NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 kembali berdiri

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 9: Kembali Berdiri

Tiga hari di rumah sakit terasa seperti tiga minggu. Alek akhirnya diperbolehkan pulang dengan perban di dada dan resep obat pereda nyeri. Tulang rusuknya retak, tapi tidak patah. Dokter bilang dia beruntung.

"Istirahat dua minggu. Jangan aktivitas berat," kata dokter saat Alek check out.

Di rumah, suasananya berbeda. Ibu lebih perhatian—masakin makanan favorit Alek setiap hari. Ayahnya tidak banyak bicara, tapi tidak marah-marah lagi. Bahkan sesekali bertanya: "Kamu sudah minum obat?"

Perubahan kecil. Tapi cukup berarti buat Alek.

***

Seminggu berlalu. Alek tidak ke sekolah, hanya di rumah. Menghabiskan waktu dengan membaca, tidur, dan... merenungi hidupnya.

Riki datang jenguk hampir setiap hari.

"Lex, lo tau nggak? Kevin sama Bagas di-skors dua minggu. Yang lain juga kena SP," cerita Riki sore itu sambil duduk di tepi kasur Alek.

"Terus Dimas?"

"Dimas marah besar. Tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa. Sekolah udah tau semua. Kalau dia maksa, dia yang kena masalah."

"Tapi dia nggak bakal berhenti gitu aja kan?"

Riki menggeleng. "Nggak. Dia bilang... 'Alek akan bayar lebih mahal lagi.' Gue nggak tau maksudnya apa."

Alek mengangguk pelan. Dia sudah tahu ini belum selesai. Tapi entah kenapa, dia tidak takut lagi.

"Gue siap, Rik. Apapun yang datang."

***

Minggu pagi, Alek dipaksa ayahnya ke gereja. Ini pertama kalinya sejak keluar dari rumah sakit.

Di gereja, Alek duduk di barisan belakang. Jemaat meliriknya dengan tatapan campuran—kasihan, penasaran, ada juga yang berbisik-bisik.

"Itu anak Pendeta Daniel kan? Yang berantem?"

"Iya, kasian sih. Tapi namanya juga anak nakal."

Alek mendengar semuanya. Tapi dia diam saja.

Saat kebaktian berlangsung, ayahnya berkhotbah tentang pengampunan. Tentang bagaimana Yesus mengampuni orang-orang berdosa.

Alek mendengarkan. Tapi entah kenapa... kata-kata itu tidak masuk ke hatinya. Seperti ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

"Gue nggak nemu apa-apa di sini," pikirnya.

Setelah kebaktian selesai, beberapa pemuda gereja—dulu teman main Alek—menghampiri.

"Alek, lo udah keluar dari geng kan?"

"Iya."

"Bagus deh. Sekarang lo bisa balik ke komunitas pemuda gereja."

Alek menatap mereka. Orang-orang yang dulu ikut minum-minum bareng dia. Orang-orang yang dulu sama "nakalnya". Tapi sekarang pura-pura suci.

"Gue... mikir dulu," jawab Alek singkat, lalu pergi.

***

Dua minggu kemudian, Alek kembali ke sekolah. Senin pagi, dia berjalan memasuki gerbang dengan kepala tegak. Wajahnya masih ada bekas lebam yang menguning. Bibirnya masih pecah. Tapi matanya... berbeda. Lebih tenang.

Siswa-siswa menatapnya. Ada yang kagum, ada yang takut, ada yang bingung.

Riki langsung menyambut. "Lex! Lo udah sembuh?"

"Lumayan. Masih agak sakit sih."

"Yang penting lo udah balik!"

Di kelas, Pak Hendra (guru BK) memanggil Alek.

"Alek, kamu baik-baik saja?"

"Baik, Pak."

"Saya dengar kamu keluar dari geng. Keputusan yang berani."

"Gue cuma... pengen berubah, Pak."

Pak Hendra tersenyum. "Kalau kamu butuh bantuan, Bapak siap. Apapun."

Untuk pertama kalinya, Alek merasa... dihargai.

***

Rabu siang, saat istirahat, Alek melihat poster di mading sekolah:

**"KEGIATAN SOSIAL #3**

**'Belajar Sambil Bermain bersama Adik-Adik SD'**

**Sabtu, 21 Maret 2026**

**Lokasi: Balai Kampung Sukajadi**

**Kerja sama dengan Pesantren Putri Al-Hikmah"**

Jantung Alek berdegup lebih cepat.

"Kegiatan lagi... bareng pesantren," gumamnya.

Riki yang kebetulan lewat langsung nyengir. "Lo mau ikut lagi kan?"

"Iya."

"Karena Khansa?"

Alek melotot. "Bukan. Gue... gue suka kegiatan kayak gini."

"Bohong lo!" Riki tertawa. "Tapi gue ikut juga kok. Lumayan seru."

***

Jumat sore, pembagian kelompok diumumkan. Alek dan Riki datang ke ruang OSIS untuk lihat daftar.

**KELAS 1 SD:**

- Riki

- Sarah (siswi SMA)

- Santriwati Khansa

- Santriwati Maryam

**KELAS 3 SD:**

- Alexander

- Tono

- Santriwati Salma

- Santriwati Nabila

Alek membaca daftar itu berkali-kali. Lalu menatap Riki dengan tatapan putus asa.

"Anjir... lo sekelompok sama Khansa."

Riki nyengir. "Iya nih. Rejeki."

"Rik..." Alek menatap Riki serius. "Lo harus bantu gue."

"Bantu apaan?"

"Minta Sarah tukeran posisi sama gue."

Riki meledak ketawa. "LO MAU TUKERAN BIAR BISA SEKELOMPOK SAMA KHANSA?!"

"SSST! Pelan-pelan!" Alek menutup mulut Riki. "Iya. Bantu gue atau nggak?"

Riki melepas tangan Alek, masih nyengir. "Bantu sih bantu... tapi lo harus traktir gue SEBULAN!"

"SEBULAN?! Kemahalan!"

"Ya udah, gue nggak bantu." Riki pura-pura mau pergi.

"OKE OKE! SEBULAN! BANTU GUE!"

"Deal!" Riki menepuk bahu Alek. "Lo emang udah jatuh cinta parah ya."

"Gue nggak jatuh—"

"Iya iya, terserah lo deh. Sekarang gue bantu lo."

***

Riki langsung eksekusi. Dia cari Sarah yang sedang di perpustakaan.

"Sar, mau tukeran posisi sama Alek nggak?"

Sarah menoleh. "Tukeran? Emang kenapa?"

"Alek bilang dia lebih suka ngajarin anak kecil. Katanya lebih seru."

Sarah tersenyum. "Oh... oke deh. Aku juga nggak masalah kok. Malah aku lebih suka ngajarin kelas 3."

"Makasih ya, Sar!"

Lalu Riki lapor ke Pak Hendra.

"Pak, Alek mau tukeran sama Sarah. Alek ke kelas 1, Sarah ke kelas 3."

"Alasan?"

"Alek bilang lebih suka ngajarin anak kecil, Pak."

Pak Hendra mengangguk. "Oke, nggak masalah. Yang penting semua kelas kebagian pengajar."

***

Sabtu pagi. Alek datang ke Balai Kampung Sukajadi dengan perasaan campur aduk—excited tapi juga nervous.

Rombongan pesantren sudah datang. Alek langsung mencari tas punggung cokelat.

Ada. Khansa.

Koordinator mulai mengumpulkan. "Oke, kelompok kelas 1, berkumpul di sini!"

Alek, Riki, Khansa, dan Maryam berkumpul membentuk lingkaran kecil.

Riki langsung ramah. "Khansa, Maryam, kita satu tim ya hari ini! Semoga lancar!"

Khansa tersenyum di balik cadar. "Iya, Mas Riki. Semoga lancar. Insya Allah."

Alek cuma mengangguk dari samping—awkward, tidak tahu harus bilang apa.

Khansa melirik Alek sekilas, lalu kembali fokus ke Riki yang sedang ngobrol.

Koordinator mulai mengarahkan. "Oke, sesuai pembagian kemarin. Kelas 1 di ruang sebelah kiri. Kelas 3 di ruang kanan."

Alek, Riki, Khansa, dan Maryam masuk ke ruang sebelah kiri. Di sana sudah menunggu lima belas anak SD kelas 1 dengan mata berbinar.

"Assalamu'alaikum, Adik-adik!" sapa Khansa lembut.

"Wa'alaikumsalam, Kak!" jawab anak-anak kompak.

Khansa menoleh ke Alek. "Mas Alexander, kita mulai ya?"

Alek mengangguk. "Iya."

Riki duduk di pojok sambil nyengir. "Gue bantuin dari sini aja deh."

***

Kegiatan dimulai. Mereka mengajari anak-anak berhitung dengan permainan. Khansa yang memimpin—suaranya lembut, sabar, penuh kehangatan.

"Adik-adik, sekarang kita main tebak angka ya. Kakak punya lima apel. Kakak kasih dua ke Dinda. Sekarang Kakak punya berapa apel?"

"TIGA, KAK!" teriak anak-anak.

"Pintar! Alhamdulillah."

Alek mengamati cara Khansa mengajar. Tidak ada bentakan. Tidak ada paksaan. Semua dilakukan dengan sabar dan ceria.

"Lo... maksud gue kamu, hebat ya ngajarnya," kata Alek saat istirahat sebentar.

Khansa tersenyum di balik cadar. "Biasa aja kok, Mas. Anak-anak itu kalau dikasih sayang, mereka akan nurut."

"Gue nggak pernah bisa sabar kayak gitu."

"Sabar itu bisa dilatih, Mas. Dulu saya juga nggak sabaran. Tapi lama-lama... Alhamdulillah bisa."

"Caranya gimana?"

Khansa menatap Alek. "Inget aja, Mas. Setiap orang punya cara belajarnya sendiri. Setiap orang punya kecepatannya sendiri. Kita nggak bisa maksa mereka jadi seperti kita. Yang bisa kita lakukan cuma... bimbing dengan lembut."

Alek terdiam. Kata-kata itu... terasa lebih dari sekadar soal mengajar anak-anak.

"Seperti... hidup juga ya?" tanya Alek pelan.

Khansa mengangguk. "Iya, Mas. Hidup juga gitu. Kita nggak bisa maksa orang berubah. Tapi kita bisa kasih contoh yang baik. Kita bisa bimbing dengan lembut."

Alek merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Tiba-tiba Riki nyeletuk dari pojok. "WOW! FILOSOFIS BANGET NIH PEMBICARAAN KALIAN!"

Alek langsung melotot. "RIKI, LO GANGGUIN TERUS!"

Anak-anak pada ketawa. Khansa dan Maryam juga tersenyum.

***

Siang itu, saat mengajari anak-anak menggambar, salah satu anak perempuan kecil bernama Siti mengangkat tangan.

"Kak Khansa, Kakak Alek itu pacarnya Kak Khansa ya?"

JLEB.

Alek nyaris menjatuhkan crayon yang dipegangnya. Wajahnya langsung merah.

Riki meledak ketawa dari pojok. "NAH ITU PERTANYAAN BAGUS, SIT!"

"RIKI!" bentak Alek.

Khansa tetap tenang, tersenyum. "Nggak kok, Dek. Kakak Alek itu teman Kakak. Kita sama-sama bantu ngajarin adik-adik."

"Tapi Kakak Alek kok sering liat Kakak Khansa?" tanya anak lain polos.

Alek mau menghilang dari muka bumi.

Maryam ketawa kecil. Riki malah nambah-nambahin: "Iya nih, Lex. Kenapa lo sering liat Khansa?"

"GUE NGGAK—"

"Mas Alexander mungkin lagi belajar cara ngajar dari saya," potong Khansa lembut, menyelamatkan Alek. "Kan Mas baru pertama kali ngajar anak kecil."

"Ohhh..." anak-anak mengangguk paham.

Alek menatap Khansa dengan tatapan berterima kasih. Khansa balas dengan senyum dari matanya.

***

Saat makan siang, mereka duduk di teras balai. Anak-anak sedang istirahat main di halaman. Riki sengaja duduk di antara Alek dan Khansa.

"Khansa, lo tau nggak, kenapa Alek tukeran sama Sarah?" tanya Riki dengan nada jahil.

Alek langsung nendang kaki Riki di bawah.

"ADAW!" teriak Riki.

"Kenapa, Mas Riki?" tanya Khansa polos.

"Soalnya dia—"

Alek langsung tutup mulut Riki dengan tangan. "DIA LAGI DEMAM! NGGAK USAH DIDENGERIN!"

Riki melepas tangan Alek, tertawa keras. "Gue sehat kok, Khansa! Alek tuh sebenernya—"

"RIKI!" Alek melotot mematikan.

Khansa tersenyum kecil. "Mas Alexander memang sepertinya lebih suka ngajarin anak kecil ya. Tadi saya lihat, Mas sabar banget ngajarin Dinda yang susah berhitung."

Alek terdiam. "Gue... gue belajar dari kamu."

"Belajar dari saya?"

"Iya. Cara kamu ngajar... tenang. Nggak maksa. Gue belajar dari situ."

Khansa tersenyum. "Alhamdulillah kalau bermanfaat."

Riki bisik pelan ke Alek: "Lo udah jatuh cinta banget ya?"

Alek melotot tapi tidak membantah.

***

Sore itu, kegiatan selesai. Anak-anak pulang dengan wajah senang. Para pengajar juga pamit.

Saat mau naik mobil pick-up, Riki berteriak dari kejauhan.

"KHANSA, MARYAM! MAKASIH YA HARI INI! SERU BANGET!"

Khansa dan Maryam menoleh, tersenyum.

"Sama-sama, Mas Riki!" jawab Khansa.

"Eh, Mas Alexander juga ikut ngomong dong!" ledek Riki sambil nyenggol Alek.

Alek canggung. "Iya... terima kasih juga. Hari ini... lancar."

Khansa mengangguk sopan. "Sama-sama, Mas Alexander. Mas Riki. Semoga bisa kerja sama lagi lain waktu."

"Insya Allah!" sahut Riki semangat.

Khansa dan Maryam naik mobil. Alek berdiri di sana, menatap mobil itu pergi.

Riki menepuk bahunya. "Lo suka banget ya sama dia?"

Alek tidak menjawab. Tapi senyumnya sudah jadi jawaban.

"Inget ya, Lek. Lo traktir gue SEBULAN!"

Alek tertawa. "Iya, gue tau."

***

Malam itu, Alek berbaring di kasurnya. Hatinya... hangat. Bukan karena jatuh cinta—meski mungkin iya. Tapi karena... dia menemukan sesuatu.

Cara hidup yang berbeda. Cara memperlakukan orang dengan lembut. Cara melihat dunia dengan lebih... bermakna.

"Dia beda," gumamnya. "Beda dari semua orang yang pernah gue kenal."

Dan untuk pertama kalinya, Alek berpikir: mungkin... mungkin dia ingin jadi seperti itu juga.

***

**Bersambung ke Bab 10...**

*"Cinta yang sejati bukan soal ingin memiliki. Tapi soal ingin jadi lebih baik... karena melihat kebaikan dalam diri seseorang."*

1
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
Cahaya. R. P
bagus dehh pokoknyaaa klian wajib baca yeahh🙆‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!