bibir Alana yang membengkak karena ciumannya, dan air mata yang terus mengalir itu berputar-putar di kepalanya.

BUAK!

Satu pukulan mentah mendarat tepat di rahang pria itu, membuat kepalanya terlempar ke samping dan Ðåråh segar menyembur ke lantai. Dante tidak berhenti. Ia menyerang bagaikan binatang buas yang baru saja lepas dari kandang.

BUAK! BRAK! DUAK!

"Kenapa dia menangis?!" Dante berteriak gila di sela-sela pukulannya, seolah-olah ia sedang bertanya pada pria malang di depannya, padahal ia sedang mempertanyakan takdirnya sendiri. "Kenapa dia menganggapku menjijikkan?!"

Setiap pukulan yang dilayangkan Dante adalah bentuk kemarahan atas egonya yang terluka. Ia membayangkan setiap hantaman itu sebagai cara untuk melenyapkan rasa tidak berdaya yang Alana berikan padanya. Para anak buah Dante yang berdiri di pinggiran hanya bisa menahan napas, mereka belum pernah melihat bos mereka mengamuk secara personal seperti ini. Biasanya Dante membunuh dengan efisien dan dingin, tapi malam ini, ia membunuh dengan emosi yang meledak.

Setelah hampir setengah jam melakukan þêñɏïk§ååñ brutal, kedua pria itu sudah tak bernyawa lagi, tubuh mereka hancur di atas lantai marmer yang kini banjir Ðåråh. Dante berdiri terengah-engah, kemeja hitamnya kini basah oleh keringat dan bercak Ðåråh musuhnya. Ia melepas sarung tinjunya dan melemparkannya ke sembarang arah.

Napasnya masih memburu, namun amarahnya sedikit mereda, berganti dengan kekosongan yang dingin. Ia mengambil sebotol bourbon dari meja dan meneguknya langsung dari botol hingga separuhnya habis.

"Bersihkan kekacauan ini," perintah Dante pada Adam tanpa menoleh. "Dan pastikan tidak ada satu pun berita tentang malam ini yang sampai ke mansion."

Dante menyeka Ðåråh di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar menuju udara malam yang segar. Namun, meskipun ia sudah melampiaskan amarahnya secara fisik, ada satu hal yang tidak bisa ia hilangkan: rasa lapar akan gadis yang sekarang mungkin sedang meringkuk ketakutan di ranjangnya.

"Kau pikir kau bisa lari dariku dengan tangisanmu itu, Alana?" bisik Dante pada kegelapan malam. "Semakin kau menolakku, semakin aku ingin menghancurkanmu sampai kau tidak punya pilihan selain memohon padaku."

Ia kembali masuk ke dalam mobilnya, memutar arah menuju mansion. Malam belum berakhir, dan bagi Dante, permainan sesungguhnya dengan sang istri baru saja dimulai.

***

Alana terbangun dengan mata yang masih terasa berat dan bengkak. Sinar matahari yang menembus gorden mewah kamar itu seolah mengejek nasibnya yang malang. Sejujurnya, ia ingin meringkuk di bawah selimut selamanya, bersembunyi dari kenyataan bahwa ia adalah istri dari seorang monster. Namun, ketukan keras di pintu membuyarkan keinginannya.

"Nona Alana, Tuan sudah menunggu di meja makan. Jika Nona tidak segera turun dalam sepuluh menit, Tuan tidak akan segan untuk menjemput Anda sendiri," suara pelayan wanita dari balik pintu terdengar cemas.

Mendengar kata 'menjemput', Alana langsung terduduk tegak. Bayangan Dante yang mengamuk semalam masih segar di ingatannya. Dengan terburu-buru, ia mandi dan mengenakan gaun sederhana, lalu turun ke bawah dengan langkah kaki yang berat.

Sesampainya di ruang makan, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada kemarin. Dante sudah duduk di sana, mengenakan setelan jas hitam formal yang sangat rapi—seolah-olah amukannya yang berdarah semalam tidak pernah terjadi. Ia fokus pada tablet di tangannya, sementara kopi hitam mengepul di sisinya.

Belajar dari kesalahan kemarin, Alana tidak mencoba duduk di ujung meja. Dengan tangan gemetar, ia menarik kursi tepat di sebelah kanan Dante—tempat yang sama dengan kemarin.

Sret...

Suara gesekan kursi itu membuat Dante mengalihkan pandangannya dari tablet. Matanya yang dingin menatap Alana dengan tatapan merendahkan yang menusuk hingga ke tulang.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Dante, suaranya sedingin es di kutub.

Alana menelan ludah, suaranya mencicit gugup. "A-aku... aku mau sarapan, Tuan."

BRAK!

Dante meletakkan tabletnya ke atas meja dengan suara yang cukup nyaring, membuat Alana tersentak kaget. Pria itu mendengus sinis, senyum mengejek tersungging di bibirnya.

"Setelah semalam kau menangis seolah-olah aku akan membunuhmu dan menolak kewajibanmu sebagai istri, sekarang kau masih punya muka untuk duduk di meja makan ini dan makan bersamaku?" Dante condong ke arah Alana, auranya begitu mengintimidasi. "Tidak ada lagi makan bersama. Mulai detik ini, kau akan diperlakukan sama seperti pelayan di mansion ini."

Alana tertegun, namun ia tetap diam mendengarkan.

"Kau tidak akan diberi makan jika seluruh mansion ini belum kau bersihkan sendiri. Kau akan bekerja dari pagi buta hingga malam seperti budak. Apa kau mengerti, Alana George?"

Alih-alih menangis atau memohon, Alana justru mengembuskan napas panjang. Sebuah desahan lega yang sangat tulus keluar dari bibirnya. Baginya, menyikat lantai atau mengelap debu jauh lebih baik daripada harus melayani nafsu pria di sampingnya ini. Menjadi pelayan berarti ia punya alasan untuk tidak berada di kamar yang sama dengan Dante.

Melihat Alana yang justru tampak lega dan tidak merasa terhina sedikit pun, harga diri Dante kembali tercoreng. Ia mengharapkan tangisan memohon, bukan ekspresi syukur.

"Arthur!" teriak Dante murka.

Kepala pelayan tua itu muncul dengan segera. "Iya, Tuan?"

"Bawa wanita ini. Berikan dia seragam pelayan yang kita punya. Pastikan dia tidak mendapatkan perlakuan istimewa," perintah Dante dengan nada penuh kebencian.

"Baik, Tuan," jawab Arthur patuh.

Alana berdiri dengan sigap, wajahnya bahkan terlihat sedikit lebih cerah. "Terima kasih, Tuan. Aku akan segera melaksanakan tugasku," ucap Alana dengan sopan sebelum mengikuti Arthur.

Dante benar-benar kehilangan akal. Ia menggebrak meja makan hingga peralatan makan kristal di sana berdenting keras. Ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan amarah yang meluap-luap. Ia tidak mengerti mengapa gadis ini begitu sulit ditundukkan. Ia ingin menghukumnya, tapi Alana justru menerima hukuman itu dengan senang hati.

Di aula depan, Alana berdiri di hadapan Arthur. "Apa yang harus kuerjakan terlebih dahulu, Arthur?" tanyanya dengan suara lembut yang murni.

Arthur hanya bisa mendesah lelah. Selama puluhan tahun bekerja untuk keluarga Volkov, ia tidak pernah melihat tuannya kehilangan kendali hanya karena seorang wanita. Ia menatap Alana—gadis polos yang baru saja dibuang dari kursi Nyonya menjadi seorang pelayan dalam waktu kurang dari 24 jam.

"Nona... ah, maksud saya Alana," Arthur memperbaiki panggilannya. "Tuan sedang sangat marah. Sebaiknya kau mulai dengan membersihkan perpustakaan di lantai atas. Itu tempat kesayangannya, jadi berhati-hatilah."

Arthur menatap punggung Alana yang berjalan menjauh. Ada setitik harapan di hati pria tua itu; mungkin kepolosan dan ketulusan gadis ini adalah satu-satunya hal yang bisa menjinakkan monster yang bersembunyi di dalam diri Dante Volkov.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
Mia Camelia
dunia gelap dante😂
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!