Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona Muda Karina!
Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun berpostur sangat tegap melangkah maju dari barisan. Dia adalah Pak Gunawan, kepala pengawal pribadi keluarga Wijaya yang sudah mengabdi selama tiga generasi.
Melihat Karina berdiri di ambang pintu, mata Pak Gunawan yang biasanya dingin seketika berkaca-kaca. Ia segera membungkuk dalam dan hampir sembilan puluh derajat, sebuah gestur penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada anggota inti keluarga Wijaya.
"Nona Muda Karina, akhirnya kami menemukan anda. Kami mohon maaf atas keterlambatan kami menjemput anda kembali ke rumah," ucap Oak Gunawan dengan gemetar, karena terharu akhirnya Nona mudanya kembali.
Kelima pengawal lainnya mengikuti langkah Pak Gunawan, membungkuk serempak, "Selamat malam, Nona Muda!" suara mereka yang berat bergema di lorong sempit itu.
Ella dan Aisha terpaku di belakang ibu mereka, mereka belum pernah melihat pemandangan seperti ini seumur hidup mereka. Pria-pria ini memanggil ibu mereka Nona Muda, padahal Ibu mereka selama ini dihina oleh Nenek dan Ayahnya sebagai perempuan kampung.
Karina menatap Pak Gunawan dengan tatapan yang tenang namun tajam, "Berdirilah, Pak Gunawan. Anda tidak terlambat, anda datang tepat di saat saya sudah benar-benar siap untuk pulang," ucap Karina.
"Mobil sudah siap, Nona Muda. Tuan Andri sudah menunggu di kediaman utama, beliau memerintahkan kami untuk tidak membiarkan Nona menghabiskan satu menit pun lagi di tempat... tidak layak ini," ucap Pak Gunawan sambil melirik sekilas ke arah kontrakan yang sempit itu dengan tatapan prihatin.
Karina menoleh ke arah putri-putrinya, "Ella, Aisha. Ayo pergi," ajak Karina
"Tapi Ma... mereka siapa?" tanya Aisha pelan.
"Mereka adalah keluarga Mama, kalian jangan takut. Mereka nggak akan jahat ke Mama atau kalian, ayo sayang kita pergi," ucap Karina.
Pak Gunawan dengan sigap membukakan pintu mobil paling tengah, "Silakan, Nona Muda. Nona Ella, Nona Aisha, mari masuk," ucap Pak Gunawan.
Ella dan Aisha saling berpegangan tangan, mata mereka membulat melihat interior mobil yang berlapis kulit Alcantara dan beraroma kayu cendana mahal. Ini adalah kemewahan yang bahkan tidak pernah mereka lihat di rumah Ayah mereka dulu dan saat mobil mulai melaju membelah kemacetan Jakarta, keheningan menyelimuti kabin.
Mobil rolls royce itu meluncur senyap, kontras dengan gemuruh di dada Ella dan Aisha. Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta yang biasanya tampak mengancam dari balik kaca angkot, kini terlihat seperti hamparan permata yang tunduk pada kendaraan mereka.
Karina menggenggam tangan kedua putrinya yang dingin, ia tahu mereka bingung, takut, sekaligus takjub. Namun, Karina tidak lagi memiliki ruang untuk keraguan, kelembutan seorang Ibu yang selama dua puluh tahun ini mendominasi dirinya, kini mulai dilapisi oleh baja kepemimpinan seorang pewaris tunggal.
"Ma... mobil ini lebih bagus dari punya Ayah," bisik Aisha, bahkan suaranya nyaris tak terdengar namun penuh tekanan keheranan.
Karina hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Ayahmu hanya meminjam kemewahan dari dunia, sayang. Apa yang kalian lihat sekarang adalah apa yang seharusnya menjadi milik kalian sejak lahir," jawab Karina.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil melambat saat memasuki sebuah kawasan yang tersembunyi di balik gerbang besi hitam raksasa setinggi lima meter di daerah perbukitan yang sangat privat, gerbang itu terbuka otomatis dan menyingkap jalan setapak panjang yang diapit oleh pohon-pohon cemara yang tertata rapi.
Di ujung jala, berdirilah Kediaman Wijaya yang megah. Bukan sekadar rumah mewah seperti milik Agus, ini adalah sebuah istana kolonial modern yang memancarkan wibawa dan sejarah. Pilar-pilar putih besar menopang atap yang megah, dengan lampu-lampu kristal yang bersinar dari setiap jendela, memberikan kesan hangat namun tak tersentuh.
Saat mobil berhenti tepat di depan tangga pualam utama, puluhan pelayan berpakaian seragam rapi sudah berdiri berjejer dalam barisan yang sempurna. Di tengah-tengah mereka, berdiri Paman Andri yang mengenakan setelan jas abu-abu tua, wajahnya yang tegas kini tampak melunak dengan binar haru.
Pak Gunawan membukakan pintu lalu Karina melangkah keluar terlebih dahulu dan begitu kakinya menyentuh lantai pualam, suasana seketika menjadi sunyi senyap.
"Selamat datang kembali di rumah, Nona Muda Karina!" seru para pelayan serempak sambil membungkuk dalam.
Ella dan Aisha keluar dengan ragu-ragu di belakang Ibu mereka, mereka tampak seperti dua anak rusa yang tersesat di tengah pesta bangsawan. Pakaian mereka, kaus lusuh dan celana jins yang sudah memudar warnanya, terlihat sangat kontras dengan kemegahan di sekeliling mereka.
Paman Andri melangkah maju, tangannya gemetar saat menyentuh bahu Karina. "Karina... kau benar-benar kembali. Ayah dan ibumu... andai mereka masih ada di sini melihatmu," ucap Paman Andri yang merasa terharu melihat kedatangan keponakan yang ia sayangi.
"Aku tahu, Paman. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dan milik anak-anakku," ucap Karina.
Paman Andri beralih ke Ella dan Aisha, matanya melembut. "Dan ini... cucu-cucu keluarga Wijaya. Kalian sangat mirip dengan ibumu saat muda, cantik dan memiliki mata yang berani," ucap Paman Andri.
"Halo, Kek..." ucap Ella sopan, meskipun ia masih bingung harus memanggil apa pada pria berwibawa di depannya.
"Panggil aku Kakek Paman, sayang. Ayo masuk, udara malam tidak baik untuk kalian. Makan malam mewah sudah disiapkan, masakan koki terbaik keluarga kita," ajak Paman Andri sambil menuntun mereka masuk.
Langkah kaki Karina di atas lantai marmer Carrara yang dingin seolah memicu kembali memori-memori yang selama dua puluh tahun ini ia kubur dalam-dalam. Setiap sudut ruangan ini, dari lukisan minyak koleksi mendiang Ayahnya hingga aroma lilin aromaterapi sandalwood yang khas, berbisik tentang kekuasaan yang dulu ia tinggalkan demi sebuah ilusi bernama cinta.
Di dalam ruang makan yang mampu menampung lima puluh orang, meja panjang kayu jati solid sudah dihiasi dengan perangkat makan perak dan kristal bohemia. Pelayan dengan sarung tangan putih bergerak tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa truffle soup yang aromanya memenuhi ruangan.
Ella dan Aisha duduk bersisian, memegang sendok perak mereka dengan kikuk. Mereka terbiasa makan di meja kayu kecil di dapur rumah Agus atau belakangan ini, makan mi instan di dalam kontrakan sempit. Melihat kemewahan ini, nafsu makan mereka seolah tertahan oleh rasa takjub yang luar biasa.
"Makanlah, sayang. Ini rumah kalian sekarang," ucap Karina lembut, meskipun punggungnya tegak lurus, memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.
Dengan ragu, Ella dan Aisha pun menyantap makan malam yanh sudah disajikan. Karina tampak bahagia melihat kedua putrinya bisa merasakan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan.
.
.
.
Bersambung.....