NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nikahi Amira

"AAAAAA ...!"

Teriakan itu menggema, saat cahaya pagi yang pucat masuk dari balik jendela, menerangi ruangan yang begitu berantakan. Selimut terlempar, bantal jatuh ke lantai, pakaian berserakan tanpa sempat disembunyikan.

Amira tersentak, tubuhnya membeku sepersekian detik sebelum kesadarannya penuh.

Dia segera meraih pakaian yang tergeletak, jari-jarinya gemetar hebat saat mencoba mengenakannya. Napasnya tersengal, wajahnya pucat.

Di sebelahnya, Dirga terbangun dengan dahi berkerut.

“A-ada apa?”

Suaranya serak, belum sepenuhnya sadar. Namun begitu dia menoleh ke arah pintu, wajahnya langsung kehilangan warna.

Celine berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam. Matanya bergantian menatap Amira yang masih berusaha merapikan pakaian, lalu ke Dirga yang tubuhnya masih tertutup selimut.

Beberapa detik terasa begitu panjang. Pintu kamar terbuka lebar.

Amira bangkit, lalu berdiri di sisi ranjang, jari-jarinya gemetar saat berusaha menarik ritsleting gaunnya yang terasa begitu sulit dikendalikan. Napasnya pendek-pendek. Kepalanya terasa berdenging. Dunia seperti berputar terlalu cepat.

“Jadi ini yang kalian lakukan?"

Suara Celine akhirnya terdengar. Tatapannya tajam, menyapu setiap detail di kamar tersebut, dari selimut yang kusut hingga posisi Dirga yang masih setengah terduduk dengan ekspresi linglung.

Amira tak berani mengangkat wajah. Air mata sudah menggenang, tapi dia tak sanggup berkata apa-apa.

Dirga mengusap wajahnya kasar, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Rambutnya berantakan. Sorot matanya berubah dari bingung menjadi panik saat menyadari siapa yang berdiri di depan pintu.

“Celine, dengar. Jadi ....”

“Lebih baik kamu diam. Berani-beraninya kalian berbuat kaya gini di rumah ini?"

Amira menutup mulutnya, tangisnya pecah tanpa suara. Dirga bangkit perlahan dari ranjang. Langkahnya goyah, bukan karena sisa alkohol, tapi karena situasi yang kini tak terkendali.

“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Kamu yakin?” potong Celine. Matanya terlihat berkilat.

"Celine, jadi ...."

Dirga mencoba bicara, tapi kata-kata terasa kering di tenggorokan.

“Sejak kapan?” tanyanya pelan.

“Saya, minta maaf, Bu. Tapi saya ....”

Suara Amira bergetar. Dia tak mampu menyusun kalimat apapun. Dirga berdiri di antara keduanya, refleks ingin melindungi, tapi tak tahu harus melindungi siapa.

Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

“Celine, dengarkan aku dulu. Ini nggak kaya yang kamu pikir.”

Celine tersenyum sinis.

“Tapi ini nyata, dan terjadi!"

Amira terisak.

“Maaf, Bu. Saya tahu saya salah .…”

"Penjelasan kalian nggak bakalan mengubah apapun."

Celine berbalik begitu saja. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Satu per satu membasahi pipinya, tapi langkahnya tetap cepat dan tegas menuju kamar utama.

Pintu kamar mereka terbuka keras. Lalu tertutup dengan dentuman yang mengguncang lorong.

Dirga tersadar dari kebekuannya. Dia segera meraih pakaian seadanya, mengenakannya dengan tangan gemetar. Kancing terlewat satu, rambutnya masih berantakan, tapi ia tak peduli.

“Celine!” panggilnya sambil bergegas keluar kamar. Langkahnya tergesa menuju kamar utama.

Sementara itu, Amira tertinggal sendirian. Kamar yang tadi terasa hangat kini berubah menjadi ruang paling menakutkan di rumah itu. Kakinya lemas hingga dia terduduk di tepi ranjang.

Tangannya dingin. Napasnya tak beraturan. Bayangan wajah Celine yang penuh luka terus terulang di kepalanya.

“Aku sudah menghancurkan semuanya,” bisiknya lirih.

Amira tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Sedangkan di sisi lain, di balik pintu kamar utama, suara isak tangis terdengar samar.

Dirga mengetuk cepat.

“Celine, buka pintunya. Kita harus bicara.”

Tak ada jawaban. Dirga makin panik.

“Celine, jangan begini. Tolong dengar dulu.”

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Celine berdiri di sana dengan mata merah.

"Cepat masuk, aku nggak mau ada yang denger kita ribut."

Dirga langsung menarik napas berat. Dia bergegas masuk ke dalam kamar.

“Celine, tolong kamu dengarkan penjelasan aku dengan kepala dingin," ucapnya cepat.

Suara Dirga bergetar, campuran antara panik dan juga penyesalan. Sedangkan Celine berdiri membelakanginya, kedua tangannya bertumpu di meja rias. Bahunya naik turun menahan emosi. Pantulan wajahnya di cermin terlihat pucat, dan matanya sembap.

“Dengar apa? Penjelasan kalo itu nggak sengaja? Penjelasan kalo kamu kesepian karena aku terlalu sibuk?”

Dirga terdiam. Tak ada satu pun kalimat pembelaan yang terasa cukup.

“Aku pulang karena ada yang tertinggal, dan nggak nyangka, akhirnya aku dapet kejutan kaya gini."

“Celine, tapi semua ini benar-benar nggak sengaja!" jawab Dirga, mencoba meredam.

“Semua terasa begitu cepat, kami cuma hanyut dalam suasana. Aku tahu kami salah, tapi ....”

“Bilang aja kamu sebenarnya butuh wanita lain buat ngisi kekosongan?” potong Celine tajam.

Dirga mengepalkan tangan.

“Aku sebenarnya butuh kamu! Butuh istriku! Aku laki-laki normal, Celine. Aku tahu aku salah, tapi aku sampe khilaf juga karena kamu nggak pernah ada buat aku!"

Sunyi sejenak. Kalimat itu seperti menampar balik Celine.

“Jadi ini salahku? Tadi kamu bilang mau kasih penjelasan, tapi kenapa jadi nyalahin aku?”

“Aku nggak nyalahin kamu."

“Tapi kamu melakukannya.”

Dirga terdiam lagi. Celine berjalan mendekat, berdiri tepat di depannya.

“Kamu tahu yang paling menyakitkan apa? Bukan karena kamu menyentuh perempuan lain. Tapi karena kamu melakukannya dengan perempuan yang aku bawa ke rumah ini. Perempuan yang aku tolong.”

“Aku nggak pernah berniat nyakitin kamu. Sungguh aku cuma cinta sama kamu. Aku khilaf sampai berbuat sejauh itu sama Amira."

Suara Dirga melemah.

“Apapun alasan kamu, semua udah terjadi."

Air mata kembali jatuh di pipi Celine. Beberapa detik berlalu dalam diam yang penuh kecanggungan. Lalu, tiba-tiba, Celine menghapus air matanya sendiri, tatapannya berubah.

“Kamu tidur sama dia, dan aku melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Dirga menelan ludah.

“Aku nggak akan pura-pura itu nggak terjadi.”

Celine menarik napas dalam, lalu berkata, “Kalau gitu, bertanggung jawablah.”

Dirga mengernyit. “Maksud kamu?”

Celine menatapnya lurus.

"Nikahi Amira.”

Dirga seketika membeku.

“Kamu udah mengambil kehormatannya. Kamu sudah melewati batas. Kalau kamu merasa aku bukan lagi prioritasmu, maka ambil tanggung jawabmu sebagai laki-laki.”

“Celine, ini gila,” desis Dirga.

“Nggak, ini konsekuensi, dan tanggung jawab kamu sebagai laki-laki dewasa!"

“Aku masih suamimu.”

“Dan kamu sudah membagi dirimu.”

Ruangan kembali sunyi. Keputusan itu terdengar menyakitkan. Namun dari wajah Celine, tak ada tanda jika dia sedang bercanda.

“Kamu tinggal pilih, bertanggung jawab, atau kehilangan keduanya.”

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!