NovelToon NovelToon
Kultivator Sistem

Kultivator Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Fantasi Timur / Transmigrasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.

Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.

Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.

Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.

Ci Lung hanya ingin hidup normal.

Masalahnya…

Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Paling Aman

Dunia murim membenci ketidakpastian.

Mereka bisa menerima tiran.

Mereka bisa menerima iblis.

Mereka bahkan bisa menerima perang besar selama ratusan tahun.

Tapi mereka tidak bisa menerima… sesuatu yang tidak jelas mau apa.

Dan Lembah Barat adalah ketidakpastian yang bernapas.

Tidak menyerang.

Tidak bersekutu.

Tidak menolak.

Tidak mengakui.

Seperti seseorang yang duduk di pojok ruangan, diam… tapi semua orang sadar dia ada.

Di aula leluhur Sekte Matahari Hitam, rapat lintas sekte akhirnya terjadi.

Tidak ada bendera.

Tidak ada simbol kebesaran.

Tidak ada murid pencatat resmi.

Semua datang diam-diam. Masuk dari pintu belakang. Bahkan beberapa Void Realm layer tinggi sengaja menekan auranya sampai seperti pedagang sayur.

Mereka duduk melingkar.

Wajahnya sama.

Capek mikir.

“Kesimpulan sementara?” tanya seorang tetua Void Realm layer 6, suaranya berat.

“Tidak ada serangan,” jawab yang lain.

“Tidak ada klaim wilayah,” sambung berikutnya.

“Tidak ada permintaan,” tambah yang ketiga.

“Tidak ada ancaman langsung,” gumam seorang pemimpin klan.

“Tidak ada negosiasi.”

“Tidak ada ultimatum.”

“Tidak ada surat.”

“Tidak ada apa-apa.”

Ruangan sunyi.

Seorang leluhur tua, Void Realm layer 7, membuka mata perlahan.

“Dan itu masalahnya,” katanya pelan. “Kalau dia mau apa-apa, kita bisa negosiasi. Kalau dia ingin wilayah, kita bagi. Kalau dia ingin balas dendam, kita siapkan kambing hitam.”

Beberapa orang mengangguk setuju.

“Tapi dia tidak mau apa pun.”

Sunyi makin berat.

“Bocah itu?” tanya seseorang dari sudut.

“Masih di sana,” jawab utusan Sekte Pedang Giok. “Hidup normal.”

“Normal bagaimana?”

“…Mengambil air. Mengumpulkan kayu. Hampir terpeleset tiga kali.”

Beberapa orang terdiam.

“Terlalu normal,” bisik seseorang.

Yang lain mengangguk serius seolah itu kesimpulan logis.

Akhirnya keputusan diambil.

Tidak dengan teriakan.

Tidak dengan sumpah.

Hanya dengan kelelahan kolektif.

Dokumen ditulis.

Distempel dengan cap sekte besar.

Dikirim ke seluruh benua Tianlong melalui jalur rahasia.

Isinya singkat.

Lembah Barat dinyatakan:

ZONA TERLARANG ABSOLUT.

Dilarang mendekat.

Dilarang menyelidiki.

Dilarang memancing reaksi.

Dilarang bahkan membahasnya sembarangan.

Alasannya sederhana.

“Kalau kita diam, dia juga diam.”

Semua sepakat.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah murim—

Dunia memilih pura-pura tidak tahu.

Hari yang sama, di lembah—

Ci Lung lagi marah kecil.

Bukan karena Void Realm layer 7.

Bukan karena ancaman sekte besar.

Karena panci bocor.

“Kenapa panciku bocor?” gerutunya.

Yan Yu jongkok di sampingnya, serius banget seperti sedang menganalisis teknik pedang legendaris.

“Mungkin capek.”

“Panci bisa capek?”

Yan Yu mikir keras. “Kalau dipakai terus?”

Ci Lung terdiam.

Ia menatap panci itu lama.

Masuk akal.

“Iya juga…”

Ia mengambil kayu kecil, mencoba menambal bagian bawah.

Hasilnya?

Air netes dua kali lebih deras.

Yan Yu tepuk tangan kecil. “Sekarang lebih lancar.”

Ci Lung memejamkan mata.

Sistem tetap diam.

Dunia murim tegang.

Dan di lembah… krisis terbesar adalah peralatan dapur.

Di kejauhan, seorang pengamat terakhir dari Klan Pedang Giok berdiri di balik pepohonan.

Ia Void Realm layer 5.

Ia sudah menekan auranya sampai hampir tidak terasa.

Ia tidak melihat istana megah.

Tidak melihat formasi kuno menyala.

Ia melihat:

Seorang pria yang gagal memperbaiki panci.

Seorang bocah yang terlalu senang melihat air bocor.

Lalu Yan Yu berdiri.

Berlari kecil membawa ember.

Hampir terpeleset.

Pengamat itu refleks menahan napas.

Yan Yu tidak jatuh.

Bukan karena gerakan tubuhnya cepat.

Bukan karena teknik ringan tingkat tinggi.

Tanahnya… seolah mengeras tepat di bawah kakinya.

Pengamat itu membeku.

Ia menahan aura, menahan napas, menahan pikiran.

Lalu ia melihat Ci Lung menguap.

Hanya menguap.

Tapi qi di sekitar lembah ikut melambat.

Angin pelan.

Kabut stabil.

Sungai mereda.

Bukan dominasi.

Bukan tekanan.

Seperti seseorang yang tanpa sadar menentukan tempo ruangan.

Pengamat itu menulis satu kalimat di gulungan kecil.

“Eksistensi di lembah itu tidak mendominasi.

Ia mengatur ritme.”

Ia menggulung catatan itu.

Dan pergi.

Bukan karena dibunuh.

Bukan karena terdeteksi.

Tapi karena… ia merasa tahu terlalu banyak sudah cukup.

Sore hari.

Yan Yu duduk di batu favoritnya, kakinya bergoyang-goyang.

“Guru,” katanya santai, “kenapa nggak ada orang lagi?”

Ci Lung lagi mengeringkan panci yang sudah menyerah pada takdir.

“Mungkin nyasar semua.”

“Ohhhhh.”

Yan Yu puas dengan jawaban itu.

Ia melihat lembah.

Kabut tipis.

Angin ringan.

Sunyi yang nyaman.

“Berarti tenang.”

Ci Lung ikut duduk.

Ia menatap jauh.

Untuk pertama kalinya sejak transmigrasi ke Benua Tianlong…

Ia merasa aman.

Bukan karena ia Void Realm.

Bukan karena ia paling kuat.

Tapi karena… dunia memilih menjauh.

Sistem akhirnya berbunyi.

[Peringatan Dunia: Zona Absolut Ditetapkan]

[Status Pengguna: Tidak Terpengaruh]

[Catatan: Keheningan ini bersifat sementara]

Ci Lung mendecak pelan. “Ck. Pasti ada catatan.”

Yan Yu nengok cepat. “Guru ngomel sama siapa?”

“Sama hidup.”

“Ohhhhh.”

Yan Yu menerima itu sebagai jawaban yang sangat masuk akal.

Malam turun.

Langit Tianlong bersih.

Ci Lung duduk di beranda kayu.

Yan Yu di sampingnya, sudah tertidur sambil memegang kail pancing yang lebih besar dari tangannya.

Ci Lung menatap bocah itu lama.

Bocah yang hampir terpeleset.

Bocah yang terlalu jujur.

Bocah yang mungkin akan jadi pusat badai suatu hari nanti.

Ia menarik selimut kecil. Menutupkan pelan.

Angin lembah berdesir lembut.

Dalam hati, tanpa sadar, ia berpikir—

Kalau dunia datang lagi…

bukan gue yang harus berubah dulu.

Ia melihat ke arah luar lembah.

Tidak ada aura.

Tidak ada mata-mata.

Tidak ada niat membunuh.

Dunia murim akhirnya sepakat pada satu hal:

Selama Penunggu Lembah tidak bergerak,

Tianlong akan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Mereka merasa keputusan itu bijak.

Mereka merasa situasi terkendali.

Mereka merasa aman.

Mereka tidak tahu—

Diam Ci Lung bukan akhir.

Itu cuma…

tarikan napas sebelum langkah berikutnya.

1
Arifinnur12
Udah aku kasih kopi tor updet yang banyak dong😄
Tio Da Vinci: Wah makasih yaaa😄
total 1 replies
Arifinnur12
Thor author up thorr up up upp tanggung banget ah, aku kasih kopi nanti biar semangat🤣👍💪
Tio Da Vinci: sabar sabar saya juga manusia😭
total 1 replies
Shelia_:3
Sumpah si ini bagus menurut aku, novelnya murim tentang ritme, tentang ketenangan yang lebih nakutin daripada perang, kebanyakan salah paham juga😭, terus buat kalian yang baca tapi kesannya monoton, tunggu sampe kalian masuk ke bab 20 an seru banget disitu Ci lung jadi op anjay😭
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠
Tio Da Vinci: Makasih yahh😊🕊
total 1 replies
Arifinnur12
Mungkin authornya lagi pusing🤣, saya udah baca yang bab 13 atau berapa tadi yan yu udah naik kultivasinya ke layer 3, terus pas baca bab 15 ini tetep di layer ke 2 atau keberapa gitu, semangat thor ceritanya bagus😄👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!