(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertindak
Setelah mengetahui kehamilan Rania, dunia Marco seakan berubah total.
Pria itu berdiri membelakangi jendela besar di ruang kerjanya, cahaya kota malam memantul di kaca, membuat bayangannya terlihat lebih gelap dari biasanya. Tatapannya dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda sesuatu yang jarang muncul dalam hidup seorang mafia sepertinya, ketakutan.
Ketakutan kehilangan.
“Jerry.”
Satu panggilan saja cukup membuat tangan kanannya itu masuk dengan sigap. “Ya, Tuan.”
“Perketat keamanan.” Suara Marco rendah, tegas, tak terbantahkan. “Dua kali lipat penjaga di dalam dan luar rumah. Semua akses masuk dipantau dua puluh empat jam. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun.”
Jerry mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu, jika menyangkut Rania, Marco bukan lagi sekadar pemimpin sindikat ia berubah menjadi pria posesif yang rela menghancurkan siapa pun demi melindungi miliknya.
“Baik tuan"
Marco menoleh perlahan. “Semua makanan instan disingkirkan. Buang. Aku tidak mau racun masuk ke tubuhnya.”
Keesokan paginya, dapur mansion yang biasanya hanya dipenuhi sayur dan buah-buahan segar kini berubah drastis. Susu khusus ibu hamil berjajar rapi di lemari pendingin. Vitamin prenatal berbagai merek tersusun sesuai jadwal konsumsi. Menu mingguan disusun oleh ahli gizi terbaik yang didatangkan langsung dari berbagai manca negara.
Tak ada lagi kopi. Tak ada makanan kaleng. Tak ada bumbu instan.
Semua harus sempurna.
Karena yang ada di dalam perut Rania adalah darahnya.
Rania menatap dapur itu dengan alis berkerut. “Ini apa, sih? Kenapa jadi kayak apotek?”
Marco yang berdiri di ambang pintu hanya menyilangkan tangan di dada bidangnya. Jas hitamnya masih melekat rapi, seolah ia tak pernah lelah mengurus bisnis kotor di luar sana.
“Itu untuk kamu,” jawabnya datar.
“Buatku atau buat bayi ini?” Rania mendengus pelan.
Marco melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga tubuhnya menjebak Rania di antara meja dapur dan dadanya yang kokoh.
“Untuk kalian berdua,” bisiknya tepat di depan wajah Rania. “Tapi ingat, Rania… bayi itu milikku. Dan kamu juga.”
Napas Rania tercekat.
Tatapan Marco turun ke perut Rania yang masih rata. Tangannya terangkat, menyentuhnya dengan hati-hati, seolah perut itu terbuat dari kaca paling rapuh.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu tanpa izinku. Tidak dokter. Tidak perawat. Tidak siapa pun,” ucapnya pelan, namun mengandung ancaman yang nyata.
“ jangan berlebihan_”
“Aku belum selesai.”
Suara itu berubah lebih dalam. Lebih berbahaya.
“Kalau ada yang berani mencoba mencelakaimu…” sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang tak pernah menjanjikan hal baik, “aku akan pastikan mereka menyesal pernah lahir ke dunia ini.”
Rania tahu Marco gila. Gila dalam mencintai. Gila dalam memiliki.
Dan sekarang… gila dalam menjaga.
Tapi yang membuatnya merinding bukan ancamannya.
Melainkan cara Marco memeluknya sesaat kemudian erat, hampir menyakitkan seolah dunia di luar sana benar-benar ingin merebut Rania darinya.
Dan Marco Moretti tidak pernah kalah.
Di luar mansion, para penjaga sudah berdiri di setiap sudut. Kamera tambahan terpasang. Mobil patroli berkeliling tanpa henti.
Karena bagi seorang mafia seperti Marco, cinta bukan tentang kata-kata manis.
Cinta adalah kekuasaan. Cinta adalah kontrol. Cinta adalah obsesi yang tak memberi ruang untuk pergi.
Dan sejak detik itu, Rania bukan hanya istrinya.
Ia adalah dunia yang harus Marco lindungi dengan darah, dengan peluru, atau dengan nyawa siapa pun yang menghalangi.
Di sebuah kamar di rumah sakit yang sunyi, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Catrin berdiri dengan napas memburu, matanya memerah penuh amarah setelah mendengar kabar bahwa Rania sedang mengandung anak Marco.
Dengan tangan gemetar, ia membanting vas bunga ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahannya memantul di dinding putih ruangan. Ranjang rumah sakit yang tadinya rapi kini berantakan selimut terhempas, bantal terlempar ke sudut ruangan.
Air matanya jatuh bercampur emosi yang tak terkendali.
“Marco hanya milikku, kau cuma seorang perebut, Rania! Marco milikku!” teriaknya histeris, suaranya serak dipenuhi luka dan kecemburuan.
Perawat yang mendengar keributan segera berlari menuju kamar itu, berusaha menenangkan Catrin yang larut dalam amarah dan patah hati. Di balik kemarahannya, tersimpan rasa kehilangan yang begitu dalam cinta yang berubah menjadi obsesi, dan harapan yang runtuh dalam sekejap.
Pintu kamar rumah sakit itu terbuka perlahan.
Catrin melangkah keluar dengan wajah yang sudah berbeda. Jika beberapa menit lalu ia terlihat seperti perempuan yang kehilangan kendali mata merah, napas memburu, tangan gemetar kini ekspresinya kosong. Terlalu kosong.
Perawat yang tadi mencoba menenangkannya hanya bisa terdiam melihat perubahan itu. Catrin berjalan melewati lorong panjang rumah sakit dengan langkah pelan namun pasti. Suara sepatunya beradu dengan lantai keramik, menggema ringan di antara dinding putih yang terasa semakin dingin.
Hujan turun di luar gedung, menimbulkan suara gemerisik lembut di kaca jendela besar ujung lorong.
Ia berhenti di sana.
Tangannya yang sempat gemetar kini mengepal pelan. Rahangnya mengeras. Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri mata yang masih menyimpan sisa amarah, tapi kini tercampur sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lahir dari luka.
“Marco milikku…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Bayangan Marco muncul di benaknya. Wajah tenang itu. Tatapan dingin itu. Dan kabar tentang kehamilan itu.
Dadanya terasa diremas.
Perlahan, Catrin mengambil ponselnya. Ponsel hitam mengilap itu berada di genggamannya. Ia menatap layar beberapa detik, jempolnya melayang di atas daftar kontak. Ada satu nama yang tak pernah ia hubungi sembarangan. Nama yang hanya digunakan saat ia benar-benar menginginkan sesuatu… atau seseorang… disingkirkan dari jalannya.
Ia menekan panggil.
Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya diangkat.
“Ya, Nona Catrin.” Suara berat pria itu terdengar stabil, tanpa emosi.
Catrin tidak langsung menjawab. Ia menatap hujan yang semakin deras, kilat samar menyambar di langit kelabu. Wajahnya tercermin di kaca pucat, cantik, namun kini seperti patung es.
“Aku punya tugas untuk kalian.”
Kalimatnya lembut.
Terlalu lembut.
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya suara di seberang dengan nada profesional.
Catrin menarik napas panjang. Dadanya naik turun, namun kali ini bukan karena tangis. Ini adalah napas seseorang yang sudah mengambil keputusan.
“Aku ingin dia merasa kehilangan,” ucapnya pelan. “Perlahan. Sedikit demi sedikit.”
Hening sesaat.
“Targetnya?” tanya pria itu lagi.
Nama itu hampir keluar begitu saja dari bibirnya. Namun Catrin menahannya sepersekian detik, menikmati rasa pahit yang menjalar di lidahnya.
“Rania berserta kedua anak nya dan bayi dalam kandungannya.”
Hujan di luar terdengar semakin keras, seakan menyetujui sumpah yang baru saja terucap.
“Apa batasannya, Nona?”
Catrin tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah sampai ke matanya.
“Jangan sentuh Marco ku.” Suaranya tegas.
Ia menutup mata sejenak, membayangkan wajah Rania yang selama ini terlihat begitu percaya diri. Begitu tenang. Seolah dunia selalu berpihak padanya.
“Kita mulai dari orang-orang di sekitarnya,” lanjut Catrin. “Buat semuanya retak. Aku ingin melihat bagaimana dia tetap tersenyum saat fondasinya runtuh.”
Di seberang sana, pria itu terdengar menghela napas pendek. “Dimengerti, Nona. Kami akan mengatur semua nya sempurna untuk anda.”
Panggilan terputus.
Catrin menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa lebih ringan bukan karena luka itu hilang, tapi karena kini ia punya arah untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Ia hanya berdiri di sana, menatap hujan yang mengguyur halaman rumah sakit, sementara di dalam dirinya badai yang jauh lebih besar mulai terbentuk. Jika sebelumnya ia bertindak dengan emosi, kini ia memilih kesabaran.
Kesabaran yang berbahaya.
Catrin merapikan rambutnya, menghapus sisa air mata di sudut mata dengan ujung jarinya. Lalu ia melangkah pergi dari jendela, meninggalkan lorong rumah sakit yang kembali sunyi.
Di balik wajahnya yang dingin, tekadnya sudah bulat.
Jika cinta tak bisa ia miliki dengan cara baik-baik, maka ia akan memastikan tak ada seorang pun yang bisa menikmatinya dengan tenang.