Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Ngamen Dadakan
Bus kembali membelah kegelapan malam, menyusuri aspal panjang yang seolah tak berujung. Deru mesin yang monoton kembali menghipnotis para penumpang. Satu per satu kepala mulai terkulai, termasuk Gery yang kali ini benar-benar menyerah pada rasa kantuknya yang hebat. Napasnya teratur, wajahnya yang biasa waspada kini tampak sangat rileks dan damai dalam tidurnya yang lelap.
Namun, tidak dengan Vanya.
Vanya masih terjaga, matanya berbinar menatap setiap inci wajah Gery di bawah temaram lampu kabin. Kejadian kecupan singkat tadi masih bermain-main di benaknya bagaikan kaset rusak yang diputar berulang kali, membuatnya gagal memejamkan mata. Tangannya yang usil mulai bergerak pelan; jari telunjuknya dengan lembut mencolek ujung hidung Gery, lalu berpindah mengusap garis rahang cowok itu, seolah memastikan bahwa sosok di depannya ini nyata, bukan sekadar kontrak belaka.
Nadia, yang ternyata juga belum bisa tidur nyenyak, mengintip melalui celah di antara sandaran bangkunya. Ia memperhatikan tingkah Vanya yang begitu intens memperhatikan Gery. Ada rasa iri yang terselip di hati Nadia melihat kemesraan sahabatnya, namun dasar jiwanya memang polos dan usil, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur.
"Van... gantian dong," bisik Nadia dengan nada manja yang dibuat-buat. "Gue juga mau kali gangguin Gery. Kayaknya seru liat dia pasrah gitu."
Vanya tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Nadia dan secara refleks merentangkan tangannya di depan tubuh Gery, menutupi cowok itu seolah sedang melindungi harta karun dari serangan musuh. Wajahnya memasang ekspresi defensif—setengah bercanda namun ada bumbu posesif yang nyata. "Enak aja! Cari 'mainan' sendiri sana, ini punya gue!"
Nadia meledak dalam tawa kecil yang tertahan, bahunya terguncang hebat melihat respon refleks Vanya yang begitu protektif. "Cieee... yang takut pacar direbut! Santai kali Van, gue cuma ngetes tingkat keposesifan lo aja."
Perdebatan jenaka mereka yang meski berbisik-bisik ternyata cukup mengusik tidur Gery. Gery yang merasa ada pergerakan di dekatnya perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah tangan Vanya yang masih merentang di depan wajahnya.
Gery yang masih setengah nyawa, dengan gerakan malas namun lembut, mengangkat tangannya.
Tuk!
Ia mendaratkan pukulan kecil yang pelan di dahi Vanya. "Berisik..." gumam Gery dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Nadia langsung tertawa geli melihat "benteng" Vanya justru dipukul oleh orang yang dilindunginya. Vanya sempat terkejut, namun begitu melihat Gery sudah sadar, ia justru tersenyum lebar. Bukannya menjauh, Vanya malah semakin merapatkan duduknya dan memeluk erat lengan Gery, seolah menegaskan kepemilikannya.
Vanya menoleh ke arah Nadia, menjulurkan lidahnya dengan jahil seolah berkata, 'Lihat kan? Dia punyaku!'. Gery hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan Vanya melakukan apa pun yang ia mau, lalu kembali menutup matanya dengan senyum tipis yang tak terlihat dalam kegelapan.
Sinar matahari pagi yang pucat mulai merambat masuk melalui celah gorden bus yang tersingkap sedikit, menyinari debu-debu halus yang beterbangan di kabin. Gery mengerjapkan matanya, perlahan kesadarannya terkumpul. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat yang menempel di lengan kirinya.
Ia menoleh dan mendapati Vanya masih terlelap sangat pulas. Gadis itu memeluk lengan Gery dengan begitu erat, menjadikannya pengganti bantal guling yang nyaman. Gery mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun terasa kesemutan hebat—lengannya sudah mati rasa karena aliran darah yang terhambat selama berjam-jam.
Melihat wajah Vanya yang tanpa dosa saat tidur, insting usil Gery mendadak bangkit. Ia ingin membalas dendam atas gangguan-gangguan kecil Vanya sepanjang perjalanan tadi malam. Gery merogoh saku jaketnya dan menemukan sebuah karet gelang. Dengan hati-hati, ia memutus karet itu hingga tidak berbentuk lingkaran lagi, dia memegang ujung karetnya dan membiarkan sisi lain ujung karetnya bergelayutan.
Gery mulai melancarkan aksinya. Ia menggerakkan ujung karet itu dengan sangat halus di sela-sela hidung dan bibir atas Vanya, meniru gerakan kaki nyamuk yang sedang mencari posisi hinggap.
Plak!
Refleks, tangan Vanya menepuk wajahnya sendiri sambil tetap terpejam, mengira ada serangga yang mengganggunya. Gery menahan tawa sekuat tenaga agar suaranya tidak pecah. Begitu tangan Vanya turun, Gery mengulanginya lagi. Kali ini ia sedikit menggelitik ujung hidung Vanya.
Vanya mulai mengernyitkan dahi. Ia menggerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri, namun "nyamuk" itu tetap terasa hinggap di sana. Saat Gery melakukannya untuk ketiga kalinya dengan gerakan yang lebih intens, Vanya akhirnya tersentak bangun. Matanya terbuka lebar dengan kilat kekesalan yang nyata.
"Ih! Nyamuknya mana sih?!" gerutu Vanya dengan suara serak, masih setengah sadar.
Gery tidak bisa lagi menahan tawa. Ia meledak dalam kekehan kecil sambil menunjukkan ujung karet di tangannya. "Nyamuknya nggak ada, Van. Yang ada cuma karet ini," ucap Gery di sela-sela tawanya.
Vanya terdiam sejenak, memproses apa yang baru saja terjadi. Begitu ia menyadari bahwa ia telah dikerjai habis-habisan saat sedang tidur cantik, wajahnya langsung berubah menjadi mode ofensif.
"Geryyyyy! Nyebelin banget sih lo!" seru Vanya gemas.
Tanpa ampun, Vanya langsung melancarkan serangan balasan. Ia memukul bahu Gery berkali-kali dan memberikan cubitan maut di lengan Gery yang baru saja mulai terasa aliran darahnya. Gery mengaduh kesakitan namun tetap tertawa, mencoba menghalau tangan Vanya yang bergerak lincah menyiksanya.
"Ampun, Van! Ampun! Tangan gue tadi mati rasa gara-gara lo jadiin guling!" bela Gery sambil terus menghindar.
Keributan kecil mereka di kursi belakang mulai menarik perhatian teman-teman lain yang juga baru terbangun. Di tengah lebam-lebam kecil akibat cubitan Vanya, Gery merasa pagi itu adalah pembukaan yang sempurna sebelum mereka benar-benar sampai di gerbang sekolah.
Papan penunjuk jalan bertuliskan "Jakarta - 10 KM" seolah menjadi alarm bagi Reno. Alih-alih merasa lemas karena perjalanan jauh, energi konyolnya justru meledak begitu melihat gedung-gedung tinggi mulai membayangi cakrawala.
Reno merogoh kolong bangku, menarik tas gitarnya dan mengeluarkan instrumen itu dengan gerakan dramatis. Gery, yang seolah sudah memiliki ikatan batin dalam urusan kekonyolan, langsung menyambar gelas plastik bekas air mineral yang sudah kosong. Ia membelah sedikit bagian atasnya, mengubahnya menjadi tadahan uang saweran yang sangat meyakinkan.
Tanpa aba-aba, keduanya berdiri dan berjalan dengan gaya "preman pasar" menuju lorong depan bus, tepat di belakang kursi supir dan kondektur. Gery berdehem keras, mengatur pita suaranya agar terdengar serak-serak becek khas pengamen jalanan Jakarta.
"Selamat pagi menjelang siang, Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian yang kami hormati," buka Gery dengan nada bicara yang cepat dan sedikit bergumam, persis pengamen bus kota. "Kehadiran kami di sini tidak bermaksud mengganggu istirahat Anda, kami hanya ingin menghibur hati yang lara setelah dompet menipis di Yogyakarta."
Reno langsung menyambut dengan genjrengan gitar yang nyaring. Mereka membawakan lagu bertempo cepat yang membuat suasana bus yang tadinya sunyi dan penuh wajah bantal langsung berubah 180 derajat.
"Satu lagu spesial dari kami, seikhlasnya saja. Kalau nggak ada uang kecil, uang besar juga kami terima, kalau nggak ada uang, cinta pun jadi!" seru Reno sambil nyengir lebar.
Sontak seluruh penumpang bus terbangun. Sammy, Rini, Vivi, Feri hingga Ibu Ratna yang berada di baris depan terbelalak melihat transformasi Gery dan Reno. Tawa pecah seketika memenuhi kabin bus. Teman-temannya tidak menyangka Gery yang tadinya kalem bisa se-profesional itu berperan jadi pengamen.
"Gila lo berdua! Udah cocok banget mangkal di Terminal Pulogadung!" teriak Adrian dari belakang sambil melempar bungkus kuaci kosong.
Gery mulai berjalan menyusuri lorong, menyodorkan gelas plastiknya ke setiap bangku sambil tetap menyanyi mengikuti irama gitar Reno. Saat sampai di bangku Vanya, Gery berhenti dan memberikan kedipan mata nakal.
Vanya yang masih tertawa terpingkal-pingkal langsung merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan memasukkannya ke dalam gelas Gery. "Nih, buat modal nikah sama 'malaikat penyelamat' lo!" goda Vanya setengah berteriak.
"Waduh, kalau sepuluh ribu mah cuma dapet mahar sandal jepit, Mpok!" balas Gery dengan gaya pengamen yang membuat Vanya makin gemas.
Kondektur bus yang melihat kelakuan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa, sementara pak supir sesekali melirik dari spion dalam, ikut terhibur oleh konser dadakan itu. Perjalanan 10 kilometer terakhir menuju sekolah yang biasanya terasa membosankan, kini berubah menjadi momen paling berisik dan penuh tawa sepanjang sejarah study tour mereka.