"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASANGAN MAUT
Pagi hari di pegunungan es tidak membawa kehangatan.
Langit tertutup mendung tebal, seolah alam pun tahu bahwa darah akan kembali tumpah di atas salju putih.
Leo dan Aurora berdiri di bibir tebing, menatap jalur sempit yang menjadi satu-satunya jalan menuju gerbang belakang Kerajaan Vampir, sebuah jembatan batu alami yang diapit oleh jurang tak berdasar.
"Mereka sudah menunggu di sana," ucap Leo pelan
Mata Leo yang tajam menangkap kilatan logam senjata di ujung jembatan.
"Ada sekitar lima puluh prajurit elit, dan lihat di atas bukit itu, para pemanah sihir," ucap Aurora mengeratkan pegangan pada pedang peraknya.
"Kamu urus yang di atas, aku akan membuka jalan di jembatan," perintah Leo tanpa menoleh.
"Jangan memerintah ku, Alistair!" jawab Aurora sengit.
Walaupun begitu, tapi Aurora tetap melesat ke arah tebing samping dengan kecepatan luar biasa, menggunakan kuku-kuku tajamnya untuk memanjat dinding es seolah itu adalah tanah datar.
Leo menarik napas dalam, membiarkan energi serigala dan vampir dalam dirinya menyatu. Ia berlari kencang menuju jembatan.
"TANGKAP DIA!"
Teriak ketua kelompok musuh.
BUM
DUARRRRRR
Leo melompat tinggi, mendarat di tengah kerumunan prajurit dengan hantaman yang menggetarkan jembatan batu itu.
Dua prajurit langsung terpental ke jurang akibat gelombang kejutnya.
TRANG
TRANG
TRANG
Dua bilah pedang menebas punggung Leo, namun pria itu berputar dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, menangkap kedua leher prajurit itu dan membenturkan kepala mereka hingga retak.
Sementara di atas tebing, Aurora tidak kalah beringas nya, gadis cantik itu muncul dari balik salju seperti hantu.
"Kalian mencari ku?" desis Aurora, dingin.
SRAK
SRAK
SRAK
TRANG
Dengan gerakan anggun namun mematikan, Aurora menebas busur para pemanah itu, melakukan salto di udara, menghindari tembakan api sihir, lalu menendang dada seorang penyihir hingga terjatuh dari tebing.
Tangannya bergerak seperti tarian maut, setiap tebasan nya presisi, mengincar titik vital lawan.
TRANG
TRANG
TRANG
"Argh! Matilah kau, Putri Terkutuk!" teriak kapten musuh menerjang Aurora dengan palu raksasa.
WUUSSH
BRAKK
Aurora merunduk, membiarkan palu itu menghantam batu, lalu dia berlari meniti gagang palu tersebut dan memberikan tendangan lutut tepat di wajah sang kapten.
BRAKKKKKKK
Kembali di jembatan, Leo sedang dikeroyok oleh sepuluh prajurit bersenjata berat, bahkan salah satu tombak berhasil menggores lengan Leo hingga berdarah.
TRANG
TRANG
TRANG
Walaupun lengan nya terluka, tapi Leo tidak tumbang begitu saja, benar apa yang dikatakan oleh Raja Arion, darah Vampir nya mengalir dengan baik di nadi Leo.
BRAKKK
"Hanya segini?" geram Leo.
Tuba-tiba Mata Leo berubah menjadi perak pekat, Aura predatornya meledak, dia menangkap sebuah tombak yang diarahkan padanya, mematahkannya menjadi dua, dan menggunakan patahan kayu itu untuk menusuk dua lawan sekaligus.
BHUK
BHUK
BRAKK
Leo menghantamkan tinjunya ke tanah, menciptakan retakan yang membuat musuh kehilangan keseimbangan.
Dengan kecepatan kilat, Leo bergerak di antara mereka, mematahkan tulang, melempar tubuh musuh, dan menghancurkan perisai baja dengan tangan kosong.
"Leo! Awas!" teriak Aurora dari atas.
Sebuah bola api raksasa meluncur menuju Leo, Aurora melompat dari tebing setinggi sepuluh meter, mendarat tepat di depan Leo dan menebas bola api itu dengan pedang peraknya yang sudah dialiri energi batin.
DUARRR
Ledakan itu menciptakan asap tebal, saat asap menipis, Leo dan Aurora berdiri saling memunggungi.
"Kerja bagus, Putri," gumam Leo, napasnya mulai memburu.
"Simpan pujianmu nanti, Serigala, musuh masih banyak!" jawab Aurora, meskipun nafas nya sedikit terengah.
Sisa-sisa prajurit pemberontak mulai mengepung mereka dalam lingkaran sempit. Pemimpin mereka, seorang Vampir murni dengan sayap hitam yang robek, mendarat di depan mereka.
"Kalian tidak akan sampai ke istana hidup-hidup," ucap sang pemimpin dingin.
"Kamu kiri, aku kanan?" ucap Leo melirik Aurora.
"Siapa yang paling banyak menjatuhkan lawan, dia yang menang," ucap Aurora tersenyum miring, senyum yang sangat mirip dengan Ratu Ivara saat berada di medan perang.
"Setuju," jawab Leo, menyeringai dingin.
SREK
Keduanya melesat bersamaan, Leo menghajar musuh dengan kekuatan kasarnya yang menghancurkan, sementara Aurora bergerak lincah menyayat setiap celah pertahanan lawan.
BHUK
BHUK
BRAKKKKKKK
DUARRRRRR
Mereka berdua seperti badai yang tak terhentikan, perpaduan antara taring serigala dan keabadian vampir.
TRANG
CRASS
TRANG
TRANG
Darah membasahi salju, dan suara denting senjata, saat mereka berdua bertarung bahu-membahu, membuka jalan setapak demi setapak menuju gerbang istana yang kini sudah mulai terlihat di kejauhan.
Semakin lama pertarungan semakin memanas di atas jembatan, darah merah pekat kini mewarnai putihnya salju, mengalir di antara sela-sela batu yang retak akibat hantaman kekuatan besar.
"Habisi mereka! Jangan biarkan mereka menarik napas!" teriak sang pemimpin pemberontak dari balik barisan.
Tiga prajurit berbadan raksasa maju menerjang Leo, mereka memegang rantai pemberat yang diputar-putar di udara, menciptakan desing angin yang tajam.
SRAKKKK
KRAKKKK
Salah satu rantai berhasil melilit lengan kanan Leo, sementara dua prajurit lainnya segera menarik rantai itu dengan kekuatan penuh, mencoba menarik Leo jatuh ke dalam jurang.
"Leo!" teriak Aurora cemas.
"Jangan alihkan pandanganmu, Aurora!" ucap Leo sambil menahan tarikan itu dengan otot tangannya yang menegang keras.
Leo menjejakkan kakinya ke batu jembatan hingga retak lebih dalam, bukannya melawan tarikan, Leo justru berlari mengikuti arah tarikan itu dengan kecepatan kilat, membuat kedua prajurit itu kehilangan keseimbangan.
BHUK
Dengan satu hantaman bahu yang kuat, Leo menabrak keduanya hingga terpental jauh. Di saat yang sama, dia menangkap rantai yang masih melilit lengannya, lalu mengayunkannya seperti cambuk raksasa ke arah barisan musuh di depan Aurora.
CTASSS
CTASSS
"AAAAAHHHKKKKKKKKK!"
CTASSS
CTASSS
DUARRR
Prajurit-prajurit yang terkena ayunan rantai itu terpelanting, dengan suara jeritan yang memekakkan telinga.
Melihat keberingasan Leo, Aurora tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia berlari meniti punggung para prajurit yang jatuh, melompat tinggi ke udara, dan melakukan putaran vertikal dengan pedangnya.
TRANG
CRASS
JLEP
JLEP
Dua kepala tombak terputus, diikuti dengan sayatan di dada lawan-lawannya, Aurora mendarat dengan anggun di samping Leo, pedangnya meneteskan darah musuh.
"Tiga puluh dua orang," ucap Aurora sambil mengatur napasnya yang mulai pendek.
"Baru tiga puluh dua? Aku sudah menghitung tiga puluh tujuh di pihakku, Putri," ucap Leo meliriknya, meski keringat dingin membasahi pelipisnya karena kelelahan energi.
"Kamu curang! Kamu menghitung mereka yang kamu lempar ke jurang!" protes Aurora, meski ia tetap waspada.
BUMMM
Tiba-tiba, bumi bergetar, sang pemimpin pemberontak melangkah maju, melepaskan jubahnya dan menampakkan zirah hitam legam, dia tampak mengeluarkan sebuah belati kuno yang berlumuran darah, belati sihir hitam.
"Cukup main-mainnya," ucap sang pemimpin dengan suara yang berat.
SRETTT